Strongest Big Boss System

Strongest Big Boss System
Eps 56: Kedatangan Balas Dendam!


__ADS_3

“Aku sudah merasa jauh lebih baik, ayo pergi dari sini … ”


Slamet sangat bersemangat, karena Devo Wijaya berhasil mengalahkan pendekar perempuan dari Sekte Iblis Perkutut.


“Ya, tapi kau harus lihat itu dulu,” kata Devo Wijaya sambil menunjuk ke arah tertentu.


“Oh!” Slamet buru-buru menoleh dan melihat bahwa sejumlah besar pendekar tiba-tiba muncul dari kejauhan, jumlah mereka tak kurang dari lima puluhan.


“Astaga, mereka adalah pendekar dari Lembah Hantu Kepang!” serunya.


“Jangan bilang mereka satu kelompok dengan pendekar berambut kepang sebelumnya … ” Devo Wijaya berkata dengan santai, dan berkomentar, “Gaya rambut kepang mereka agak mencolok ... ”


“Hei, bukan waktunya untuk mengomentari … mereka pasti datang untuk balas dendam!” balas Slamet dengan nada serius.


Devo Wijaya mengelus dagunya dan berkata dengan heran, “Tapi, bagaimana mereka tau bahwa aku pembunuhnya?”


Mendengar hal itu, Slamet memutar matanya dan berkata perlahan, “Tentu saja, mereka memiliki sarana khusus untuk mengetahuinya.”


“Benar-benar merepotkan,” kata Devo Wijaya sambil menganggukkan kepalanya, dan dia menatap kosong pada sejumlah besar pendekar yang menuju ke arahnya.


“kau … benar sekali,” Slamet juga setuju dengan kata-kata Devo Wijaya.


Ketika sekelompok besar itu melihat Devo Wijaya dan Slamet, mereka yang berasal dari Lembah Hantu Kepang segera mempercepat.


“Bunuh kedua orang itu, dan balas dendam untuk rekan kita Deodorax!”


Pemimpinnya adalah seorang pria yang agak mirip dengan Deodorax, dan dialah yang berteriak saat ini.


”Habisi! Bunuh!”


Suara bergema keras di seluruh langit, dan disertai dengan aura mengerikan yang mekar.


“Huh, itu hanya sekompok sampah, kali ini … aku akan beraksi,” Slamet mendengus dingin dan maju lima langkah.


“Aku akan menyambut para penyumbang yang datang.”


Setelah mengatakan itu, Devo Wijaya bergegas ke depan melewati Slamet.


“Hei, sisakan beberapa untukku!” teriak Slamet juga tak mau ketinggalan.


Tapi, dia tiba-tiba tertegun, matanya membelalak ketakutan, dan seluruh tubuhnya kaku di tempatnya.


Karena pemandangan yang mencengangkan tersajikan di hadapannya, para pendekar dari Lembah Hantu Kepang itu bahkan tak bisa menyentuh sudut pakaian Devo Wijaya.


Sebaliknya, Devo Wijaya menghabisi mereka dengan mudah seperti orang yang berjalan-jalan di taman, dan ada banyak darah merah yang beterbangan ke mana pun dia lewat.


Benar-benar menghancurkan mereka satu demi satu!


Para pendekar dari Lembah Hantu Kepang terus berjatuhan dengan tubuh yang tak lengkap.


Sungguh membuat orang-orang tak berdaya.


Mereka berusaha melarikan diri, tapi tidak peduli dengan sarana mereka yang terbatas, Devo Wijaya dapat pindah dengan cepat, dan menyelesaikan mereka dengan cara yang mengesankan.

__ADS_1


“Kita sebaiknya segera pergi dari tempat ini,” Devo Wijaya berkata sambil melambai kepada Slamet, dan sosoknya bergegas memimpin.


Namun Slamet terlalu lambat bereaksi, dan setelah menyadari dia berteriak, “Tunggu … jangan tinggalkan diriku!”


Waktu berlalu cukup lama.


Dengan perjalanan yang di lakukan secara acak, dan tanpa petunjuk, mereka tibalah di sebuah tempat tertentu yang tidak jelas gambarannya.


“Ang!”


Pada saat tertentu, suara raungan keras bergema di seluruh langit.


Hal tersebut menarik perhatian Devo Wijaya dan Slamet, jadi keduanya buru-buru melihat.


Mereka melihat puluhan makhluk buas yang muncul dari udara tipis, dan semuanya telah berubah menjadi pendekar manusia.


“Kau pasti sedang bercanda!”


Slamet terkejut saat melihat hal itu.


“Jika kau takut, serahkan padaku saja, ” Devo Wijaya berkata santai dan melanjutkan, “Kau bisa menonton dengan santai.”


“Kau serius … kau mau melawan mereka sendirian saja?” Slamet tertegun dan tak bisa tak bertanya.


Devo Wijaya sudah maju dua langkah, dan berkata, ”Jangan berisik.”


Setelah mengatakan itu, dia bergegas tanpa ragu-ragu menuju sekelompok makhluk buas.


Mendengar hal itu, sudut mulut Slamet bergerak-gerak, dan berkata, “Baiklah, aku akan merepotkan lagi.”


“Desir!”


Dalam sekejap, puluhan makhluk buas langsung mengepung Devo Wijaya.


Kemudian, serangkaian serangan intensitas tinggi yang mengerikan, dengan liar tertuju Devo Wijaya.


"Boom! Boom! Boom!"


Suara ledakan yang keras bergema ke segala arah, dan asap gelap membumbung ke langit.


Ketika asap gelap itu menghilang, sosok Devo Wijaya masih berdiri di tempat.


“Masih kurang kuat,” komentar Devo Wijaya dengan ekspresi membosankan dan tatapan mata ikan asinnya melihat para makhluk buas.


“Sekarang giliranku,” ucapnya sambil mengepalkan kedua tangannya, dan menghempaskan satu pukulan.


"Boom! Boom! Boom!"


Setiap makhluk buas yang terkena akan membuat suara berat, dan tubuh mereka hancur hingga berantakan.


“Waktu adalah uang, jadi … jangan buang-buang waktu, ayo datang bersamaan.”


Devo Wijaya merasa perlu menambah jumlah koin komersial lagi, dan dia tak ingin bertele-tele.

__ADS_1


"Bunuh! Bunuh! Bunuh!"


Makhluk buas sangat marah ketika melihat rekan-rekannya dihabisi oleh Devo Wijaya.


"Boom! Bang! Bang!"


Tinju Devo Wijaya tak terhentikan, dan semakin ganas.


Hanya setelah beberapa detik, puluhan makhluk buas telah dihabisi hingga tak tersisa.


“Boom!”


Ketika semua makhluk buas mati, pintu besar tiba-tiba muncul dari udara tipis, dan terbuka secara perlahan.


“Hebat sekali, kau mampu mengalahkan mereka sendirian!” teriak Slamet dengan wajah penuh kekaguman.


“Jangan berisik … pintu sudah muncul, ayo pergi!” Devo Wijaya berkata sambil menatap kosong pada pintu yang telah terbuka sepenuhnya.


Mendengar hal itu, sudut mulut Slamet bergerak-gerak, dan berkata dengan suara rendah, “Astaga, setelah mendengarkan kata-katamu … kekagumanku sepenuhnya sirna.”


“Apakah itu penting?” tanya Devo Wijaya sambil bergegas ke pintu besar.


“…”


Mendengar pertanyaan itu, Slamet tak bisa berkata-kata, dan dia hanya mengangkat bahu, mengikuti dari belakang seolah-olah anak yang baik.


Tempat berikutnya ini, berupa dataran aneh dengan bangunan kuno yang sederhana di sekitarnya, dan terlihat sangat kumuh tak seperti tempat-tempat sebelumnya.


Saat Devo Wijaya dan Slamet tiba di lokasi, sudah banyak pendekar nongkrong di sini.


Mungkin jumlahnya sekitar ratusan, mereka mampu sampai di tempat ini sudah membuktikan bahwa kekuatan dan bakat mereka tak bisa diremehkan.


“Astaga, ternyata kita masih kalah cepat dari mereka,” gerutu Slamet sambil mengamati mereka dengan waspada.


“Jangan terlalu dipikirkan … yang terpenting kita sekarang ini telah berhasil sampai di sini dengan selamat,” Devo Wijaya berkata dengan santai.


“Benar juga katamu,” Slamet berkata sambil mengangguk setuju, dan tatapannya tiba-tiba berhenti di sudut tertentu, lalu berbisik sambil menunjuk, “Lihat, itu pendekar perempuan dari Sekte Iblis Perkutut … ”


“Oh,” Devo Wijaya mengerjap sesaat, dan dia mengikuti arahan Slamet, dan setelah merenung sejenak, dia berkata perlahan, “Pendekar perempuan itu sampai di sini lebih dulu dari kita.”


“Aku masih punya keluhan dengannya, beraninya dia melakukan serangan menyelinap kepadaku.”


Melihat pendekar perempuan itu, Slamet merasa sangat marah ketika mengingat hal-hal sebelumnya, dan dia ingin bergegas.


“Jangan terburu-buru, kita perlu memahami tempat aneh ini lebih dulu,” Devo Wijaya berkata mengingatkan.


“Eh … apa yang aneh?” tanya Slamet bingung.


“Sekarang, cobalah untuk mengerahkan sedikit kekuatan spiritualmu,” kata Devo Wijaya secara perlahan dan detik berikutnya melanjutkan, “Sepertinya … ini semacam ujian yang berkaitan dengan jiwa.”


“Ya, seperti begitu,” Slamet berkata sambil mengerutkan kening, samar-samar merasakan, dan setelah lima detik, dia melanjutkan, ”Aku merasa tempat ini mempengaruhi gejolak batinku.”


“Baguslah, kalau kau sudah menyadarinya, ” Devo Wijaya berkata santai, dan detik berikutnya melanjutkan dengan serius, “Kau harus berpegang teguh pada hatimu, dan jangan sampai goyah.”

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2