
"Woi! loe berdua ngapain disini? mojok ya?" Shania bersama yang lainnya menghampiri mereka hingga pandangan Rendi dan Rio mengarah padanya. Widia juga bersama mereka, Widia melihat fhoto Mayra dan sahabat kecilnya berada ditangan Rio "loh kalian ngapain disini?" Mayra datang, cepat-cepat Widia merebut fhoto itu membuat Rendi dan Rio kaget bercampur bingung.
"I-ya nih ngapain kalian kesini, tante udah siapin makan malam mening kita makan dulu yuk." ajak Widia membuat mereka sadar bahwa sekarang sudah ba'da maghrib "Rendi pulang aja ya tante, soalnya belum ijin mama tadi takut nyariin." tolak Rendi "aku pingin makan masakan tante tapi takut mana nyariin juga." timpal Rio hingga yang lain berpikiran sama. Widia memaklumi, ia tidak mencegah mereka jika ingin pulang karena pasti memang orang tua mereka akan mencarinya.
____
Mereka tengah berpamitan pada Widia dan Mayra sebelum pulang "jangan nonton drakor lagi ya, ntar mata loe sembab lagi. Itu kacamata nempel mulu dah." ujar Shania "iya."
Sementara, Rendi masih terpikir fhoto itu, tidak tahu apa yang membuat Widia langsung merebutnya saat Mayra datang. Apakah fhoto itu ada kaitannya dengan sebab Mayra menangis? dan buku diary yang ia baca, apa maksudnya?
"Bengong, entar kesambet loh." Bisma mengagetkannya membuat Rendi tersadar dari lamunannya.
"Ren, gw nebeng loe ya." Revan memohon dengan mengatupkan kedua tangannya "rumah loe beda arah, entar diturunin tengah jalan mau?" Bisma menimpali namun Revan tidak peduli dan terus mengatupkan tangannya pada Rendi "iya." Rendi berjalan kearah mobil, Revan yang mendengarnya tentu saja senang lantas mengikuti kemana Rendi.
Perlahan tiga mobil itu keluar dari halaman rumah Widia, mereka berdua masuk kedalam rumah mengingat hari mulai petang.
___
"Kok hujan ya padahal Ira mau ketaman." keluh Mayra kecil dengan menatap jendela kamarnya. Biasanya waktu ini ia tengah bermain ditaman bersama sahabatnya.
Dor
"Akhh...." Ira yang kaget lantas mengelus dada, menoleh kebelakang ternyata itu sahabatnya, terlihat sang sahabat tertawa dengan memegang perutnya.
"Ndi kok kagatin Ira sih." ucapnya dengan mengerucutkan bibirnya membuat sahabatnya semakin tertawa "ihhh, gak lucu."
"Ira jangan marah, Ndi bawa sesuatu." ujarnya membuat Ira berbinar "apa itu?" tanyanya dengan tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih.
"Tada...." sahabatnya mengeluarkan crayon beserta buku gambarnya "bagus banget, Ira pinjam ya." ia langsung merebut crayon yang dipegang sahabatnya, lantas Ira mengambil sebuah buku dari laci
__ADS_1
Ndi membuka buku gambarnya bersiap mewarnai, ia melirik pada Ira yang sudah mulai menggambar namun Ndi melihatnya dengan kening berkerut "Ira kok gambarnya dibuku?" tanyanya heran "emang kenapa?"
"Ndi juga bawa buku gambar. jadi kita gambarnya disini." serunya membenarkan "Ira maunya disini." keukeuhnya "tapi itu bukan buku gambar." ujarnya namun Ira tak menjawab
"Yeay selesai." girangnya "Ndi lihat banguskan gambar Ira." menunjukkannya pada sang sahabat dengan wajah senang "kenapa Ira gambarnya diluar?" tannyanya, melihat jika Ira menggambar sampulnya membuat ia tambah bingung
"Ira sengaja." ketusnya dan ia pun berlari keluar kamar membawa buku itu dengan meneriaki mamanya "mama! mama!"
"Jangan lari-lari nanti jatuh." peringat sang mama namun Ira tidak peduli "mama." ujarnya setelah sampai pada sang mama "iya, kenapa sayang?"
"Ajarin Ira nulis." mamanya menjawab "nulis apa sayang?"
"Ira, Ndi." ujarnya membuat sang mama tersenyum "baiklah, sini." Ira menyodorkan buku itu, Widia membukanya namun sang putri melarang "bukan disana, tapi...." ia menutup kembali buku itu lantas melanjutkan kalimatnya "disini." menunjuk pada sampul buku yang telah ia gambar tadi "tapi ini sampulnya sayang." ujar sang mama membuat Ira cemberut "Ira maunya disini."
"Yasudah, sini mama tulis."
"Yeay sudah, bagus'kan maa." sang mama tersenyum, ia bahagia jika melihat putrinya itu bahagia.
"Ira!" teriak anak lelaki yang lebih tua darinya, terlihat ia masih memakai seragam sekolah dasar dan baru saja pulang "anak mama udah pulang." lelaki itu mengangguk dan mencium pipi sang mama. Ia mencium pipi adiknya Ira namun gadis itu malah memarahinya "kakak, Ira lagi gambar! jadi jelek kan." gerutunya "Ira gambar apa?" ia melihat buku tersebut, seperti pandangan Ndi dan Widia ia melihatnya heran kenapa adiknya menggambar disampul buku. Manaf hendak bertanya namun Widia lebih dulu menyelanya "Manaf kamu makan dulu gih." tak ingin putrinya cerewetnya itu ngambek lagi karena diganggu "Manaf gak laper." jawabnya sedikit cemberut "eh kok cemberut?"
"Ira lebih sayang sama Ndi, kakaknya dilupain." tuturnya, ia kira gambar itu adalah dirinya namun ada tulisan yang membuat ia kecewa "Ndi." Ira menatapnya, manik mata mereka bertemu namun Manaf lebih dulu memalingkan wajahnya dan bersedekap dada dengan bibir mengerucut "kakak jangan marah." bujuk Ira, ia menghampiri sang kakak dan memeluknya dari belakang "gak mau! Ira lebih sayang sama Ndi."
"Tapi Ira buat gambar kakak juga kok." jawaban Ira membuat Manaf berbinar dan menoleh padanya "benarkah?" Ira mengangguk "dimana?" tanya Manaf membuat Ira terkejut karena sebenarnya ia tidak sungguh-sungguh agar kakaknya berhenti merajuk "ada dikamar."
"Kakak mau lihat." Ira kembali bingung "itu... rahasia." mendadak senyum Manaf meredup "kok gitu sih? kakak ambil sendiri aja." Manaf berdiri "kakak tidak akan menemukannya." ucapnya dengan sebenarnya, spontan Manaf berbalik "kenapa?" Ira gelagapan "gapapa kakak bisa mencarinya." Manaf masih keukeuh dengan pendiriannya dan berjalan hendak kekamar adiknya "kakak!" Manaf kembali menoleh "biar Ira yang mengambilnya."Ira berlari, tidak ingin Manaf lebih dulu sampai dikamar.
Sampai ditempat tujuan ia menutup pintu kamar, tidak ingin kakaknya menyusul. Ia terus mengobrak-abrik isi laci berharap ada sesuatu yang ditemukan. Lama ia mencari hingga akhirnya pandangan tertuju pada sahabatnya yang masih sibuk menggambar, ia mendapat ide "Ndi! Ira pinjam gambarnya ya." ia merebut itu dan kembali ingin menunjukkan pada kakaknya tidak peduli dengan gambar yang belum selesai itu asal kakaknya tidak marah.
"Kakak!" Manaf dan Widia menoleh "lihat ini!" Ira menunjukkan gambar yang dibuat sahabatnya itu pada sang kakak. Manaf mulai membuka buku gambar itu "kok ada nama Ira, Ndi sih." Ira terlonjak "itu... Ira gak sengaja." menggaruk tekuk yang tidak gatal dengan cengengesan. Melihat kakaknya kembali cemberut membuat ia menggerutu "yasudah kalau tidak mau, Ira kasih Ndi aja." mengambil buku itu dan hendak kembali kekamarnya "jangan ngambek dong, kakak sayang Ira." ia memeluknya dari belakang dan mencium pipi adiknya.
__ADS_1
____
"Ndi maaf yah gambarnya dipinjam kakak." ia menghampiri sahabatnya dengan perasaan tidak enak "tapi Ira buat ini." ia menyodorkan buku yang sempat membuat sahabat beserta mama dan kakaknya bingung. Perlahan Ndi membuka buku itu penasaran dengan isinya "Ira kok nulisnya dari belakang?" Ira mengambil alih buku itu "kata mama masa lalu itu penuh dengan kenangan bukan kepahitan."
"Jadi yang terakhir bukannya menyakitkan. Hidup ini terus berjalan dan tidak semuanya akan seperti sekarang. Adakala kita bisa dibawah bahkan diatas. Ira gak tahu lain kita akan bersama atau tidak. Belum tentu besar nanti Ira akan sebahagia sekarang. Hidup ini bagai cerita yang berubah-ubah alurnya, diawal kesedihan dan diakhiri kebahagiaan ataupun diawali dengan kebahagiaan dan akhiri kesedihan. Ira gak mau baca ini diawali kebahagiaan dan akhiri kesedihan. Jadi, Ira nulisnya dari belakang." sahabatnya hanya menganghuk-anggukan kepala ketika Ira menjelaskan "tapi Ndi yakin hidup Ira akan bahagia selama-lamanya." ia berucap dengan tangannya membentuk sebuah lingkaran besar diudara.
Sementara, dua orang wanita paruh baya menyaksikan mereka dari ambang pintu dengan menitikan air mata.
"Ndi, ayok kita pulang." ujar mama Ndi "tante, Ira masih mau main." Ira berkata diangguki sahabatnya "Ira, ini udah sore Ndi harus pulang." ujar Widia meyakinkannya. Ira hanya cemberut, Ndi pergi hendak pulang tapi sebelum itu ia membisikan sesuatu jika ia janji akan bermain ditaman. Tentu saja Ira amat senang mendengarnya.
Namun, keesokan paginya Ndi tidak kunjung datang menepati janji "Ira ayok pulang sebentar lagi hujan." sudah beberapa kali Widia mengajaknya tapi Ira tetap keukeuh dan akan menunggu sahabatnya datang. Hujan pun turun, Widia terpaksa menggendongnya dan membawa pulang "kenapa Ndi gak datang."
Buku diary ia buka 13-06-2008 "pergi"
"Ira gak tahu huruf lain, hikss...."
****
"May! bangun udah siang." Widia menggedor-gedor pintu kamar Mayra membuat gadis itu mengerjapkan matanya "hoam...." ia menguap, meraih ponsel sekedar melihat jam berapa sekarang "apa? jam tujuh!" bergegas ia melompat dari tempat tidur, berlari kekamar mandi. Widia yang mendengar teriakkan putrinya hanya menggelengkan kepala.
___
"Gw pikir loe gak bakal sekolah lagi karena nonton drakor." cibir Shania ketika Mayra menghampiri mereka dengan nafas tak beraturan. Mayra tidak menjawab, ia masih mengatur nafasnya
Tin Tin
Suara klakson mengalihkan perhatian mereka, dari dalam mobil keluar seorang gadis dengan angkuhnya dengan dua orang pria berbadan kekar ikut keluar dan menyusul dari belakang. Mayra terus memperhatikannya. Hingga, gadis itupun menoleh padanya, manik mata mereka bertemu
"Gadis itu!"
__ADS_1