
Setelah menghabisi lawan yang tidak begitu terlalu mengesankan hingga tanpa meninggalkan residu, Devo Wijaya bergegas pergi untuk menjauh dari masalah yang akan mendatang. Karena dia menyadari bahwa pertempuran yang telah berlangsung sebelumnya telah mengemparkan seluruh negeri.
Satu jam kemudian.
Devo Wijaya menuruni sebuah bukit dengan cara yang tidak begitu mencolok.
“Aku tak tau sudah sampai di mana ini, pergi tanpa petunjuk arah memang merepotkan ... semoga saja aku bertemu dengan seseorang untuk ditanyai, dan orang itu sangat ramah,” Devo Wijaya sambil mengupil saat berjalan santai dan tak terburu-buru.
Sepuluh hari kemudian
Perjalanan Devo Wijaya bisa dikatakan biasa-biasa saja, dan memanjakkan diri dengan berbagai makanan yang dapat dibeli di mal sistem.
“Em ... ya, belum ada yang datang untuk balas dendam,” Devo Wijaya melihat sekeliling untuk beberapa saat, sosoknya berkedip, dan dia menginjak ujung pohon yang menjulang tinggi ke atas.
Berdiri di ketinggian tertentu dan melihat jauh, yang menarik perhatian Devo Wijaya adalah para pendekar yang sedang melayang-layang di pinggiran.
“Ya, skala ini ditingkatkan, aku khawatir seluruh anggota Keluarga Astrobenjho telah diberangkatkan.”
Devo Wijaya tidak bisa membantu tetapi menggaruk kepalanya yang tak gatal, dan bergumam, “Apakah mereka ingin binasa?”
Para pendekar itu semua berkelompok, dan andai saja mereka berbaris dengan tertib, satu kepalan tangan dari Devo Wijaya mungkin langsung membersihkan mereka.
“Karena kalian datang untuk mengakhir hidup, maka aku tak perlu memiliki rasa enggan, dan tentu saja aku tidak perlu menerima ucapan terima kasih,” Devo Wijaya mengepalkan telapak tangannya dan matanya menatap kosong ke arah para pendekar yang sedang menyusuri area sekitar.
Kemudian, sosoknya dengan cepat melintas, dan dia telah berkedip dalam sekejap.
***
Di kedalaman hutan yang agak jauh.
“Sialan, aku sebenarnya sangat enggan untuk menjalankan tugas menyusuri hutan ini. Aku lebih suka duduk di atas wanita cantik tetangga sebelah, dan ada kemungkinan juga orang yang kita cari sudah pergi jauh,” keluh pria bertubuh kurus yang memiliki ekspresi lelah di wajahnya.
“Hei, jangan mengeluh ... aku sarankan jangan terlalu sering melakukan hal-hal itu, apa kau tak khawatir akan kekurangan ginjal nantinya. Kesehatan itu sangat penting, ‘kan?” tanggapan pria paruh baya berotot.
“Ya, aku juga tau itu ... tapi aku tidak bisa menahan kebiasaan itu, aku bahkan sudah berkonsultasi dengan beberapa pakar ahli di bidang itu, dan aku juga mengikuti saran mereka satu demi satu. Namun hal-hal tak semudah kata-kata ...” sahut pria bertubuh kurus.
“Hei, jangan memikirkan hal-hal yang tidak perlu, lebih baik berkonsentrasilah pada tugas ini, dan lakukan penelusuran dengan teliti,” seorang pria berambut putih menyela dan mengingatkan.
“Benar ... seperti apa yang dikatakan pak tua, fokuslah pada pencarian ini,” kata pria berambut keriting di belakang mereka.
“Hei, siapa yang kau pagi pria tua barusan? Asal kau tau, aku baru berumur dua puluh tahun!” teriak pria berambut putih.
“Haha ... baiklah, aku hanya bercanda, tolong maafkan kesalahanku barusan, oh ... ya, hutan ini sangat besar, dan makhluk buas lebih vertikal ataupun horizontal. Apakah orang yang kita cari ini akan di makan oleh makhluk buas?” tawa pria berambut keriting sesaat dan bertanya dengan ragu-ragu.
“Siapa yang tahu, jika kau bertanya padaku, lalu aku harus bertanya kepada siapa?” balas pria berambut putih sambil memutar matanya.
Sekelompok orang itu melakukan pencarian dengan serius, tetapi tiba-tiba, mereka merasakan keberadaan yang mendekat dari kejauhan, dan sepertinya tujuan dari keberadaan itu ke tempat mereka berdiri.
“Semuanya berhenti dan berhati-hatilah,” kata tiba-tiba dari pria paruh baya berotot, dan hendak menghindar ke kanan.
“Boom!”
Sayangnya, reaksi mereka terhadap bahaya ini terlalu lambat, sehingga mereka dilenyapkan oleh gelombang pukulan dan terbunuh tanpa perlu tempat penguburan.
Kemudian sosok pemuda menginjak tanah, dan di hadapannya adalah selokan yang memanjang, dan dia tak bisa tak berkata, “Ah ... sial, aku lupa untuk bertanya arah ...”
“Sialan, siapa kau?”
Teriak seorang pria tua yang baru datang dengan beberapa pendekar di belakangnya.
“Aa ... sepertinya aku tak perlu pergi untuk mencari, karena mereka datang kemari ... ini akan menjadi lebih mudah, namaku Tukijan,” Devo Wijaya menoleh dan melihat lima pendekar yang baru saja datang, lalu dia berkata, “Aku ingin bertanya arah ...”
Sebelum kata-kata itu selesai, pria bergaya rambut mangkuk segera menyela, “Jangan berbicara omong kosong ... kau bilang bahwa namamu Tukijan’kan? Kamu pasti orang yang kami cari, cepat menyerahkan diri!”
“Aa ... kamu bukan orang yang ramah, atau kalian semua juga sama saja,” Devo Wijaya menatap kosong pada para pendekar satu demi satu.
“Anak muda, siapa yang kau tegur?” Pria berjanggut kambing putih, wajah dingin, dan dia berteriak dengan suara yang keras.
“Jangan terlalu keras,” kata Devo Wijaya mengingatkan sambil menutup telinganya dengan telapak tangannya.
“Cepat panggil yang lain,” kata pria tua kepada pria berjanggut kambing putih.
Pria itu menggangguk dan dengan cepat mengeluarkan pistol suar dari sakunya, lalu menembakkan ke arah langit.
“Bang!”
“Wiuuu!”
“Boom!”
Setelah peluru suar meledak di langit, kembang api merah tua memercik dan asap merah mengepul di sana, Devo Wijaya hanya menatap kosong pada ledakan yang terlihat seperti petasan pada umumnya itu.
Tapi, Devo Wijaya kembali tersadar, dan sosoknya bergegas membunuh empat orang dan hanya menyisakan satu orang saja.
Di dunia yang aturannya ditentukan dengan kekuatan ini, jika kamu tak membunuh, orang ingin membunuhmu.
Devo Wijaya sangat sadar dengan hal itu, jadi dia tanpa ragu-ragu membunuh musuh, tanpa belas kasihan.
Keempat pendekar yang terbunuh tidak kuat, buktinya dapat mudah dibunuh oleh Devo Wijaya tanpa adanya waktu untuk mereka bereaksi.
Bisa juga dikatakan bahwa mereka terlalu lemah di hadapan Devo Wijaya.
Tingkat kekuatan mereka secara alami tidak dapat menghentikan kepalan tangan Devo Wijaya.
Sekarang, satu-satunya pendekar yang membuat Devo Wijaya menaruh perhatian adalah pria tua yang nyatanya memiliki tubuh berotot, kekuatannya sudah mencapai Pendekar Langit Tahap Kesembilan.
Bagaimana orang tua itu melatih ototnya hingga terlihat seperti atlet angkat besi?
Lihat ototku sendiri yang begitu kendor!
Dibandingkan dengan dia, orang tua itu bahkan lebih tinggi dan besar.
Tentu saja, itu hanya memperhatikan sedikit saja.
__ADS_1
“Uhuk ... ”
Pria tua itu terbatuk di tanah, wajahnya pucat dan nafasnya mulai layu.
Meskipun Devo Wijaya tak membunuhnya, tapi dia telah memukul perut hingga orang tua itu meringkuk di tanah kesakitan.
“Jika kau ingin hidup, segera beritahu aku di mana orang yang mengirimmu kemari?”
Devo Wijaya merasa perlu segera menuntaskan masalah ini, jadi dia merasa tak perlu bertele-tele.
“Jika aku memberitahumu, apakah kau akan melepaskanku?’
Pria tua itu merasa agak tersentuh sedikit di hati yang terdalam.
Setelah melihat Devo Wijaya membunuh rekan-rekannya dengan mudah barusan, dia benar-benar putus asa.
Devo Wijaya terlalu kuat, begitu kuat sehingga dia tidak mampu memiliki semangat untuk melawan.
Dia juga tidak dapat memahami mengapa Devo Wijaya tidak seperti seorang pendekar, bagaimana dia bisa menjadi sangat kuat?
Aura pemuda ini, tak seperti seorang pendekar.
“Ayolah, jangan lama-lama dan jangan malu-malu ...”
“Asal kau tau, jadwal untuk minum susu kental manis sangatlah padat, dan aku juga masih perlu memanaskan air hingga seratus derajat lebih.”
“Jadi, hentikan omong kosong dan katakan dengan segera ...”
Devo Wijaya tahu bahwa aliran para pendekar akan terus-menerus berdatangan untuk buku yang saat ini berada padanya, bahkan dia, agak tidak berdaya.
Bagaimana ada waktu untuk memanaskan air di atas panci, jika tidak ada ketenangan pikiran?
Memanaskan air atau yang biasa disebut memasak air sangat perlu konsentrasi yang seperlunya.
Jadi, dia perlu segera mengemas musuh-musuhnya dengan sesegera mungkin.
“Di ... kamp sementara yang didirikan di barat laut.”
Pria tua itu segera menjawab terburu-buru.
“Cepat berdiri dan jadilah pemandu atau kau akan aku bunuh sekarang!” desak Devo Wijaya.
Mendengar hal itu, pria tua merasa sedikit terkejut, dan tanpa sadar dia melirik Devo Wijaya yang menatapnya dengan tatapan kosong seperti mata ikan asin.
Tidak peduli bagaimana dia melihatnya, Devo Wijaya sepertinya bukan ikan asin.
Apakah pemuda ini memiliki kekuatan untuk menghancurkan kamp dan orang yang telah memerintahnya?
Selama pemuda ini terbunuh nantinya, dia pasti akan dipromosikan ke jabatannya, menikmati kemuliaan dan kekayaan, duduk di atas kecantikan yang tak terhitung jumlahnya, dan masih banyak lagi.
Kalau dibayangkan terasa sangat indah.
“Wuss!”
Devo Wijaya langsung membunuh para pendekar yang bergegas kearahnya tanpa ampun.
Pria tua yang menjadi pemandu itu bahkan merasa gugup saat melihat pembunuhan yang hanya diselesaikan dengan satu pukulan itu.
Di bawah pengawasan Devo Wijaya, pria tua itu tidak memiliki keberanian untuk memiliki sedikit pun keberuntungan.
Setelah sekian lama.
Mengikuti pria tua, Devo Wijaya telah melihat ada kamp di depan sana.
“Tuan, tempat di depan sana menjadi kediaman bosku.”
Pria tua membungkuk dan berkata dengan nada samar.
“Baiklah, kau telah bekerja keras dan pergilah.”
Devo Wijaya mengangguk dengan tatapan kosong, dan kepalan tangan memukulnya tanpa ragu-ragu.
“Bang!”
Serangan tiba-tiba membuat pria tua tak memiliki kesempatan untuk berbicara ataupun menghindar dari kepalan tangan.
“Ya, sudah beres di sini dan saatnya pergi ke sana.”
Devo Wijaya menatap kosong ke depan, dan berjalan langkah demi langkah dengan santai.
“Berhenti kau ... siapa?”
Sebelum memasuki kamp, sedikitnya enam puluh pendekar mengepung.
“Oh,” Devo Wijaya mengerjap sesaat dan melihat satu demi satu mereka, lalu berkata santai, “Panggil saja, aku Tukijan dan kedatanganku hanya ingin pergi ke kamp untuk membunuh musuh.”
Begitu menyelesaikan kata-kata itu, kekuatan kepalan tangan kanan Devo Wijaya diledakan ke arah langit.
“Boom!”
Tornado dahsyat menghempaskan para pendekar itu hingga keakhirat.
Devo Wijaya membunuh mereka dengan cepat dan efisien dalam satu pukulan.
Gelombang kejut setelah ledakan menyebar luas dan menyapu kamp di sana.
Bantai!
Pembantaian satu sisi!
Menghancurkan!
Kekuatan absolut!
__ADS_1
“Sudah selesai menonton ... bisakah kau keluar sekarang?”
Tiba-tiba, Devo Wijaya melihat dengan tatapan kosong ke arah tertentu dan berkata dengan santai.
“Bangsat, kau berani mengacau di tempat ini, cukup beraninya kau anak muda!”
Pria tua berambut panjang bersenandung dingin, dan kemudian melayang tepat di seberang Devo Wijaya.
“Kau yang memaksaku, dan tak membiarkanku dalam ketenangan pikiran,” kata Devo Wijaya sambil mengangkat bahu.
“Apakah kau tau, kau telah membunuh anak dan cucu lelaki tua ini?”
Pria tua berambut panjang tidak memiliki ekspresi keriput di wajahnya.
“Siapa yang tahu?”
Devo Wijaya menatap kosong pada pria tua berambut panjang itu dan berkata dengan nada datar.
Wajah pria tua berambut panjang itu menjadi suram dan berkata dengan kejam, “Huh, sangat bagus anak muda ... hari ini, aku akan membunuhmu!”
Dengan trik tertentu yang telah turun-temurun dari keluarga, dia mengetahui tentang kematian putra dan cucunya.
Karena inilah, dia mengerahkan seluruh Astrobenjho untuk mengepung Devo Wijaya.
“Siapa yang membunuh belum di tentukan, bukankah begitu?”
Devo menatap kosong dan berkata dengan ringan.
“Bangsat, kau anak muda ... dalam sepuluh hari ini, aku telah menahan amarah yang mengebu-ngebu dalam diriku, sekarang ini akan kucurahkan semua yang telah kumiliki untuk menghabisimu!”
Dengan mendengus dingin, pria tua berambut panjang tak ragu-ragu lagi, kepalan tangannya berubah warna menjadi hitam, dan detik berikutnya sosoknya berkedip.
“Boom!”
“Boom!
“...”
Saling memukul dan menangkis terjadi dengan cepat, serta terlihat aftermage.
Ketika kedua kekuatan saling bentrok, gelombang kejut yang dihasilkan menghancurkan lingkungan sekitar dengan cara yang mengesankan.
“Kepalan tangan anak muda ini terasa berat, tapi saat dia meledak, itu sekuat ledakan meteor.”
Pria tua berkata dalam benaknya dengan heran.
Perasaan ini belum pernah dia alami sepanjang hidupnya.
“Bagaimanapun juga, aku harus membunuhnya. Jika tidak, aku tak tau berapa banyak kekuatan yang akan tumbuh di lain kali.”
Pikiran tersebut terlintas dalam benaknya, saat berikutnya, pria tua berambut panjang menjadi serius, dan benar-benar meledakan kekuatan spiritual di tubuhnya.
“Boom!”
Ledakan spritual yang dahsyat, berpusat pada pria tua berambut panjang, membumbung tinggi ke langit.
Bahkan energi alami tampaknya telah ditarik dengan kuat dan tersapu dengan panik.
“Oh, orang ini mulai serius.”
Devo Wijaya menatap kosong pada pria tua itu, wajahnya tampak membosankan, dan berkata lagi, “Ayo segera selesaikan!”
Di saat berikutnya, Devo Wijaya dan pria tua berambut panjang bertabrakan dengan lebih keras dari pada sebelumnya.
“Boom!”
Suara gemuruh besar menyebar ke segala arah.
Saat tabrakan terjadi, bahkan kekosongan menjadi sangat begitu terdistrorsi.
Pertempuran itu seolah-olah menemui jalan buntu, tapi nyatanya tidak.
Karena ekspresi wajah Devo Wijaya belum berubah dan masih seperti sebelumnya.
Sedangkan pria tua berambut panjang, mulai merasa kebas pada kepalan tangannya.
Wajah pria tua itu menjadi gelap, ketika merasa lawannya ternyata lebih unggul darinya, dan dia segera mengerahkan seluruh kekuatan spiritualnya ke tingkat yang lebih tinggi.
“Boom!”
Segera setelah itu, energi alam menyatu dengan liar dengan kekuatan spiritual.
“Zizizizi.”
Beberapa detik kemudian, itu mengembun menjadi bola energi kehancuran yang mengerikan, dan suara listrik tegangan tinggi dapat terdengar dengan telinga.
“Dia menggunakan kekuatan spiritual untuk menarik energi alam dan kemudian mengkompresnya menjadi bola energi yang mengerikan, tapi prosesnya terlalu lama dan membuka peluang untuk lawan untuk melancarkan serangan menyelinap,” guman Devo Wijaya menatap kosong pada adegan yang ada di hadapannya dan tak memiliki keinginan untuk melancarkan serangan menyelinap.
Dia merasa perlu menghargai semangat juang yang lebih tua, dan sejauh ini dia tidak merasakan bahaya.
“Haha, tidak tau jelas sejauh mana kekuatanmu, berani menantangku, bersiaplah menuju pemakaman tanpa residu!”
Pria tua berambut panjang tertawa dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
Detik berikutnya, bola energi kehancuran di atas kepala pria berambut panjang itu bergerak ke arah Devo Wijaya hanya dengan lambaian tangan ringan.
Bola energi kehancuran segera menyapu dengan momentum yang mengerikan.
Pada saat ini, Devo Wijaya sudah mengepalkan tangan kirinya, jelas sudah bersiap untuk sambutan.
Di hadapan serangan yang mengerikan itu, Devo Wijaya menatap kosong tanpa ada kepanikan.
“Huh, berpura-pura tenang ... mati kau, pergi temui putra dan cucuku di akhirat!”
__ADS_1
Eskpresi wajah pria tua berambut panjang penuh dengan penghinaan.