
Aku hapus semua yang ada di ponselku, game, youtube, semua aplikasi yang tak berguna. Bukan aku ngelarang dia memakai ponselku, dia gak mau berubah padahal sudah punya anak. Dulu waktu tunangan aku belikan ponsel dia malah koleksi film ****, mana ada wanita di perlakukan seperti ini sampai punya anak pun dia gak mau berubah.
2 bulan aku disini sudah gak tahan rasanya, ternyata pilihanku salah. Memilih tinggal bersama suami tapi suami slalu memberikan perasaan pahit, harus bersabar seperti apa??..
Uang belanja dia pengang sendiri, aku hanya di beri uang pempes anak. Sedangkan aku sedikitpun gak pernah di jata. Setiap hari ibu mertua slalu pinjam uang, uang sekolah adik bungsu, uang rokok bapak minjem ke aku. Aku hanya di kasik uang pempes itupun belum belanja dapur, ketika aku tanya..
"kenapa uangnya kamu semua yang pegang, kamu gak percaya sama aku??"..
"bukan gak percaya, aku gak ingin kamu repot urusan hutang, biar aku saja yang ngurus utang-utang. Aku ingin nyenengin kamu, tapi kamu malah berburuk sangka padaku"
Aku tidak mengerti dengan apa yang di pikiran suami, memang benar istri gak usah ikut campur masalah hutang tapi setidaknya suami harus tanggung jawab dengan nafkahnya.
****
Akhirnya aku minta pulang, aku sudah muak. Selama ini hubungan aku dan ibu ku sudah membaik, kami sering komunikasi satu sama lain. Ibu juga sering tanya cucunya, kami sepakat membuat rencana aku akan pulang dan meminta ibuku berpura-pura akan memenuhi semua kebutuhanku dan anakku.
"ibu cuma minta 1 permintaan kepada kamu (mantu), adiknya jangan tetep di sibon, ibu kesepian disini, 2 minggu biar disini 2 minggu biar disana biar adil. Akan ku penuhi kebutuhannya disini asalkan bisa disini selama 2 minggu"
Itu semua rencanaku, aku hanya minta tolong ke ibu ku. Aku hanya bilang udah gak kerasan di sibon"
Ibu menyetujui permintaan ku itu, selama 2 minggu aku pulang kerumah. Mengingat perlakuan suami dan mertua yang slalu manjain anaknya sumpek hati dan pikiranku, Malam itu anakku sakit, ku kira suami akan begadang menemani ku. Ternyata tidak dia enak tidur pulas sampai pagi lalu tak merasa berdosa dia pergi kerja seperti biasanya, tugasnya sudah lupa menjadi seorang ayah bukan bersama dia malah cuek dan gak mau tau. Ibu mertua membiarkan anaknya sesuka hatinya, yang aku tau biasanya ankanya di nasehatin seperti ini punya anak, seperti ini jadi suami. Dia hanya aku yang harus menanggung beban menjadi seorang ibu.
__ADS_1
Ibu mertua sering meninggalkan aku dirumah sendirian, aku di tinggal kerja setiap hari, pergi pagi pulang malam. Aku tau ibu mertua memang tulang punggung keluarga, bapak mertua sudah gak sanggup kerja karena keberadaan dia yang sudah tuli, sedangkan ibu mertua harus banting tulang mencukupi anak-anaknya dan aku masih numpang makan padanya. Sebenarnya masih bisa bapak cari kerja tapi tidak cukup memenuhi semua kekurangan kami, bapak sudah di katakan (kerja susuka hatinya).
****
7 bulan anak ku, Bapak berusaha kerja untuk 7 bulan anakku. Dia banting tulang demi cucunya, karena di bondowoso gak ada kerjaan, bapak ikut denganku ke situbondo dia bekerja ikut tani disana. Niat aku gak mau ngerepotin mertua, karena bapak aku ikut denganku. Aku berusaha cari pinjaman uang, aku ingin membeli kompor sendiri, aku ingin punya dapur sendiri, aku ingin masak untuk suami dan bapakku. Akhirnya aku pinjam adik ipar ku, tapi aku masih konsultasi dulu sama mas suami nya mbk, dan ke ibu mertua ipar. Entahlah ibu ipar atau mertua ipar, aku tak paham. Yang jelas dia slalu mendukung aku setiap aku ambil keputusan dan bapak saudara dari ibu mertua juga mendukung. Dan aku mau pinjam ke anak ibu mertua ipar.
"dek, aku mau pinjam uang. Mau beli kompor pengen punya dapur sendiri?!"
"mau pinjam berapa??" mungkin adik sudah tau dari ibu, yang pasti ibu sudah cerita.
"250 ribu"
"cukup??"
"ya dah pakek aja"
Alhamdulillah akhirnya aku dapat pinjaman juga, suami gak tau hal ini, mertua ku juga, tidak ada yang tau rencana ku. Padahal aku sudah minta ijin ke mertua ingin pisah dapur tapi dia ngelarang, pernah aku konsultasi ke suami tapi suami malah menolak. Aku langsung beli sama riya, aku pergi ke pasar tanyain harga satu persatu setiap toko. Untung aja ada yang murah dan pas banget di kantong dapat kompor sama selangnya. Datang kerja suami kaget sudah ada kompor di dalam rumah, cuma aku nunggu orang yang mau pasang kompornya. Bapak aku juga tanya dapat dari mana uang padahal kan kerja masih dapat sehari, aku gak mau tergantung sama orang tua terus jadi aku usaha sendiri. Suami marah dia diam abaikan aku, nungkin dia bertanya-tanya di dalam hatinya (dapat dari mana uang??).
Sorenya sudah siap, semua sudah di perbaiki. Lalu mertua kaget
"jenua dika alaenna bing, cakna bule kan niser. Bule perak abentua ade'er tak terro minta'a ka nak poto"
__ADS_1
Mertua kecewa sekali sama aku, dia bener-bener egois. Kenapa dia gak merasakan menjadi wanita, aku juga pengen jadi wanita yang lain. Cuma hal sepele seperti ini dia sampek marah, dan suami tak pernah mendukung kemauan ku, dia slalu minta pendapat orang tuanya tapi pendapat orang tuanya gak sehati denganku.
****
Hampir 7 bulan rudi, bapak sudah bisa mengumpulkan uang 700ribu selama 1 minggu disini dan aku gak ngasik sepeserpun untuk 7 bulanan anak ku sendiri. Suami diam saja tanpa ada kata-kata ingin menyumbang 7 bulanan rudi anaknya sendiri. Aku bisa apa, hanya bisa bilang terima kasih yang banyak untuk kedua orang tuaku. Suami slalu nyalahin aku karena adat yang situbondo 7 bulanan itu hanya niat jalan-jalan. Rudi lahirnya di bondowoso tak enak hati aku sama orang tuaku.
Selesai 7 bulanan rudi, kami masih tinggal dirumah karena perjanjian 2 minggu kami masih ada disini, sedangkan suami dia hanya mengantar, menginap 1 malam lalu pergi lagi, dan menjemput itu saja.
Ketika kami kembali ke rumah situbondo, aku sudah punya dapur sendiri. Bukan bahagia tapi malah di benci, setiap hari aku masak slalu di koment oleh mertua.
"gak bosen makan kayak gitu terus??"
"gak"
"ya dok, gak bosen makan kayak gitu terus??" mungkin dia gak denger kali aku jawab
"gak buk"
"kalo gak punya lauk, ambil disana !! tanya ke ibu gak usa sungkan"
Baik sih baik, tapi kan kalo sudah berkeluarga sudah hak masing-masing. Sebagai mertua wajib menasehati jika anak dan mantunya salah, menurutku aku masih berada di jalan yang benar. Hanya saja aku ingin mandiri dengan suamiku, tapi ketika aku cerita ibu bilang seperti itu aku merasa sakit hati, dan suamiku tak pernah meresponnya.
__ADS_1
Membeli beras pun menjadi masalah, padahal kita hanya makan berdua. Anak masih MPASI, beli beras 5 kg jadi ribut satu kampung. Aku masak nasi 1 hari 1kg, masalahnya beras yang 5kg gak nyampek 1 minggu jadi masalah dirumah tangga kami. Ampunnnn harus irit gimana coba, sedangkan uang belanja hanya 15ribu sehari. bayangkan dah jadi aku gimana....!!!! hampir mau mati...