Strongest Big Boss System

Strongest Big Boss System
Eps 31: Aku Tak Ingin Menjadi Miskin!


__ADS_3

Melihat tatapan Devo Wijaya itu, mata Lisa Puspitasary mengelak tanpa sadar.


“Harga saat ini adalah 210.000 koin emas, adakah yang akan menaikkan harganya?”


Lisa Puspitasary dengan cepat menyesuaikan diri, dan segera menanyakan pada para pendekar lagi.


“Para hadirin yakinlah bahwa kelereng ini sangat berharga dan saya harap tidak akan ada yang melewatkannya.”


Melihat ke sekitar tak ada yang menawar, Lisa Puspitasary tidak merasa malu, dan bertindak profesional.


Mungkin pada kesempatan ini harganya terlalu tinggi, sehingga efeknya minimal.


“Karena tak ada lagi yang menawar, maka kelereng ini milik ... “


“Aku tak ingin melewatkan.”


Saat Lisa Puspitasary hendak mengumumkan hasilnya, suara rendah tiba-tiba terdengar dari barisan depan.


“Ya, mungkin hari ini bukan keberuntunganku, aku tak punya banyak uang, “ kata Devo Wijaya dengan suara rendah tanpa ekspresi, dan segera menoleh ke arah sumber suara itu.


Orang yang berbicara itu, tampaknya dari salah satu kekuatan besar.


“Tn. Narto, apakah itu kamu?”


Tatapan Lisa Puspitasary jatuh ke barisan depan pelelangan, dan ketika dia melihat penawar, dia bertanya dengan sopan.


“Hehe, entah mengapa tiba-tiba aku tertarik dengan kelereng itu, jadi aku menawar 250.000, “ kata seorang pemuda di barisan depan sambil tertawa kecil.


“250.000?”


“Luar biasa, Narto Astrobenjho yang hebat ini benar-benar mudah hati.”


Banyak pendekar yang terkejut dengan harga ini, dan tidak ada yang berani mengejek seperti yang dilakukan mereka kepada Devo Wijaya sebelumnya.


“260.000.”


Tepat ketika para pendekar dikejutkan oleh tawaran Narto Astrobenjho, suara Devo Wijaya bergema di aula lagi.


“Lihat, lihat, orang itu berani bersaing dengan Tn. Narto. Apakah dia benar-benar putus asa?”


“Astaga, ternyata dia benar-benar  memiliki masalah dengan otaknya.”


Banyak pendekar memandang dengan kasihan ke arah Devo Wijaya.


Narto Astrobenjho adalah salah satu kekuatan terbesar di Kota Buluketiak, dan seorang pendekar biasa berani bersaing dengan kekuatan besar di panggung yang sama, itu sama saja mencari kematian.


Selama masih dalam pelelangan, anda mungkin aman-aman saja, tapi ketika anda keluar dari pelelangan, hal-hal buruk bisa terjadi.


“300.000.”


Narto Astrobenjho bahkan terlalu malas untuk melihat Devo Wijaya, masih dengan senyum santai, dan berkata ringan dengan suara yang tak perlu dipertanyakan lagi.


“Oh, ingin bersaing denganku, “ gumam Devo Wijaya, dan segera menawar harga lain. “310.000.”


“350.000,” Narto Astrobenjho berkata tanpa jeda.

__ADS_1


“360.000,” Devo Wijaya tak mau ketinggalan kereta.


“400.000,” wajah Narto Astrobenjho berkedut, dan dia segera mendengus pelan.


Perilaku Devo Wijaya telah membuatnya marah di hati yang terdalam.


Tapi, Devo Wijaya tak tahu itu dan dengan ekspresi membosankan, dia menawar lagi.


“410.000.”


Keduanya tak ada yang menyerah dalam menawar.


“Orang ini, keberaniannya tak kecil.”


“Hei, keberanian yang luar biasa itu hanya akan membawa malapetaka pada dirinya sendiri, setelah menyinggung Tn. Narto.”


Banyak pendekar berbisik-bisik dengan suara rendah.


Lisa Puspitasary, yang berada di atas panggung lelang, tampak lesu saat menyaksikan persaingan antara dua orang itu.


Dia juga tak menduga akan ada orang yang tidak dikenal akan berani bersaing dengan Narto Astrobenjho.


“410.000, pertama kali.”


“410.000, kedua kali.”


“410.000, yang ... “


“450.000!”


Ketika Lisa Puspitasary ingin melaporkan hasil akhir itu, Narto Astrobenjho berteriak.


“Yo, Tn. Narto memang kaya, tapi aku tak mudah menyerah, empat ratus sembilan puluh ribu.”


Devo Wijaya mengangkat bahu dan berkata begitu saja.


“500.000!” Narto Atrobenjho mendengus dingin.


“510.000,” Devo Wijaya mengerjap sesaat, tak ada kepedulian.


Ketika Narto Astrobenjho ingin menawar lagi, tiba-tiba dihentikan oleh seorang lelaki tua di sampingnya.


“Tuan Muda, jangan lupa tujuan kita datang kemari bukan untuk kelereng itu. Jika kita menghabiskan banyak uang untuk kelereng itu ...”


Mengabaikan kata-kata lelaki tua itu, Narto Astrobenjho menyela  dan berkata, “Kelereng itu pasti menyembunyikan rahasia khusus, aku tak ingin membiarkan orang lain mendapatkannya.”


“550.000!”


Narto Astrobenjho berteriak keras dengan ekspresi marah.


“560.000,” Devo Wijaya berkata dengan nada datar sambil mengupil.


“Tuan Muda, jangan impulsif. Mungkin, ini hanya jebakan yang disiapkan oleh pihak pelelangan. Itu bisa kelereng yang terlihat menarik saja.”


Lelaki tua itu takut Narto Astrobenjho semakin dalam, dan dia tak tahan untuk berbicara lagi.

__ADS_1


“Aku tak peduli, bagaimanapun juga aku harus mendapatkannya. Bagamana mungkin aku bisa kalah dengan pendekar biasa itu, mau ditaruh mana wajahku ini?” Narto Astrobenjho memiliki sikap tegas tak tergoyahkan.


“600.000!”


Narto Astrobenjho mengatakan angka yang membuat semua pendekar terkejut dan heboh di aula.


Dia atas panggung, Lisa Puspitasary sudah terkekeh dengan mulut yang ditutupi telapak tangannya.


Kelereng dengan rahasia yang tak diketahui dilelang seharga 600.000 koin emas, yang memang sangat fantastis. Bahkan penilai profesional mereka di pelelangan tak bisa mengidentifikasi rahasia dari kelereng ini.


Memutar matanya, Devo Wijaya menguap, berdiri  memandang ke arah Narto Astrobenjho di barisan depan dan berkata dengan jujur, “Pada titik ini, aku tak ingin menjadi miskin, dan kau menang.”


Devo Wijaya mengacungkan dua goyang ibu jari ke arah Narto Astrobenjho dengan ekspresi membosankan, lalu mengangkat bahu dan duduk kembali di kursinya dengan kepalan tangan kanan yang menyangga dagunya.


“...”


Seluruh pelelangan menjadi terasa sepi, setelah mendengar kata-kata Devo Wijaya itu.


Beberapa detik kemudian, ada cekikikan yang sulit ditahan di antara para pendekar yang hadir.


“Sialan!”


Wajah Narto Astrobenjho berubah menjadi hijau setelah merasa ditipu oleh Devo Wijaya.


Setelah Lisa Puspitasary bertanya tiga kali seperti rutinitasnya, kelereng bintang satu itu akhirnya jatuh ke tangan Narto Astrobenjho yang kepalanya berkeringat deras.


Harga itu di luar imajinasi orang biasa, sekarang ini tidak seperti suatu kehormatan, tapi lebih seperti sebuah ironi di atas ironi.


“Bagaimana cara aku mendapatkan kelereng bintang satu itu dengan murah?”


Devo Wijaya mulai berpikir keras di dalam benaknya.


Lelang tersebut jatuh ke dalam periode singkat, setelah mengalami pasang naik lelang kelereng bintang satu sebelumnya.


Hal-hal lain tak dapat menarik minat Devo Wijaya yang sudah lama merasa bosan, tak terasa waktu demi waktu berlalu dengan semakin banyaknya barang yang telah dilelang, dan pelelangan pun berakhir dengan keuntungan yang luar biasa untuk pihak penyelenggara lelang.


Item terakhir berupa buku keterampilan bela diri mistis yang dimenangkan oleh kekuatan besar di Paviliun Goldjoss, seorang pemuda bernama Janter Goldjoss.


Devo Wijaya melihatnya sekilas kekuatan besar itu, dan kembali sibuk makan roti kering yang di belinya dari mal sistem.


Pada titik akhir ini, harga lelang buku keterampilan bela diri mistis telah mencapai 4,5 juta koin emas.


“Sialan, salahku ... karena aku telah menghabiskan banyak koin emas untuk membeli kelereng bintang satu itu. Jika tidak, aku pasti yang berhasil mendapatkan buku keterampilan seni bela diri mistis itu.”


Narto Astrobenjho menatap marah pada Devo Wijaya, yang sedang makan sesuatu di sana dan menyaksikan ini, mengutuk dalam hatinya.


“Orang yang tak beruntung.”


Devo Wijaya secara alami memperhatikan tatapan Narto Astrobenjho sekilas, dan segera mencibir dalam benaknya.


Momentum dari Janter Goldjoss terlalu kuat, dan harganya relatif terlalu tinggi, itu di luar jangkauan semua kekuatan besar lainnya.


Lisa Puspitasary tentu sangat puas dengan lelang kali ini, dan dengan senyum gembira, segera mengumumkan akhir sempurna dari lelang hari ini.


Di akhir pelelangan, para pendekar Astrobenjho yang dipimpin oleh Narto Astrobenjho pergi tergesa-gesa.

__ADS_1


Devo Wijaya tak menyusulnya karena dia memilih mengikuti Paviliun Goldjoss


Dengan temperamen buruk Narto Astrobenjho, mereka pasti akan memperhatikan Paviliun Goldjoss.


__ADS_2