
Dengan alasan yang tidak jelas, Devo Wijaya tiba-tiba agak tertarik dengan buku keterampilan seni bela diri mistis, dan berniat mengikuti rombongan Paviliun Goldjoss.
Kerumunan menghilang, dan orang-orang dari Paviliun Goldjoss kemudian dengan waspada berjalan ke lorong member VIP di pelelangan.
Di ujung lorong ada ruang member VIP untuk melakukan transaksi dengan aman.
Tidak seperti barang lelang lainnya, buku keterampilan seni bela diri mistis harus di ambil di sana.
Tentu, Devo Wijaya tak bisa pergi ke sana dan memilih mengikuti publik keluar dari pelelangan.
Hal-hal harus di lakukan sehalus mungkin.
Tapi, Narto Astrobenjho jelas telah mengatur agar seseorang memantaunya.
“Oh, terserahlah, jika kau mengirim seseorang untuk mengikutiku,” gumam Devo Wijaya, postur tubuhnya berkedip, dia sudah meninggalkan kerumunan dan menghilang tanpa jejak.
Di tempat dengan ketinggian tertentu, Devo Wijaya membuka matanya dan dengan serius mencari jejak orang-orang Paviliun Goldjoss.
“Yap, akhirnya ditemukan,” kesabaran Devo Wijaya akhirnya terbayarkan saat melihat ke arah utara.
Dengan kegembiraan di hati yang terdalam, Devo Wijaya segera bergegas ke arah utara untuk mengejar ketertinggalan.
******
Di luar Kota Buluketiak.
Sejumlah besar orang datang dan pergi, dan di sisi tertentu ada sejumlah besar kekuatan besar keluar darinya.
Tak sulit untuk ditebak tujuan mereka, tidaklah lain untuk mendapatkan keterampilan seni bela diri mistis yang sekarang ini berada di tangan Paviliun Goldjoss.
Beginilah situasi di mana orang-orang memiliki ambisi yang besar, apabila penawaran tak berhasil dalam pelelangan, maka satu-satunya cara mendapatkannya yakni dengan merebutnya.
Tentu saja dengan catatan bahwa mereka tidak lemah dalam hal kekuatan, mereka yang lemah tak akan cukup bodoh untuk melakukan hal-hal buruk dengan Paviliun Goldjoss.
Sepertinya kali ini telalu banyak kekuatan yang memiliki minat yang sama, dan ada kemungkinan kekacauan akan menjadi seru untuk dilihat.
Tak lama kemudian, Devo Wijaya segera muncul di luar kota, tapi dia tak tinggal terlalu lama, dan bergegas pergi mengikuti para pendekar yang memiliki ambisi.
Di sepanjang jalan, dia telah mengetahui bahwa ada dua orang yang mengikutinya, dan ada kemungkinan besar mereka itu antek dari Narto Astrobenjho.
Jika ingin mendapatkan buku keterampilan seni bela diri mistis di tangan Goldjoss dan kelereng bintang satu di tangan Narto Astrobenjho, sepertinya perlu bagi Devo Wijaya untuk memerankan nelayan jahat.
Masalahnya bagaimana cara agar kekuatan besar itu berkonflik?
Tiba-tiba Devo Wijaya memiliki ide yang agak menarik.
Kemudian dengan cepat membuat banyak tanda sama di jalan.
Tanda-tanda ini hanya dapat dirasakan oleh pendekar yang kuat, dan tak perlu peduli dengan yang lemah.
Jika ada kekuatan kecil dan menengah, mereka mungkin hanya akan berakhir menyedihkan ketika ikut campur dalam urusan ini.
Beberapa saat kemudian, Devo Wijaya sudah cukup dekat dengan rombongan Paviliun Goldjoss.
Tentu saja, dia tak akan terlalu bodoh, dan saat mendarat di tanah dengan cepat menyembunyikan aura serta nafasnya, lalu bergerak maju sedikit demi sedikit.
__ADS_1
“Mereka tampak tenang-tenang saja, apakah mereka menunggu sesuatu?”
Devo Wijaya sedikit memiringkan kepalanya, merasa bingung tak mengerti.
Sekarang yang perlu dilakukan adalah bersabar.
Menunggu orang-orang dari kekuatan besar, terutama pihak Astrobenjho, lalu menyaksikan pertunjukan yang tak kalah dengan pertunjukan topeng monyet keliling.
Dalam sekejap, sepuluh menit berlalu.
Dalam sepuluh menit ini, semua orang di Paviliun Goldjoss masih belum juga pindah.
“Jangan-jangan mereka menunggu,” tiba-tiba Devo Wijaya memiliki tebakan samar, tapi segera menyangkalnya.
“Mungkin hanya perasaanku saja.”
Tak lama kemudian, pihak Astrobenjho datang tanpa mengecewakan Devo Wijaya.
“Yohoho, Janter Goldjoss, kau akhirnya ditangkap olehku. Tak mungkin bagiku untuk membiarkan Paviliun Goldjoss mendapatkan buku keterampilan seni bela diri mistis itu.”
Begitu Narto Astrobenjho muncul dengan cara keren, dia segera berteriak dengan cara yang mengesankan.
“Narto Astrobenjho?” Janter Goldjoss dan yang lainnya terkejut, “Bagaimana kalian biasa menemukan kami?”
Ada sedikit kepanikan di wajah mereka.
Jelas sekali.
Dengan munculnya pihak Narto Astrobenjho dan yang lainnya memberi mereka banyak tekanan.
Narto Astrobenjho mencibir, lalu melambaikan tangannya tanpa keraguan, dia langsung memerintahkan orang-orangnya dan membunuh pihak Paviliun Goldjoss.
“Aku harap tak terlalu membosankan,” Devo Wijaya menyaksikan adegan tersebut secara diam-diam sambil mengunyah permen karet yang dibeli dari mal sistem.
Inilah yang ingin dia lihat dan adegan yang dinanti-nanti.
“Boom! Boom! Boom! Boom!”
Pertempuran berskala kecil terjadi dalam sekejap, dan suara gemuruh bergema ke sekitar.
Meskipun Paviliun Goldjoss merupakan salah satu kekuatan utama di Kota Buluketiak, kali ini, mereka tak menyangka bahwa Narto Astrobenjho akan dengan cepat menemukannya.
Situasi saat ini tidak terlihat baik, karena dari segi jumlah pendekar, mereka harus dirugikan.
“Dalyjo, cepat bantu mereka!”
Narto Astrobenjho berteriak kepada lelaki tua yang berdiri dengan tangan terlipat.
“Taat!”
Lelaki tua di ranah Pendekar Langit segera membalik tangannya, dan sebuah kapsul kuning telah muncul di telapak tangannya.
Kemudian, dia melemparkannya ke mulutnya dengan santai.
“Kapsul Rosotenan?”
__ADS_1
Paviliun Goldjoss, dengan ekspresi serius, tanpa sadar berteriak.
“Hehe, ya, itu memang Kapsul Rosotenan, lawan orang tua ini hari ini, secara pribadi aku akan mengirimmu ke akhir yang mengerikan.”
Dalyjo Astrobenjho itu tertawa, dan segera aura yang menakutkan muncul dari tubuhnya.
Penindasan yang aura yang mengerikan!
Di bawah penindasan tersebut, Paviliun Goldjoss mundur dengan mantap.
“Narto ini tahu bahwa pertempuran yang berlarut-larut akan menyebabkan banyak pergerakan, jadi dia memilih metode ekstrem ini saja.”
Devo Wijaya mengangguk dari waktu ke waktu, dan meludahkan permen karet yang telah lama dikunyah ke tanah.
“Boom!”
Dalyjo Astrobenjho dengan agresif melancarkan serangan kepalan tangan, dan meledakkan lawannya hingga terbang terbalik.
“Cepat serahkan buku keterampilan seni bela diri mistis yang ada pada dirimu, dan kau akan mengalami kematian yang mudah.”
Dalyjo Astrobenjho berkata dengan dingin.
“Pergilah bermimpi!”
Lelaki tua di pihak Paviliun langsung berteriak marah.
“Ya, itu sangat keras kepala, kalau begitu mati saja!”
Dalyjo Astrobenjho tak banyak omong kosong lagi, dan sosoknya berkedip dalam sekejap mata.
“Tuan Muda, cepat pergilah dengan keterampilan seni bela diri mistis!”
Lelaki tua di Paviliun Goldjoss berteriak, dan dengan lambaian lengannya, aliran aura yang memiliki cahaya samar-samar berkedip di Janter Goldjoss.
“Bagaimana dengan paman?”
Janter Goldjoss menangkap keterampilan seni bela diri, baru saja akan berbicara lagi, tetapi disela oleh yang pertama.
“Pergi sana, aku akan melindungimu!”
Paman tua itu berteriak, seluruh tubuhnya mulai memancarkan aura keemasan yang agak menyilaukan.
“Tuan Muda cepat mundur, dia berniat untuk meledakan dirinya sendiri!”
Dalyjo Astrobenjho berteriak dengan cemas menghentikan kemajuannya.
“Sialan,” Narto Astrobenjho hanya ingin bergegas ke Janter Goldjoss, tapi tiba-tiba dihentikan oleh teriakan keras itu.
Setelah itu, sosoknya melintas tanpa tanpa ragu-ragu, dan dia bergegas mundur.
“Haha, kalian tak cukup memenuhi syarat untuk merebut buku keterampilan seni bela diri mistis dari Paviliun Goldjoss kami!”
Dengan tawa yang keras, energi kekerasan yang terpancar dari paman tua itu akhirnya mencapai ambang batas yang bisa ditahan.
Saat ini, tubuhnya seperti balon tiup yang seterang matahari, dengan cahaya yang bersinar itu membuat orang takut tujuh keliling saat melihatnya langsung.
__ADS_1