
Hari ini pikiran ku sangat stress, aku cemburu dengan tetanggaku. Mereka memiliki pasangan susah, senang bahagia bersama pasangannya. Sedangkan aku sering di tinggal suamiku, kami beda atap, beda pendapat, intinya sudah gak sejalan. Kadang aku ngeluh sama saudara-saudaraku.
"seandainya dia mau kerja disini, pasti aku bahagia sekali ya... walaupun pendapatan tiap harinya gak besar tapi kan lebih enak kalo suami istri tinggal bersama!!!"
"emangnya kamu mau suami kamu kerja apa adanya disini??"
"iya lah apa kata pepatah gak makan lauk, ada nasi sama garem aja di makan"
"gimana kalo nanti aku bantu ngomong??"
"bolehlah😊"
Hari ini dia datang dari situbondo, tak sabar di mau apa gak kerja disini? bisa temani aku, dampingi aku, setiap malam pasti slalu berdua.
__ADS_1
Kami semua sudah berkumpul akan bicarain kepada dia tentang....
"Dek, kalo kamu kerja disini kan enak, ada istri nantinya juga akan ada anak. Istri mu itu gak mau sebenarnya di tinggal terus, dia pasti iri melihat rumah tangga yang lain" ujar kaka sepupu iparku
"bukannya saya gak mau kak, saya kan sudah enak kerja di situbondo penghasilan sudah enak. Saya kan nabung buat persalinan nanti"
"lebih enaknya tanya aja sama istri kamu?!"
kemudian dia tanya "emangnya kamu mau aku kerja disini??"
Dia mikir kayak orang gila, padahal istrinya sendiri yang memintanya. Susah banget ngajarin dia berumah tangga, toh apa ruginya dia tinggal bersama istrinya nanti akan ada anak yang harus kami didik.
"ya sudah, besok aku pulang dulu aku mau izin dulu sama bos"
__ADS_1
Betapa senangnya aku, suami ku rela berkorban meninggalkan pekerjaannya demi aku.
Ke esokan harinya dia pulang, dia pamitan ke ibu mertua. Aku tidak ikut karna kehamilan hampir tua, jadi waspadalah...
*****
Hari ini, hari pertama suamiku dirumah. Dia di ajak mantu saudaraku, untung saja dia mau bekerja sebagai kuli penjual degan. Pendapat hari ini lumayan besar 110ribu, tapi dia seperti gak bahagia gitu, aku merasa terbebani olehnya. Setiap pulang kerja slalu malam aku takut dia terlalu kecapean.
Dapat 1 minggu dia tidak di ajak lagi bekerja sampai libur 2 minggu, kita tidak mendapatkan pemasukan. Tidak bekerja slama seminggu ini dia sudah goyah lagi, sempat aku datangi ke tempat bos nya ternyata mereka hanya kerja berdua saja dengan mantu saudaraku, kesal sekali mendengarnya. Dari sini lah suamiku ingin kembali ke situbondo, aku tak bisa melarang nya disisi lain aku juga resah karena biaya lahiran pasti akan banyak.
"neng, udah 1 minggu ini gak dapat penghasilan. 1 minggu kerja 1 minggu gak kerja sama saja bohong, kamu mau kayak gini terus, kalo aku kerja di situbondo kan masih lumayan kita bisa nabung"
Aku tak dapat bicara, hanya bisa menganggukkan kepala. Padahal sudah enak kerja, malah penyakit nya ada-ada saja.
__ADS_1
Pulang lagi ke situbondo, kembali lagi seperti semula 1 munggu sekali baru jenguk aku, jarang dia akan menginap 2 atau 3 malam hanya saja 1 malam seperti aku perempuan simpanan dia.
Sampai aku hamil tua, barulah aku di kasik belanja 120 ribu/ 1 minggu. Aku memang tak seberuntung wanita lain, merasakan kebahagiaan sekedar saja bukan seutuhnya. Ketika aku ingin manja kepada suami, suami memilih pergi lagi dan tak kan kembali.