
“Ternyata ada di bawah lantai!”
Devo Wijaya tidak memiliki ekspresi yang luar biasa saat melihat pusaka itu.
Itu berupa sepasang sarung tangan berwarna merah.
“Apakah itu sarung tangan untuk mencuci?” Pikir Devo Wijaya dalam benaknya.
“Wuss!”
Sepasang sarung tangan merah itu tiba-tiba terbang dengan sangat cepat, dan itu tergantung di udara dalam sekejap mata.
Tubuh sarung tangan ditutupi dengan banyak simbol tak jelas, dan lingkaran energi beriak memancar darinya.
“Ya, aku tak tau harus berkata apa untuk situasi saat ini, “kata Devo Wijaya sambil mengelus dagunya.
“Waktu hampir habis Devo Wijaya, cepat ambil Sarung Tangan Kaisar Kuno!”
Lelaki berjubah biru berteriak begitu dia mengingatnya.
“Benar, aku melupakan waktunya.”
Devo Wijaya mengangguk dengan santai dan berkata,”Sarung Tangan Kaisar Kuno ini memiliki jiwanya sendiri, dan perlu ditaklukkan.”
Tanpa keraguan di matanya, Devo Wijaya bergegas memobilisasi aura tak kasat mata di dalam tubuhnya hingga meluap-luap keluar, dan mempengaruhi atmosfer sekitar.
“Boom!”
Ledakan aura menghasilkan gelombang kejut yang suram ke sekitar.
“Ayo lakukan,” bisik Devo Wijaya sambil menatap tajam pada sepasang sarung tangan itu.
“Wuss!”
Devo Wijaya muncul di hadapan sepasang Sarung Tangan Kaisar Kuno dengan kecepatan yang sama dengan teleportasi.
“Aku tak akan membiarkanmu lari.”
Devo mengulurkan kedua tangannya tanpa keraguan, dan dengan kuat menggenggam sepasang Sarung Tangan Kaisar Kuno di tangannya.
Meskipun perlawanan sepasang Sarung Tangan Kaisar kuno tampak sengit, Devo Wijaya tidak melepaskannya, dan hanya setelah beberapa detik barulah tenang.
“Oke, tapi sedikit lebih besar, ” kata Devo Wijaya setelah mengenakan sepasang Sarung Tangan Kaisar Kuno yang berwarna merah di kedua tangannya, dan berkata santai: “Dengan begini aku bisa pergi mencuci piring ... Oh, ternyata ukurannya dapat menyusut sesuai dengan telapak tanganku setelah dipakai.”
Tiba-tiba hisapan kuat tiba-tiba pecah di belakang tanpa peringatan, dan Devo Wijaya merasa seolah-olah diusir keluar dari gudang itu.
“Bagus, bagus, selamat untuk kalian berdua karena telah berhasil mendapatkan senjata atau pusaka kalian sendiri ... oke, ikut denganku kembali.“
Lelaki berjubah biru itu memandang Devo Wijaya dan Sarijo, tersenyum, dan segera memimpin jalan kembali.
__ADS_1
Sarijo tampak bahagia dan Devo Wijaya memiliki ekspresi yang biasanya, lalu bergegas mengikuti lelaki berjubah biru.
Beberapa saat kemudian.
Mereka kembali ke lantai sembilan Kuil Majuyopenak.
Sebagian besar pendekar tak pergi, karena mereka ingin tahu senjata apa yang Devo Wijaya dan Sarijo dapatkan.
“Hebat sekali, tombak emas, dan terlihat perkasa!”
Tombak emas yang di dapat Sarijo setinggi tiga meter, dan mudah menarik perhatian para pendekar.
“Wow, Devo Wijaya memiliki sepasang sarung tangan merah yang penuh dengan simbol, sepertinya sangat luar biasa.”
“Tekanan paksa yang sangat kuat, meskipun aku sangat jauh sekarang, aku merasa kesulitan untuk bernafas.”
Ketika semua pendekar melihat sepasang sarung tangan Devo Wijaya, mereka semua menghirup udara dingin.
Ada rasa iri yang mendalam di hati para pendekar di sana.
“Jika kalian ingin mendapatkan senjatamu sendiri, maka kembalilah dan berlatih sekeras mungkin dan berjuang untuk daftar peringkat pendekar hebat berikutnya.”
“Oke, kompetisi peringkat pendekar hebat selesai dengan sempurna, ayo kita semua pergi.”
Lelaki berjubah biru itu melambaikan tangannya dan membubarkan semua pendekar.
“Hei, kamu tak pergi?”
“Aku menunggumu, “ kata Lastry Tanner sambil tersenyum.
“Menungguku?” Devo Wijaya tiba-tiba memikirkan sesuatu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan berkata: “Apakah ada yang ingin kau bicarakan? Jika tidak aku akan pergi sekarang.”
“Bodoh ... kamu menyelamatkanku, aku harus membalas kebaikanmu, “ lanjut Lastry Tanner dengan nada kesal.
“Oh, ternyata hanya itu, jangan repot-repot dengan hal itu.”
Devo Wijaya melambaikan tangannya, tidak ingin melanjutkan keterikatan dengan gadis itu, segera sosoknya bergegas pergi dengan cepat.
“Sialan, kau tak bisa meninggalkan aku!”
Lastry Tanner bergegas di belakangnya.
******
Setelah dua jam.
Devo Wijaya mendarat di kota besar bernama “Kota Buluketiak”.
“Untungnya aku terbang lebih cepat darinya, “Devo Wijaya menoleh ke belakang, dan hanya menghela nafas lega ketika dia tak lagi melihat sosok Lastry Tanner. Kemudian, dia secara alami segera melupakan hal-hal yang tidak dia pahami. Segera, dia bergegas dan berjalan ke Kota Buluketiak.
__ADS_1
Kota Buluketiak sangat luas, meliputi area seluas tak kurang dari jutaan hektar, dan jalan-jalan penuh dengan orang yang datang dan pergi. Devo Wijaya masuk ke dalamnya dan segera tenggelam ke dalam kerumunan itu.
“Ding!”
“Selamat Host, anda telah menempuh perjalanan ratusan mil jauhnya, dan sebagai hadiah, anda memiliki kesempatan memutar roda lotere, apakah anda ingin memutarnya sekarang?"
“Putar roda,” balas Devo Wijaya tanpa ekspresi.
Dididi.
“Ding!”
“Selamat Host, anda berhasil mendapatkan hadiah khusus Radar Harta Karun ...”
“Oh, entah mengapa benda ini mirip dengan radar dragon ball ... lupakan saja, periksa terlebih dahulu.” Wajah Devo Wijaya berubah menjadi gelap saat melihat benda itu di tangannya dan tanpa pikir panjang, dia menekan tombol power.
Kemudian, tanda panah muncul di layar Radar Harta Karun, dan mengarah pada titik kuning yang berkedip-kedip.
Mengikuti petunjuk arah itu, Devo Wijaya bergegas ke tujuan.
Setelah menerobos kerumunan yang ramai, Devo Wijaya tiba di kerumunan yang lebih ramai, sehingga wajah terlihat suram.
“Pasar Barang Bekas, “ gumam Devo Wijaya saat menengadah dan melihat karakter emas di plakat besar di atas sana.
“Jangan berdesak-desakan, tolong saling menghargai.”
“Berbaris, satu per satu dengan tertib!”
Dua penjaga terlihat serius saat mengendalikan para pendekar yang ingin memasuki pasar dengan cara tak tertib.
Mengamati indikator Radar Harta Karun sesaat, Devo Wijaya bergumam, “Ada di dalam sana, ternyata merepotkan juga. Sepertinya aku harus mengandalkan kekuatanku.”
Dia segera memobilisasi kekuatan spiritualnya yang tak kasat mata keluar dari tubuhnya, dan mekar.
Menghadapi tekanan spiritual yang kuat itu, para pendekar yang dekat dengan Devo Wijaya segera menjauh.
Dengan mengandalkan trik ini, dia masuk ke Pasar Barang Bekas dengan cepat dan praktis.
Setelah berjalan beberapa meter jauhnya, Devo Wijaya tiba di tempat pelelangan barang bekas, dan tanpa banyak berpikir, dia dengan patuh mengikuti petunjuk dari Radar Harta Karun.
Aula pelelangan sangat besar berbentuk melingkar, dan di tengahnya ada panggung lelang yang cukup klasik.
“Ternyata ada juga tempat lelang di Pasar Barang Bekas. Sepertinya belum di mulai, dan sudah banyak orang yang datang, apakah masih ada tempat untuk duduk?”
Devo Wijaya sedikit khawatir jika tidak menemukkan tempat duduk, tapi untunglah masih ada tempat duduk untuk dirinya sendiri dengan sedikit usaha, lalu menunggu dimulainya pelelangan.
Tak ada orang yang cukup bodoh mengambil sesuatu di pelelangan.
Devo Wijaya segera mengamati sekitar, dan dia menemukan beberapa aura yang samar dan kuat.
__ADS_1
Tidak kurang dari ranah Pendekar Langit.