
Sinar matahari hari melewati celah tertentu, Devo Wijaya membuka matanya dan mengosok beberapa kali.
Saat ini, pikirannya masih dipenuhi dengan ingatan samar-samar terkait berbagai gaya dan gambaran yang tak terkatakan.
Tak ada masalah, setelah Diana berubah menjadi pendekar manusia. Dia tak berbeda dari semua karakteristik yang dimiliki pendekar wanita.
Termasuk bagian penting itu.
"Em … apa agenda hari ini," pikir Devo Wijaya sambil melirik Diana yang berada disisinya.
Di tempat tertentu ada jejak merah di lembaran.
“Hei, bangun sekarang sudah pagi!” ucap Devo Wijaya sambil menguncang Diana beberapa kali.
“Nanti saja … aku masih mengantuk,” desah Diana sambil menarik selimut dan detik berikutnya memutar tubuhnya di dalam selimut hingga seolah-olah menjadi kepompong.
“Jangan lupa untuk mencuci seprai!” kata Devo Wijaya mengingatkan dengan serius.
“Ya,” balas Diana singkat dan detik berikutnya, dia sudah mendengkur.
“Terserahlah.”
Setelah berkata begitu, sosok Devo Wijaya bangkit dan pergi mandi.
*****
Lima hari berlalu.
Di siang hari
Ruang diskusi khusus.
“Devo, ada sesuatu yang inginku beritahukan padamu.”
Setelah mengatakan itu, Taryono Naga menyesap secangkir teh tubruk edisi terbatas dan melanjutkan, “Barusan, aku menerima undangan dari Kuil Atimuketikung … bahwa akan diadakan Ujian Generasi Super Micin, dan itu satu bulan dari sekarang. Ujian Generasi Micin hanya diadakan setiap lima tahun sekali.”
Devo Wijaya menatap kosong sambil makan kripik kentang rasa balado ting-ting, dia mengunyahnya dengan cepat dan bergegas menelannya, lalu penasaran, “Lalu?”
“Ehem,” Taryono Naga berdehem saat melihat tatapan ikan asin menantunya, dan dia sudah terbiasa dengan hal itu.
“Oh,” Devo Wijaya mengerjap sesaat dan detik berikutnya, dia mendorong satu bungkus makanan ringan yang belum dibuka.
Taryono Naga tak perlu merasa malu dengan menantunya sendiri dan bergegas meraih hal itu.
Dia membuka kemasan dan bergegas mencicipi.
Matanya terbuka lebar dan segera tenang, lalu dia melanjutkan, “Meskipun berbahaya, tapi aku sangat yakin dengan kemampuan.”
”Bagaimana dengan yang lain?” tanya Devo Wijaya.
“Hei, tak ada … ”
Setelah mengatakan hal itu, Taryono buru-buru menjelaskan, "Karena aku hanya menerima satu undangan saja, dan satu undangan hanya untuk satu pendekar saja.”
“Astaga ... pelit sekali, cuma dapat satu undangan,” keluh Devo Wijaya sambil membuka satu bungkus lagi, karena yang sebelumnya telah habis di makan.
“Jangan pikirkan hal itu!”
__ADS_1
Taryono Naga merenung sejenak, dan melanjutkan dengan serius, “Jika kau tertarik, sebaiknya kau segera memanfaatkan waktu satu bulan ini untuk berlatih, dan siapkan dirimu sekondusif mungkin untuk lulus ujian … ”
“Baiklah, aku akan ikut ujian itu, ” Devo Wijaya mengangguk dengan pasti, dan berkata lagi, “Jadi, di mana aku bisa membeli kunci jawaban?”
Dengan adanya kunci jawaban, dia tak perlu repot-repot berpikir keras.
Mendengar hal itu, sudut mulut Taryono Naga bergerak-gerak, dan dia berkata perlahan, “Ujian yang kau ikuti bukanlah ujian tertulis ataupun lisan, melainkan ujian seni bela diri. Jadi, kau tak perlu membeli kunci jawaban.”
“Oh,” Devo Wijaya mengerjap sesaat dan berkata dengan lega, “Baguslah, dengan begitu … aku tak perlu repot menghafal dan kehilangan uang.”
Mendengar hal itu, Taryono Naga merasa ingin pingsan di tempat.
*****
Waktu berlalu, dan sebulan berlalu dalam sekejap.
“Zizizi … bang!”
Setelah beberapa detik, Devo Wijaya diteleportasi oleh susunan teleportasi Klan Naga.
Dia muncul di padang pasir.
Setelah mengidentifikasi arah melalui peta yang sebelumnya diberikan oleh ayah mertuanya, dia dengan cepat terbang ke arah tertentu.
“Wuss!”
Kecepatan Devo Wijaya sangat cepat, dan dalam sekejap dia telah melintasi puluhan ribu meter.
Setelah tiga jam, dia sampai di tujuannya.
”Seharusnya di depan sini, aku hanya perlu memecahkan ruang.”
Sepertinya tak terlihat keberadaan pendekar di sekitar, tapi ini tidak berarti hanya ada sedikit pendekar yang berpartisipasi dalam Ujian Generasi Micin.
Hal ini juga membuktikan bahwa cakupan Kuil Atimuketikung ini terlalu luas.
Devo Wijaya merasakan penghalang spasial di hadapannya, dan kemudian, tidak ragu-ragu, mengulurkan tangan kanannya.
Mengguncang!
“Klik … boom!”
Sebuah retakan, dan suara ledakan yang mengerikan bergema di langit.
“Kacha, kacha … ”
Segera setelah itu, terdengar suara seperti pecahan kaca.
Seluruh kehampaan di hadapan terfragmentasi dengan begitu cepat, memperlihatkan celah besar.
Dataran di bawah sana terbagi menjadi beberapa bagian besar, saling menjauh, dan runtuh.
“Astaga, apakah aku terlalu berlebihan?”
Melihat dampak yang begitu mengerikan, dan tak jauh berbeda dengan film kiamat, Devo Wijaya menjadi panik, lalu sosoknya melintas ke dalam celah yang sudah terbuka.
Berharap tak ada yang menyalahkannya.
__ADS_1
Setelah beberapa detik, dia mendarat di lapangan hijau yang begitu luas.
Di sini, sekilas, setidaknya sekitar puluhan ribu pendekar berkumpul.
Para pendekar ini berdiri berjauhan, saling mengamati satu sama lain, dengan penuh kewaspadaan siap tempur.
Kedatangan Devo Wijaya juga cukup mengejutkan beberapa saat saja.
“Huh, sepertinya … aku tak datang terlambat,” Devo Wijaya menghela nafas lega.
Masih banyak yang berdatangan dari berbagai arah tertentu, sehingga jumlah pendekar meningkat tajam dan lapangan yang besar tiba-tiba tampak agak ramai.
Mereka datang kemari untuk lulus Ujian Generasi Micin. Jadi, mereka tidak akan dengan bodoh melakukan perkelahian yang tidak perlu sebelum ujian di mulai, dan menjaga diri agar tetap kondusif.
“Boom!”
Pada saat tertentu, suara menggelegar yang keras bergema di sekitar, dan membuat beberapa pendekar terkejut.
Devo Wijaya menengadah ke langit, dan melihat bahwa seluruh langit mulai di selimut awan yang tebal.
“Aneh, kenapa tiba-tiba mendung?” gumamnya sambil ngupil, dan dia merasa heran, lalu berkata dalam benaknya, “Untungnya di mal sistem juga menjual jas hujan ... ”
Tampaknya awan di langit bukanlah awan biasa, karena diselimuti energi yang sangat besar.
“Haha, para pendekar yang pemberani, selamat datang!”
Sebuah suara cempreng terdengar, dan kemudian, seorang lelaki paruh baya turun dari langit.
Tatapan semua pendekar melihat ke atas.
Mereka melihat lelaki paruh baya itu, muncul tiba-tiba seolah-olah muncul dari udara tipis.
”Sial, aura orang itu terlalu kuat!”
Merasakan aura terpancar dari lelaki itu, hampir semua pendekar berseru pada saat bersamaan.
“Aku adalah pemandu kalian hari ini, dan namaku Bejokuwok.”
Lelaki itu memperkenalkan sambil tersenyum tak membahayakan hewan dan manusia.
“Astaga … emak!”
“Ternyata hanya pemandu!”
“Tapi, bagaimana begitu kuat?”
Mendengar hal itu, semua pendekar berteriak.
Sulit dibayangkan bahwa seorang pemandu saja sudah memiliki ranah yang mengerikan.
“Haha, aku tak ingin bertele-tele menjelaskan, karena selama anda bisa bertahan sampai akhir, maka anda bisa lulus. Baiklah, aku nyatakan … ujian hari ini secara resmi dimulai!”
Bejokuwok melambaikan tangannya, dan semua peserta ujian diteleportasi secara massal.
Bersambung …
#Jika ada kesalahan dalam penulisan, tolong diingatkan!
__ADS_1
#Terlambat karena ngetik pakai hape, laptop kuno ... tak bisa hidup lagi. 😱😱😱 Aku ngetik segini aja butuh empat jam 😖😥.