
Adelia terdiam dengan wajah yang masih bingung, banyak rasa penasaran yang muncul di benaknya karena selama ini dia tidak pernah tahu jika Liona memiliki anak lain selain Kania.
Tapi Adelia langsung kembali pokus ke makanannya, dia tidak ingin sampai Kania dan Liona tahu jika dirinya ada di restoran ini.
*
*
Dave tengah duduk dengan mata yang melihat ke arah layar laptop, lalu tiba-tiba sekertaris nya kembali datang untuk memberitahukan suatu hal.
"Pak Dave."
"Ada apa?" Dave langsung menatap dengan tatapan dingin.
"Kita mendapat tagihan kartu kredit sebesar 1,5 miliar."
Mendengar hal itu Dave langsung terdiam sesaat, "Apakah dari kartu kredit Adelia?"
"Iya Pak Dave."
Dave langsung menghela nafas, dia yakin jika yang melakukan hal ini pasti ibu mertuanya. Wanita tua itu pasti sudah memaksa Adelia dengan mengancam istri kecilnya.
"Kau urus pekerjaan kantor, aku pulang dulu." Dave langsung bergegas pulang, dia ingin sekali memberi pelajaran kepada ibu mertua nya.
Tapi Dave langsung menelpon Adelia dan rupanya Adelia tengah berada di sebuah restoran yang tidak jauh dari perusahaan Dave, kini Dave langsung bergegas pergi menemui Adelia.
Adelia sangat gugup karena Dave tiba-tiba ingin bertemu, pria itu pasti tahu apa yang telah ibunya lakukan. Adelia takut jika Dave marah kepadanya dan malah menceraikannya.
Kini Dave sudah datang, dia langsung menatap tajam ke arah istrinya.
"Mas." Panggil Adelia.
"Apa menurutmu perkataan ku tidak layak di dengar?" Dave tiba-tiba langsung mengatakan hal itu.
__ADS_1
Adelia hanya diam, lalu dia meminta maaf dan langsung menceritakan semuanya dari awal. Dave yang mendengar hal itu hanya bisa menghela nafas, dia sudah yakin jika ibu mertua nya sengaja memanfaatkan hubungannya dengan Adelia untuk mendapatkan keuntungan.
"Sayang, aku tahu dia ibumu. Tapi ingat, dia hanya melahirkan mu tapi bukan merawat mu. Dan jika dia benar-benar menyayanginya mu, dia tidak akan pernah menggunakan alasan melahirkan mu untuk mengancam mu."
"Tapi jika aku melawan perkataannya aku pasti akan di sebut anak durhaka?"
"Tentu saja tidak, kau anak yang berbakti. Hanya saja kau harus lebih tegas saja kepada ibumu, aku memang kaya raya tapi kau tahu alasan ku bisa menjadi kaya?"
"Kenapa?"
"Karena aku memiliki prinsip hidup, tidak akan membeli barang yang tidak berguna."
Setelah mendengarkan apa yang di katakan oleh Dave, Adelia pun tersenyum dengan yakin akan lebih bersikap tegas kepada ibunya.
Kini Adelia dan Dave tengah duduk di ruang tamu, mereka berdua tengah menunggu kedatangan Ariana pulang.
Dan tidak beberapa lama, Ariana pun pulang dengan membawa beberapa belanjaan.
Tapi Adelia langsung melihat ke arah Dave, "Ibu belanja banyak banget."
Mendengar perkataan Adelia, Ariana langsung mengerut keningnya. "Iya karena ini kebutuhan ibu, jadi wajar dong."
"Tapi semua ini barang-barang yang gak penting."
"Maksud kamu apa sih Adelia? Kamu gak suka lihat ibu belanja?"
"Bukan gak suka, tapi Adel hanya ingin ibu belanja kebutuhan penting saja."
"Ini semua kebutuhan ibu, dan harus di beli."
"Tapi ini tas, sepatu? Bukankah ibu sudah beli 3 tas kemarin? Kenapa sekarang beli lagi?"
"Adel, ibu sedang gak mau debat yah. Kok sekarang kamu jadi perhitungan seperti ini kepada ibumu ini. Ingat yah Adel, aku ini ibumu dan aku yang melahirkan mu." Kata-kata itu kembali keluar dari mulut Ariana.
__ADS_1
Mendengar hal itu Dave langsung angkat bicara. "Apa layak seorang ibu mengatakan hal seperti itu?"
"Sebaiknya kau jangan ikut campur, Dave. Ini urusan ku dengan anak ku."
"Jelas ini juga menjadi urusan ku karena Adelia istri ku,"
"Kenapa sih hanya masalah uang saja harus di permasalahan kan, lagi pula kau ini orang kaya raya. Tapi kepada ibu mertua mu sendiri, kau sangat pelit." Maki Ariana kesal.
"Pelit? Aku tidak akan mempermasalahkan hal itu jika kau yang langsung meminta izin kepada ku, tapi kau malah mengancam Adelia dengan memanfaatkan hubungan ibu dan anak agar istri ku memberikan kartu kredit nya kepadamu."
"Kamu bicara apa sih? Aku tidak pernah sekalipun mengancam Adelia," Ariana langsung membantah tuduhan yang di lontarkan oleh Dave.
"Tidak pernah, bahkan kata-kata ancaman itu baru saja keluar dari mulut mu. Ibu, kau selalu mengatakan 'aku adalah ibumu Adelia, orang yang melahirkan mu'. Apakah pantas kata-kata seperti itu keluar dari mulut seorang ibu? Bukankah melahirkan memang tugas seorang wanita?"
"Kenapa sih hanya karena aku meminjam kartu kredit Adelia, harus di permasalahan seperti ini? Lagi pula uang yang ku pakai juga tidak terlalu banyak, dan lagi kau orang kaya tapi pelit sekali." Maki Ariana.
"Sedikit? Kau kemarin menghabiskan 800 juta hanya dalam satu hari, belum lagi aku selalu memberikan uang saku 5 juta dan selalu habis dalam waktu satu hari. Dan sekarang kau juga menghabiskan 1,5 miliar dalam satu hari? Kau masih bilang aku pelit." Dave nampak sangat marah dengan apa yang telah di katakan oleh Ariana.
Adelia yang mendengar hal itu langsung terkejut, selama ini dia tidak tahu jika ibunya telah menghabiskan banyak uang milik Dave hanya untuk foya-foya.
"Ibu kau menggunakan uang mas Dave sebanyak itu?"
"Apa sih yang harus di masalahin? Lagi pula dia kaya, uang segitu juga harus di permasalahkan." Ariana yang sudah tidak ingin berdebat dengan Dave dan juga Adelia langsung bergegas pergi ke kamar tidurnya.
Adelia sangat merasa bersalah atas apa yang di lakukan oleh ibunya, "Mas, kenapa kau tidak mengatakan jika ibu ku sudah menghabiskan uang mu sebanyak itu?"
"Aku tidak mengatakan hal itu kepada mu, karena aku menghargai mu dan aku tidak ingin kau merasa bersalah."
"Tapi mas, aku minta maaf."
"Sudahlah sayang, mungkin benar yang di katakan oleh ibumu. Kau terlalu pelit hanya karena uang segitu, aku malah mempermasalahkannya."
Setelah mengatakan hal itu Dave langsung mengajak Adelia untuk pergi jalan-jalan karena banyaknya permasalahan yang di timbulkan oleh Ariana membuat Dave sedikit sakit kepala.
__ADS_1