Strongest Big Boss System

Strongest Big Boss System
Eps 40: Sekte Iblis Perkutut lagi!


__ADS_3

Pada saat ini, bola energi kehancuran berjarak kurang dari setengah kilometer dari Devo Wijaya.


Apabila itu diubah ke waktu, itu mungkin hanya beberapa detik.


Devo Wijaya pindah.


Mengepalkan tangan erat-erat hingga menghasilkan tulang berderak di tangannya.


Kepalan tangan kanan langsung di arahkan tepat di mana pria tua berambut panjang melayang di udara.


“Boom!”


Suara keras menggelegar dari seluruh kekosongan dan kecemerlangan cahaya ekstrim seolah-olah menyelimuti dunia.


Gelombang pukulan yang sangat dahsyat dan seketika dari Devo Wijaya langsung menghempaskan energi kehancuran beserta pria tua berambut panjang. Pukulan gemuruh yang menghancurkan bumi dengan keras melonjak ke langit dan beberapa bukit yang dekat runtuh satu demi satu di bawah ledakan gelombang kejut yang dahsyat.


Bola energi kehancuran yang digunakan oleh pria tua berambut panjang akhirnya tak terbendung dan hancur total bersama.


“Om ... !”


Suara mendengung yang keras terus bergema di telinga semua orang yang mendengar di sana.


“Whoosh!”


Ke mana pun dia lewat, angin bertiup kencang membuat dunia bergolak dan ledakan energi di sekelilingnya pun menjadi gila.


Pendekar yang tak terhitung jumlahnya di hutan itu, dengan mata terbuka lebar, melihat pemandangan yang luar biasa di atas sana, dan beberapa yang kembali tersadar segera mengevakuasi dirinya sendiri secepat mungkin.


Senjata yang saat ini di tangan mereka benar-benar tak terkendali, bergetar dan lepas landas keluar.


Bahkan beberapa makhluk buas yang kuat yang tersembunyi dalam kegelapan, mereka gemetar, dan bergegas mengevakuasi diri dari tempat itu.


Pukulan itu penuh dengan aura kehancuran yang menakutkan.


Ruang, waktu, dan segela sesuatunya tampak diam saat itu.


Pendekar yang tak terhitung jumlahnya menyaksikan pemandangan ini, wajah mereka telah menjadi pucat penuh ketidakpercayaan.


Terutama para pendekar Astobenjho.


Orang super kuat dari keluarga mereka ternyata dikalahkan oleh pemuda yang berusia kurang dari dua puluh tahun.


Ini sangat menakutkan.


Setelah kematian sesepuh Astrobenjho, semua pendekar di luar lokasi itu sangat terkejut.


Sulit dipercaya bahwa generasi veteran akan dikalahkan oleh seorang pemuda di bawah dua puluh tahun.


“Akhirnya tamat, kali ini Astobenjho benar-benar tamat.”


“Haha, ya benar ... senangnya hatiku turun panas demamku, akhirnya Keluarga Astrobenjho menabrak pelat bajanya.”


“Haha, mari kita rayakan ... ayo pergi ... beli susu jahe di Warung Mbok Dharmi ...”


“Pergi ke Warung Mbok Dharmi? Tapi, aku masih punya hutang seribu denganya dan belum ada uang untuk membayar.”


“...”


Jatuhnya veteran itu bisa digambarkan sebagai keluarga bahagia dan keluarga sedih.


Tapi jelas, yang paling bersukacita adalah mayoritas.


Sudah terlalu lama sejak Keluarga Astrobenjho memonopoli berbagai industri di Kota Buluketiak.


Jika bukan karena kemunculan Paviliun Goldjoss di tahun-tahun ini, yang menghambat perkembangan mereka, mayoritas pendekar khawatir orang-orang dari Keluarga Astrobenjho akan menjadi lebih sombong dan mendominasi.


***


Lokasi tertentu yang tak disebutkan namanya.


Beberapa pria dengan aura kuat berkumpul dan mereka berkumpul bukan untuk bermain ular tangga.


Pemimpinnya adalah Sudadi Goldjoss, penguasa Paviliun Goldjoss.


“Tuan Sudadi, bagaimana dengan rencana kita?” salah satu pria botak bertanya dengan ragu-ragu dengan suara rendah.


“Untuk menangani Keluarga Astrobenjho, ikut saja rencana awal ... tapi rencana untuk mendapatkan seni bela diri mistis semua ditunda!”


Sudadi Goldjoss melihat Devo Wijaya dari kejauhan, wajahnya dengan serius berkata.


Setelah menyelesaikan instruksinya, Sudadi Goldjoss muncul tepat di hadapan Devo Wijaya yang sepertinya tak terkejut.


Orang ini menatap kosong padanya, tak ada fluktuasi dari ekspresi wajah dan tatapan mata ikan asin itu begitu membosankan.


“Woy ... lihat itu, Master Paviliun Goldjoss datang. Apa yang akan dia lakukan?”


“Shhhh... hei, jangan keras-keras, kecilkan suaramu ... nanti di dengar, lho!”


“Mungkin dia ingin bertarung demi buku itu ...”


“...”


Banyak pendekar berbicara dengan masing-masing rekannya.


Devo Wijaya memiringkan kepalanya dengan bingung, dan tidak bisa tidak bertanya, “Ada perlu apa kau datang menemuiku?”


Tampaknya buku keterampilan seni bela diri mistis begitu mempesona, sehingga banyak kalangan berani mempertaruhkan nyawanya.


“Haha, kau salah paham, Sudadi ini tidak bermaksud begitu.”


Sudadi Goldjoss tertawa dua kali dan buru-buru menjelaskan.


Tiba-tiba Devo Wijaya ingat dengan agenda berikutnya, dan dia terburu-buru berkata,” Kalau tidak ada, maka aku akan pergi dulu ... sampai jumpa!”


Melambaikan tangannya berbalik, dia tak berniat untuk tinggal sama sekali.


Meskpun dia telah memenangkan pertarungan dengan veteran sebelumnya, dia tidak merasakan sesuatu yang luar biasa.


Bertarung lagi?


Lupakan saja.


“Tunggu sebentar.”


Melihat Devo Wijaya yang hendak pergi tanpa hambatan sedikit pun, Sudadi Goldjoss bergegas menghalangi.


“Sejujurnya begini, aku datang kali ini untuk mengundangmu bergabung dengan Paviliun Goldjoss kami. Aku tidak tau, apakah kau bersedia ...”

__ADS_1


Melihat bahwa Devo Wijaya sudah menggelengkan kepala dengan santai sebelum menyelesaikan kata-katanya, Sudadi Goldjoss buru-buru berkata lagi, “Tenang, dalam hal status dan perlakuan, aku pasti akan memuaskanmu!”


Sudadi Goldjoss takut kalau Devo Wijaya tidak setuju, jadi dia menambahkan kalimat lain.


Devo Wijaya mengangkat alisnya sedikit, tapi itu hanya sesaat. Benua Chihuahua bukahlah tujuannya, hanya dunia yang lebih besar dan lebih besar yang harus dijelajahi.


“Itu ... aku benar-benar minta maaf. Aku ini suka berpergian dan nggak pulang-pulang hanya untuk berkeliling dunia, serta menjalani hidup bebas tanpa batasan.”


Devo Wijaya menatap kosong sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal dan menolak undangan Sudadi Goldjoss.


“Sampai jumpa dan selamat tinggal.”


Tanpa banyak omong kosong, sosok Devo Wijaya berkelip, menerobos kekosongan dan pindah entah ke mana.


“Orang ini ... hei, benar-benar susah dibujuk dan tipe orang yang berterus terang,” gumam Sudadi dengan senyum pahit.


Kemudian sosoknya melintas dan menghilang dari tempat itu.


***


Hari demi hari berlalu dan setiap makhluk hidup memiliki kehidupannya masing-masing.


Keluarga Astrobenjho, kekuatan terbesar di Kota Buluketiak secara resmi mengumumkan kehancurannya, karena telah kehilangan tokoh pentingnya.


Selain itu juga, Keluarga Astrobenjho memiliki terlalu banyak musuh, dan lebih baik untuk menyatakan kehancurannya.


Mereka tidak lagi mampu melawan musuh, karena kekuatan tempur telah anjlok.


Di antara kekuatan besar, yang paling diuntungkan dari situasi ini adalah Paviliun Goldjoss.


Meskipun mereka pada akhirnya tidak mendapatkan buku yang digadang-gadang, hasil ini juga membuat Sudadi Goldjoss dan yang lainnya merasa jauh lebih baik.


Itu semua berkat seorang pemuda yang sangat kuat, dan tidak perlu ditanya lagi.


Sejak menghabisi pria tua berambut panjang, Devo Wijaya telah lama meninggalkan perbatasan Kota Buluketiak.


Dia berkemah mandiri di tempat-tempat tertentu selama beberapa hari, karena dia tidak tertarik tinggal di gua seperti manusia purba yang tercatat di buku-buku sejarah di bumi.


“Sangat membosankan, aku sepertinya perlu menggunakan Radar Harta Karun untuk bersenang-senang,” gumam Devo Wijaya sambil memegang radar di tangannya.


“Klik.”


Devo Wijaya menekan tombol pada radar, dan segera titik kuning yang berkedip-kedip muncul di layar radar.


“Baiklah, berkemas terlebih dahulu ... baru berangkat,” kata Devo Wijaya dan kemudian bergegas mengemas semua peralatan berkemah, dan melemparnya ke penyimpanan sistem.


Beberapa saat kemudian, Devo Wijaya menginjak kekosongan, menghadap ke arah yang ditunjukkan oleh Radar Harta Karun, bergegas pergi.


Ribuan mil, akan memakan waktu beberapa hari untuk pendekar biasa.


Tapi dengan kekuatannya saat ini, dia bisa menempuhnya  dengan hanya setengah jam.


Devo Wijaya mendarat di atas bukit yang tumpul dan dia dengan cermat berjalan menuju lokasi spesifik harta karun.


Seluruh bukit agak lembab, tertutup hutan, dan hanya sedikit orang yang datang.


Tidak lama.


“Ini mulut gua, kenapa begitu rutinitas seperti di novel-novel saja, kenapa harta karun tidak di sembunyikan di rumah seorang pejabat atau istana raja atau rumah pacar gelap saudara tertua saja?” keluh Devo Wijaya saat berdiri di depan mulut gua.


Gua ini agak tersembunyi, karena terlalu banyak tumbuhan merambat yang terlihat seperti tirai.


Siapa yang tau jika hal itu bisa membuat orang tergelincir nantinya?


Tentu saja, dia belum tahu bahaya yang akan menunggunya di dalam.


Memangkas tumbuhan merambat dengan sebuah pisau militer yang di beli di mal sistem, Devo Wijaya melakukannya dengan hati-hati.


Bagaimana jika ada ular yang menggigitnya tiba-tiba?


Astaga hampir lupa, dia kuat sekarang.


Mengeluarkan senter murahan, cahaya itu menerangi gelapnya di dalam gua.


Di bagian dalam gua lebih lembab dari pada di luar sana, dan bahkan ada berbagai tanaman aneh yang tumbuh tanpa bantuan sinar matahari.


Devo Wijaya tidak menyentuh tanaman aneh itu, dan dengan hati-hati menghindar.


Setelah sekian lama, dia telah memasuki bagian tengah gua.


“Ada kabut di sini, dengan begini jarak pandang menjadi terbatas,” gumam Devo Wijaya saat sorotan senternya terhalang oleh kabut di hadapannya.


Kemudian melihat kembali ke radar, dan itu menunjukkan bahwa sudah dekat.


Berjalan beberapa langkah, Devo Wijaya menyorotkan lampu senternya dengan teliti, dan mengeluh, “Kabut ini sangat mengganggu ... oh, itu dia!”


Tiba-tiba Devo Wijaya melihat sebuah kelereng bintang tiga dan bergegas meraihnya di celah bebatuan gua.


Tap.


Dengan suara rendah, kelereng bintang tiga itu mudah diambil dan segera menyimpannya.


“Hm, kira-kira apa yang ada di dalam sana?” kata Devo Wijaya dengan ragu-ragu, dan ketika bingung, dia mulai menghitung lima jarinya, “Masuk, tidak, masuk, tidak, masuk ... oh, ternyata pergi masuk ... meskipun lingkungan di sini terlalu buruk.”


Tetapi saat ini juga, ada beberapa suara yang datang dari belakangnya.


“Cepat, kejar!”


“Jangan biarkan lari.”


Desir!


Suara hembusan angin terdengar satu demi satu, dan setidaknya ada sepuluh orang yang lemah apabila itu di hadapan Devo Wijaya, mereka semua hanya di ranah Pendekar Langit.


“Eh, siapa yang mereka kejar?” Devo Wijaya penasaran ketika mendengar kata “kejar” dari mulut mereka dan tiba-tiba alisnya sedikit terangkat, “Aura ini sangat mirip dengan anggota Sekte Iblis Perkutut.”


Mengetahui hal itu, Devo Wijaya segera mematikan lampu senternya, dan bersandar pada dinding gua.


Sebenarnya Devo Wijaya agak bingung dengan bagaimana mereka menemukkannya, mungkinkah intellejen mereka ada di mana-mana?


Mungkinkah mereka memiliki sarana khusus untuk mengetahui keberadaannya, seperti ramalan ataupun sejenisnya?


Sepertinya perlu segera dihancurkan sekte aneh itu, aku khawatir saat berjongkok di toilet tidak akan ada ketenangan pikiran.


“Kabut apa ini?”


“Sialan, aku tak bisa melihat dengan jelas.”

__ADS_1


“Terlalu aneh, apakah ini ulah dari makhluk buas tertentu?”


“Hei, tempat ini sepertinya sangat cocok untuk berduaan ...”


“Siapa juga yang ingin berduaan denganmu?”


“ ... ”


Mereka mengucapkan semua jenis kutukan ketika hanya beberapa langkah ke dalam kabut.


Kemudian mereka mundur untuk mendiskusikan masalah kabut ini dengan bermusyawarah.


“Master Aula, kabut ini sangat aneh, haruskah kita masuk ke dalam?”


Melihat sosok pria bertopek rubah putih di belakangnya, banyak anggota bertanya dengan pemikiran yang sama.


“Pergi, aku ingin melihat orang itu dalam keadaan hidup, dan mayat dalam kematian.”


Pria tua bertopeng rubah putih berkata dengan suara terendam.


“Dipahami!”


Mereka anggota Sekte Iblis Perkutut saling melirik, lalu melintas menerjang kabut di dalam gua dan mereka juga memiliki kemampuan untuk merasakan posisi satu sama lain.


Dengan keunggulan itu, mereka selalu dapat melakukan pencarian dengan cepat.


Anggota dari Sekte Iblis Perkutut semakit dekat dan dekat.


“Sepertinya tak perlu berbelas kasihan,” guman Devo Wijaya sambil mengepalkan tangannya.


“Boom!”


“Boom!”


“ ... ”


Pada saat tertentu, energi kekerasan meledak di sekitar Devo Wijaya, mereka menggunakan metode menyerang secara acak dan berharap Devo Wijaya terbunuh dalam serangan itu.


“Menyebalkan, jika terus begini ... gua ini mungkin akan runtuh. Terimalah pukulanku ini, “ kata Devo Wijaya dalam hati sambil melepaskan pukulan biasa beruntun.


Badai berkecamuk dengan kekuatan mengerikan dan menyapu dengan cepat.


“Boom!”


Dengan ledakan keras, tiga pendekar terbunuh secara langsung karena tidak memiliki kesempatan untuk merespon.


Namun, dengan cara ini pula, posisinya saat ini juga terekspos kepada musuh.


“Arah jam dua belas, cepat bergerak!”


Seorang pria gemuk berteriak dengan serius.


Segera setelah itu, pendekar yang tersisa lain bergegas untuk mengepung satu demi satu ke arah itu.


Jangan biarkan orang yang di cari ini lolos dari jaring.


“Selesaikan dengan cepat, jangan buang-buang waktu,” setelah berkata, Devo Wijaya mengambil beberapa langkah santai.


“Boom! Boom! Boom! Boom!”


Ledakan berturut-turut begitu bergema di dalam gua.


“Apakah informasi yang diberikan salah?”


Pria tua bertopeng rubah di luar kabut mengeryit.


Menurut informasi yang didapatnya, Devo Wijaya tidak kuat.


Tapi mengapa pertempuran ini sangat sengit.


Dalam sekejap, wajah pria tua bertopeng rubah itu berubah suram, dan ada suara berderak yang tajam di antara telapak tangannya.


Karena, dia telah merasakan bahwa aura antek-anteknya telah menghilang.


“Tidak sulit,” sosok Devo Wijaya berdiri tegak dan meniup kepalan tangan yang berasap seperti gaya koboi.


Tetapi, saat dia hendak berbalik ada sosok berjubah yang melintas cepat.


Segera setelah itu, serangan mengerikan yang dipenuhi dengan amarah yang membara, datang tiba-tiba.


“Pengganggu lainnya,” kata Devo Wijaya saat sosoknya berkedip, dan menghindar.


“Boom!”


Ada lubang cukup besar di tempat dia berdiri sebelumnya.


“Hari ini aku akan mengambil nyawamu!”


Pria tua bertopeng rubah itu berkata dengan nada bergema.


“Lakukan saja, jika kau memiliki kemampuan, “ tidak mau kalah, Devo Wijaya berkata tanpa banyak berpikir.


“Hmph, anak muda yang sombong, aku tak akan membiarkanmu lari!”


Pria tua bertopeng rubah berkata dengan dingin, memegang pedang panjang, dan sosoknya melintas dalam sekejap menuju ke arah Devo Wijaya.


“Mungkin kedengarannya sombong, tapi bagaimanapun juga kau lebih lemah dariku ... sungguh tak menyenangkan ketika orang lain mengatakan bahwa diriku ini sombong. Padahal aku hanya ingin berterus terang.”


Mendesing!


Pupil mata pria tua bertopeng rubah melebar saat melihat pedangnya itu di genggam dengan satu tangan oleh lawannya, dan kemudian dia berteriak dengan ekspresi tak percaya, “Mustahil!”


“Klik!’


Hanya dengan sedikit remasan pedang panjang itu pecah berkeping-keping dengan cara yang mengesankan.


Devo Wijaya tidak menanggapi dengan lambat, dan kepalan tangan lain dengan cepat mengakhir adegan ini.


“Bang!”


Seolah-olah waktu telah berhenti.


Di bawah pukulan itu, pria tua bertopeng rubah tubuhnya tak bergerak dan detik berikutnya dadanya berlubang, serta matanya melompat keluar bersamaan dengan topengnya.


Kemudian kabut di dalam gua langsung di dorong pergi oleh gelombang kejut  dalam sekejap.


“Gedebuk.”

__ADS_1


Tubuh pria tua itu roboh ke samping dengan tak bernyawa, dan ekspresi wajahnya itu tidak pantas untuk dipublikasikan.


“Berakhir dengan satu pukulan,” gumam Devo Wijaya sambil menatap kosong pada mayat pria tua itu.


__ADS_2