
“Sepertinya kau takut, apakah kau ingin saling menjaga satu sama lain?” tanya Devo Wijaya dengan begitu santai.
“Haha, kau benar-benar pintar, dan kau dapat menebak maksudku,” kata Slamet dengan begitu mudah, dan melanjutkan, “Ya, bagaimana menurutmu?”
“Tidak masalah,” Devo Wijaya berkata tanpa banyak berpikir dan melanjutkan, “Sejujurnya … aku memiliki banyak keluhan terhadap Sekte Iblis Perkutut.”
“Bagus, sepertinya aku menemukan orang yang tepat,” pikir Slamet dalam benaknya dan berkata, “Pantas saja … sesekali dia melirikmu, tapi dia tak memiliki kesempatan untuk bertindak di Kuil Atimuketikung sekarang inj, dan begitu pula dengan kita.”
“Mungkin dia sedang dalam tahap mengamati targetnya, kemudian dengan sabar menunggu hingga waktu yang tepat untuk bertindak.”
Mendengar hal itu, Devo Wijaya mengangguk santai, dan melirik ke arah pendekar dari Sekte Iblis Perkutut berada.
Tidak cepat dan tidak lambat, pendekar itu melaju dengan sangat stabil.
Sepertinya tekanan gravitasi yang mengerikan itu tak banyak berpengaruh padanya.
“Jika berani mengganggu, aku hanya bisa bertindak kasar,” pikir Devo Wijaya dalam benaknya.
“Ayo kita bergegas, aku tak merasa nyaman di bawah tekanan gravitasi ini,” Slamet berkata, lalu sosoknya melintas dengan cepat.
“Baiklah,” balas Devo Wijaya sambil mengikuti dan menyesuaikan kecepatannya.
Setelah beberapa detik, mereka telah sampai di tempat yang di penuhi simbol-simbol aneh.
“Apa ini?” tanya Devo Wijaya pada Slamet di sebelahnya.
“Eh, kau tak tau?” Slamet merasa heran, dan dia buru-buru menjelaskan, “Ini … seharusnya susunan teleportasi khusus di Kuil Atimuketikung.”
“Oh, jadi begitu … ” Devo Wijaya berkata sambil mengelus dagunya.
“Orang yang tak sesederhana kelihatannya,” pikir pria berambut kepang saat melihat Devo Wijaya dengan serius.
“Aku pasti yang terbaik di ujian berikutnya, huh.”
Nama pria berambut kepang adalah Deodorax, dari kekuatan teratas di Benua Chihuahua, Lembah Hantu Kepang.
Lembah Hantu Kepang bukanlah kekuatan biasa, ini adalah kekuatan besar yang bisa bersaing dengan Sekte Iblis Perkutut.
Selain dirinya yang datang untuk mengikuti ujian ini, masih ada anggota Lembah Hantu Kepang lain di sekitarnya.
Hanya saja, Devo Wijaya tak memperhatikan orang yang diam-diam bersaing dengannya.
Saat ini, Devo Wijaya memandang ke arah pendekar perempuan dari Sekte Iblis Perkutut. Kedua tatapan saling berhadapan, dan ada percikan listrik samar-samar yang keluar dari dalamnya.
“Tunggu saja, kau pasti … mati dengan cara mengenaskan!”
Bibir kecil pendekar perempuan bergerak sedikit, dan suara lembut jatuh ke gendang telinga Devo Wijaya.
“Oh,” Devo Wijaya mengerjap sesaat, dan membalas santai, “Aku menantikannya.”
“Hehe, masih berpura-pura tenang … kita lihat saja nanti!”
Pendekar perempuan mencibir, lalu sosoknya bergegas, dan dia melesat ke susunan teleportasi, lalu mengilang dalam sekejap.
Tak ingin tertinggal, Deodorax juga mengikutinya.
“Ayo … kita juga bergegas,” kata Slamet sambil menepuk pundak Devo Wijaya, dan berkata dengan percaya diri.
“Pergi!”
Devo Wijaya mengangguk.
__ADS_1
Kemudian, mereka berdua juga bergegas melangkah ke susunan teleportasi.
“Zizi … om!”
*****
Ketika sosok Devo Wijaya muncul di tempat tertentu, dia merasa bingung saat melihat ke sekitar, karena Slamet tak datang bersamanya.
“Eh … ternyata aku di teleportasi secara acak,” ucapnya tanpa banyak berpikir.
Pada saat itu juga, tiba-tiba langit tampak gelap, dan dia buru-buru menengadah ke atas.
Sebuah meteor besar datang dari langit, dan ketika melintas di atmosfer, meteor itu menyala merah, seolah-olah bara api yang ganas.
“Merepotkan saja,” gumamnya sambil mengepalkan tangannya.
Sedikit berjongkok, dan detik berikutnya dia melompat dengan cara mengesankan.
“Boom!”
Pijakkan kaki di ledakan oleh kekuatan lompatan Devo Wijaya, kerikil terciprat, dan terbang.
Devo Wijaya melesat seperti bola meriam, dan ketika berhadapan dengan meteor, dia langsung menyambutnya dengan kepalan tangan kanannya.
“Boom!”
Segera setelah itu, suara keras memenuhi langit, meteor besar meledak berkeping-keping, seolah-olah ledakan kembang api besar di langit malam, dan Devo Wijaya tak bisa tak bergumam, “Masih ada bonus.”
Tidak hanya satu meteor.
Berikutnya bahkan lebih banyak meteor padat, setidaknya berjumlah ribuan, muncul dari udara tipis, dan langsung menutupi langit.
Devo Wijaya merasa ingin memukuli pelakunya, jika tahu orang yang mengirim meteor itu.
"Desir! Desir! Desir!"
“Pukulan biasa beruntun!” teriak Devo Wijaya dengan kesal sambil menghujani pukulan ke meteor yang mengarah padanya.
“Boom! Boom! Boom!”
Saat berikutnya, meteor besar di langit banyak yang dihancurkan, dan sisanya membentur dengan gila ke tanah.
Kerikil terciprat dan beterbangan, dan suara ledakan keras seolah-olah mengguncang langit.
“Pemborosan, ternyata tak ada habisnya. Sesekali aku lari saja,” kata Devo Wijaya saat tatapan ikan asinnya kebetulan melihat aula di kejauhan sana.
“Wuss!”
Dia melintas dengan sangat cepat, dan bergegas masuk aula.
“Baiklah, apakah ada keberanian untuk menghancurkan aula ini,” ucap Devo Wijaya sambil menoleh ke belakang.
"Boom! Boom! Boom!"
Di belakangnya, suara gemuruh terus-menerus terdengar, satu demi satu, ada meteor besar yang hancur, dan gelombang energi kejut menyebar dengan liar, serta tampak mengerikan.
Dia bergegas di sepanjang jalan, melihat sekilas lubang tanpa dasar tanpa fluktuasi di wajahnya.
Dampak dari hujan meteor besar, tidaklah berlebihan untuk menyebutnya membombardir dunia/menghancurkan dunia.
“Ya, sepertinya memang aman di sini.” Devo Wijaya berkata sambil mengelus dagunya, ketika kakinya telah menginjak aula.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, dia mendengar suara yang akrab.
“Sialan, aku hampir mati,” keluh Slamet dan berkata kepada Devo Wijaya, “Untungnya aku bertemu denganmu lagi …”
“Ya,” Devo Wijaya menanggapi singkat, dan bertanya, “Apakah kau tau lokasi susunan teleportasi di tempat ujian ini?”
“Ini …” Slamet mengamati sekitar aula, menggelengkan kepalanya, dan tak bisa tak berkata, “Aku tak melihat susunan teleportasi yang menuju tempat selanjutnya.”
“Mungkin belum waktunya,” tebak Devo Wijaya tanpa banyak berpikir.
“Bisa jadi … ” Slamet mengangguk.
Setelah sekian lama, dua sosok muncul di hadapan Devo Wijaya dan Slamet.
Dua sosok itu, pendekar perempuan Sekte Iblis Perkutut dan Deodorax.
”Hehe, rupanya kalian berhasil selamat dari meteor, tapi … saat ini adalah waktu yang tepat untuk menghabisi kalian.”
Pendekar perempuan tersenyum senang, dan melirik Deodorax satu sama lain, mengangguk, lalu mengelilingi Devo Wijaya dan Slamet dari kanan ke kiri.
“Astaga, padahal aku belum cukup istirahat,” keluh Slamet saat menatap pendekar perempuan dari Sekte Iblis Perkutut, dan berbisik pada Devo Wijaya, “Hei, aku bukan lawan pendekar perempuan dari Sekte Iblis Perkutut, bagaimana kalau kita bertukar lawan?”
“Wani piro?” tanya Devo Wijaya dengan cepat.
Mendengar hal itu, sudut mulut Slamet bergerak-gerak, dan buru-buru menjelaskan, “Hei, barusan aku cuma bercanda.”
“Baiklah, berusahalah untuk menang!”
Setelah mengatakan itu, Devo Wijaya bergegas menghadapi Deodorax secara langsung.
“Sialan … aku tak boleh kalah dari seorang perempuan!” Slamet berkata untuk menyemangati dirinya sendiri.
“Boom!”
Suara gemuruh terdengar keras naik ke langit dari lokasi Devo Wijaya dan Deodorax bertarung, dan disertai gelombang kejut yang mencengangkan.
“Mustahil!” seru pendekar perempuan dengan takjub.
“Eh … sialan, kau kuat sekali saudaraku!” teriak gembira Slamet saat melihat adegan itu.
Satu pukulan langsung menghabisi Deodorax.
“Siapa juga yang ingin menjadi saudaramu?” Devo Wijaya bertanya sambil menatap kosong pada Slamet.
Melihat tatapan ikan asin itu, Slamet merasa melihat sesuatu yang tak terbatas, dan hal itu membuatnya takut, dia buru-buru berkata, “Aku hanya bercanda … tolong jangan anggap serius.”
“Bang!”
Dengan suara terendam, Slamet terbang seperti bola meriam sejauh lima puluh meter, dan memuntahkan darah dengan liar.
“Sialan … kau curang … beraninya kau melakukan serangan menyelinap!” teriak Slamet dengan susah payah sambil menunjuk pendekar perempuan.
“Bodoh!”
Pendekar perempuan mencibir, dan sosoknya melintas dengan cepat.
Bersambung …
#Jika ada kesalahan penulisan ... tolong ingatkan, karena penulis ini dalam kondisi mengantuk. 😵😵
Banyak kerjaan di kebun, dan hanya dapat menulis bab ini di malam hari. Terimakasih atas dukungannya!
__ADS_1