Suami Anak Mami

Suami Anak Mami
AKU ISTRI ATAU PEMBANTU


__ADS_3

Santai-santai dirumah sendiri lebih enak beban semua hilang dari pada dirumah mertua beban slalu ada gak pernah ada tenang di pikiranku. Hari ini aku dapat kabar dari suami, bahwa ibu mertua kecelakaan.


Dakkk...dikkkk...dukkkk suara hatiku, kaget, syokkk setengah mati. Aku kaget bukan karena ibu jatuh, tapi aku yakin aku pasti orang yang akan capek sendirian.


"neng, pulang dulu ya? Ibu jatuh, ditabrak lari?"


"terus gimana kondisi sekarang??"


"tulangnya patah, di bagian pinggang"


"besok aku jemput??"


"ya!!!"


Mungkin ini ujian aku lagi, bukan aku keberatan tapi disisi lain aku masih punya bayi dan rudi belum bisa duduk. Dia anti sekali sama orang-orang, rewel sekali, dan aku yakin seyakin yakinnya bahwa aku akan lelah.

__ADS_1


Esok hari suami sudah menjemput, kami pamitan dulu ke ibuku, dia tanya kapan aku akan kembali lagi kerumah.


"neng, kamu kapan mau kesini lagi?? nanti ibu marah kamu lama di situbondo?"


"ya gak lah, kan udah tau ibu jatuh"


"terua kapan kamu kesini lagi??"


"kalo bisa sampek sembuh, kasian juga kan kalo di tinggal"


Dia bahagia atau tidak dengan perkataan ku, yang jelas aku sudah down duluan. Karena dari kemaren-kemarennya suami ta pernah hargain aku, dan aku takut sekali.


Aku berusaha masak untuk mereka, jam 02:00 malam aku sudah bangun dan mempersiapkan makan untuk mereka. Ketika aku masak, masakan aku gak ada yang cocok. Sampai aku buat kuah gak di makan, aku gagal menjadi perempuan, semua usahaku tak pernah ada yang cicipi termasuk suamiku. Mertua berusaha bangun sendiri padahal sudah tau dia sudah gak bisa apa-apa, aku bisa apa?? semua ku lakukan gak ada gunanya. Aku hanya bisa menjadi kaki ibu mertua, kemana-mana aku yang bertugas berjalan sambil menggendong anak. Sedangkan anak ku besar, kadang orang bilang gak cocok anak sama ibu, ibu nya kurus anaknya besar (gembul). Suami sibuk mencari uang dia ambil pekerjaan dua sekaligus, padahal sudah tau aku butuh waktu untuk dia jaga anaknya. Aku hanya seorang diri tak ada yang mau ganti gendong anak ku, suami sibuk dengan dirinya sendiri.


"bang, kamu harus pilih salah satu pekerjaan ini, aku gak sanggup mengasuh rudi sendiri. Aku jadi kaki ibu, kamu harus pikirin aku juga"

__ADS_1


Kita memang lagi butuh biaya banyak, ibu sudah gak bisa apa-apa, adik dua-duanya masih sekolah, bapak hanya buang sampah. Sedangkan kami masih bayak setoran di bank dan kebutuhan yang lain, aku disini pembantu atau seorang istri, kenapa mereka tak peduli dengan keadaanku. Aku juga capek, lelah, kemana suamiku untuk bersandar??..


"gak usah kamu pedulikan istri mu, sudah kerja saja. Kamu sudah enak kerja mau di berhentikan"


Aku tak bisa apa-apa, suami ku nurut saja dengan kata-kata ibunya. Aku sebangai istri gak pernah ada di mata dia.


"ya sudah, aku ingin pulang saja. Aku capek sudah gak sanggup disini??!!" pintaku kesuamiku


Suami diam, dia memberitahu ibu, aku akan pulang hari ini juga. Aku hanya bisa nangis, lelah, capek, dan tak pernah ada kata-kataku yang di terima.


"kenapa mau pulang nak?? siapa yang akan merawat ibu, ibu kan masak sendiri biar kamu bisa jaga rudi sepenuhnya??"


Ibu sambil nangis, dan membawa tongkat ke ruangan tamu.


"sepurane bu yang besar, saya gak bisa disini. kalo saya sakit siapa yang akan rawat rudi nanti, abang aja gak mau gantian ngerawat rudi"

__ADS_1


"kalo abang nya berhenti kerja kan eman"


Lebih penting mana sih istri sama pekerjaan, udah tau anaknya rewel masih saja egois. Tapi aku memang sudah gak enak badan, semua sudah aku rasakan, hampir demam jadi aku bergegas untuk pulang. Suami mengantar, dia kecewa kecewi udah gak mau tau !!! yang penting aku dan anak bisa ada yang jaga. Rudi dekat sekali dengan ibuku, setiap hari pengen di gendongnya. Mangkanya aku bisa santai sejenak kalo ada dirumah sendiri, gak kayak di rumah mertua, cuma tau koment dan gak mau tau situasi.


__ADS_2