Suami Anak Mami

Suami Anak Mami
PAMITAN KEPADA MERTUA


__ADS_3

Resah sekali menjadi aku, suami yang tidak bertanggung jawab meninggalkan keluarga ku yang sedang sakit.


Memberi kesempatan supaya pulang dan memperbaiki semua kesalahan yang dia lakukan kepadaku, tapi malah dia dengan EGOnya menyalahkanku setiap kalimat yang tertulis di Whatsapp itu.


Sebagai mertua dan orang tua seharusnya memberikan nasehat kepada anak laki-laki nya. Aku sebagai perempuan merasakan gimana menjadi seorang istri dan ibu, seandainya mertuaku di posisiku, apakah sanggup dia jalani kehidupan seperti ku?? sering di tinggal suami, tidak di berikan uang belanja, sampai-sampai aku kerja banting tulang sendiri. Sedangkan orang tua ku sudah terjatuh sakit dan tidak bisa bekerja memenuhi keluarganya, aku sebagai anak tunggalnya wajib membantu mereka dan suami ku saat ini selalu mengeluh dan tidak berdaya.


Seminggu di tunggu pulang, akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke situbondo dan berpamitan kepada mertuaku. Kali ini aku benar-benar pasrah akan perpisahan.


Bersama saudara kakak sepupu, aku di antar olehnya, kemudian kita sampai....


"kemana Rudi?, kenapa gak di bawa?" kata mertuaku.


"tidak buk, karena bentar lagi masih mau ke rumah sakit"


Kebetulan suami tidak ada dirumah, dia sedang kerja batako hari ini.

__ADS_1


"buk, saya mau pamitan. Mohon maaf sebesar-besarnya" aku menangis dan ku peluk ibu mertua ku erat-erat.


"tunggu dulu nak, tunggu abangnya dulu, abangnya masih kerja"


"buk, abang sudah gak bisa di kompromiin, buat apa aku punya suami?"


"ibu kesel dengan ucapan kamu, kalo motornya di gadai nanti abangnya gak kesini lagi, gak punya motor nanti abangnya? susah kesini?"


"kan masih ada yang Revo, bapak saya sakit, saya mau runding kesiapa kalo gak kesuami?"


"kamu itu selalu saja pengen ini harus sekarang juga, coba tidak usah ambil omongan orang. Kalo aku gak kerja, dimana buat lunasin hutang. Mas aja meninggal muda, aku takut kayak mas karena umur tidak ada yang tau"


Aku diam, menangis di pelukan mbak ipar sepupu. Tidak ku dengar semua kata-kata dia, karena aku butuh bukti bukan omongan doang. Selesai berpamitan kepada semua orang yang menyaksikan disana dan kebetulan memang ada acara tujuh hari tetangga. Lalu mbk ipar sambil menangis di pelukanku berkata,,,


"dek, aku tu anggap kamu kayak adek sendiri. Aku gak mau kamu pergi, padahal suami kamu sudah potong rambut, dia mau pulang tapi malu karena belum punya uang"

__ADS_1


Mendengar kata-kata mbak, aku jadi mikir "kenapa harus uang? padahal masalah kita masih rumit, cukup untuk beli bensin aja aku sudah senang walaupun pulang gak bawa uang. Bukan uang yang ku butuhkan sekarang tapi buktinya kepada ku dan orang tuaku, kami butuh dia untuk menjadi tanggung jawab kami. Bukan hanya uang dan uang".


Melanjutkan perkataan mbk tadi, aku menjawabya...


"mbak buat beli bensin kan cukup, bapak aku kan lagi sakit. Cukup dia di rumah saja aku sudah bahagia, kasian Rudi gak ada yang jaga. Aku gak butuh uang, aku butuh bukti"


****


Selesai bicara sama mbk, aku minta hp. Untung saja hp itu di berikan kalo tidak matilah aku !!! pasti tiap bulan aku yang bayar mending aku ambil hp nya, aku berikan kepada rudi, karena rudi sekarang lincah sekali bermain hp android..


"mana hp nya, biar gak ada utang. Aku mau lunasin hutang yang di bank??"


Lama menunggu, semua isi yang di hp sudah berubah. Mungkin dia udah restart semua item-item yang ada di perangkat, semua game juga ke hapus semua, ya,, syukurlah....


Aku salami semua yang ada disana, termasuk mertuaku yang tidak pengertian itu. Aku minta maaf sebesar-besarnya kepada mereka...

__ADS_1


__ADS_2