Story Of Mayra

Story Of Mayra
BAB 8. MAYRA


__ADS_3

"Tante gak mau Mayra sedih karena sahabatnya sakit parah, jadi tante terpaksa tutupin hal ini dari Mayra." mendengar cerita Widia membuat Rendi ikut menitikan air mata, cerita Mayra tidak beda jauh dengan ceritanya.


"Mama!" pekik Mayra dari belakang, Widia beserta Rendi menoleh sedikit kaget dengan keberadaan gadis itu. Apa ia tadi mendengar semua?


"Ma-Mayra! sejak kapan kamu disana."


"Mama kok jahat banget sih."


"Maksud kamu apa nak, mama gak ngerti."


"Kenapa mama sembunyiin hal ini sih dari Mayra."


"Ma-mayra... maafkan mama nak, mama cuman...."


"Mama ajak teman Mayra kesini tapi anaknya sendiri gak diajak. Udah lama Mayra gak kesini karena mama selalu menguncinya." pandangan Mayra berkeliling pada ruangan tersebut, ruangan yang menyimpan barang peninggalan sang kakek. Setelah 2 tahun lamanya ia tidak keruangan ini karena mamanya terus mengunci dan ia tak tahu Widia menaruh kuncinya dimana.


Pandangan Mayra teralihkan pada sebuah boneka taddy bears coklat "wah, mama Inget gak, boneka ini hadiah dari kakek waktu Mayra umur 3 tahun. Sayang banget ada disini, Mayra simpan aja."

__ADS_1


"Itu kan…." Mayra memeluknya, Widia langsung merebut boneka taddy bears itu "biarin aja disini, lagipun udah dekil, kamu juga udah gede masa main boneka."


"Gapapa maa bisa Mayra cuci'kan." ia kembali merebut boneka dari Widia dan memeluknya "apa ini?" Mayra membungkuk mengambil sebuah kertas yang seperti terjatuh dari bonekanya "eh kenapa ada kertas disini? ini biar mama buang aja." lebih dulu Widia mengambilnya membuat Mayra bingung "jangan dibuang dulu maa, siapa tahu penting mening buka dulu." usul Mayra membuat Widia gelagapan "ti-tidak perlu lagipun ini hanya kertas biasa, mana mungkin penting." dengan tersenyum kikuk Widia menjelaskan walau sedikit aneh Mayra menanggapi.


Sedangkan, Rendi sekarang tengah berkeliling menyusuri ruangan yang menurutnya menarik itu. Sepanjang jalan Rendi mengagumi ruangan yang dipenuhi dengan benda antik, bukan hanya benda saja bahkan terdapat buku-buku sejarah disana. Ia tertarik dengan sebuah buku yang bersampul gambar coretan tidak jelas, mungkin Mayra waktu kecil yang menggambar pikirnya.


Tangannya perlahan meraih buku tersebut, setiap lembar ia buka "ini buku diary Mayra." gumamnya dengan tersenyum, lembar pertama ia baca


13-06-2018


"Siapa yang dimaksudnya?" gumam Rendi, ia semakin penasaran lantas membuka lembar kedua


13-06-2016


"Sekolah baru, banyak teman baru. Namun, tanpamu itu tidak berguna bagiku."


13-06-2015

__ADS_1


"Aku mendapat juara lagi. Namun, kau tidak ada disini. Kau bilang akan mengalahkanku tapi dimana kamu."


13-06-2010


"Sekolah yang kita impikan, aku berhasil masuk kesini tapi kamu kemana dan sekolah dimana."


"Dari tanggalnya, ini hitung mundur dan ia menulisnya saat 13 Juni." Rendi membuka halaman berikutnya


13-06-2008


"Pergi."


"Pergi, apa maksudnya? 2008, sepertinya ia menulis halaman ini pada umur 4 tahun."


"Loe ada disini ternyata, gw nyariin dari tadi tahu gak." Rendi menoleh pada asal suara "ngapain loe disini." tambahnya lagi "gapapa, cuma penasaran aja karena ruangan ini dipenuhi barang antik semua."


"Iya sih, itu buku apaan." pandangan Rio teralihkan pada buku usang itu "ini? gak tahu asal ngambil aja yaudah yuk keluar." ajaknya, Rendi kembali meletakkan buku tersebut pada rak namun sebuah kertas terjatuh dari buku itu, pandangan Rendi maupun Rio teralihkan hingga kertas itu berhenti dan tergeletak dilantai. Rio mengambilnya "ini fhoto Mayra waktu kecil." ujar Rio dengan senyum terpancar dari wajahnya "tapi siapa anak lelaki ini, dan kucing." tambah Rio dengan mimik wajah berubah bingung "anak lelaki, kucing?" tanya Rendi menyipitkan mata "coba lihat."

__ADS_1


__ADS_2