
Sebagai Raja Naga dari Klan Naga, Taryono Naga jelas memiliki kekuatan yang hebat, dan tak mengherankan apabila dia dapat mengalahkan mereka hanya dengan satu pukulan.
“Anak muda, ayo pergi dari sini.”
Taryono Naga berbalik dan berkata santai.
“Ya, lagi pula aku tak suka gelap-gelapan,” kata Devo Wijaya begitu saja.
Setelah itu, keduanya melintas keluar dari lubang yang telah terbuka oleh pukulan sebelumnya.
“Pengganggu yang bosan hidup,” gumam Devo Wijaya saat merasakan sambutan yang tak ramah.
“Anak muda biarkan aku mengurusnya,” kata Taryono Naga yang sudah mengayunkan tinjunya.
Tinju yang disertai serangan energi yang luar biasa.
“Boom!”
Mata Taryono Naga berbinar dan tangannya bergerak cepat, dan ekornya itu menampar, dan energi itu menghancurkan pegunungan di kejauhan sana.
Suara gemuruh bergema setelah ledakan berlalu.
“Sialan!”
Jongece terkejut saat ada yang menolong pemuda itu, dan matanya terbuka lebar saat melihat sosok yang dikenal, lalu berkata, “Kau ... bagaimana mungkin lolos, Raja Taryono?”
Tubuhnya menegang sekarang ini, dia hampir tak mempercayai matanya.
Tapi, dia harus menerima kenyataan dengan fakta yang saat ini berada di hadapannya.
“Yohoho, kita bertemu lagi ... Jongece dari Sekte Iblis Perkutut,” Taryono Naga berbicara dengan wajah muram.
Ketika dia terjebak, Jongece itu ada di sana juga.
“Bagaimana kau bisa keluar dari segel dan ilusi Master Sekte Iblis Perkutut?”
Wajah keriput Jongece menyusut, mengungkapkan ekspresi yang tak terbayangkan.
“Yohoho, itu tak penting lagi, mari kita selesaikan dendam dan jangan membicarakan sesuatu yang tak penting lagi,” kata Taryono Naga sambil menengadah ke langit dengan raungan kerasnya, dan kemudian aura yang mengerikan keluar dari tubuhnya.
Pada saat yang sama, lelaki bertopeng monyet dan lainnya dari Sekte Iblis Perkutut juga melintas dari arah tertentu.
Tetapi, ketika mereka merasakan aura mencekam yang terpancar dari Taryono Naga, mereka tercengang dan terkejut.
“Sepuluh Master Iblis segera bunuh Devo Wijaya dengan cepat!” Jongece berteriak keras, dan kemudian melanjutkan, “Sedangkan Raja Taryono, aku akan menahannya.”
Setelah mengatakan hal itu, dia mengerahkan aura yang kuat dari tubuhnya.
Meskipun kekuatannya saat ini lebih rendah dari lawannya, dia setidaknya dapat menahan lawannya dalam beberapa nafas.
“Taat!”
Sepuluh dari Master Iblis, serta ratusan pendekar di belakangnya, semua berteriak secara bersamaan.
Momentumnya begitu sengit hingga hampir menembus awan.
“Wuss!”
Sebagian besar pendekar yang tak ada kaitannya dengan masalah, terbang satu demi satu dari celah lorong yang runtuh.
“Hei, lihat ada Naga!”
“Astaga, bukahkah itu Sekte Iblis Perkutut?”
“Ini layak untuk ditonton!”
Satu demi satu, mereka langsung berdiskusi dengan meriah, tapi mereka bukan orang bodoh, sehingga segera melarikan diri dari medan pertempuran dengan putus asa, tidak berani tinggal satu detik pun, karena takut mati dan terlibat.
“Anak muda, bisakah kau menanganinya?” tanya Taryono Naga sambil melirik sepuluh master iblis dan ratusan pendekar.
“Tak ada masalah, “ Devo Wijaya berkata sambil menatap para musuh dengan tatapan mata ikan asin.
__ADS_1
Tentu kata-kata itu sangat mengejutkan ketika di dengar.
“Yohoo, anak muda ... aku tau kau sangat luar biasa dan cukup gila!” kata Taryono Naga sambil mengangguk dan menatap benci pada Jongece.
“Muda dan sombong, kau akan mati hari ini!” kata Jongece dengan dingin, memberi perintah, dan kemudian bergegas melawan Taryono Naga.
“Boom!”
Taryono Naga dan Jongece, dua orang kuat ini bertabrakan dalam sekejap mata.
Suara gemuruh bergema hingga di jutaan mil.
Di sisi lain, Devo Wijaya memukuli lawannya hingga tak kenal ampun, dan mereka tak henti-hentinya melakukan pengepungan.
“Datang dan aku kirim kalian keakhirat.”
Devo Wijaya menampar lawannya hingga menjadi kabut darah, dan terus-menerus memburu mereka.
Pemandangan itu terlalu mengerikan dan membuat para pendekar dari Sekte Iblis Perkutut berkeringat dingin.
“Sial, seolah-olah kita seperti umpan meriam.”
“Dia terlalu kuat ...”
“Ini ... aku masih punya istri di rumah dan belum ingin mati.”
Ini di luar imajinasi para pendekar dari Sekte Iblis Perkutut.
Setelah sekian lama, sejumlah pendekar telah di kirim keakhirat.
“Bagus, sumbangan kalian ... telah aku terima dengan tulus,” kata Devo Wijaya bergegas ke arah lawan yang masih tersisa.
Wajah lelaki bertopeng monyet sangat suram dan berteriak, “Semuanya, mari gabungkan kekuatan kita!”
Kekuatan Devo Wijaya terlalu mengerikan dan tak terbayangkan.
Sejumlah pendekar dari Sekte Iblis Perkutut yang tersisa segera berteriak serempak,” Mari kita lakukan bersama-sama!”
“Boom!”
Detik berikutnya, semburan energi merah meledak ke langit.
Mengenai apa yang mereka lakukan, Devo Wijaya hanya menatap kosong saat menyaksikan proses yang begitu lama itu.
Pemandangan ini membuat para pendekar yang menyaksikan dari kejauhan jantungnya berdebar-debar.
“Haha, kau tak bisa lari dan mati tanpa pemakaman yang sah. Kami telah menyegel jalan keluarmu.”
Lelaki bertopeng monyet tertawa keras, seolah-olah dia sudah bisa melihat akhir buruk Devo Wijaya.
“Sangkar Burung Iblis!”
Mereka berteriak serempak saat menembakan garis energi dalam sekejap, berpotongan satu sama lain, membentuk sangkar.
Devo Wijaya ada di dalam sel dengan tampilan yang membosankan, dan bergumam, “Oh, mereka memiliki bakat untuk membuat sangkar burung, bikin iri orang saja.”
Segera setelah itu, Devo Wijaya melihat sangkar burung itu menyusut dan ada perasaan menindas yang kuat.
“Rasanya tidak nyaman, mungkin beginilah perasaan burung yang berada di dalam sangkar,” kata Devo Wijaya tanpa banyak berpikir sambil mengepalkan tangan kanannya.
Kemudian memukul langit hingga menguncang.
“Boom!”
“Klik! Klik! Klik!”
“Boom!”
Bumi dan langit berguncang hebat, ledakan yang sangat mengerikan menggelegar ke segala penjuru.
Badai dahsyat menyapu semua yang ada di sekitar.
__ADS_1
Para pendekar di kejauhan segera berlindung, dan ketika dunia kembali tenang, mereka terkejut hingga rahang mereka jatuh.
Semua terjadi dengan tiba-tiba, begitu cepat sehingga pikiran mereka bahkan ada yang belum siap.
“Boom!”
Di atas kehampaan, suara ledakan keras terdengar mengerikan ketika tabrakan antara Taryono Naga dan Jongece terjadi.
“Puff!”
Seteguk darah dimuntahkan dari mulut Jongece, bagaimanapun kekuatannya jauh lebih lemah dari lawannya.
“Apa yang terjadi?”
Merasa ada ledakan energi yang mengerikan di belakangnya, Taryono Naga segera berbalik setelah memberi pukulan lagi kepada lawannya.
Tetapi, ketika dia melihat bahwa Devo Wijaya adalah satu-satunya yang berdiri di tengah kawah yang lebar, matanya langsung berputar.
“Anak muda, kau sangat luar biasa dan menjanjikan!”
Taryono Naga berkata dengan terkejut.
“Begitu adanya, “ kata Devo Wijaya dengan polos.
Meskipun dia sudah menebak di dalam hatinya, setelah mendengar persetujuan Devo Wijaya, Taryono Naga sangat terkejut dan sudut mulutnya bergerak-gerak.
Orang ini ... menyebalkan.
“Sial, kau Devo ... bagaimana kau bisa menghabisi Sepuluh Master Iblis pada saat yang sama?”
Jongece tidak lagi merasakan aura pendekar dari Sekte Iblis Perkutut lainnya dan bahkan sekarang dengan marah meneriaki Devo Wijaya.
“Kau bertanya padaku, lalu aku bertanya pada siapa?” ucap Devo Wijaya bercanda dan melanjutkan, “Berikutnya ... kamu.”
“Haha.”
Ketika Jongece mendengar kata-kata itu, dia langsung tertawa dan berkata, “Haha, kau memang kuat, tapi kau terlalu muda untuk berurusan denganku, dan kau hanya bisa menyerah untuk mati saat di hadapanku.”
“Lupakan, aku terlalu malas berbicara denganmu.”
Devo Wijaya menggelengkan kepala dan setelah mengatakan hal itu, sosoknya berkedip menghilang dari tempatnya berdiri.
“Swoosh, boom!”
Terlalu cepat hingga Taryono Naga terkejut, dia bahkan mungkin tak bisa melakukannya.
“Boom!”
Jongece memiliki mata yang terbuka lebar tak bisa menghindari sebuah pukulan, dan seluruh tubuhnya menjadi kabut darah yang kemudian tertiup angin.
Melihat Devo Wijaya menghabisi lawannya dalam sekejap, semua pendekar, termasuk Taryono Naga, membelalakkan mata mereka.
“Terlalu kuat pemuda itu.”
“Kuat sekali!”
“Apakah kau melihatnya tadi, dia terlalu kuat?”
“Ini ... apakah kau memiliki putri yang cantik, cobalah untuk menjodohkannya?”
“ ... “
Para pendekar di kejauhan menyaksikan pemandangan ini dengan terkejut hingga hati yang terdalam.
Taryono Naga memandang Devo Wijaya dengan tatapan yang luar biasa, dan minatnya meningkat pesat.
Bersambung ...
Jangan lupa komen dan penulis ini tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada pembaca yang vote!
__ADS_1
Thanks!