Suami Anak Mami

Suami Anak Mami
PILIHAN TERSULIT


__ADS_3

Mungkin ini rejeki aku yang di berikan tuhan, aku bercerita kepada om di pasar setelah ini aku harus ke sibon cari pekerjaan lagi. Mungkin karena kasihan om sama tante menyuruhku tatap kerja di pasar jaga tokonya, aku harus pikir matang-matang karena suami ingin aku bekerja di sibon.


Lebaran aku pergi kesibon seperti biasa kayak tahun kemaren silaturrahmi ke saudara suami, lalu aku pulang lagi ke bws silaturrahmi ke saudaraku. Karena ibu dan bapak belum kerumah mertua silaturahmi kami semua pergi ke sibon lagi dan aku sekalian ke BLK melihat hasil terima tidaknya kursus jahit.


Dengan pakaian rapi bersepatu pula, aku berharap akan di terima di kursus ini. Sampai disana, ku cari di mading dengan teman dari asem bangus ternyata hasil nya tidak memuaskan. Nama kita tidak ada di mading,,,


"mbak ternyata kita gak lulus !!"


"coba cari lagi, kayaknya ada gelombang ke dua?"


Kita cari sampai mata copot, ternyata memang tidak terdaftar.


"gak ada mbk !!!"


"ya sudah mungkin bukan rejeki kita dek"


"ya mbk!!"


Lalu aku pulang ke rumah mertua dan orang tuaku, sedih sekali rasanya aku gagal tes.


***


Memilih di antara dua pilihan sangat lah sulit bagiku. Suami meminta ku untuk bekerja di situbondo sedangkan aku mempunyai anak yang harus aku dampingi. Ketika aku bertanya kepada hati kecilku, jika aku memilih kerja di situbondo aku akan akan meninggalkan anak ku di bondowoso, tak sanggup rasanya meninggalkan anak yang di lahirkan lalu di tinggal begitu saja demi rupian. Dulu aku pernah berkata akan kerja di situbondo dan anak ku akan ku titipkan ke ibu ku di bondowoso, tetapi rasa nya berat sekali?! aku bekerja di pasar dari pagi sampai sore berat pikiran tak karuan meninggalkan anak dirumah.


Aku terus bertanya kepada diri aku sendiri, jika aku ikut suami ke situbondo dan anak di titipkan ke ibu ku pasti berat pikiran. Karena dari dulu hidup aku sudah hancur, di kecewain, dan tidak di hargain. Apalagi aku harus bekerja pasti aku terikat dengan kontrak seperti dulu sedangkan suami enak aja tidur babas semaunya. Dulu aku pernah....

__ADS_1


"bang, kang sei tu cari pekerja. Dari pada gak ada kerjaan mendung ikut dia?"


Bukan suami yang menjawab malah mertua yang dari dalam rumah ikut campur dengan perbincangan kita.


"jangan dok, kasian abangnya gak pernah kerja ke sawah"


Demi apa aku sangat kesal sekali dengan mertua ku ini, suami diam saja tanpa membela sedikit pun. Padahal saat itu kami sangat kesulitan uang, membeli pempers aja harus minta ke mertua.


"bang, pempers nya rudi habis??"


"minta aja ke ibu"


Tak ragu-ragu aku minta uang ke mertua.


"berapa dok??"


"mau beli 1 renteng 12ribu"


Kemudian di berikan uang 12ribu, berat hati ku meminta kepada mertua. Menurutku cara mertua ku salah, mendidik suami ku dengan memanjakan dia sampai sekarang.


****


Setelah aku pikir-pikir lebih baik aku bekerja di pasar walaupun gaji kecil tapi masih bisa bersama anak dan waktu hanya bisa malam bersamanya. Dari pada aku bekerja di sibon sedikit banyak pasti harus memberi separuh gaji ku ke mertua, apalagi anak harus di titipkan di bws harus transfer setiap bulan untuk keperluan anak ku. Sedangkan suami anak mami, kerja gak kerja dia pasti di biarkan saja sama ibunya. Makan pikiran kalau di hitung-hitung.


Aku cerita sama temen ku kalau aku gagal tes. Beberapa hari kemudian, temen ku whatsapp aku lagi ternyata ada pendaftaran gelombang dua, aku rasa sudah gak ada kesempatan lagi. Karena aku sudah ambil keputusan aku akan bekerja di pasar.

__ADS_1


"mi ada gelombang ke dua?"


"males lah mbk!"


"kenapa, mungkin terlalu banyak yang daftar gak kebagian"


"ya mungkin!!, biar sudah aku kerja di pasar saja"


****


Malam itu kami berbicara dua mata saja,


"bang, kalo aku kerja disini kasian rudi di tinggalkan dia masih kecil butuh aku"


"ya aku tau, tapi kan dulu kita sepakat kalo kamu mau kerja disini dan rudi di titipkan ke ibu''


"gimana kalo kamu ikut aku aja di bws, aku kan udah kerja jadi kamu kerja ke sawah setoran aku yang bayar"


"tau yaaa!" dia mikir tujuh keliling


Aku berharap suami ku pulang ke bws, kami bangun rumah tangga yang kita harapkan, karena sudah dari awal menikah kami selalu berpencaran (LDR) iri rasanya melihat tatangga yang lain. Diam tanpa kata suami rasanya tidak setuju ku ajak dia pulang kerumah bws padahal dia sudah warga bws.


Tanpa ijin aku pulang dan langsung bekerja di pasar, untung aja om sama tante hubungi aku lagi dan menyuruhku masuk lagi di tokonya.


Kecewa sekali rasanya suami, tapi mungkin dia pendam. Aku berharap tuhan selalu memberikan aku jalan terbaik.

__ADS_1


__ADS_2