
“Raungan Meriam Bintang Jatuh Ke ******!”
Hancurkan dunia!
Di bahwa serangan energi tingkat tinggi ini, hampir tidak ada yang dapat terus ada, dan cahaya yang menyilaukan itu jatuh ke matanya Devo Wijaya. Kemudian, dia tanpa sadar mengulurkan telapak tangan kanannya untuk menghalangi sorotan cahaya yang jatuh di matanya, “Astaga terlalu menyilaukan.”
Dalam sekejap, gelombang energi tersebut menelan semuanya, bahkan pesawat ruang angkasa di sana!
“Boom!”
Segala sesuatu di cakrawala disapu dan dimusnahkan dalam gelombang ledakan energi penghancur yang merusak, serta dapat menghancurkan suatu planet.
“Orang ini, tak berniat menghindarinya, apakah dia putus asa?” pikir Bolozcool Yoomen di hati yang terdalam dan sekarang ini tubuh dalam kondisi lemah, karena telah menghabiskan seluruh energinya.
Tapi masih ada kegilaan dalam dirinya.
Selesai.
Akhirnya orang itu dikalahkan!
Gelombang energi yang sangat menghancurkan ditembakan ke arah Devo Wijaya dengan cara yang mengesankan.
Bolozcool Yoomen ingat dengan apa yang pernah dikatakan Rangguladarah kepada dirinya.
Cukup yakin.
Prediksi yang tak dapat diandalkan.
Pada akhirnya, akulah yang menang ... ramalan itu salah.
Asap dan debu tersebar, lalu lewat begitu saja bersamaan dengan angin yang datang.
Di hadapannya, sosok pria dengan celana kolor hijau penuh lubang saringan dan terlihat compang-camping, berdiri dari kedalaman ratusan meter setelah menerima serangan telak yang hebat barusan.
Orang ini, tak bisa dihancurkan!
Mata Bolozcool Yoomen melebar dan di benaknya, suara ramalan terdengar samar, “Di planet yang jauh, seseorang dengan tampilan wajah yang membosankan dapat bertarung dengan sepenuh hati, dan membiarkanmu menggila hingga bertarung dengan segala yang kau miliki. Kemudian kau akan dikalahkan atau dibunuh olehnya!”
***
Di tanah yang cekung, Devo Wijaya memiliki tubuh gelap dan berasap.
Kulitnya tidak memiliki masalah, tetapi dia telihat gelap dan terlihat memalukan seperti bagian bawah wajan yang hangus, karena efek dari pembakaran kayu bakar.
“Aku masih bisa melihat langit yang biru, sepertinya aku masih hidup ...”
__ADS_1
Devo Wijaya menengadah ke langit sesaat dan menatap Bolozcool Yoomen, “Barusan, aku hampir berpikir bahwa aku akan dipanggang tanpa diolesi racikan bumbu dapur ... aku juga berpikir gerakan itu terlihat bergaya dan terdapat sedikit unsur seni artistik, tapi karena terlalu menyilaukan, aku tak dapat melihat ... gerakan sepenuhnya. Jika aku memiliki kekuatan yang sama dengan milikmu, bisakah aku membunuhmu?”
Wajah Bolozcool Yoomen sedikit berkedut dan tersentak, “Oh ... tapi bisakah kau mengumpulkan energi bersama pada satu titik dan kemudian meledakan dalam bentuk gelombang energi kejut? Gerakan ini bawaan lahir dari ras kami, struktur tubuhmu itu terlalu sederhana dan seperti sangat mustahil untuk melakukan hal itu ...”
“Ah, jadi begitu ... terima kasih telah mencerahkan pikiranku,” kata Devo Wijaya mengangguk dan meremas kepalan tangan kanannya.
“Tapi bisakah pukulan seriusku membunuhmu? Aku ingin mencobanya ...”
Devo Wijaya memasang kuda-kuda dan menekuk siku kanannya dan dengan penuh tenaga tinju tangan kanan dihempaskan ke arah Bolozcool Yoomen, lalu berkata dengan suara rendah, “Lagi serius ... pukulan serius!”
Tidak bisa dijelaskan, tiba-tiba sebuah kata “Mati” muncul di benak Bolozcool Yoomen.
Dia secara sadar memiliki keinginan untuk segera menghindari pukulan itu, tetapi kemudian tubuhnya tak memiliki kekuatan ekstra, dan tak ada pilihan lain selain menyilangkan tangannya untuk memblokir serangan.
“Ahh ... !!!”
“Boom!”
Gelombang pukulan yang begitu dahsyat menyapu perbatasan tanpa terhentikan hingga menembak ke alam semesta dan menghilang.
“Gedebuk.”
Bolozcool Yoomen jatuh ke tanah dan tubuhnya terlihat membusuk, hanya menyisakan kepala yang agak keriput dan sisa kesadaran terakhir.
“Kau masih sadarkan?”
Devo Wijaya menatap langit yang tanpa awan, bertanya-tanya apa yang dipikirkannya, “Kau seharusnya bisa menghindarnya, ’kan?”
Suasana menjadi sunyi.
Setelah sekian lama.
Bolozcool Yoomen yang telah sekarat akhirnya berbicara dengan susah payah, dan ada senyum yang tak bisa dijelaskan di sudut mulutnya, “Aku akan ... merasa malu jika menghindarinya ... sebelumnya kau tak menghindar dari seranganku ... jadi ... kenapa juga aku harus menghindar?”
“Jadi begitu, tapi ... harus aku akui kau memang kuat,” kata Devo Wijaya dengan santai.
Dia terlalu kuat.
“Sesuai ramalan ... pertarungan ini sangat sengit.”
Berbaring di tanah yang tandus, Bolozcool Yoomen tiba-tiba membuka matanya ketika Devo Wijaya berjalan pergi.
“Ya, kau benar.” kata Devo Wijaya tanpa melihat ke belakang sedikit pun.
“Kau pasti berbohong ... kau masih bisa santai, dan aku tak bisa melukaimu ...” Bolozcool Yoomen berkata dengan susah payah, dan melanjutkan, “Bahkan barusan tak pantas disebut pertarungan.”
__ADS_1
“Kau terlalu kuat ... Tukijan!”
Setelah menyelesaikan kata-kata itu, dia meninggal dan membusuk menjadi debu, diterbangkan ke langit oleh angin yang datang berhembus, lalu menghilang tanpa jejak.
Devo Wijaya melihat kejauhan tanpa menghentikan langkah kakinya, dia berkata pelan, “Setelah kematianmu, aku akhirnya dapat membeli pakaian baru di mal sistem.”
Untungnya sekali, Bolozcool Yoomen tak bisa lagi mendengar, dia mungkin tak rela mati jika mendengarnya.
***
“Hai, bangun bocah bau!”
Seorang pria paruh baya menepuk-nepuk pipi Janter Goldjoss hingga memerah.
Setelah sekian lama.
Membuka matanya perlahan, Janter Goldjoss melihat sosok berjubah hitam yang sepertinya pernah dia lihat sebelumnya, dan detik berikutnya matanya terbuka lebar, “Ayah!”
“Baiklah, kau tak terluka parah ... untung saja aku datang tepat waktu, kalau tidak ... mungkin kau tak memiliki kesempatan untuk melihatku,” kata pria paruh baya sambil menghela nafas lega, setelah mengetahui bahwa putranya cepat tersadar.
Dia adalah Master Paviliun Goldjoss, Sudadi Goldjoss yang memiliki tubuh yang sangat kuat, dan di antara alisnya, ada satu tahi lalat berwarna kuning keemasan, serta memiliki aura sama tanpa kemarahan dan gengsi.
Melihat sekeliling, Janter Goldjoss menyadari bahwa dirinya saat ini sepertinya berada di dalam hutan yang tampak berbeda dari sebelumnya, dan tak bisa tak bertanya, “Apa yang terjadi?”
“Hei, di tempat kau pingsan sebelumnya ... telah menjadi medan pertempuran yang mengerikan ... aku bahkan tak tau latar belakang dua sosok yang bertarung dengan sengit itu,” balasnya dengan ekspresi muram, karena dia bahkan tidak dapat melihat dengan jelas penampilan mereka.
Dia lebih memprioritaskan keselamatan putranya dan segera evakuasi jauh dari medan pertempuran.
Tiba-tiba di saat mereka berbicara, datanglah tamu tak di undang.
“Dalyjo Astrobenjho,” kata Janter Goldjoss dengan pupil mata melebar dan bangkit dengan susah payah dari tanah, setelah melihat sosok itu dengan jelas.
“Dalyjo Atrobenjho, kau berani datang kemari untuk berurusan dengan kami ... aku sarankan padamu untuk berbalik pergi!”
Suara Sudadi Goldjoss tidak nyaring, tetapi ada kekuatan besar yang memberi tekanan di hati yang terdalam.
Tampilan Dalyjo Astrobenjho saat ini begitu mengerikan, tapi masih dapat dikenali melalu aura yang terpancarkan dari tubuhnya.
“Hehe, Master Paviliun Sudadi Goldjoss ... lama tak bertemu ... aku punya sesuatu yang perlu di lakukan, dan putramu harus tahu niat kedatanganku kemari, selain itu juga ... aku tak sendirian,” suara Dalyjo Astrobenjho jatuh tak memiliki urgensi sedikit pun.
Setelah kata-kata itu selesai, datanglah sosok dari kedalaman kehampaan.
Segera setelah itu, tubuh jangkung dan agak reyot muncul dari ruang hampa yang sobek dan berdiri di samping Dalyjo Astrobenjho.
Merobek kekosongan, ini adalah kemampuan khusus yang baru saja dimiliki oleh ranah Pendekar Kekosongan.
__ADS_1