Strongest Big Boss System

Strongest Big Boss System
Eps 47: Pelakunya!


__ADS_3

“Mungkinkah aku perlu menggali tanah?” tanya Devo Wijaya kepada dirinya sendiri, dia menunduk dan menatap ke tanah yang datar.


Menegaskan di dalam hatinya, dia memutuskan untuk melakukan penggalian yang mengesankan.


“Hei, pasti di bawah tanah, siapa yang tau jika tak ada yang mencobanya,” kata Devo Wijaya sambil menginjakkan kakinya dengan keras ke tanah dan masuk ke tengah reruntuhan tersebut.


“Boom!”


Tanah di bawah kaki berguncang hebat dan hal itu telah membuat semua pendekar yang berada di tempat waspada.


“Apa yang terjadi?”


“Pemuda itu mungkin merasa kesal, karena tak kunjung menemukan harta di tempat ini dan ingin menghancurkan reruntuhan ini, sehingga semua orang tak bisa mendapatkan sesuatu?”


“Sialan, kau tak sedang bercandakan?”


“Oh, sepertinya tidak ... dia tak sedang mencari harta.”


Melihat sosok Devo Wijaya melayang di udara, semua orang menatapnya dan berkata dengan ragu-ragu.


Mereka telah dikejutkan oleh Devo Wijaya yang membantai seluruh anggota Klan Itokkono yang berada di area ini dan hal itu telah membuat mereka waspada serta ada rasa takut di hati yang terdalam.


Oleh sebab itu, setiap bicara dan tindakannya tentu saja dapat menarik perhatian.


“Aku Devo Wijaya ... setiap pendekar yang berada di reruntuhan ini, segeralah meninggalkan tempat ini. Jika tidak, aku tak peduli dengan keselamatanmu,” teriak Devo Wijaya.


Banyak pendekar yang cukup kooperatif dan segera menyingkir.


“Desir!”


“Desir!”


“ ... !”


Dalam hitungan detik, lebih dari setengahnya telah menyingkir.


Adapun sejumlah kecil yang tersisa, setelah menimbang pro dan kontra, mereka merasa perlu berkompromi.


“Mari mulai!”


Devo Wijaya mengepalkan tangan kanannya dan menghempaskan pukulan biasa ke arah area pusat reruntuhan.


“Boom!”


Suara keras bergema ke sekitar.


Gelombang pukulan langsung mengebor reruntuhan, kehampaan itu terdistorsi, disertai dengan suara gemuruh.


Reruntuhan dengan cepat tersapu dengan kecepatan yang mengesankan dan ada kemungkinan menakuti anak-anak di bawah umur.


Di kejauhan, semua pendekar menyaksikan pemandangan itu dengan takjub di hati yang terdalam.


Apabila mereka tak menyingkir dari reruntuhan itu, mereka mungkin langsung mati tanpa pemakaman yang sah.


Banyak pendekar yang merasa lega, untungnya mereka membuat keputusan yang tepat.


Tapi, nyatanya belum berakhir.


“Boom!”

__ADS_1


“Boom!”


“Boom!”


Pada saat tertentu, tanah pada reruntuhan tersebut sepertinya telah mengalami fluktuasi energi yang memberikan perasaan tak nyaman pada para pendekar di kejauhan, dan bebatuan yang tersebar di seluruh langit mulai berceceran secara tak teratur.


Pemandangan yang tak terduga itu disajikan di semua mata para pendekar di kejauhan.


“Aku merasa ada yang aneh di bawah sana,” gumam Devo Wijaya, menatap kosong pada segala sesuatu di bawah sana.


Beberapa saat kemudian, seluruh reruntuhan itu berangsur-angsur kembali tenang dan serasa damai.


Tetapi, hal-hal yang mereka lihat sekarang ini telah sepenuhnya berbeda dengan yang  mereka lihat sebelumnya.


“Hei, lihat itu!”


“Apa itu?”


“Aku tak yakin, apakah kau tau itu?”


“Kau bertanya padaku, lalu aku bertanya dengan siapa?”


Tidak tahu siapa yang berteriak, mata semua pendekar melihat ke tempat yang dihancurkan oleh Devo Wijaya.


Mereka melihat dengan jelas.


Di bawah sana ada lorong yang berukuran besar dan gelap.


Tentu saja tak ada pendekar yang tahu ke mana arahnya, seperti misteri yang tersembunyi.


Devo Wijaya mengambil Radar Harta Karun di sakunya.


Yang terlihat di layar adalah titik keemasan yang berkedip-kedip.


Devo Wijaya merasa senang di hati yang terdalam, dan sosoknya bergegas ke bawah sana.


Setelah kepergiannya banyak pendekar berdiskusi dan membuat banyak keributan.


“Aku ingin pergi melihat!”


“Ayo pergi ... jangan lewatkan harta yang berharga!”


Beberapa pendekar tak tahan lagi, mereka segera mengerumuni, dan untung saja lorong itu cukup besar sehingga dapat menampung begitu banyak pendekar yang bisa masuk bersamaan.


Pada akhirnya mereka semua pergi bersama-sama.


Ketika semua pendekar telah masuk ke lorong bawah tanah, tepat di kejauhan sebuah celah ruang terbuka lebar dan beberapa sosok yang mengenakan jubah gelap muncul dari kehampaan dalam sekejap.


Mereka menatap lorong gelap dengan ekspresi wajah yang tenang dan ada aura yang kuat di dalam tubuh mereka.


“Jadi, orang itu pelakunya, dia bahkan berhasil membuka jalan rahasia, dan juga menghancurkan rencana Sekte Iblis Perkutut untuk mendapatkan manfaat dari Klan Naga.”


Seorang pria tua berambut kribo, dia sedikit keriput, dengan tongkat kayu di tangan kanan, dan dia telah lama kehilangan giginya.


Tapi jangan pernah menilai orang dari penampilannya, dia adalah sesepuh yang dihormati dari Sekte Iblis Perkutut, Jongece.


“Sesepuh Jongece, itu benar ... orang itu tepatnya.”


Di belakang lelaki tua itu adalah lelaki yang mengenakan topeng monyet di wajahnya, dia membuka postur membungkuk dan menjawab dengan hormat.

__ADS_1


“Jangan biarkan dia melarikan diri!”


Jongece menyipitkan matanya dan berkata dengan santai.


“Sesepuh Jongece, yakinlah, kami tak akan pernah membiarkan dia lolos dari tangan kami.”


Lelaki bertopeng monyet itu berkata dengan percaya diri.


“Kau harus hati-hati dengan orang itu. Bahkan Chemmot Itokkono dihabisi olehnya. Kekuatannya jelas tak lemah.”


“Selain itu juga, pukulannya begitu aneh barusan, dan aku merasakan samar-samar bahwa pukulan itu bisa sebanding dengan pukulan kuat dari ranah Pendekar Raja Kekosongan.”


Jongece berkata santai dan puas, tapi apa yang dia katakan membuat orang takut dan tak berani membantah sedikit pun.


“Kali ini, sepuluh master iblis ... kalian akan melakukan misi ini.”


Jongece berbalik dan berkata dengan santai kepada sepuluh pendekar dari Sekte Iblis Perkutut.


“Siap laksanakan!”


Sepuluh master iblis tak berani membantah dan mengangguk bersamaan.


Meskipun status mereka tak begitu rendah di Sekte Iblis Perkutut, mereka rendah dari Jongece.


Selain itu, mereka juga kalah dalam hal kekuatan.


“Jika misi ini gagal, jangan kembali untuk menemuiku.”


Jongece berkata dengan santai, dan kemudian melambaikan tangan kirinya, “Pergi ... bunuh dia.”


“Taat!”


Sepuluh master iblis tampak serius, dan masing-masing dari mereka mengambil bawahan mereka sendiri, lalu dengan cepat melintas ke lorong gelap di sana.


“Astaga, tulang lamaku ini agak nyeri. Apakah ini efek samping dari bermain ... dengan yang muda?”


Melihat semua pendekar itu masuk ke lorong gelap, wajah keriput Jongece mengeryit dan kemudian tersenyum dingin tanpa gigi.


*****


Semua gelap.


Lorong bawah tanah tampak gelap tanpa ujung.


Lampu senter hanya dapat menerangi jarak sepuluh meter ke depan, tentu hal ini membuat Devo Wijaya merasa heran.


Tapi, setelah sekian lama dia menjadi terbiasa dengan keanehan ini.


Jalan di lorong sangat rumit, dan ternyata ada banyak jalan bercabang, tapi dia tidak terlalu banyak berpikir karena ada Radar Harta Karun di tangannya.


Dia terus berjalan sesuai dengan petunjuk arah Radar Harta Karun.


Pendekar di belakangnya telah bergegas ke berbagai cabang, mencoba keberuntungan dengan nyala lentera klasik di tangan.


Mereka sebenarnya penasaran dengan lampu senter milik Devo Wijaya, tapi tak ada yang berani bersuara dan pikiran mereka segera teralihkan ke pencarian harta yang berharga.


Bersambung ...


Jangan lupa untuk merekomendasikan ke teman-temanmu!

__ADS_1


Jangan lupa vote juga kawan!


Jangan lupa komen kawan!


__ADS_2