Suami Buruk Rupa Ku Seorang Miliarder

Suami Buruk Rupa Ku Seorang Miliarder
Balasan untuk Raisa


__ADS_3

Adelia menatap sendu suaminya yang tengah terbaring di atas ranjang rumah sakit, Deni yang berada tak jauh dari Adelia bisa melihat ketulusan wanita itu yang mencintai Dave tanpa melihat kekurangannya.


"Pak Dave meminta maaf atas apa yang telah terjadi kepada mu dan juga suami mu."


Adelia hanya tersenyum tipis saat mendengar perkataan dari Deni, tak beberapa lama Haris pun terbangun. Matanya langsung melihat ke arah Adelia dengan tatapan sendu, "Apa kau baik-baik saja?"


"Aku baik, tapi kau yang tidak baik-baik saja mas."


Haris pun tersenyum lalu matanya melirik ke arah Deni, "Oh iya, ini Pak Deni dia adalah karyawan di perusahaan Tyler. Dan dia juga yang telah membawamu ke rumah sakit."


"Terimakasih Pak Deni."


"Sama-sama, Pak Haris. Kalau begitu saya permisi dulu."


Lalu Deni langsung pergi meninggalkan ruang rawat Haris, nampak Adelia sangat sedih melihat kondisi suaminya yang seperti itu.


Kini Haris berada sendirian di ruang rawat karena Adelia di bawa ke tempat tinggal baru, dengan alasan jika itu hadiah kompensasi dari Dave.


"Tuan memanggil saya?" Deni tiba-tiba datang.


"Kau tahu kan apa yang di lakukan Raisa kepada ku dan juga istri ku."


"Tentu saja, lalu bagaimana kita membalasnya."


"Menurutmu, cara apa yang pantas di dapatkan oleh wanita itu."


"Membunuhnya?"


"Itu hukuman yang terlalu mudah untuknya."


"Lalu bagaimana?"


"Rusak wajahnya dengan air keras, pastikan hanya setengah wajahnya."


"Kenapa hanya merusak wajahnya?"


"Dia adalah seorang artis yang terkenal, lalu bagaimana jika seorang artis yang memiliki wajah cantik tiba-tiba tidak cantik lagi?"


"Dia akan kehilangan popularitasnya dan juga penggemarnya,"


"Tentu, dan hal itu sangat cocok untuknya. Setidaknya, buat dia menderita selama sisa hidupnya."


"Baik Tuan, saya akan melaksanakan perintah anda malam ini juga."


*


*


*

__ADS_1


Raisa tengah duduk di atas ranjang, lalu dia berjalan ke kamar mandi untuk berendam. Wanita itu nampak memejamkan matanya seraya menikmati hangatnya air yang menyerap ke dalam pori-pori kulitnya.


Hingga di saat Raisa tengah berendam dan memejamkan mata, tiba-tiba sebuah tangan besar langsung membekap mulutnya dan membuat wanita itu terkejut.


Nampak tiga orang pria dengan menggunakan penutup wajah langsung menyeret tubuh t*lanjang Raisa keluar dari bathtub, lalu salah kedua orang pria langsung menekan tubuh Raisa di atas ranjang.


Tapi ketiga orang itu tergoda dengan tubuh molek Raisa yang sangat indah, tanpa menyia-nyiakan kesempatan mereka bertiga memperkosa Raisa secara bergilir.


Hingga setelah selesai, salah seorang pria langsung menuangkan air keras ke wajah sebelum kanan Raisa.


Wanita itu menjerit-jerit kesakitan, lalu ketiga orang itu langsung pergi meninggalkan Raisa sendirian dengan suara jeritan dan tangisan yang menggema di seluruh ruangan.


Berita tentang penganiayaan yang terjadi pada Raisa pun langsung menjadi viral di semua media, banyak orang yang bersimpati dengan apa yang terjadi pada wanita itu.


Dave melihat hal itu hanya tersenyum tipis, tapi berbeda dengan Deni.


"Bagaimana ini, dia malah mendapatkan dukungan dari orang-orang."


"Kau sabar dulu, ini hanyalah dukungan sementara. Ah, dan satu lagi. Kau hubungi nomor ini, dan katakan jika ini sudah waktunya."


"Apa yang sudah waktunya?" Deni menatap heran ke arah Dave.


"Kau tidak perlu tahu karena sebentar lagi kau juga akan tahu."


Mendengar hal itu Deni langsung menghubungi nomor yang di berikan oleh Dave, tak sampai 1 jam tiba-tiba banyak berita tentang kelakuan Raisa yang sangat jahat.


Kini orang-orang yang tadinya bersimpati pada Raisa langsung menghina wanita itu habis-habisan dan bahkan tidak sedikit orang yang menyumpahi Raisa agar cepat-cepat mati.


Dave yang melihat berita-berita tentang Raisa hanya tersenyum puas, untuk saat ini membuat wanita itu kehilangan semua hal-hal berharga dalam hidupnya adalah langkah yang lebih baik.


"Jika aku sudah puas bermain dengan wanita itu, langsung habisi saja."


"Baik Tuan."


"Tapi bagaimana dengan Nyonya Adelia?"


"Ah, iya aku memiliki satu rencana yang sangat penuh drama, dan rencana ini akan menjadi puncak dimana aku akan mengatakan identitas ku kepada Adelia."


"Baik Tuan, saya akan menjalankan rencana yang anda katakan."


*


*


Adelia tengah duduk dengan mata yang menatap lembut ke arah Haris, suaminya masih terbaring di atas ranjang rumah sakit karena kondisinya belum sepenuhnya sembuh.


Lalu Deni tiba-tiba masuk ke dalam ruang rawat, "Nona Adelia, Pak Haris.." Panggil Deni.


"Iya Pak Deni, ada apa?"

__ADS_1


"Bagaimana sekarang kondisi Pak Haris? Apa sudah membaik."


"Suami saya kondisinya sudah lumayan baik, saya ucapkan terimakasih karena Pak Deni bersedia membayarkan biaya rawat suami saya."


"Sama-sama Nona Adelia, lagi pula ini adalah bentuk tanggung jawab kami karena kalian berdua telah di rugikan oleh salah satu artis yang pernah bekerja di bawah naungan perusahaan Tyler."


Adelia hanya tersenyum saat mendengar hal itu, lalu Deni memberikan sebuah amplop kepada Adelia.


"Apa ini?"


"Silahkan di buka saja."


Lalu Adelia langsung membuka amplop tersebut, nampak matanya sedikit terkejut saat melihat sebuah tiket liburan di sebuah kapal pesiar.


"Apa maksudnya ini Pak Deni?"


"Ini adalah bentuk kompensasi yang di berikan oleh perusahaan Tyler kepada Pak Haris dan juga Nona Adelia, kalian di berikan tiket liburan di sebuah kapal pesiar dan kalian tenang saja karena semua kebutuhan kalian berdua selama berlibur di kapal pesiar akan di tanggung oleh perusahaan Tyler."


"Tapi sepertinya tidak karena kondisi suami saya tidak baik dan saya juga tidak tertarik untuk liburan seperti itu."


Haris pun tiba-tiba angkat bicara, "Memangnya kapan?"


"Mungkin besok lusa." Jawab Deni.


"Sayang, sebaiknya kau pergi saja dan aku akan tinggal di sini untuk memulihkan kondisi ku."


"Aku tidak mau." Adelia menjawab dengan tegas karena dia tidak ingin pergi kemanapun tanpa Haris di sampingnya.


"Begini saja, kalian berdua bisa pergi setelah kondisi Pak Haris membaik."


"Sungguh?"


"Iya tentu, dan kami akan kembali menentukan jadwal liburan di kapal pesiar setelah melihat kondisi Pak Haris."


"Baiklah, terimakasih."


*


*


Kini Haris dan Deni berbicara empat mata karena Adelia kembali pulang ke apartemen, "Apa maksudmu mengubah rencana ku secara tiba-tiba seperti itu." Dave nampak sangat marah saat Deni mengatakan hal itu.


"Maaf Tuan karena jika kita memaksa Nona Adelia untuk pergi sendirian, dia tidak akan pernah mau pergi."


"Lalu bagaimana sekarang?"


"Kita tetap menjalankan rencana anda, lalu.."


Deni pun membisikkan rencana baru yang telah dia pikirkan untuk Dave, Dave yang mendengar hal itu pun nampak tersenyum dan setuju dengan rencana yang Deni berikan kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2