Strongest Big Boss System

Strongest Big Boss System
Eps 53: Tekanan Gravitasi!


__ADS_3

“Zizi … ”


Di ruang tertentu, para pendekar muncul secara bersamaan dari udara tipis, setelah mereka diteleportasi secara massal.


Undangan yang para pendekar bawa telah ditandai dengan segel teleportasi jauh-jauh hari sebelum undangan tersebut dibagikan ke seluruh penjuru Benua Chihuahua. Tentu saja, itu telah menjadi rahasia.


Jadi, Bejokuwok hanya menghidupkan mekanisme segel teleportasi dengan lambaian tangannya, dan para pendekar segera dipindahkan ke ruangan yang megah.


Ketika para pendekar tiba di tempat, pandangan mereka langsung tertuju pada pintu besar yang berlapis emas murni dan terlihat sangat mencolok di ruangan yang luas itu.


“Boom … ”


Pintu itu terbuka secara perlahan dengan berlalunya suara ledakan.


Detik berikutnya, sejumlah besar pendekar bergegas menuju pintu besar itu, dan pertempuran terjadi begitu saja, hingga berujung kematian.


“Astaga, kenapa terburu-buru untuk saling menyingkirkan, jangan bilang ada harta karun yang tersembunyi di dalam sana?” pikir Devo Wijaya dalam benaknya.


Ketika pintu yang berlapis emas murni sepenuhnya terbuka, sejumlah besar pendekar di tempat itu telah sepenuhnya tersingkir.


“Keserakahan manusia,” gumam Devo Wijaya sambil menggelengkan kepalanya saat melihat tindakan mereka.


Hingga pada saat tertentu, hanya tersisa tiga puluh pendekar di tempat itu, dan Devo Wijaya menjadi salah satu di antara mereka.


Sepertinya, sejumlah besar pendekar yang baru pertama kali masuk ke Kuil Atimuketikung untuk mengikuti ujian tak bisa menahan godaan harta karun, dan mereka terburu-buru untuk memasuki kuil tersebut.


Sedangkan, Devo Wijaya selalu terbiasa mengantri belakangan di kehidupan sebelumnya, dan ternyata kebiasaan itu masih berlaku hingga sekarang ini.


“Boom!”


Setelah suara ledakan itu berlalu, Devo Wijaya merasakan tekanan gravitasi puluhan kali lipat, dan kedua kakinya terpaksa tenggelam hingga tiga puluh sentimeter.


“Ini … aku tak bersalah atas kerusakan lantai, lho … ” ucap Devo Wijaya sambil melirik sekilas pada sudut tertentu.


Bejokuwok mengerutkan kening dan berkata dalam benaknya, “Orang ini … apakah menyadari keberadaanku di dalam kekosongan?”


Barusan, dia menyadari lirikan Devo Wijaya yang sekilas, dan juga mendengar kata-kata yang membuat sudut mulutnya bergerak-gerak.


Orang ini.


Memiliki ekspresi yang membosankan, meski telah menerima paksaan gravitasi puluhan kali lipat.


“Gravitasi ini … apakah berarti ujian ini telah dimulai?” Devo Wijaya berkata sambil menggaruk kepada yang tak gatal dan melanjutkan, “Merepotkan saja, jika aku tau akan seperti ini … aku lebih suka pergi bulan madu dengan istriku.”


Sekarang ini, dia masih berdiri di luar, dan menatap kosong pada pintu besar di sana.


“Pintu akan segera tertutup secara otomatis setelah satu menit. Jadi, sebaiknya kalian bergegas.”


Suara cempreng dari Bejokuwok tiba-tiba terdengar keras.

__ADS_1


“Pergi!”


Tiga puluh pendekar yang tersisa akhirnya bergegas, sosok mereka berkedip, dan mereka tak ragu-ragu lagi.


Tentunya, Devo Wijaya tak ingin tidak lulus ujian, dan dia segera mengikuti.


“Argh!”


Saat dia berhasil masuk, Devo Wijaya mendengar suara ratapan yang terdengar menyakitkan datang dari dalam kuil itu.


Dia merasakan kekuatan yang mengerikan jatuh dari langit, dan memberi tekanan pada dirinya dan yang lain.


“Boom!”


“Boom!”


“Boom!”


Kekuatan mengerikan itu, semacam paksaan gravitasi yang lebih kuat dari sebelumnya, beberapa pendekar langsung dipaksa meledak di lantai kuil, puing-puing beterbangan, dan lubang besar dihancurkan seukuran tubuh manusia.


Tapi, apa yang membuat heran Bejokuwok adalah Devo Wijaya, sebagai peserta, hanya tenggelam kakinya sedalam empat puluh sentimeter, dan ekspresi wajahnya tanpa fluktuasi.


Terlihat membosankan, tatapan ikan asin, tanpa banyak kerusakan, dan tampilan itu membuat orang lain ingin bergegas memukulinya, lalu membuangnya jauh-jauh ke laut.


Lupakan!


“Orang itu boleh juga, pasti hanyalah keberuntungan … ” gumam seorang pendekar pria berambut kepang saat melihat situasi Devo Wijaya.


Dalam sekejap, dia telah berhasil mendahului beberapa pendekar yang datang lebih dulu dalam beberapa langkah yang cepat.


“Astaga, begitu semangatnya ketika mereka masih muda.”


Devo Wijaya menatap kosong pada sekelompok besar pendekar di hadapannya, mereka berjuang sambil menggertak giginya, dan keringat bercucuran.


“Aku juga tak boleh kalah dari para pendekar itu,” ucap Devo Wijaya sambil melangkah demi langkah dengan cepat, seolah-olah mengabaikan tekanan gravitasi itu.


Dalam beberapa detik, dia berhasil mendahului beberapa pendekar di hadapannya.


“Aku mengerti … semakin bergerak maju, semakin besar pula tekanan gravitasi yang perlu di tanggung,“ gumamnya.


“Oh, orang ini ternyata bisa mengikuti hingga sejauh ini.”


Saat menoleh ke belakang, pria berambut kepang melihat Devo Wijaya yang ada di belakangnya, dan dia tersenyum misterius.


“Seberapa lama kau bisa bertahan?”


Dengan mencibir, pria berambut kepang mengerahkan kekuatan yang lebih bertenaga dari sebelumnya, dan kecepatannya meningkat pesat, lalu berkata, ”Lihatlah … hingga kau merasa takjub!”


Mendengar kata-kata itu, Devo Wijaya merasa bingung saat kurang fokus dan bergumam, “Ngomong apa orang itu barusan?”

__ADS_1


Pada saat itu juga, jarak di antara mereka melebar lagi.


Sedangkan, Devo Wijaya memilih untuk menyesuaikan kecepatannya dengan mayoritas pendekar di sekitar.


“Hei, namaku Slamet … salam kenal!”


Tiba-tiba sebuah suara ramah datang.


Devo Wijaya tidak bisa tidak menoleh ke sisi kanan, ada pendekar muda dengan tangan kosong/tanpa senjata.


Orang itu, mungkin berumur sekitar dua puluhan.


“Oh, salam kenal, kau bisa memanggilku Devo atau Tukijan,” kata Devo Wijaya dengan santai.


Mendengar kata-kata itu, sudut mulut Slamet bergerak-gerak, dan berkata dalam benaknya, “Sial … orang ini jelas tidak mudah, dan dia tak berniat mengenalku.”


“Aku ingin mengingatkan, bahwa orang itu sepertinya memusuhimu.”


Slamet menunjuk ke arah pria berambut kepang dan berkata perlahan.


Devo Wijaya menatap bodoh pada Slamet.


Para pendekar saling memusuhi, jelas merupakan hal yang wajar di dalam ujian ini.


Dia bertanya, “Lalu?”


“Haha, sepertinya kau tak khawatir sama sekali.”


Slamet tertawa, tapi kemudian dia berbalik dan berkata dengan jujur, “Aku datang kemari untuk satu hal.”


“Oh,” Devo Wijaya mengerjap sesaat dan berkata dengan serius, “Jika kau mau curhat/konsultasi singkat … dikenakan biaya satu juta koin emas, dan … ”


Mendengar hal itu, Slamet merasa dirinya akan jatuh pingsan, dan dia buru-buru menyela, “Tidak … tidak seperti itu, maksudku adalah … ”


Dia melirik ke arah tertentu, dan berkata perlahan, “Apakah kau melihatnya?”


“Oh, begitu … lalu, apa hubungannya dengan diriku?” Devo Wijaya tak terkejut, tapi dia balik bertanya.


Itu adalah pendekar perempuan yang tertutup dan berjubah putih.


“Hei, orang itu berasal dari Sekte Iblis Perkutut,” Slamet berkata dengan sedikit takut dengan nada rendah.


“Eh?”


“Kau yakin tak salah?”


Mendengar hal itu, Devo Wijaya merasa sedikit heran dan masih belum percaya, kecuali bila ada bukti yang dapat membuktikannya.


“Meskipun aku tak dapat membuktikannya padamu sekarang, tapi sebaiknya kau percayalah padaku, dan juga … kau sebaiknya tak memprovokasinya,” kata Slamet dengan serius.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2