
Mayra tengah berjalan dilorong sekolah hendak masuk kelas, namun tiba-tiba datang sahabatnya Shania dari belakang mengagetkannya membuat Mayra terlonjak
"Dor!"
"Astagfirullah,"
"Ihh, Shan ngagetin aja," tukas Mayra sembari mengelus-elus dadanya, Shania hanya tertawa cekikikan
"Hehe, maaf," ujar Shania yang masih belum menghentikan tawa menyebalkannya
"Tiara kemana?" tanya Mayra celingak-celinguk karena tak melihat sahabat satunya lagi
"Biasa, paling masih molor tu anak, yaudahlah daripada nunggu Tiara yang jam pelajaran kedua baru datang mening kita masuk kelas duluan aja," ajak Shania merangkul pundak Mayra dan membawanya ke kelas mereka
"HALLO EPRIBADEH!" Teriak Shania sesaat setelah sampai dikelasnya, para murid disana terlonjak kaget dan langsung menoleh kearahnya.
Bagaimana rasanya sih jika sedang ghibah bersama teman lalu ada yang mengganggu? beh sakitnya nauzubillah banget. Yah, begitulah yang dirasakan para penguni kelas itu, namun mereka tidak menegur dan hanya diam saja. Yah, karena gadis yang berteriak itu Shania, bendahara kelas XII IPS 2 yang terkenal dengan kekejamannya, gadis tomboy yang barbar dan pandai berkelahi. Bahkan kemarin pun ia baru menumbangkan Erlan pemuda dari kelas XII IPS 4 yang dikenal sebagai tukang kebully disekolah itu.
Jika Seorang berandalan sekolah dan tumbang apalagi mereka yang manusia biasa jauh dari kata sempurna sungguh tidak berani melawan Shania. Walau begitu, Shania adalah mantan Wakil Ketua Osis yang menjabat priode tahun kemarin
Ditengah para murid yang takut akan Shania, ada satu lelaki yang hobby ngajak ribut gadis macan itu, namanya....
"Bisma!" Teriak Shania saat Pemuda itu menubruk punggungnya dengan kencang hingga membuatnya sedikit terjungkal kedepan. Bukannya meminta maaf, Bisma malah nyelonong begitu saja kearah bangkunya dan mengeluarkan alat tulis dari dalam tas ranselnya
"Woi! Loe punya mata gak sih?!"
"Maaf Shan, gw gak sengaja," ujar Bisma dengan muka panik. Bukan panik akan Shania melainkan ia belum mengerjakan tugas dari Pak Herman, Guru sejarah plus Guru BK disekolah itu. Tentu saja ia panik, pasti Pak Herman akan menyuruhnya untuk membersihkan toilet sebagai hukuman karena tidak mengerjakan tugas. Apalagi ia baru mengalaminya minggu lalu, jika ia dihukum lagi tamatlah sudah riwayatnya
"Kenapa loe?" Shania menyernitkan dahinya melihat wajah panik Pemuda itu
"Eh, Shan balikin buku gw," Shania tidak menggubrisnya, ia membaca apa yang tertulis dibuku tersebut "Sejarah berdirinya ASEAN." Tidak, tidak ada lagi tulisan didalamnya selain itu. Shania melirik sebentar kearah Bisma dengan ekor matanya, hingga detik berikutnya Shania melepaskan tawanya
"Hahahaha...."
"Woi! ini pelajaran anak sd, masa loe gak tahu," remehnya
__ADS_1
"Makanya kalo ada tugas tuh langsung kerjain jangan malah nonton bok*p mulu loe." Bisma membulatkan matanya sempurna, mulut Shania memang tidak bisa dijaga, apalagi ia mengatakannya dengan keras, mungkin semua murid yang ada disana mendengarnya, terlihat dari mereka yang saling berbisik. Ya, walau yang dikatakan Shania benar adanya.
Sementara Shania dan Bisma dari tadi masih ribut dan tidak tahu kapan selesainya. Mayra sedari tadi sudah duduk anteng dibangkunya dengan mendengarkan lagu dari ponselnya. Sudah kebiasaan jika kedua sahabatnya itu beradu mulut
Brakk!
Terdengar bantingan keras dari arah pintu, para murid disana menoleh. Terlihat seorang gadis tengah membungkuk dengan tangan kiri memegang perut dan tangan satunya lagi menyender dipintu yang telah didobraknya tadi. Terlihat jika gadis itu seperti kecapean, terdengar dari nafasnya yang ngos-ngosan.
"Weee! Bestiee gw akhirnya loe datang juga!" Teriak Shania menghampiri gadis itu membuat Bisma lega dan melanjutkan pekerjaan sekolahnya, tidak ada yang pekerjaan rumah baginya, jika ada orang yang bertanya ia akan menjawab "gw bukan IRT"
"Tumben loe jam segini udah datang, biasanya jam istirahat baru berangkat," ujar Shania pada Tiara
"Gw dibangunin Mak," jawab Tiara dengan nafas yang masih tidak beraturan
Tiara adalah saru komplotan dengan Shania, sifat mereka hampir sama yang barbar, tomboy. Walau diantara mereka Shania lah yang paling kejam. Berbeda dengan Shania dan Tiara, Mayra adalah gadis yang lugu, ramah, lemah lembut dan sangat pandai menyembunyikan kesedihan dibalik senyuman. Namun, mengapa bisa ia bergabung dengan Shania dan Tiara? tidak ada yang tahu
"Woi! jangan halangin jalan!" ucap seorang dari belakang Shania dan Tiara. Pemuda itu Rio Ketua Kelas XII IPS 2. Entah apa yang terjadi dengannya, tapi wajahnya begitu muram nampaknya ada masalah
"Kenapa dia?" gumam Shania melihat Rio yang kini sudah duduk dibangkunya. Sementara, Tiara menatapnya dengan pandangan sendu
Tap...Tap...Tap....
Suara langkah kaki yang mengarah ke kelas XII IPS 2, para penghuni disana langsung berlarian kebangku masing-masing dan berpura-pura membaca buku. Mereka tahu pasti yang itu adalah Pak Herman yang siap mengajar. Bisma yang masih belum menyelesaikan tugas kini panik
"Assalammu'alaikum anak-anak." Mereka mendengar suara seorang wanita dan pasti itu bukan Pak Herman. Mereka kompak mendongkak, ternyata itu Bu Mirra guru Matematika.
"Wa'alaikumsallam!" Jawab serentak para penghuni kelas
Terlihat Bu Mirra meletakan bukunya dimeja guru. Para murid disana heran, bukankah ini jam Pak Herman dan Bu Mirra mengajar setelah Pak Herman. Berbeda dengan yang lain, Bisma justru sangat senang karena yang datang bukan Pak Herman, apalagi ia belum selesai mengerjakan tugas
"Maaf Bu, tapi bukankah Ibu mengajar di pelajaran kedua?" Tanya salah seorang murid
"Pak Herman ada urusan sebentar, jadi digantikan dengan Ibu. Tenang saja, Pak Herman akan tetap mengajar kok nanti di jam pelajaran kedua."
Sebelum itu, Ibu akan memperkenalkan seseorang yang bakal jadi teman baru kalian," ujar Bu Mirra
__ADS_1
"Silakan masuk."
Terlihat seorang Pemuda berjalan kekelas itu, para murid perempuan disana langsung heboh melihat ketampanan Pemuda yang mirip oppa-oppa Korea itu
"Anjir ada pangeran turun dari langit, menjemputku untuk dijadikan kekasih hidupnya."
"Calon imam gw."
"G*la cakep amat, gak salah Tuhan jadiin dia jodoh gw."
"Ada kembarannya Taheyung."
"Taheyung? Taehyung beg*."
"Iya itu."
Begitulah kehebohan para penghuni kelas tersebut melihat ketampanan dari seorang anak baru kelas XII IPS 2
"Aku seperti pernah melihatnya," batin Mayra dengan terus menatap wajah Pemuda itu. Tak disangka Pemuda itu juga menatapnya membuat manik mata mereka saling bertemu, Mayra refleks memalingkan wajahnya tentu dengan perasaan canggung karena telah kepergok menatap Pemuda itu
"Baiklah, sekarang perkenalkan nama kamu pada mereka," ujar Bu Mirra dibalas anggukan oleh pemuda tersebut
"Hallo semua, perkenalkan nama Saya Rendi Adijaya kalian bisa memanggilku Rendi," ujarnya memperkenalkan diri
Para murid disana saling melongo mendengar nama belakang pemuda itu. Adijaya, yah siapa lagi kalau bukan Ardi Adijaya seorang pebisnis terkenal di Indonesia.
Jadi, dia Putra dari Adijaya
Bukan hanya murid-murid itu saja yang kaget, bahkan Mayra pun kaget mendengar nama pemuda itu. Bukan nama belakangnya, melainkan nama depannya yang juga sama dengan nama Pemuda yang tiga tahun lalu menolongnya dan telah dituduhnya sudah berbuat macam-macam padanya
"Baiklah Rendi, kamu boleh duduk dibangku kosong sana," tunjuk Bu Mirra pada bangku Rio yang kursinya kosong satu karena memang tak ada yang menempati. Dan bangku itu terletak di... belakang bangku Mayra yang sebangku dengan Shania
"Aduh, matilah."
Rendi berjalan kearah bangku yang ditunjukkan Bu Mirra, melewati bangku Mayra, Rendi sedikit meliriknya "aku seperti pernah melihatnya,"
__ADS_1