Story Of Mayra

Story Of Mayra
BAB 12. KEMANA?


__ADS_3

Mayra tengah berjalan dilorong sekolah, pikirannya masih berkecamuk memikirkan gadis yang ia temui waktu ditaman.


Brukk....


Tak sengaja Mayra menabrak seorang gadis yang berlawanan arah dengannya "maaf, saya tidak sengaja," membantu gadis itu berdiri, manik mata mereka bertemu "kamu, akhirnya aku bertemu denganmu. Aku hanya ingin menanyakan kalau...." kalimat Mayra terpotong karena gadis itu menyelanya "aduh! sakit nih," keluhnya dengan memegang siku sengaja mengalihkan perhatian


"Sekali lagi maaf, aku benar-benar tidak sengaja," ucap Mayra lagi setelah membantu gadis itu berdiri


Amirra, gadis itu tidak mempedulikannya dan malah pergi begitu saja. Namun, Mayra mencekal pergelangan tangannya membuat langkah Amirra berhenti "aku hanya ingin bertanya, apa kamu melihat sebuah fhoto terjatuh ditoilet waktu itu?" tatapan Mayra berubah menjadi sendu. Amirra diam sejenak, pandangannya melihat Rendi yang tengah berjalan kearah mereka membuat Amirra tersenyum sinis, saatnya menjalankan rencana.


"Auhhh, aku tidak tahu. Tanganku sakit tolong lepaskan," keluh Amirra mendramatisir, Mayra menautkan alisnya. Apa ia memegangnya terlalu kencang?


"Sudah kubilang tidak tahu. Hikss... sakit...." Mayra semakin bingung dibuatnya, Amirra sudah mengeluarkan air matanya dengan isak tangis terdengar. Rendi mendengar hal itu lantas sedikit berlari menghampiri mereka berdua. Amirra yang melihat itu semakin mendramatisir.


Sesampainya disana, Rendi melepas pergelangan tangan Amirra yang sedari tadi ada pada genggaman Mayra membuat tangan Mayra sedikit terhempas karena Rendi melepasnya sedikit kasar. Entah mengapa ia ingin mengeluarkan air mata karena Rendi menghempaskan tangannya.

__ADS_1


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Rendi melihat-lihat pergelangan tangan Amirra "sedikit sakit," balas Amirra pelan dengan suara parau.


"Sebaiknya kita kekelas masing-masing, sebentar lagi bel berbunyi," tutur Rendi dengan melirik Mayra dan Amirra bergantian.


"Kau bisa antarkan aku kekelas?" tanya Amirra dengan wajah memelas dan bibir cemberut membuat Rendi sedikit terkekeh.


"Baiklah, jangan buat mukamu seperti itu. Jika tidak, aku akan mencubitnya," bergantian Amirra yang terkekeh dan Mayra hanya diam saja melihat mereka yang bagai sepasang kekasih "apa mereka berpacaran?"


_____


Sepanjang perjalanan kekelas Mayra terus melamun, bagaimana mereka berdua bisa sedekat itu dan jika bukan Amirra yang mengambilnya lalu siapa. Lama ia bergulat dengan pikirannya. Hingga, memutuskan akan mencarinya nanti.


Suara derum mobil terdengar dari rumah mewah berlantai 2 bercatkan putih. Dua mobil berwarna putih dan hitam itu keluar dari gerbang utama dan menuju pada tujuan masing-masing.


Hingga, membelah padatnya jalanan kota. Banyak orang berlalu-lalang mengisi terotoar. Jalanan mulai macet dengan terdengar umpatan-umpatan pengendara lain.

__ADS_1


"Manaf mau pergi kemana? bukankah kantor bukan kearah sana," bingung Pram yang melihat mobil putih milik putranya melaju kearah lain, bukan menuju kantor.


Karena penasaran, Pram mengikuti mobil putih itu. "Sebenarnya mau kemana dia?" Pram terus bergumam sembari pandangannya tak lepas dari mobil itu. Hingga, ia meraih ponsel berniat menghubungi putranya itu "kau mau kemana? kantor bukan kearah sini," ujarnya setelah telponnya tersambung.


Sementara dimobil Manaf, ia melihat dari kaca depan bahwa mobil hitam yang ia kenal mengikutinya "Papa ngikutin?" tanya Manaf lantas memberhentikan mobilnya diikuti Pram


Mereka turun bersamaan dan menghampiri satu sama lain. "Anak nakal, kau mau bolos, hah!" Pram menjewer telinga Manaf membuat sang empu meringis seraya memegang telinga "aduhh, Pah lepasin... sakit,"


"Kau mau kemana?" tanya Pram setelah melepas jewerannya. Manaf gelagapan, apa ia harus mengatakan yang sebenarnya?


"Anu, itu...." hanya kata-kata yang keluar dari mulutnya membuat Pram mendengus kesal, Pram kembali menjewer putranya itu "anu apa? kau mau ketemu kekasihmu ya...." tuduhnya. Bola mata Manaf membulat sempurna mendengarnya "tidak! Papa tahu sendiri 'kan aku...."


"Haha, kau ini memang jones mana mungkin memiliki kekasih," sela Pram dengan dibarengi gelak tawa "jones?" tanya Manaf dengan kening berkerut "jomblo ngenes,"


Jduarrr....

__ADS_1


Bagai dibuang pada parit terdalam, sesak, itulah yang dirasakan Manaf. Bisa-bisanya Pram mengatakan hal seperti itu padanya. Sementara, Pram masih tertawa dengan memegang perutnya karena tak kuasa menahan tawa.


"Aisshhh, sudahlah. Ayok kembali kekantor. Mau gajimu kupotong?" ancam Pram, mau tak mau ia pun mengikutinya. Sebenarnya, ia ingin mencari dua orang wanita yang ia sayangi adiknya dan sang mama, Widia. Ia ingin mengatakan yang sebenarnya tapi takut jika Pram kembali bersedih. Itu akan mempengaruhi kesehatannya.


__ADS_2