Strongest Big Boss System

Strongest Big Boss System
Eps 57: Kekuatan dan Tekad!


__ADS_3

“Ini … sudahkah dimulai?” tanya Slamet bingung.


“Semenjak kita masuk, semua sudah dimulai,” balas Devo Wijaya dengan santai dan ngupil.


“Ya, ujian … selalu tak mudah!”


Slamet mengeluh, kemudian mengarahkan pandangannya ke beberapa musuh, dan wajahnya terlihat waspada.


Waktu demi waktu, semakin banyak pendekar yang datang ke tempat ini, dan jumlah pendekar di tempat segera melebihi seribu.


“Wus!”


Pada saat tertentu, pusaran angin besar turun dari langit, dan jumlahnya tidak hanya satu, mungkin sekitar ratusan.


Momentum tersebut, membuat para pendekar memiliki wajah serius.


“Sialan … ada tornado!” seru Slamet dengan mata membelalak.


“Hei, ini … semacam ilusi, jadi sebaiknya kau menggunakan hatimu untuk melawan,” Devo Wijaya mengingatkan dengan santai.


“Baiklah, kalau begitu!”


Meski memiliki sedikit keraguan, dia memilih untuk percaya dengan perkataan Devo Wijaya.


"Boom! Boom! Bang!"


Menghadapi kedatangan sejumlah besar tornado, banyak pendekar buru-buru mengerahkan kekuatan spiritual mereka dan mencoba untuk melepaskan diri.


Tapi, semakin besar kekuatan yang dikerahkan, semakin besar pula tornado tersebut.


“Aaaa!”


Dalam sekejap saja, banyak pendekar yang terbawa arus putaran, dan terlempar.


Wajah mereka pucat, dan memuntahkan banyak darah dari mulutnya dengan liar.


Sejumlah besar tersingkir, setidaknya empat ratus pendekar, dan hal itu telah membuat banyak pendekar merasa putus asa serta menderita.


“Astaga, ini … terlalu mengerikan!”


Hati Slamet bergetar hebat dan buru-buru berkata. Detik berikutnya, dia menutup matanya, menjaga hati, dan tak lagi memperhatikan tornado lagi.


“Masih banyak pendekar yang belum menyadarinya,” gumam Devo Wijaya dan ekspresi wajahnya sangat membosankan.


Setelah sekian lama, pendekar yang tersisa tak lebih dari seratus lima puluh.


“Ssss … om!”


Pada saat tertentu, seluruh dataran tempat tersebut tiba-tiba bersenandung, dan terasa sedikit berguncang sedetik.


Segera setelah itu, semua pendekar merasa terkejut saat melihat bahwa di bawah kaki, sejumlah besar pola simbol misterius muncul.


Namun Devo Wijaya, Slamet, dan pendekar perempuan serta lainnya semua berdiri dalam susunan simbol misterius keemasan.


“Bagus, selamat bagi yang lulus dalam sesi ini!”


Tiba-tiba, empat sosok dengan aura kuat, merobek kekosongan, muncul di hadapan semua pendekar dari udara tipis, dan pimpinannya adalah Bejokuwok, pemandu ujian kali ini.


Mendengar kabar kelulusan sesi ini, membuat sejumlah besar pendekar bersemangat, tetapi kata-kata Bejokuwok selanjutnya membuat mereka kaku, “Berikutnya, akan ada Ujian Pembaptisan Guntur Suci. Jika di antara kalian tak memiliki kekuatan dan tekad yang kuat, aku menyarankan untuk mundur saja dari ujian ini. Karena tingkat keberhasilan di sini hanya lima persen.”


Wajah banyak pendekar sangat jelek saat memikirkannya.

__ADS_1


“Astaga, tingkat keberhasilan hanya lima persen … ”


“Aku sampai di sini saja sudah luar biasa.”


“Aku menyerah.”


“Aku mundur.”


“Dan aku juga … ”


Setelah berpikir dan mempertimbangkan, banyak pendekar tiba-tiba memilih menyerah sampai di sini.


Banyak yang merasa sampai di sini karena keberuntungan, dan mereka khawatir di saat berikutnya hanyalah kematian yang menanti.


Menyerah di sini menjadi keputusan yang bijaksana bagi mereka yang tak percaya diri.


“Apakah masih ada lagi?”


Tatapan Bejokuwok mengamati Devo Wijaya dan yang lainnya, dan bertanya dengan santai.


Semua pendekar saling melirik tanpa menjawab.


“Baiklah, karena tak ada yang memiliki pendapat, maka aku nyatakan bahwa ujian ini akan dimulai, dan mohon bersiaplah … ”


Bejokuwok berkata serius dan bernada cempreng.


Detik berikutnya, dia saling melirik dengan tiga Pendekar Suci Kekosongan lainnya, sosoknya bergeser dan mereka muncul di empat sudut kekosongan/kehampaan.


“Zizizizi … boom!”


Kemudian, energi yang mengerikan dan besar membuat sejumlah besar pendekar tak bisa tak gugup.


Teriakan keras dari para Pendekar Suci Kekosongan serempak, dan kemudian, satu demi satu, mereka dengan liar menghamburkan energi yang besar di tubuh mereka ke pusat kekosongan di langit.


“Zizizi … boom!”


Empat energi yang besar saling melilit satu sama lain, seolah-olah melakukan penggabungan, dan suara ledakan yang menggelegar bergema ke seluruh langit.


Perlahan, sejumlah besar awan gelap keluar dari udara tipis, dan beberapa detik berikutnya, cahaya keemasan yang menyilaukan bersinar dari awan, seolah-olah bersinar di seluruh bumi.


“Boom! Boom! Boom!”


Kemudian, diiringi suara guntur yang menggelegar ke segala penjuru.


“Astaga, ini mengerikan … apakah ini pembaptisan?”


“Terlalu kuat … energinya membuatku merasa merinding!”


Semua pendekar, termasuk Devo Wijaya dan lainnya, menengadah ke atas menyaksikan pemandangan yang mengejutkan.


“Bersiaplah, kami telah berhasil memanggil guntur, mundur selangkah ke jurang kematian, haha … ”


Bejokuwok tertawa dan bersemangat.


“Hem … apakah aku perlu membeli tiang penangkal petir di mal sistem?” pikir Devo Wijaya di dalam benaknya saat menengadah ke atas.


Hal itu sepertinya sangat diperlukan.


Kemudian, dia membalik telapak tangannya, dan tiang penangkal petir muncul dari udara tipis, lalu menancapkannya ke tanah.


Guntur di langit yang berawan melonjak, dan kemudian guntur itu turun dengan cara yang mengesankan.

__ADS_1


“Dengung!”


Dalam sekejap bergegas menyambar tempat Devo Wijaya dan yang lainnya.


“Boom!”


Suara yang begitu menggelegar bergema, dan pecahan bebatuan berkibar.


Hal itu menjadi pemandangan yang membuat para pendekar di luar medan pembaptisan sangat gemetar dan merasa ngeri.


Mereka merasa bersyukur karena telah menyerah lebih awal sebelumnya, kalau tidak, konsekuensinya bisa menjadi jurang kematian.


Sedangkan, mereka yang berdiri di medan pembaptisan menderita dampak guntur yang mengerikan itu.


Kecuali, Devo Wijaya yang hanya menatap kosong ke awan guntur tanpa tanda-tanda menderita dampak.


Ternyata penangkal petir masih bisa membantu.


“Wuss ... desir.”


Hanya setelah beberapa detik, ada beberapa pendekar yang telah berubah menjadi abu, dan tersapu oleh angin yang lewat.


“Sial, ini terlalu mengerikan … mereka terbakar hingga menjadi abu!”


“Aku ingin mundur!”


“Aku juga menyerah saja!”


“Jangan lupakan aku juga!”


“Astaga, aku juga memilih mundur … pacar gelapku masih menungguku di rumah baru!”


Setelah kejatuhan pembaptisan pertama berakhir, serangkaian teriakan mendesak tiba-tiba terdengar beruntun.


Jelas, mereka telah merasakan rasa sakit yang tak terbayangkan dan juga melihat kengerian para pendekar yang mati karena terlalu lemah.


Pembaptisan berikutnya pasti lebih kuat dari yang pertama.


“Hei, sudah terlambat untuk mundur sekarang, jadi bertahanlah, dan terus terima kedatangan pembaptisan selanjutnya.” suara cempreng terdengar.


“Gemuruh!”


Segera setelah itu, guntur yang lebih kuat dari sebelumnya turun dengan cara yang mengesankan.


Para pendekar yang ingin mundur melihat pemandangan ini, mata mereka membelalak, dan mereka tampak pucat.


"Boom!”


Guntur tersebut meledak dengan momentum kehancuran yang sangat mengerikan.


Medan pembaptisan bergetar hebat dan langit berubah warna.


Tekanan mengerikan dengan liar menyebar ke segala penjuru medan pembaptisan, dan mengguncang dengan hebat.


“Astaga, guncangan barusan membuat tiang penangkal petirku bengkok!”


Devo Wijaya dengan panik membeli yang baru dan kualitasnya lebih baik dari sebelumnya, lalu bergegas bersiap.


Slamet sedikit malu, tetapi pada akhirnya dia masih bersikeras dengan penuh tekad yang membara, meskipun saat ini dirinya terlihat hangus dan hitam.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2