Strongest Big Boss System

Strongest Big Boss System
Eps 55: Menampar Lawan!


__ADS_3

”Hehe, temanmu sepertinya tak bisa bertarung lagi, dan berikutnya … giliranmu!”


Pendekar perempuan terkekeh, dan berkata, “Aku tak percaya … kau bisa menghabisi Deodorax dalam waktu singkat. Tapi, aku jelas lebih kuat darinya.”


“Berisik,” ucap Devo Wijaya singkat, dia memiliki tampilan wajah membosankan, dan tatapan ikan asin.


"Bang! Boom! Bang!"


Suara tabrakan yang mengerikan terus-menerus bergema di tempat itu, dan Slamet tak bisa tak berseru, “Luar biasa!”


Dia melihat samar-samar, Devo Wijaya terus-menerus menahan ratusan gelombang pukulan dari lawan dengan telapak tangannya tanpa adanya perubahan dalam ekspresi wajahnya.


Di mana pun tabrakan itu terjadi, kehampaan terdistorsi, dan seolah-olah efek film yang menakjubkan.


“Sialan … boleh juga kemampuanmu,” kata pendekar perempuan, kemudian dia meningkatkan kekuatannya.


“Boom!”


Aura mengerikan melonjak dengan cepat dari tubuh pendekar perempuan.


Detik berikutnya, kekuatannya telah meletus ke tingkat berikutnya.


“Mati kau!”


Pendekar perempuan berteriak dengan marah, karena menyadari lawannya tak mudah, dan dia membuat serangkaian gerakan aneh. Energi merah darah menyelimuti kedua telapak tangannya.


“Jurus ke-69: Tapak Darah kotor Bulanan!”


Tangan pendekar perempuan membuat gerakan tarian, dan segera bergegas ke arah Devo Wijaya.


Sepertinya ada terlalu banyak darah pada bulan ini, dan mereka datang keseluruhan dunia.


Dalam situasi ini, Slamet telah menjadi satu-satunya orang yang tidak bisa menghindari serangan maut skala luas milik pendekar perempuan itu.


"Boom!"


Menyadari situasi itu, Devo Wijaya langsung menampar udara hingga terdengar suara ledakan, dan udara mengulung seperti badai dahsyat.


“Ini … ”


Pendekar perempuan terkejut, dan buru-buru mengendalikan darah yang dihempaskan oleh lawannya.


“Bedebah, aku akan menghabisimu orang gila!”


Wajah pendekar perempuan menjadi gelap, mengutuk keras, dan uap putih mengepul di atas kepalanya.


“Pa! Boom!”


Tapi, sebelum melancarkan serangan berikutnya, dia menerima tamparan panas pada pipinya, hingga dirinya berputar secepat gangsing, dan di tanam di aula yang megah.


“Kamu yang gila!” kata Devo Wijaya kesal sambil menatap kosong pada pendekar perempuan yang berhasil di tanam di aula dalam-dalam.

__ADS_1


Kemudian, dia bergegas dalam sekejap mata di tempat Slamet berada, dan berkata dengan lega, “Syukurlah belum mati, jadi aku tak perlu repot menggali kubur dan membakar kemenyan untuknya.”


Setelah berpikir sejenak, Devo Wijaya membeli sebotol air mineral termurah di mal sistem, kemudian membuka tutup botol, dan menuangkan air tersebut ke wajah Slamet.


“Uhuk … uhuk,” Slamet gelagapan dan segera mengusap wajahnya yang basah, dia menatap Devo Wijaya, lalu tak bisa tak bertanya, “Hei, apakah aku masih hidup? ”


“Ya, kau masih hidup … tapi, sebaiknya kau rawat lukamu segera … agar tak ada gejala sisa,” kata Devo Wijaya mengingatkan.


“Uhuk … uhuk, ya … kau benar,” Slamet berkata dan bergegas menelan pil tertentu dari sakunya.


Melihat ke sekitar, Slamet tak bisa tak bertanya lagi, “Bagamana dengan pendekar dari Sekte Iblis Perkutut itu?”


“Aku barusan menamparnya, karena dia membuatku kesal,” kata Devo Wijaya tanpa fluktuasi di wajahnya.


“Haha, kau benar-benar luar biasa, sobat!” Slamet berkata sambil mengacungi jempol.


“Boom!”


Tiba-tiba suara ledakan datang terlambat, dan menyela pembicaraan mereka.


Kehampaan terfragmentasi, lubang hitam tak terhitung jumlahnya, bermunculan dari udara tipis.


“Apa yang terjadi?” tanya Slamet saat melihat pemandangan ini dan merasa bingung.


“Kau bertanya padaku, lalu aku bertanya pada siapa? ” Devo Wijaya berkata sambil menatap kosong pada Slamet.


Mendengar hal itu, sudut mulut Slamet bergerak-gerak, dan berkata, “Mungkin tempat ini akan hancur.”


Kehancuran tersebut bahkan menarik perhatian para petinggi.


“Swossh! Swossh! Swossh! Swossh!”


Di sisi lain, petinggi dari Empat Orang Pendekar Suci Kekosongan Tahap Menengah tiba-tiba muncul dari udara tipis.


Di antara mereka, ada sosok pemandu ujian yang bernama Bejokuwok.


Sedangkan tiga pendekar yang tersisa, mereka pasti dari Kuil Atimuketikung ini.


“Inti mekanisme di bawah tanah aula ujian sepertinya tanpa sengaja rusak, akibat pertempuran peserta ujian yang terlalu bersemangat … kita harus segera menangani masalah ini, kalau tidak … hal-hal di sekitarnya akan dihisap oleh lubang hitam dengan liar.”


Wajah mereka serius, karena pendekar perempuan yang di tampar oleh Devo Wijaya menabrak inti mekanisme tempat ujian hingga rusak berat, dan situasi tempat ujian sekarang sedang tak stabil.


Jika masalah tersebut di abaikan, maka lubang hitam bisa-bisa menelan seluruh tempat ujian, dan beserta para pendekar di dalamnya.


Bejokuwok berkata dengan serius, “Mari lakukan trik itu!”


Tiga Pendekar Suci Kekosongan lainnya mengangguk bersamaan, dan kemudian sosok mereka melintas, masing-masing dari mereka bergegas membentuk segel misterius di tangannya.


“Segel ruang!”


“Boom!”

__ADS_1


Suara ledakan bergema, cahaya warna-warni bersinar menyilaukan, dan secara bertahap ukuran lubang hitam menyusut dengan cepat, kemudian ditutup sepenuhnya.


*****


“Boom!”


Pada saat tertentu, ledakan terjadi, dan puing-puing tersebar, sosok pendekar perempuan akhirnya muncul lagi.


Rambutnya berantakan dan pakaiannya compang-camping, dan dia berteriak keras, “Kau memang kuat, tapi tunggu saja nanti … ketika aku bertambah kuat, aku pasti akan menemuimu untuk menyelesaikan akun ini, dan membalasmu hingga berkali-kali lipat lebih menyedihkan!”


Setelah mengatakan hal itu, dia berbalik pergi.


“Mustahil untuk melarikan diri, karena berbelas kasihan pada musuhmu … sama saja dengan kekejaman terhadap diri sendiri, ” kata Devo Wijaya dengan santai, dan dia dengan cepat melintas dalam sekejap mata.


“Desir!”


Sosoknya muncul di hadapan pendekar perempuan, dan kemudian kepalan tangan kanannya langsung mengantam dengan keras.


“Bang!”


Suara terendam terdengar singkat.


Tapi, anehnya tak ada percikan darah merah, dan tubuh pendekar perempuan itu, secara perlahan memudar, lalu menghilang sepenuhnya.


“Kemampuan melarikan diri yang aneh,” gumam Devo Wijaya, ketika dia menyadari bahwa lawannya belum mati, dan berhasil kabur dengan sarana khusus.


“Uhuk, uhuk, sepertinya dia berhasil melarikan diri,” kata Slamet yang datang dengan susah payah.


“Ya, kau benar,” Devo Wijaya berkata dengan santai, dan melanjutkan serius, “Sepertinya aku harus menarik kata-kataku sebelumnya ... ”


“Haha, setidaknya dia kalah hari ini, sungguh … aku sangat beruntung memiliki rekan sepertimu!”


Slamet tertawa dengan gembira.


“Semuanya telah kembali tenang, sepertinya para petinggi sudah bertindak … ” pikir Devo Wijaya dalam benaknya saat melihat ke sekitar, dan dia tak melihat lubang hitam lagi.


*****


“Benar-benar menarik, di usia yang begitu muda … dia sudah mampu mengalahkan jenius muda dari Sekte Iblis Perkutut, dan jika tak ada kecelakaan, masa depan anak itu mungkin tak terbatas.”


Salah satu Pendekar Suci Kekosongan menatap serius pada Devo Wijaya dan berkomentar.


“Ya, bakatnya memang bagus, tapi keberuntungan juga menjadi faktor penting dalam kelulusan ujian ini,” Bejokuwok menyela.


“Haha, ingat kita tak bisa ikut campur tangan dalam ujian yang telah ditetapkan ini, kita hanya bisa menyaksikan perjuangan mereka sendiri.”


Keempat pendekar dari ranah Pendekar Suci Kekosongan tertawa dan berbicara untuk beberapa kata, selanjutnya sosok mereka menghilang dalam sekejap mata.


Datang tak diundang, pulang tak di antar, inilah kengerian Pendekar Suci Kekosongan.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2