
“Boom!”
Suara ledakan memekak telinga dan membuat bangunan istana bergetar.
Obrolan dua orang berhenti.
Devo Wijaya dan Lastry Tanner saling memandang, lalu keduanya bangkit dari tempat duduk.
Kedua orang bergegas menuju ke sumber datangnya suara ledakan.
Tak lama kemudian, mereka berdua muncul di puncak gunung yang tertinggi dari semua puncak, dan juga yang paling dijaga ketat.
Dari atas gunung Devo Wijaya dapat melihat seluruh wilayah ini dari ketinggian itu.
“Sangat luas, mungkin tidak lebih kecil dari beberapa wilayah yang dimiliki beberapa dinasti besar.”
Devo Wijaya diam-diam mengangguk dari waktu ke waktu.
Tempat ini begitu tersembunyi, para pendekar manusia bahkan tidak tahu tentang area seluas ini.
“Bagaimana mungkin mereka?”
Wajah Lastry Tanner serius, dan matanya yang dingin melihat ke luar puncak gunung.
Devo Wijaya yang memiliki ekspresi membosankan menengadah menatap kosong ke atas.
Mereka berdua melihat sekelompok besar naga datang, dan jumlahnya tidak kurang dari seribu pasukan yang terbang di udara.
“Penjaga naga dengarkan perintah, blokir semua ancaman!”
Sosok berjubah kuning berteriak, dan guntur yang menggeliat dengan cepat menyebar.
Wuss! Wuss! Wuss!
Segera setelah itu, dari dalam istana, sekelompok sosok muncul dengan cara yang mengesankan.
“Paman Trianto Baxton!” ucap Lastry Tanner saat melihat sosok berjubah kuning yang berteriak keras di kejauhan.
“Oh,” Devo Wijaya mengerjap sesaat dan bertanya dengan suara rendah, “Siapa yang bikin ulah?”
Tetapi, Lastry Tanner saat ini masih dalam keadaan tertegun dan sepertinya tak mendengarkan pertanyaan itu.
Tak ada tanggapan, Devo Wijaya hanya mengangkat bahu tak lagi bertanya dan berdiri sambil ngupil.
Wuss!
Trianto Baxton melintas, terbang keluar, muncul di hadapan kelompok penjaga naga berjubah merah, dan langsung ikut serta dalam melawan musuh yang datang.
“Chendhol, Chenblong , kalian penghianat ... beraninya datang ke sini!” teriaknya dengan wajah yang suram.
“Boom!”
“Boom!
“ ... “
__ADS_1
Chendhol dan Chenblong saling memandang, lalu detik berikutnya keduanya tertawa terbahak-bahak bersamaan, “Haha, Trianto, kualifikasi apa yang kau miliki untuk berbicara dengan kami? Sebaiknya kau ingat kembali status rendahmu!”
“Tunggu saja ... ketika Raja Taryono kembali, kalian berdua pasti akan dibersihkan!” Trianto Baxton membalas dengan mendengus dingin.
“Haha, Raja Taryono? Aku tidak melihat sosoknya selama bertahun-tahun, mungkin dia sudah meninggal ... haha,” Chendhol terkekeh, wajahnya penuh kecerobohan.
“Saudara Chendhol, mari berhenti omong kosong dan bunuh mereka segera,” ucap Chenblong sambil tersenyum sinis.
“Baiklah, kau urus sang putri, sedangkan aku akan menghadapi Trianto,” Chendhol mengangguk dan berkata.
“Harap tenang, saudara Chendhol, aku berjanji untuk menyelesaikan misi dengan sebaik-baiknya, hancurkan mereka dalam satu gerakan,” kata Chenblong dengan percaya diri.
Dia memiliki keunggulan dalam kecepatan.
Dia juga yakin bahwa tidak ada orang di sini yang bisa menghentikan gerakannya.
“Paman, aku akan membantumu menghadapi mereka!” teriak Lastry Tanner sambil bergegas menuju ke arah Trianto Baxton.
Devo Wijaya juga tak ingin ketinggalan dan bergegas mengikuti di belakangnya.
Mendengar teriakan itu, Trianto Baxton menoleh dan berteriak kembali, “Kamu putri kecil, jangan kemari ... kembalilah, tidak aman di sini atau kau pergi ke belakang sana untuk mengaktifkan Formasi Pembantai Naga ...”
“Baiklah, “ balas Lastry Tanner dan segera mengubah arahnya.
Devo Wijaya merasa tak berdaya dan tetap mengikuti kemanapun perginya Lastry Tanner.
Trianto Baxton juga melihat keberadaan Devo Wijaya, sebelumnya dia telah diberitahu oleh ketua penjaga naga bahwa pendekar manusia itu adalah teman dari putri kecil.
Jadi, dia tidak berbicara lebih lanjut, dan kembali fokus dalam pertempuran.
Chendhol dan Chenblong sama-sama memperhatikan keberadaan Devo Wijaya.
“Haha, benar-benar lelucon. Kau bahkan mengandalkan pendekar manusia, sungguh konyol sekali, Trianto ...”
“Haha, sangat menyedihkan, dan aku turut berduka, haha!”
Chendhol dan Chenblong saling melirik sebelum tertawa terbahak-bahak.
“Oh,” Devo Wijaya mengerjap, berhenti, berbalik, dan dia menatap kedua orang itu dengan tatapan kosong seperti mata ikan asin.
“Yo, kami adalah bangsawan naga bermartabat, dasar pendekar manusia rendahan, tidak pantas dengan keagungan kami, pergi sana jangan menghalangi pandangan kami!”
Chendhol dan Chenblong langsung bersemangat dan berkata dengan tak berperasaan.
“Oh, aku pikir kalian itu kijang, “ kata Devo Wijaya dengan tidak yakin.
Semua naga yang mendengar hal itu, mereka memiliki mulut yang bergerak-gerak dan wajahnya gelap.
“Sialan, kami ini naga yang bermartabat. Bagaimana mungkin kami ini kijang?” Chendhol sangat marah, baru ingin bergerak, tetapi segera dihentikan oleh Chenblong.
“Karena tanduk di kepalamu mirip dengan yang dimiliki oleh kijang,” kata Devo Wijaya dengan jujur tanpa dibuat-buat, sambil mengelus dagunya, dan mata ikan asinnya fokus pada tanduk itu, “Ya, terlihat sama.”
Entah mengapa semua naga merasa diyakinkan dengan kata-kata itu, dan menganggukkan kepala dari waktu ke waktu sebelum mereka tersadar.
Wajah semua naga menjadi lebih gelap ketika mereka menyadari bahwa mereka juga memiliki tanduk yang sama.
__ADS_1
Ada keinginan untuk segera membunuh manusia itu.
“Mencari kematian, aku tidak tahan lagi untuk membunuhnya!”
Chendhol sangat marah kali ini.
“Saudara Chendhol, pendekar manusia serahkan saja padaku, membunuhnya hanya menodai tanganmu, jadi biarkan aku membunuhnya, “ kata Chenblong yang sudah tidak tahan dengan amarahnya.
“Baiklah.”
Chendhol melirik Devo Wijaya dengan jijik, dan kemudian pandangannya jatuh ke Trianto Baxton, “Kau tak bisa menghentikanku, dan giliranku untuk berkuasa!”
“Jangan memikirkan hal itu, karena kau akan mati hari ini, kau tak memenuhi syarat untuk menggantikan Raja Taryono!”
Trianto Baxton menggelengkan kepalanya dan menolak dengan keras.
“Huh, kau tak akan hidup lama dan tak memiliki hak untuk berbicara di sini.”
Chendhol mendengus, lalu melambaikan tangannya, dan berteriak, “Pasukan Naga, hancurkan mereka dengan kejam!”
“Hoo!”
Ribuan pasukan naga di pihak Chendhol itu bersorak dengan moral yang tinggi, dan melintas seperti guntur yang bergulung, seolah-olah menembus langit.
Di pihak Trianto Baxton, penjaga naga juga tidak mau kalah untuk menaikan moral dan niat bertarung mereka.
Kedua belah pihak bertarung bersama dengan cara yang paling langsung dan mengesankan.
“Boom!”
Suara gemuruh yang mengerikan bergema di langit, menyertai pertempuran yang sengit.
Bumi dan langit berguncang dalam pertempuran yang penuh semangat bertarung.
Menghadapi serangan Chendhol, Trianto dengan putus asa bertahan. Meski dia bertahan dengan enggan, dia tidak ingin dikalahkan dalam waktu singkat.
“Pendekar manusia, lawanmu adalah aku!”
Chenblong tersenyum jijik, sayap hitam di belakangnya berberubah menjadi aliran cahaya dan sosoknya menghilang dalam sekejap.
“Jangan kecewakanku, “ gumam Devo Wijaya sambil mengepalkan tangan dengan erat.
Segera setelah itu, dia menghantamkan lengan kanannya ke sisi kanan tanpa melihat.
“Boom!”
Terdengar suara terendam yang bergema.
Dan sosok Chenblong dengan cepat muncul.
“Sialan, bagaimana mungkin kau?”
Chenblong berkata dengan heran dan berkata dalam benaknya, “Apakah dia bisa mengikuti kecepatanku?”
Dia tak menduga bahwa Devo Wijaya akan mengetahui datangnya tendangan maut dan dengan mudah menangkisnya.
__ADS_1