
Kini kehidupan Adelia lebih bahagia karena dia bisa bersama dengan pria yang mencintai dengan tulus dan juga bertemu kembali dengan sosok seorang ibu yang sangat dia impikan sejak dulu.
"Adelia.." Panggil Ariana.
Wanita itu sudah tinggal selama 2 minggu di tempat Adelia dan juga Dave, "Iya Bu, ada apa?"
"Ibu pinjam kartu kredit mu dong."
"Untuk apa, Bu?" Adelia mengerutkan keningnya karena seingatnya dia telah memberikan uang 5 juta kepada ibunya.
"Emm.. Ibu pengen beli beberapa baju, pasti suami mu memberikan kartu kredit kan kepadamu."
"Iya, Mas Dave memang memberikan kartu kredit untuk ku, tapi bukankah ibu sudah ku beri uang?"
"Uang 5 juta itu udah gak ada sama sekali, lagi pula cuman uang 5 juta gak akan cukup. Jadi ibu pinjem kartu kredit kamu, yah. Ibu pengen beli beberapa baju."
"Kalau begitu, aku bilang dulu sama Mas Dave yah."
"Ngapain sih harus bilang dulu sama pria itu, lagi pula aku ibumu dan juga mertua suami mu. Pasti dia mengizinkan kok," Bujuk Ariana.
Mendengar hal itu Adelia pun langsung mengeluarkan kartu kredit dari dompetnya, selama ini Adelia belum pernah menggunakan kartu kredit yang di berikan oleh Dave.
"Makasih yah sayang, kau memang anak ibu yang paling berbakti." Setelah mengatakan itu Ariana langsung pergi meninggalkan Adelia sendirian.
Dave yang tengah berada di perusahaan langsung mengerutkan keningnya saat mendapatkan tagihan kartu kredit milik Adelia sebesar 800 juta.
"Apa yang dia beli sampai menghabiskan uang sebanyak ini?" Gumam Dave heran karena yang dia tahu Adelia bukan tipe wanita yang suka berbelanja barang-barang mewah.
Tapi Dave tidak ambil pusing selagi istrinya bahagia dia tidak mempermasalahkan hal itu.
*
*
Adelia terkejut dengan barang-barang yang di beli oleh ibunya, semua barang-barang itu merupakan barang bermerek dan harganya juga sangat mahal.
__ADS_1
"Ibu katanya hanya akan beli beberapa pakaian, tapi ini..?" Adelia sedikit protes dengan apa yang di lakukan oleh ibunya.
"Semua ini barang-barang yang ku butuhkan, lagi pula apa salahnya jika membeli sedikit banyak barang."
"Tapi ini semua barang-barang bermerek, kenapa harus barang-barang bermerek karena harganya juga sangat mahal."
"Ya terus, kamu suruh ibu mu ini untuk beli pakaian di pasar loak gitu? Pake pakaian murah. Nanti bagaimana kata orang, ibu mertua dari seorang Dave memakan pakaian murahan. Ibu membeli pakaian bermerek ini semua demi reputasi suami kamu."
Ariana yang kesal langsung mengeluarkan kartu kredit milik Adelia dari dompetnya dan melemparkannya kepada putri kandungnya, lalu wanita itu langsung pergi ke kamarnya dengan membawa banyak barang belanjaan.
Kini Adelia hanya bisa terdiam dengan raut wajah bingung, dia masih berpikir apakah ibunya benar-benar menyayanginya?
Tak beberapa lama Dave pulang dan langsung mencium lembut kening Adelia, tapi saat berada di kamar Dave mengerutkan kening karena tidak menemukan barang-barang yang Adelia beli.
"Sayang, bukankah tadi siang kau belanja tapi kenapa aku tidak melihat barang belanjaan mu?"
Mendengar hal itu Adelia terdiam dengan raut wajah bingung dan bersalah, "Sebenarnya yang belanja bukan aku, tapi ibu.."
Dave mengerutkan keningnya saat mendengar perkataan dari Adelia, "Ibumu yang belanja?"
Dave terdiam sesaat, "Ya sudah, biarkan saja. Tapi hanya untuk kali ini."
"Apa mas marah?"
"Tentu saja tidak, anggap saja itu hadiah dari ku untuk Ibumu. Tapi lain kali, jika ibumu meminjam kartu kredit mu. Kau harus mengatakan dulu kepada ku, oke."
"Baik mas, memangnya tadi ibu belanja berapa banyak mas?"
"Gak banyak kok, aku mandi dulu yah.. Oh, iya tolong minta ke chef untuk masak makanan kesukaan ku." Pinta Dave.
"Baik Mas."
Dave sengaja tidak mengatakan berapa nominal yang Ibu Adelia gunakan untuk berbelanja karena istrinya pasti akan syok dan merasa bersalah.
Kini di ruang makan, Adelia dengan telaten menyiapkan makanan untuk suaminya dan juga untuk ibunya.
__ADS_1
"Terimakasih, sayang." Dave dengan senyuman manis langsung menyantap makan malam.
Ariana sesekali melihat ke arah Adelia dan juga Dave, ada sebuah tatapan aneh di mata Ariana.
Setelah selesai makan, Dave langsung mengajak Adelia untuk masuk ke kamar. Dia ingin segera kembali melakukan hal itu lagi bersama dengan Adelia.
Adelia sangat menikmati setiap sentuhan yang di berikan boleh suaminya, bahkan suara indah nan merdu dari mulut Adelia terus menggema di seluruh ruangan.
Adelia dan Dave sangat bahagia malam itu, mereka saling melepaskan hasrat di dalam tubuh masing-masing.
Tanpa mereka ketahui jika di balik pintu kamar ada Ariana yang sedang mendengarkan semua suara-suara dari mulut Adelia.
Kini sudah hampir 2 jam lebih Adelia dan Dave bermain, hingga Dave mengakhiri kegiatannya dengan satu semburan di dalam rahim Adelia.
Wanita itu kini terbaring lemas tak berdaya, dengan senyuman puas Adelia langsung memeluk Dave.
"Mas dari dulu memang sangat hebat, aku sangat suka." Bisik Adelia dengan wajah yang penuh rasa kepuasan.
"Tentu, aku pasti akan membuatmu senang terutama dalam urusan ranjang."
Adelia memainkan otot-otot tubuh suaminya yang sangat indah, setiap wanita yang melihat tubuh Dave pasti akan langsung terpana.
"Mas, bagaimana jika kita punya anak?"
"Itu tentu saja itu ide yang bagus,"
"Iya, tapi nanti jika mas sudah pulang bekerja tolong belikan beberapa kebutuhan ku. Apa boleh? Soalnya aku sedang malas keluar rumah." Pinta Adelia.
"Tentu saja sayang, kau tuliskan saja apa yang ingin kau beli. Nanti aku akan membelikan nya untuk mu."
"Terimakasih, Mas."
Setelah perbincangan singkat itu, Dave dan Adelia langsung terlelap dalam tidurnya.
Sementara di luar kamar, Ariana tengah berdiri dengan wajah yang sedang menahan nafsu birahinya.
__ADS_1
Lalu wanita itu langsung pergi ke kamar tidurnya, dan di sana Ariana melepaskan nafsu birahinya sendirian.