
"Permisi...." gadis itu mendongkak, terlihat oleh Rendi matanya sembab dengan hidung merah muda pertanda ia habis menangis bahkan ada sisa air mata dipipinya
"Ira...."
_______________________
"Kenapa menangis?"
"Aku gapapa,"
"Hahaha...."
"Kenapa ketawa?"
"Kamu lucu kalo nangis, haha...."
"Ihhh...."
"Jangan ketawa,"
"Hihi, iya maaf, hihi...."
"Ini bukan acara komedi, jangan tertawa!"
__ADS_1
"Abis kamu cemberut gitu sih, yang melihatmu menangis pasti akan tertawa, haha...."
"Ihhh... jangan ketawa...."
****
"Ke-kenapa kau tertawa? apa ada yang salah denganku?" tanya gadis itu dengan kerutan dikeningnya, Rendi tersadar lantas menghentikan tawanya "maaf, kau lucu sekali jika menangis," jawab Rendi membuat Mayra tambah bingung "sudahlah lupakan saja," tambah Rendi lagi yang seakan mengerti dengan pikiran Mayra yang nampak bingung menanggapi ucapannya.
Rendi berdiri lantas berkata "emm baiklah, sebaiknya kita pergi dari sini. Aku takut kau dibawa penghuni pohon besar ini." candanya dengan mengulurkan tangan mengajak Mayra berdiri. Namun, Mayra hanya memandang tangan yang menggantung diudara itu tanpa menerima ulurannya. Hingga, sekelebat ingatan muncul dipikirannya "Baiklah, sebaiknya kita pergi dari sini. Aku takut Catty membawa Ira. Nanti Ndi main sama siapa?"
"Hei kenapa kau diam saja? atau jangan-jangan kau mau dibawa penghuni pohon ini?"
"Biarkan saja, aku malah senang jika dia membawaku bersamanya, lagipun dia hanya sesosok kucing kecil yang menggemaskan" jawab Mayra enteng sembari berdiri tanpa menerima uluran tangan itu
"Kau...."
"Rendi!" Amirra berteriak sembari berlari kearah mereka, seketika Rendi dan Mayra menoleh padanya "kamu kemana saja? aku mencarimu tahu...." rajuknya "ma-maaf tadi aku...." Amirra melirik pada Mayra dengan pandangan yang tak suka "apa karena kau?! lihat saja tidak akan aku biarkan kalian bersama." batin Amirra, ia tersenyum sinis dan tanpa disadari Rendi menyadarinya.
_____
Brakk
"Arggg...."
__ADS_1
"Amirra! ada apa denganmu?!" bentak Tina yang melihat putrinya membanting pintu dibarengi dengan isak tangisnya.
Amirra terus mengamuk, Tina yang tak tahu apa-apa berusaha menenangkannya. "Tenanglah Amirra!"
"Hikss... hikss...." Amirra mendudukkan dirinya diatas ranjang, menutup wajah dengan telapak tangan. Ia menangis terisak membuat Tina menghampiri putrinya itu.
"Ada apa denganmu?" tanya Tina lembut sembari tangannya mengelus punggung Amirra "aku tidak apa-apa," jawab Amirra dengan suara parau "tidak biasanya kamu begini, sebenarnya ada apa?"
"Aku bilang tidak apa-apa, sudahlah!"
"Jawab Mama! kamu kenapa?" Tina meraih pundak Amirra membuat tubuh Amirra menghadap Tina. Terlihat mata Amirra sembab dengan hidungnya yang memerah.
"Apa ini tentang Putri Pram?"
"Apa yang Mama bicarakan? aku Amirra Adhinata. Putri dari Prammata Adhinata," ucap Amirra dengan tegas "sudahlah, aku mengantuk ingin istirahat." menaiki ranjangnya dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Tina masih bingung dengan Putrinya itu, namun ia memilih tidak mempedulikannya dan berlalu pergi.
"Kau sudah menemukan mereka?" Tina mendengar Manaf yang tengah berbicara lewat telpon yang tak jauh dari tempatnya berada. Pintu kamar Amirra yang sudah ditutupnya kembali ia buka dan masuk kekamar itu sekedar mendengarkan apa yang tengah dibicarakan Manaf dengan seorang ditelpon.
"Aku tidak tahu harus bilang apa padamu. Intinya aku sangat berterimakasih, aku dan Papa sudah mencarinya belakangan ini. Namun entahlah...."
"Aisshhh, tenang saja teman. Aku senang membantu." jawab seorang dari seberang
Mendengar percakapan antara Manaf dan seorang dari telpon membuat Tina semakin penasaran. Hingga, pikirannya mengarah pada satu ingatan "apa dia menemukan Adik dan Ibunya?"
__ADS_1