
Ingin menyerah tapi disisi lain masih ada anak yang harus ku perjuangkan.
Awal aku kerja di pasar, semua baik-baik saja, aku bahagia bisa menghasilkan uang dengan keringatku sendiri. Aku bekerja hanya untuk diriku dan anakku, bapak ku bekerja untuk ibu tercinta, ibu mengasuh cucunya dirumah sudah jadi baby sitternya Rudi tiap hari, suami bekerja hanya untuk setoran motor kadang ada sisa di berikan kepada ku. Rasanya sudah lengkap di banding dulu yang sangat haus akan uang.
Dari dulu, sejak aku kecil bapak ku mempunyai penyakit asam urat. Yang ku rasakan bapak ku semakin hari badannya kurus dan mengecil. Ku kira hanya penyakit lambung, karena makannya tidak terlalu banyak. Slalu ku belikan obat lambung seperti milanta dan lanzoprazole,,,
Malam itu bapak menjerit kesakitan, sampai dia nangis minta di pijat.
"aduuuuuuhhhh,,,,,sakittttt,,,,!!!"
"kenapa?"
"ulu hati sangat sakittttt...." bapak minta di pijatin bagian ulu hatinya.
"mau opname di rumah sakit aja"
"gak usah"
Panik banget karena waktu itu jam 12 malam, semua orang terlelap tidur. Untung aja kaka sepupu siap antarkan ke puskesmas terdekat. Siap menyalakan sepeda motor kami pergi ke puskesmas, terhalang covid-19 jadi pasien harus di swab dan di isolasi di puskesmas jadi setiap ada pasien harus wajib di swab jika positif pasien harus di kirim ke kota. Untung saja hasil swab bapak negatif, harus di rawat inap wajib satu orang menjaga tanpa ada yang ganti.
"mbk kalo mau di rawat inap, tidak boleh di ganti sampai pasien sembuh?"
"iya mbk siap"
Setelah di cek segala macam, di infus lalu di bawa keruang rawat. Kami hanya berdua di puskesmas ini, mendengar cerita orang, tidak ada yang mau di rawat walaupun parah takut di positifkan covid-19 lalu di bawa ke ruang isolasi tanpa ada jaga. Waktu itu banyak sekali orang meninggal satu desa bisa-bisa mencapai 10 orang meninggal secara bergantian. Melihat hidup ini kayak udah kiamat dekat, semua orang benar-benar panik dan semua orang kayak ninja semua wajib memakai masker.
"bang pulang dulu, bapak lagi ada di rumah sakit?" aku telepone suami yang masih disibon.
__ADS_1
"ya udah, aku pulang hari ini"
Di masa-masa yang sempit ini aku hanya berdua dengan bapak ku, suami, ibu dan anakku berada dirumah.
Tiga hari dirawat kami berusaha untuk pulang, karena masih menunggu hasil tes urine dan semua hasilnya normal semua. Bapak memutuskan di rawat dirumah karena selama 3 hari di rumah sakit tidak ada perkembangan sama sekali.
Suami pulang karena bapak sudah agak mendingan, dia harus bekerja karena kami masih ada tanggungan sepeda motor.
Satu minggu dirumah bapak kritis, sering pinsan tak sadarkan diri. Semua panik tetangga dan keluarga sudah kumpul semua di kira bapak akan meninggal, mungkin allah memberi kesempatan masih ada jalan untuk kesembuhannya.
Aku hubungi suami, minta dia pulang untuk sementara waktu karena dirumah harus ada yang jaga Rudi dan bapak sedangkan ibu harus ambil rumput ke sawah untuk makan sapi.
"bang, kamu pulang dulu bantu-bantu dirumah, kasian ibu jaga rudi harus ambil rumput untuk makan sapi?"
"kan kamu anaknya kenapa aku yang harus libur!!"
"kamu kan suami aku, buat apa aku punya suami gak bisa bantu saat susah kayak gini"
"kalo bapak gak sakit gak mungkin aku minta kamu pulang, kalo kamu gak mau bantu ibu ya,,, kamu bisa jaga rudi dirumah. kalo kamu gak mau, biar kita pisah aja percuma punya suami gak berguna kayak kamu"
Aku tutup telepone yang aku genggam, sakit hati rasanya punya suami yang tidak pengertian seperti dia. Lalu aku tulis di story whatsapp ku (tidak ada mantan orang tua yang ada mantan suami dan mertua), udah emosi lalu mbak ipar menelpone ku.
"kenapa dek?"
"aku kesel mbk, sama ayah nya rudi. Kan orang tua ku sakit dia bilang biar aku yang rawat sendiri karena aku anaknya" sambil aku menangis.
"ya udah sabar aja, lain kali kalo lagi marah gak usah pakek story gak enak di baca orang?"
__ADS_1
"ya mbk"
Mbk ipar yang slalu support aku, saat aku lagi galau dia menjadi orang tua ku yang ke dia. Dia pernah ajak aku kerja di jakarta tapi aku tidak mau karena bapak lagi sakit. Semua orang kecewa dengan ku karena aku memilih tinggal di bws rumahku sendiri, apalagi suami yang sangat ambisi menjadi orang kaya, sangat menginginkan bekerja di jakarta ingin membeli mobil dan usaha. Tapi mengingat tingkah lakunya dari dulu sampai sekarang aku menjadi ragu untuk bekerja di jakarta karena otomatis suami akan mengirimkan uang kepada ibu nya sendiri bukan untuk aku dan anaknya. Dari dulu suami selalu berkata ingin membangun rumah yang di sibon, aku gak sanggup jika itu benar terjadi.
Sore suami sudah ada di rumah, kesal dan marah masih ada di hati ku. 2 hari aku tidak pernah buka mulut sampai ibu merasa kasian kepada suami. Akhirnya aku sapa dia,,,
"ni makan, katanya kamu gak makan"
Kata ibu beberapa hari dia diam dan tidak mau makan sama sekali, siapa yang tidak kesal dengan perkataannya. Suami mengeluh ketika bapak ku sakit, dan perhitungan soal kerja.
Dan beberapa hari bapak benar-benar done, setiap malam tidak bisa tidur.
"kalo aku gak tidur, aku bisa mati"
"sabar !!! kata ibu ku kepadanya.
Semenjak itu aku dan suami baikan, tapi aku masih sangat sedih dengan kata-katanya. Dia menjelaskan bahwa aku salah ambil omongan padahal aku masih waras dan tidak budek.
***
Pergi ke mantre hanya di suntik dan di berikan obat antibiotik. Sekali suntik 100ribu harus kontrol 1 minggu sekali dan di sarankan minum air daun salam setiap hari, tetap saja bapak ku mengeluh kesakitan, sering buang air kecil tiap malam. Banyak orang bilang bapak terkena guna-guna setiap kali ke dukun 50ribu alhasil zonk katanya terkena angin luar aku gak ngerti apa maksudnya.
Berencana dengan suami, akan membawa ke mantre yang satunya lagi.
"bang, gimana kalo kita bawa bapak ke mantre di wonokusumo. Kita cek semuanya?"
"boleh, mungkin itu lebih baik"
__ADS_1
Kami membawa bapak cek colestrol, asam urat dan kadar gula. Ternyata setelah di periksa semua hasilnya positif diabetes HI+ dan cokestrol 220 sedangkan asam urat 9,8. Ternyata sudah komplikasi bapak positif diabetes tipe 1. Kontrol 10 hari sekali, setiap kami kontrol 150ribu/ pemberian obat jadi kami benar-benar done keuangan saat itu.
Dan akhirnya aku ambil bank untuk pengobatan bapak ku, suami mendukungku dan separuh uang nya dia pakai untuk beli HP baru.