Strongest Big Boss System

Strongest Big Boss System
Eps 43: Ayo Datanglah!


__ADS_3

Chenblong selalu merasa kecepatannya adalah keahliannya, dan dia bahkan tak akan terkalahkan pada ranah yang sama.


Namun, dia tidak berharap akan bertemu dengan manusia yang dapat merasakan kehadirannya dan menolaknya.


“Apakah ini batasmu?” tanya Devo Wijaya sambil menoleh ke sisi kanan dan menatap kosong pada lawannya.


“Sialan, jangan remehkan aku manusia. Lihatlah ... kekuatan yang sebenarnya dari klan naga, Ha! “


Begitu berteriak, Chenblong mengeluarkan aura yang kuat dari tubuhnya dan menyelimuti tubuhnya seolah-olah mantel merah yang transparan.


Tiba-tiba tubuhnya berkedip menghilang dari tempatnya.


Kemudian serangan jarak dekat yang sengit menghujani Devo Wijaya.


“Bang, bang, bang, bang, bang!”


Devo Wijaya hanya menatap kosong ke depan dengan ekspresi yang membosankan, sedangkan kedua tangannya bergerak sangat cepat untuk memblokir setiap serangan lawannya.


“Klik!”


Suara itu jatuh, ruang tampak berhenti sejenak.


Dia meremas kekosongan, sehingga retakan menjalar seperti jaring laba-laba, lalu detik berikutnya mengguncang langit dan bumi.


“Boom!”


Chenblong tertangkap basah dan diguncang mundur puluhan langkah, darah yang ada manis-manisnya terasa di mulut hingga mengalir tanpa henti.


Bebatuan dan tanah di bawah kaki terbalik dengan cara yang mengesankan oleh kekuatan Devo Wijaya yang mengejutkan semua naga.


Ada tanda tanya di setiap naga yang melihatnya.


Ada juga yang rahang bawahnya jatuh hingga ke tanah karena kejutan di hati yang terdalam.


Manusia ini ... sungguh gila, dia memiliki kekuatan untuk memecah ruang di wilayah klan naga, yang terkenal ketahanannya terhadap serangan dari ranah Pendekar Kekosongan.


“Kau manusia, kau telah berhasil membuatku marah!”


Wajah Chenblong menjadi sangat suram, dan dia segera menelan pil berwarna hijau yang datangnya entah dari mana, tak banyak yang tahu.


Detik berikutnya pendarahan yang tak terhentikan berhenti seketika setelah menelan pil tersebut.


“Lalu, apa yang ingin kau lakukan ketika kau marah?”


Devo Wijaya masih terlihat membosankan dan menatap lawannya dengan tatapan ikan asin.


“Kau harus mati *******!”


Chenblong berkata dengan marah.


Kemudian, energi yang mengerikan keluar dari tubuh seolah-olah energi yang tanpa batas.


Penampilan yang membosankan dari Devo Wijaya jatuh di mata mereka yang tak dapat dipahami, dan itu benar-benar membuat para naga merasa sangat marah hingga hati yang terdalam.


“Kematian belum ditentukan, ayo ... datanglah.”


Devo Wijaya meremas kedua kepalan tangannya dan semangat bertarungnya sedikit naik.


“Tsk, tsk, jika kau benar-benar ingin mati ... aku akan mewujudkannya,” Chenblong mencibir dan berteriak, “Kapak Naga Guntur Versi 69!”


Sebuah berkas cahaya keluar dari tubuhnya, dia kemudian meraihnya dan detik berikutnya cahaya itu menghilang, memperlihatkan kapak emas yang berukiran naga kuno.


“Boom!”


Kapak Naga Guntur Versi 69 di tangan Chenblong menunjukkan aliran listrik yang berkelok-kelok dengan cepat, dan dengan suara guntur yang menggelegar, dia bergegas ke arah Devo Wijaya.


Kekuatannya dan kecepatannya melonjak dengan pesat, sangat cepat, dan sosoknya seperti naga guntur yang menembus awan.


Aura yang mengerikan membuat depresi ruang sekitar.

__ADS_1


Ketika sosok itu melintas, gunung di sekitarnya meleleh merah.


“Satu pukulan, biarlah kau berlalu seperti mantan pacar.”


Devo Wijaya menatap segala prosesnya, tak mau kalah, tatapan mata ikan asinnya berubah menjadi agak serius.


“Boom!”


Cahaya yang menyilaukan meledak dengan cara yang mengesankan, dan energi berkumpul di langit dengan panik.


Dalam sekejap mata, kedua serangan hebat itu bertabrakan dengan cara yang paling jujur, atau katakan saja langsung.


“Boom!”


Suara itu menggelegar keras hingga mengguncang bumi dan bergema di seluruh kehampaan.


Semua naga tercengang oleh suara itu, dan menghentikan pertarungan tanpa sadar.


Chendhol dan Trianto Baxton tak terkecuali.


“Ini, bagaimana mungkin?”


Chendhol terkejut dengan pemandangan ini.


Dia tak bisa membayangkan bahwa pendekar manusia itu memiliki kekuatan yang benar-benar bisa bersaing dengan Chenblong.


Tapi, apakah hasilnya sebanding?


Jawabannya tidak.


“Enyahlah untukku!” begitu suara Devo Wijaya jatuh.


“Boom!”


Chenblong tak memiliki waktu untuk bereaksi, dan langsung ditelan oleh gelombang pukulan lawannya ke langit.


Semua naga di sekitar menjadi sunyi senyap dengan meninggalnya Chenblong.


Mereka sangat terkejut dengan tampilan wajah yang khas masing-masing.


Harus diketahui, Chenblong adalah yang terkuat dari seluruh ras naga di wilayah ini, kecuali Chendhol.


Tetapi, siapa yang akan mengira akan mengalami kekalahan saat bertarung dengan keberadaan manusia yang tidak dikenal?


Orang ini ...


“Chenblong ... Chenblong!”


Pada saat tertentu, Chendhol merasa syok yang tak tertahankan, mendesis keras.


“Manusia *******, kau beraninya membunuh Chenblong, aku ... aku ingin kau mati untuk membayar darah!”


Mata Chendhol memerah darah, dan aura yang tampak liar keluar dari tubuhnya.


“Sialan, bagaimana mungkin kau menjadi lebih kuat?


Mata Trianto Baxton membelalak, dia memiliki wajah yang penuh dengan ketidakpercayaan.


“Haha, aku akan mengatakan bahwa klan naga ini akan di bawah perintahku mulai sekarang dan tak diganggu gugat, adapun yang menentang akanku bunuh tanpa amnesti!”


Chendhol tidak bisa menahan tawa bangga.


Dan Devo Wijaya, hanya menatap kosong adegan ini dengan ekspresi wajah yang membosankan, tidak ada fluktuasi di hati yang terdalam.


Seolah-olah tak ada yang luar biasa setelah sekian lama.


“Pendekar manusia rendahan sialan ... saat ini, kau masih berani berpura-pura terlihat tenang dalam situasi seperti ini, dan aku Chendhol yang perkasa akan menunjukkan padamu kekuatan dari bangsa naga sebenarnya. Lihatlah, lihatlah ...”


Melihat Devo Wijaya yang terlihat tenang, Chendhol penuh amarah di hati yang terdalam.

__ADS_1


Detik berikutnya, dia membuka mulutnya, dan gelombang kehancuran yang di bentuk oleh sekumpulan energi yang menindas dengan cepat menyapu ke arah Devo Wijaya.


“Sialan, kau Chendhol, tak bisa di maafkan!”


Trianto Baxton berteriak keras, bagaimanapun juga masih banyak pihaknya yang saat ini berada di dekat Devo Wijaya, dan mereka pastinya juga akan tersapu oleh gelombang kehancuran itu.


Saat dia berteriak, tubuhnya bergegas tanpa ragu-ragu.


“Boom!”


Trianto Baxton terhempas ke udara, seteguk darah merah menyembur keluar dari mulutnya, dan aura di tubuhnya menurun drastis.


“Bangsat, barusan adalah kekuatanku yang sesungguhnya. Beraninya kau menghalau seranganku itu, sungguh konyol untuk berpikir kau sebanding denganku.”


Chendhol melirik Trianto Baxton dengan jijik, lalu tatapannya berbalik dan jatuh pada tempat Devo Wijaya berdiri.


“Kali ini tak ada lagi yang bisa menyelamatkanmu, manusia rendahan!”


Tapi, dia tertegun ketika melihat manusia itu tak lagi berada di sana.


“Aku di sini.”


Suara itu datang dari sebelah kirinya.


Chendhol merasa tubuhnya menegang, terkejut, dan merasa ngeri, dia melirik ke arah datangnya suara itu.


Dia melihat sebuah bayangan hitam semakin dekat.


“Boom!”


Tanpa waktu bereaksi, pelipisnya di hantam oleh kekerasan yang tak terbayangkan, dan dia ditembakan hingga melebihi kecepatan cahaya.


Serangan yang mengejutkan itu, langsung mengenai dia, mengguncangnya sejauh beberapa kilometer jauhnya, dan menabrak gunung.


“Boom!”


Gunung itu langsung runtuh ketika dihancurkan oleh tabrakan yang menghancurkan.


Puing-puing bebatuan betebaran ke sekitar dan bumi berguncang hebat.


Setelah sekian lama bumi kembali tenang.


“Sepertinya kau belum siap untuk bertarung ... kau bahkan gagal untuk merespon serangan menyelinap yang tak terduga.”


Devo Wijaya menatap kosong pada reruntuhan gunung.


Beberapa detik kemudian.


“Pendekar manusia *******, beraninya kau membodohiku? Aku akan menghabisimu dan memakanmu!”


Chendhol menyambar dari reruntuhan gunung itu, dan suara kemarahan yang menggelegar terdengar di seluruh wilayah itu.


“Aku menantikannya,” kata Devo Wijaya.


“Bangsat kau! Oh ...”


Saat Chendhol hendak bergegas kembali, dia tiba-tiba menoleh ke puncak gunung di sebelah kanan.


Di sana, Lastry Tanner tidak tahu kapan, sudah duduk bersila di tengah Formasi Pembantai Naga.


“Devo, serahkan sisanya padaku!”


Lastry Tanner berteriak keras, dan kekuatan spiritualnya sudah di dorong keluar.


“Oh,” Devo Wijaya mengerjap sesaat dan melambaikan tangannya, lalu berkata, “Terserah kamu.”


Sebenarnya ada keinginan untuk segera menghabisi lawannya dan mendapatkan koin komersial.


Tapi, karena Lastry Tanner sudah berbicara, maka lupakan saja.

__ADS_1


__ADS_2