Strongest Big Boss System

Strongest Big Boss System
Eps 51: Dataran Kuno!


__ADS_3

Di ruang tamu khusus.


Tiga orang duduk di kursi masing-masing dan di tengah-tengah mereka ada meja bundar klasik.


Taryono Naga menyesap teh jahe sesaat dan berkata,”Anak muda, apakah kau tertarik untuk memasuki Dataran Kuno?”


“Dataran Kuno, apa itu?”


Merasa tertarik, Devo Wijaya bertanya dan kemudian menggigit onde-onde, lalu dia mengunyahnya secara perlahan.


“Raja Naga, maksudmu Dataran Kuno yang tak bisa kami buka pintu masuknya?”


Trianto Baxton tidak membantu tetapi bertanya.


“Benar sekali,” Taryono Naga mengangguk.


“Tapi pintunya tersegel dari Dataran Kuno bahkan tidak bisa kau buka dari luar,” kata Trianto Baxton lagi.


“Yohoho, tapi kita masih ada harapan sekarang ... aku tak bisa membuka, bukan berarti anak muda ini tak bisa melakukannya.”


Taryono Naga berkata sambil menunjuk Devo Wijaya.


“Kau menyuruhku untuk membuka pintu, apakah kau yakin?” kata Devo Wijaya sambil menunjuk dirinya sendiri.


“Benar-benar yakin,” Taryono Naga menggangguk.


“Em ...” Devo Wijaya menundukkan kepalanya sambil merenung.


Apakah kau yakin menerima permintaannya?


Bagaimanapun juga, ada kemungkinan Raja Naga akan menjadi ayah mertuanya di masa depan.


Tapi masalahnya, aku masih ragu-ragu untuk menikahi Diana.


Pikirkan kembali, Raja Naga telah menyediakan akomondasi gratis saat ini dengan murah hati.


Hal tersebut telah menghemat banyak pengeluarannya bulan ini.


Keuntungan dan kerugian, tampaknya lebih banyak untungnya.


Setelah sekian lama.


“Bagaimana?” tanya Taryono Naga tak bisa menunggu lagi.


“Baiklah, aku akan mencobanya,” kata Devo Wijaya sambil menatap kosong pada Taryono Naga.


“Yohoho, baguslah kalau begitu ... ayo pergi sekarang saja.”


Taryono Naga sangat senang dan merasa lega.


Orang ini ... entah sengaja atau tak sengaja benar-benar menyebalkan.


*****


Di tempat rahasia atau area terlarang Klan Naga.


Ketiga orang telah memasuki tempat itu dan di hadapan mereka ada pintu yang sangat besar.


Pintu besar itu berwarna abu-abu dengan aura misterius yang terus-menerus keluar secara samar-samar.


Legenda mengatakan bahwa ada harta karun yang tersembunyi di dalamnya, sehingga banyak pemimpin Klan Naga mencoba membukanya, tetapi semua trik tak berguna di hadapan pintu besar itu.


“Anak muda, inilah yang kami maksud barusan . Dataran Kuno ada di balik pintu ini dan tujuan utamamu adalah membuka pintu yang tersegel ini.”


Taryono Naga menunjuk ke pintu besar dan berkata dengan wajah serius.


Dia pernah mencoba mendobrak berkali-kali pintu tersebut, tetapi dia tak pernah berhasil dan akhirnya menyerah.


Namun setelah melihat penampilan Devo Wijaya, dia memiliki secerah harapan.


“Aku akan mulai, kalian menjauhlah, “ kata Devo Wijaya sambil melangkah maju dan menatap kosong pada pintu besar itu.


Pintu besar itu tak jauh berbeda dengan pintu berkarat yang tua dan kumuh.


Tentu saja, ini hanya di permukaan saja.


Faktanya, Devo Wijaya menemukan simbol-simbol yang tak dijelaskan di pintu besar itu.


“Mungkin masalahnya ada pada simbol, tapi aku ingin mencoba memukulnya lebih dulu.”


Devo Wijaya berkata dengan sangat yakin di dalam benaknya.

__ADS_1


Taryono Naga dan Trianto Baxton, berdiri diam di belakang Devo Wijaya, beberapa meter jauhnya dan tak berkomentar.


Devo Wijaya tak ingin membuang banyak waktu, dan dia telah mengepalkan tangan kanannya, lalu dengan lembut melambaikan ke depan.


Embusan angin menyapu kepalan tangan Devo Wijaya!


“Boom!”


Dalam sekejap!


Suara gemuruh menggelegar bergema di seluruh tempat itu.


Pintu besar berlubang, dan gempa bumi terjadi!


“Ini ...”


Taryono Naga dan Trianto Baxton saling memandang, dan ada kengerian yang dalam di kedua matanya.


“Dia benar-benar mampu melubangi pintu masuk Dataran Kuno!”


Trianto Baxton tak bisa tak berseru.


Melihat pemandangan ini, Taryono Naga segera menenangkan keterkejutannya dan menghela nafas lega, karena gempa barusan tak berlangsung lama.


Dia khawatir seluruh Istana Naga akan runtuh, tapi untungnya gempa bumi tak berlangsung lama.


“Zizizizi!”


“Bang!”


Suara aliran listrik terdengar, dan kemudian, dengan ledakan terendam, seluruh pintu besar itu runtuh secara langsung, menampakan lubang warna-warni.


“Bagus, ini bagus ... kerja bagus anak muda!”


Taryono Naga dan saling memandang, dan ada kegembiraan di mata keduanya.


“Lalu, apa lagi?” tanya Devo Wijaya sambil menatap kosong pada lubang warna-warni di hadapannya.


“Anak muda, kau memang hebat, Raja ini benar-benar tak salah memilihmu, yohoho, aku sekarang bisa lega karena menyerahkan putriku kepadamu ... aku yakin kau bisa melindunginya.”


Taryono Naga sangat gembira.


“Oh,” Devo Wijaya mengerjap sesaat, dan berkata, “Jangan bicarakan hal itu, apa selanjutnya?”


Di dalam ada Dataran Kuno, dataran tak begitu luas, hanya sekitar sepuluh ribu meter persegi.


Perlu diketahui bahwa di tengah-tengah, ada kapak putih yang melayang.


Kapak ini ditutupi dengan simbol di sekujur tubuh, dan auranya saja sudah cukup membuat orang merasa tertindas.


Selain kapak putih ini, banyak harta karun mengkilap berserakan.


Tetapi, dari segi nilainya, secara alami tak bisa dibandingkan dengan kapak putih itu.


“Pusaka ini, kapak putih ini pasti pusaka ajaib!”


Taryono Naga mengamati kapak putih itu dan berkata dengan sangat yakin.


“Selamat Raja Taryono, kapak putih ini telah dimenangkan olehmu.”


Trianto Baxton terlihat bersemangat.


“Aku akan mencobanya.”


Taryono Naga berkata, dan segera meraih kapak putih itu.


“Huss!”


Ada semburan aura, dan aura naga murni tiba-tiba muncul di sekitar Taryono Naga.


“Ang!”


Pada saat tertentu, kapak putih itu mengeluarkan suara raungan keras, dan cahaya menyilaukan memperlihatkan nama kapak putih itu.


“Kapak Putih Naga Menggelegar!” seru Taryono Naga dan Trianto Baxton bersamaan saat membacanya.


“Atas namamu, aktifkan Kapak Putih Naga Menggelegar!”


Taryono Naga berteriak pelan, tangannya memancarkan aura dan energi yang luar biasa.


Kemudian tanpa keraguan, dia memegang erat Kapak Putih Naga Menggelegar dengan satu tangan.

__ADS_1


“Yohoho ... benar-benar luar biasa!”


Taryono Naga sangat bersemangat dan bergembira, lalu melanjutkan, “Kalian berdua silahkan mengambil harta karun yang kalian suka ...”


Devo Wijaya dan Trianto Baxton bergegas mengumpulkan.


Setelah itu, mereka semua meninggalkan Dataran Kuno.


*****


Di hari berikutnya.


Pernikahan kedua orang berlangsung tiba-tiba, agar tidak memberi kesempatan kepada pihak tertentu yang memiliki niat buruk untuk perencanaan kekacauan.


Devo Wijaya dan Diana akhirnya menikah di aula khusus.


Upacara berlangsung dengan murah meriah dan dihadiri oleh banyak tamu Klan Naga.


Keamanan tentu saja di jaga sangat ketat pada saat acara seperti ini.


Sebenarnya Devo Wijaya tak berdaya karena paksaan seorang gadis, tapi dia juga tak ingin membuat sedih seorang gadis yang ingin menikah.


Sebenarnya, dia belum siap secara finansial dan dia hanya penggangguran dengan beberapa harta.


Hanya saja, istrinya adalah putri dari Raja Naga yang kaya dan dia bisa menjadi nasi lunak dengan jujur.


Tak perlu merasa malu, karena orang-orang yang mengejek mungkin merasa iri.


Jika dia menolak, gadis itu menangis, dan calon mertuanya berteriak-teriak hingga mengguncang seluruh istana.


Di zaman kuno ini, mereka berdua sudah di usia menikah.


Para gadis akan malu saat menikah ketika di usia yang terlalu tua.


Jadi, hal-hal rumit selalu sulit dikatakan.


Lupakan saja!


*****


Di malam yang gelap.


Kedua orang tinggal di ruangan yang sama dengan lancar.


Pintu kamar tertutup dan tidak lupa di kunci dengan berlapis-lapis.


Devo Wijaya dan Diana duduk di samping tempat tidur besar, suasana saat ini agak canggung.


“Devo ... kapan kita akan mulai?” tanya Diana yang tak bisa menahan perasaan gugup.


Dia tak menyangka akan merasa gugup di situasi seperti ini, padahal sebelumnya ... dia begitu bersemangat terutama saat upacara pernikahan.


“Kau mau mulai lebih dulu atau aku lebih dulu?” tanya Devo Wijaya dengan tatapan kosong mata ikan asin.


“Ini ...” Diana merasa bingung dan tak mengerti.


“Sepertinya kau belum paham betul, baiklah aku akan mengajari,” kata Devo Wijaya datang.


“Ya,” Diana menggangguk dengan patuh dan pipinya sudah memerah.


Suasana memadat, dan pada saat tertentu, lupakan saja.


Melihat bahwa Devo Wijaya sudah berada di hadapannya dalam sekejap, Diana merasa pundaknya sudah dipegang, dan tak bisa tak bertanya,” Devo, kau ...”


“Sssttt, jangan bersuara,” bisik Devo Wijaya.


“Aku ...” kepala Diana sudah mengepul uap, pipinya semakin memerah, dan detak jantungnya melompat-lompat, dan lupakan saja.


Detik berikutnya, Devo Wijaya mendorong Diana hingga jatuh di tempat yang empuk dan terbuat dari bahan khusus.


Mulut menutup mulut.


Malam ini, ditakdirkan secara khusus tanpa paksaan, tapi perlu dorongan yang pertama, kedua dan seterusnya berirama.


Ada kalanya fantasi dan misteri menjadi rahasia di benak setiap orang.


 


 


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa vote dan komen!


__ADS_2