
Setelah menghabisi lawannya, Devo Wijaya memasuki gua lebih dalam lagi dengan lampu senter di tangannya, dan sekarang ini kabut tebal telah berkurang sepenuhnya.
Lima belas menit kemudian, dia berhasil keluar dari kabut aneh, mengangkat kepala dan melihat sekeliling.
“Aneh, kenapa ada gunung di dalam gua, mungkinkan ini semacam ruang independen?” ucap Devo Wijaya begitu saja saat melihat puncak yang di kelilingi kabut aneh.
Getar.
Sebuah getaran dirasakan di pakaiannya, sehingga dia bergegas mengeluarkan Radar Harta Karun dari dalam sakunya, dan dia melihat bahwa ada tanda keemasan yang berkedip-kedip di layar.
“Eh, kenapa baru terdeteksi saat aku sampai di sini, mungkinkah ada sesuatu yang mencegah radar untuk mendeteksi ketika aku berada di luar sebelumnya?” Devo Wijaya mengelus dagunya saat berpikir di benaknya, dan bergumam rendah, “Untungnya aku mengambil inisiatif memasuki lebih dalam ke gua, kalau tidak aku pasti melewatkan harta yang ada di dalam sini.”
Berjalan santai hingga lima menit lamanya, dan setiap langkahnya dapat menempuh puluhan meter dalam sekejap mata, dia akhirnya tiba di sebuah bangunan kuno yang besar.
“Astaga, gunung ini sangat tinggi sekali, jika aku hanya orang biasa ... pasti sudah menyerah untuk mendaki, ” Devo Wijaya berkata begitu adanya, dan tatapan kosongnya jatuh ke depan sana, “Apakah itu rumah bangsawan kuno atau istana kerajaan kuno?”
Dia hanya mengikuti petunjuk dari radar tanpa tahu jalannya.
“Berhenti di sana, sebutkan identitasmu?”
Begitu suara itu jatuh.
Tiba-tiba ratusan sosok berjubah merah berbaris rapi muncul dalam sekejap di hadapan Devo Wijaya.
Devo Wijaya melihat dari atas dan bawah pada sosok aneh yang barusan menghentikannya, lalu berkata, “Aku Tukijan.”
“Tukijan?” sosok berjubah itu mengeryit sesaat dan berkata, “Kami tak menerima tamu hari ini, jadi kembalilah atau jangan salahkan kami karena bersikap kasar.”
Seolah-olah tak mendengarkan kata-kata itu, Devo Wijaya menatap kosong pada sepasang tanduk di kepala orang itu, hal ini membuatnya tertegun sejenak dan bertanya dengan heran, “Apakah kau ini Kijang?”
“Kijang? Sialan kau manusia, beraninya menghina kami. Kami ini adalah penjaga naga dari ras naga bermartabat,” sosok ketua kelompok memiliki tendon yang menonjol di dahinya saat marah, dan menodongkan ujung tombak berkilau ke leher Devo Wijaya.
“Oh, maaf ... jika aku berbicara salah,” kata Devo Wijaya tanpa sadar, mungkin karena bawaan atau kebiasaan saat dirinya masih hidup di bumi.
“Pendekar manusia, ini bukan tempat yang seharusnya kau datangi, dan sekarang ini aku sedang berbaik hati ... jadi, silahkan pergi secepatnya. Jika tidak kami akan membunuhmu tanpa amnesti.” kata ketua kelompok penjaga naga dengan nada tegas.
Ada ratusan naga humanoid di belakang ketua kelompok itu
Ratusan naga humanoid memengang tombak garpu emas dengan unjung berwarna perak, dan mereka terlihat kuat serta memiliki moral yang tinggi.
Kemudian, Devo Wijaya menatap kosong pada bangunan kuno dan merasa terlalu malas untuk menanggapi penjaga naga.
__ADS_1
Melihat manusia di hadapannya mengabaikannya, ketua kelompok penjaga naga amarahnya naik kembali, dan berkata sekeras guntur, “Pendekar manusia, aku sudah memperingatkanmu sekali lagi di akhir!”
Mendengar suara keras itu, Devo Wijaya tanpa sadar menutup telinganya, dan dia menatap kosong pada ketua kelompok penjaga naga, lalu berkata, “Berisik!”
“Baiklah, jika kau ingin mati!”
Dengan mendengus dingin, ketua kelompok penjaga naga itu memegang tombaknya dan bergegas untuk membunuh.
“Simpan saja kekuatanmu untuk sesuatu yang lain,” saran Devo Wijaya sambil menjepit tombak yang akan mengenainya dengan dua jarinya.
“Ding.”
Dengan jentikan ringan.
Ketua kelompok penjaga naga mundur beberapa langkah, dan berseru kaget, “Kau!”
Bahkan yang lain terkejut hingga rahangnya jatuh ke tanah, ketika melihat serangan ketua kelompok penjaga naga mereka dapat mudah di tangani.
Saat hendak melancarkan serangan lagi, dia tiba-tiba berhenti ketika suara teriakan keras terdengar dari belakang.
“Hentikan!”
Sosok gadis melintas dengan cepat memblokir antara Devo Wijaya dan ketua kelompok penjaga naga.
“Putri keci? Maaf ... hamba ini tidak tau ...” kata ketua kelompok penjaga naga dengan nada gugup.
Gadis itu melambaikan tangan tanpa memberinya kesempatan dan berkata, “Kembalillah, ada yang inginku bicarakan dengannya.”
“Dipahami.”
Begitu kata itu jatuh, sekelompok penjaga itu menghilang dalam sekejap seolah-olah teleportasi.
Setelah mereka pergi, gadis itu menoleh pada Devo Wijaya dan berkata, “Hai, kita bertemu lagi.”
“Ya, Lastry ... kita bertemu lagi, “ balas Devo Wijaya dengan ekspresi yang membosankan.
Gadis ini adalah Lastry Tanner.
“Huh ... ayo masuk ke dalam dan kenapa kau bisa sampai di tempat ini?” tanya Lastry Tanner, lalu berbalik dan berjalan.
“Intuisi,” jawab Devo Wijaya singkat dan mengikuti, dia tak akan mengatakan bahwa dia sampai di tempat ini karena petunjuk Radar Harta Karun.
__ADS_1
“Siapa yang percaya dengan alasanmu itu?” Lastry Tanner memutar matanya.
“Apakah ini rumah bangsawan atau istana?” tanya Devo Wijaya sambil menatap kosong pada bangunan kuno, untuk mengalihkan pembicaraan.
“Ini, Istana Naga milik pamanku, aku belum lama ini bertemu dengannya, sebenarnya aku tidak terlalu yakin ... dia itu pamanku atau bukan ... “ Lastry Tanner berkata begitu saja sambil merentangkan tangannya.
Devo Wijaya tidak memiliki minat tentang situasi Lastry Tanner sekarang ini, dia lebih tertarik dengan harta yang ditunjukkan Radar Harta Karun.
Istana ini sangat besar dan telihat kuno, tapi memiliki suasana unik yang sulit dijelaskan.
Setelah melewati koridor, Devo Wijaya akhirnya tiba di ruangan yang dihiasi dengan berbagai ornamen cantik, ada meja bundar di tengah dan kursinya.
“Hai, bagaimana menurutmu tempat tinggalku ini?” tanya Lastry Tanner.
“Bagus,” kata Devo Wijaya singkat.
“Hanya itu?” tanya Lastry Tanner dengan nada tidak puas.
“Lalu, apa lagi yang kau harapkan?” tanya kembali Devo Wijaya sambil menatap Lastry Tanner dengan tatapan kosong ikan asin.
“Huh, kau memang menyebalkan, “ Lastry Tanner berkata sambil memutar matanya dan memiliki ekspresi kesal.
Mata Devo Wijaya berbinar, karena dia telah melihat kelereng bintang empat di atas rak, dan bertanya sambil menunjuk, “Lastry, bisakah kau memberikan kelereng itu padaku?”
Tatapan Lastry Tanner juga jatuh pada benda itu, dan berkata tanpa berpikir, “Ambil jika kau suka.”
Itu hanya hiasan yang tak begitu penting baginya.
“Baiklah, ingat jangan menangis,” kata Devo Wijaya sambil bergegas menyimpan kelereng bintang empat.
“Siapa juga yang ingin menangis? “ ucap Lastry Tanner, dan melanjutkan, “Apakah kau ingin minum sesuatu?”
“Kopi, baik-baik saja,” kata Devo Wijaya dengan santai.
“Kalau begitu duduklah terlebih dahulu, tunggu dan jangan pergi ke mana-mana.”
Setelah mengatakan itu, Lastry Tanner bergegas pergi dari ruangan itu.
Setelah sekian lama.
Lastry kembali dengan nampan dan dua cangkir di atasnya, lalu meletakkannya di atas meja.
__ADS_1
Kemudian mereka mengobrol untuk waktu yang lama, karena sudah cukup lama tak bertemu.