
“Aku bisa memberimu setengah dari kunci perak, tapi dengan syarat, kamu harus memberitahu identitasmu sebenarnya,” kata Devo Wijaya dengan tatapan bosan.
“Baiklah.” Lastry Tanner mengangguk.
Setelah beberapa saat.
“Kenapa kamu tak kunjung bicara?” Tanya Devo Wijaya.
“Beri aku kunci perak terlebih dahulu,” Lastry Tanner mengulurkan telapak tangannya dengan ekspresi licik.
“ ...” Devo Wijaya memutar matanya, dan membagi kunci perak yang baru saja diperoleh, lalu berikan kepada Lastry Tanner, dan berkata: “Bagaimana sekarang? Cepat katakan identitasmu dan mengapa juga kamu berada di sini?”
“Katakan apa?” Lastry Tanner tampak tak bersalah.
“Oh,” Devo Wijaya mengerjap, dan berkata: “Sepertinya kamu sengaja mempermainkanku.”
“Em ... aku tidak tau siapa aku. Aku datang kemari untuk mencari tahu identitasku.”
“Sudah berakhir.” Devo Wijaya langsung menebak, dan berkata langsung karena ini sungguh seperti halnya rutinitas.
“Sudah berakhir.” Lastry Tanner merentangkan tangannya, sangat bebas dan mudah sekali.
Setelah mendengar hal itu, Devo Wijaya tak peduli lagi dengan urusan wanita itu dan bertanya terkait topik lainnya: “Apakah kamu memiliki beberapa informasi dari berkaitan dengan Kuil Majuyopenak?”
“Tidak.” Sekali lagi Lastry Tanner merentangkan tangannya, sangat bebas dan mudah.
“Sudah berakhir.” Devo Wijaya mengela nafas.
“Sudah berakhir.” Lastry Tanner mengangguk dari waktu ke waktu.
“Ternyata lebih sulit mendapatkan beberapa informasi dari mulutmu daripada pergi ke surga. Baiklah, aku akan pergi ke Kuil Majuyopenak.”
Setelah mengatakan kata-kata itu, Devo Wijaya mengepakan sayap dan pergi dengan cepat, lalu Lastry Tanner juga bergegas mengikutinya.
Satu jam kemudian, ada kuil megah yang telihat tinggi mencapai langsung ke awan putih, dan Devo Wijaya serta gadis Lastry Tanner sudah terlihat.
“Mungkinkah tampilan ini, apakah Kuil Majuyopenak?”
Devo Wijaya menatap atas dan bawah pada kuil itu.
Bangunan terlihat besar dan megah, serta baru pertama kalinya melihatnya.
Segera, keduanya mendarat di platform emas yang melingkar di kuil ini.
Di peron kuil, sudah banyak orang telah berkumpul.
Pada saat melakukan pendaratan, Devo Wijaya dan Lastry Tanner melihat sosok tua yang datang seperti teleportasi.
“Tolong serahkan kunci perak yang anda dapatkan, dan laporkan nama anda.”
Sosok pemandu itu ternyata Rubijo.
__ADS_1
Devo Wijaya dan Lastry Tanner mengangguk, lalu segera mengeluarkan semua kunci perak yang telah diperoleh dari paket mereka sendiri.
Dengan berlalunya waktu, semakin banyak pendekar bergegas ke Kuil Majuyopenak.
Sudah ada sekitar tiga ratus pendekar lebih telah tiba di Kuil ini.
“Selamat kepada semua peserta yang telah berhasil menonjol dari puluhan ribu kontestan. Aku adalah orang yang akan bertanggungjawab atas kompetisi pendekar hebat ini. Selanjutnya, aku akan memberi tahu kalian aturan putaran kedua ... “
Sosok hitam transparan muncul di atas kehampaan dari udara yang tipis seolah-olah gambar yang diproyeksikan, dan suaranya sangat samar dengan cepat menghilang.
Semua peserta mendengar dengan seksama, beberapa peserta terkejut, dan segera menjadi tenang.
Aturan putaran kedua sangat sederhana, para peserta hanya perlu naik lapis demi lapis sampai mencapai lantai teratas, dan di atas sana ada arena pertempuran yang menentukan. Kuil Majuyopenak memiliki sembilan lantai, dan masih ada kondisi yang tak terhindarkan, yakni untuk memasuki lantai teratas, peserta harus memiliki lima ribu kunci perak untuk membukanya.
Tentu saja nomor itu cukup mengejutkan para peserta.
Mengumpulkan kunci perak sama saja harus menyingkirkan peserta yang lain, dan hal itu jelas tidak mudah serta sangat menakutkan.
Tapi masih ada hadiah yang menggiurkan, apabila peserta dapat memasuki peringkat sepuluh besar.
Tempat kesepuluh hingga kelima, masing-masing mendapatkan pill koplo peningkat level kultivasi.
Tempat keempat dan ketiga, selain mendapatkan pill koplo peningkat level kultivasi, juga akan mendapat volume seni bela diri tingkat bumi.
Tempat kedua, selain di atas, juga akan mendapatkan kesempatan untuk dapat memasuki ke “Dunia Makan Pendekar” untuk memilih pusaka/senjata.
Tempat pertama, akan ada hadiah khusus, dan ada kemungkinan untuk mendapat dukungan dari kekuatan kuno yang kuat.
“Pada kesempatan yang baik ini, kompetisi pendekar hebat telah dihadiri oleh beberapa tamu terhormat, total sepuluh kekuatan kuno. Kecuali tempat pertama yang direkomendasikan, sisanya, selama mereka dapat menarik minat, masih ada kesempatan untuk direkrut oleh kekuatan-kekuatan itu. Jadi, berjuanglah dengan baik selama dalam kompetisi ini.”
Sebelum sosok hitam transparan itu menghilang, dia menambahkan: “Semua kunci perak yang kalian dapatkan sebelumnya di sesi pertama akan dikembalikan ke tanganmu sendiri. Sekarang, kontes peringkat pendekar hebat secara resmi dimulai.”
Rumble!
Saat kata-kata sosok hitam transparan itu menghilang, sebuah pintu hitam perlahan terbuka di tengah platform bundar.
Para peserta dengan tertib mengambil kunci perak milik mereka sendiri, dan setelah itu bergegas pergi masuk.
“Wuss!”
Tanpa ada keraguan, mereka terus maju dalam sekejap.
Mata ikan asin Devo Wijaya tidak bergeming, lalu sosoknya melintas, dan dia mengikuti peserta lainnya.
“Hei, jangan tinggalkan aku sendiri.” Lastry Tanner menatap Devo Wijaya yang telah pergi dalam sekejap, menghentakkan kakinya dengan ekspresi cemas dan bergegas untuk menyusul.
******
Di dalam Kuil Majuyopenak, lantai pertama.
Ruangan terlihat remang-remang dengan sedikit pencahayaan.
__ADS_1
“Oh.” Devo Wijaya mengerjap dan sedikit terkejut, bergumam: “Aneh sekali.”
Karena saat ini, dia tidak dapat merasakan keberadaan orang lain di sekitarnya.
Kecuali dirinya, ratusan orang lainnya bahkan tidak memiliki fluktuasi aura sedikit pun.
Tepat ketika Devo Wijaya merenung, tiba-tiba ada gelombang aneh mencoba merasuki dirinya.
"Bunuh! Bunuh! Bunuh!"
Dalam sekejap, Devo Wijaya merasakan niat membunuh yang mencoba mempengaruhi pemikirannya, tapi di bawah niat membunuh ini, dia tak mengalami sesuatu yang luar biasa dan tidak sesuai dengan rutinitas.
“Hei, siapa yang berbisik di benakku barusan, “gumam Devo Wijaya saat merasa bingung yang tidak bisa dijelaskan.
“Boom!”
Ruangan itu terlihat penuh retakan seperti cermin yang rusak, remang-remang di sekitar tiba-tiba menghilang, dan cahaya mulai turun.
“Oh, ini seharusnya lantai dua Kuil Majuyopenak, kenapa begitu cepat? Aneh.”
Devo Wijaya tidak mengerti dengan apa yang terjadi sebelumnya dan merasa heran ketika melihat di sekitar.
"Boom! Boom!"
Gemuruh keras terdengar tiba-tiba, dan kemudian, di hadapan Devo Wijaya, dua boneka besi hitam muncul dari udara tipis.
Kedua boneka besi hitam ini tiga kali lebih tinggi dari Devo Wijaya, dan tidak ada aura yang terpancar dari tubuh besi itu.
“Ya, ini mirip di film-film yang pernah aku tonton di bioskop. Sepertinya hanya dengan mengalahkan kedua besi kaleng ini, aku dapat pergi ke lantai berikutnya.”
Devo Wijaya mengepalkan kedua tangannya, dan bergegas memberi mereka pukulan yang tak terlupakan sepanjang mereka dibuat.
Tapi masalahnya, apakah keduanya memiliki pemikiran/kebijaksanaan?
Lupakan saja!
Ketika Devo Wijaya bergegas, kedua boneka besi hitam itu juga bergegas keluar saat mereka memegang kapak di tangan mereka.
Tubuh besih hitam mereka sangat berat, dan setiap kali mereka melangkah, seluruh ruangan seperti akan runtuh.
“Bang! Bang!”
Angin mengerikan menyapu dalam sekejap, sebelum kemudian menjadi tenang.
Sebelum kapak mereka membelah tamu yang tak diundang, dua kepalan tangan Devo Wijaya telah menghasilkan lubang besar di dada kedua boneka besi hitam itu, dan keduanya boneka besi hitam itu roboh secara bersamaan di lantai.
“Boom!’
Rumble!
Tubuh yang berat itu seakan-akan dapat meruntuhkan seluruh kuil Majuyopenak.
__ADS_1
“Ternyata tidak sekuat yang aku bayangkan, “gumam Devo Wijaya sambil mengupil dan melihat kedua boneka besi hitam itu dengan tatapan membosankan.