SUAMI SELINGKUH DENGAN SAHABATKU

SUAMI SELINGKUH DENGAN SAHABATKU
BAB 13


__ADS_3

"Kalo mama nikah lagi, aku gimana. Pasti mama nggak sayang lagi sama aku", dengan muka cemberut gadis beranjak remaja ini merengek sambil meletakkan kepalanya dipangkuan Alma dengan manja.


"Lagian... Siapa yang mau nikah??? Kamu nih... Pagi-pagi udah ngelantur", Alma mengelak pernyataan putrinya, sambil tersenyum dan menoel hidung Tiara.


"Idiiih... muka mama merah tuh, ngaku aja deh ma...???". Desak Tiara sambil menggoyang-goyangkan paha Alma.


"Kamu tuh ya... Trus... mama mau nikah sama siapa coba? Enakan berdua dengan anak mama yang makin cantik ini". Sekali lagi wanita paruh baya ini mencoba mengelak sambil mengusap rambut hitam putri semata wayangnya yang berbau wangi.


"Pake nanyak lagi mama??? Kalo bener jawaban aku, hadiahnya apa donk???", Gadis dipangkuan Alma makin berulah menggoda mamanya.


"Lho... malah ngadain kuis, dasar kamu nakal ya... Kucubit, baru tau rasa", Alma tersenyum sumringah dengan candaan yang dilontarkan Tiara padanya.


"Hahahaa... kena dech mama... yang lagi jatuh cinta, idiiiih... makin merah tuh pipi, ngaca ma...???", Tiara bangun dari lesehannya, lanjut menggoda mamanya yang terlihat lagi kasmaran.


"Nih anak... Mau kabur kemana kamu, awas ya!", Alma makin salah tingkah dibuatnya.


Suasana hati Alma kini berbunga-bunga, semenjak hadirnya pria menawan pujaan hatinya sejak masih kuliah dulu, siapa lagi kalau bukan Yunan.


Kedekatannya yang semakin intens bisa dibaca oleh putrinya, diam-diam Tiara memperhatikan perubahan sikap pada mama tercintanya itu.


Apalagi setelah hadirnya secara langsung pria pujaan hati mamanya ke rumah malam itu bersama dengan putranya.


Berbeda dengan suasana hati Alma, wanita yang baru saja bercerai enam bulan lalu itu, masih trauma dengan kegagalan rumah tangganya. Bayangan kelam masa lalu masih membekas jelas dalam memorinya.


Begitu beratnya ia lalui, dengan tertatih demi mempertahankan kebersamaannya bersama papanya Tiara, Anton. Dan betapa perihnya kenyataan, penghianatan suami dan sahabat terdekatnya yang menusuk dari belakang.


Ditambah lagi dengan trauma masa remajanya, kedua orangtuanya juga mengalami perceraian.


Dengan alasan itulah, Alma belum bisa sepenuhnya menerima Yunan untuk menerima cintanya sekaligus menghabiskan  masa tua bersama. Tapi laki-laki tampan itu tetap bersabar menunggu kesiapan hati Alma untuk bisa menerima dirinya dengan sepenuh hati.


Yunan memaklumi keputusan Alma, yang belum bisa memberi kepastian padanya. Suatu hari nanti, wanita idamannya itu pasti akan membuka hati dan siap memulai lembaran baru dengannya, demikian harapan pria yang menduda setahun yang lalu.


***


"Ayah dan ibu mau kemana??? Pagi-pagi sudah berpakaian rapi???", tanya Adel adik Anton.


"Mau kerumah mbak Alma, istri masmu, nduk", jawab bu Halimah ibunya AntonAnton dan Adel.

__ADS_1


Wanita itu berjalan menjauhi Adel yang masih berdiri mematung. Adel mengekor di belakangnya sambil penasaran. Apa yang terjadi hingga ayah dan ibu mau kerumah mbak Alma. Pertanyaan kedua, kenapa kakaknya Anton menikah lagi dengan wanita lain yang sekarang dibawa pulang kerumahnya.


"Apa sih yang terjadi sama mas Anton, bu??? Mas Anton punya istri dua sekarang??? Serakah banget". Adel melangkah sambil nerocos berusaha mendapat jawaban atas rasa penasaran yang sedari kemarin belum terjawab.


Adel yang kurang dekat hubungannya dengan kakak satu-satunya itu enggan bertanya pada Anton, apalagi setelah tau kakaknya pulang bersama wanita asing yang sama sekali ia tak tau asal-usulnya.


"Tanya kakakmu sana!!! ibu buru-buru, ntar kesiangan, mbak Alma kelamaan nunggu". Sanggah bu Halimah yang sudah berada di teras rumah.


"Ayo bu!!!", ajak pak Hasan pada istrinya untuk segera berangkat menuju rumah Alma.


Adel manyun melepas kepergian kedua orangtuanya. Kini tinggal bertiga dirumahnya, tapi ia masih malas bertanya perihal kakaknya yang penuh misteri.


"Del... Sini bentar!!!", suara Anton memecah kesunyian di ruang tengah. Disana Adel sedang asik mainin ponsel sambil menikmati camilan seadanya.


"Ada apa sih mas... Kamu aja yang kesini!!! Ganggu orang nyantai aja". Penolakan Adel membuat kesal Anton, akhirnya laki-laki itu mengalah dan mendekati Adel, lalu duduk di sebelahnya.


"Boleh pinjem uang dikit nggak???", tanya Anton dengan sangat berharap.


"Dikit??? Ada sih... Lima ribu, mau???", jawab Adel asal-asalan.


"Kamu kira aku ini anak kecil apa??? Serius nih!!!", Anton makin geram dengan sikap adeknya.


"Lima ratus ribu, seminggu lagi mas ganti", sambil tersenyum, Anton sangat berharap adeknya menyanggupi.


"Apaaa??? Nggak salah denger nih??? Itu sih nggak dikit mas... Lagian duit segitu, bakal dari mana??? Akhir bulan lagi, dompetku menipis mas". Tolak Adel yang memelototkan kedua mata, efek dari kagetnya.


"Seadanya dech Del... Aku butuh banget!!!", Anton mencoba meyakinkan adeknya yang sedari tadi tak begitu memperhatikan laki-laki di sampingnya.


Ia sibuk dengan ponsel di genggaman, entah apa yang dikerjakannya. Sambil sesekali menyomot cemilan yang ada di meja tempat duduknya.


"Del... Kamu denger nggak??? Sekali ini aja, aku butuh bantuanmu!!!", Anton memohon lebih serius lagi.


"Rasain tuh... Butuh duit kan sekarang!!! Makanya jangan banyak istri, satu aja nggak bakal abis. Kurang apa sih mbak Alam mas...??? Orangnya sabar, pekerja keras, wanita karir, sayang sama ayah ibu, aku juga. Punya kakak satu, banyak gaya. Pake kawin lagi, buseeet!!!", mulut ember Adel mengalir bagai kran bocor.


"Kamu nih... Mau minjemin nggak??? Aku nggak butuh pidatomu Del!!!", Anton makin gregetan menghadapi adeknya.


"Mau tapi nggak banyak, kasian aja liat mas Anton yang miskin akibat kebanyakan bini. Apalagi istri mas yang ini, kelihatannya hamil ya??? Jangan-jangan mas Anton terpaksa ngawinin tuch perempuan, karena hamil duluan. Ngaku dech mas!!!", Adel nggak berhenti memanjang lebarkan mulut embernya.

__ADS_1


"Heeee... Diem!!! Jangan sok tau kamu!!! Kakakmu ini laki-laki yang baik. Sembarangan aja kalo ngomong!!!", sanggah Anton dengan tegas.


Padahal apa yang diobral adeknya tadi seratus persen bener semua. Entah Adel nemu feeling darimana, hingga nyaris bener semua dugaannya.


Adel melangkah masuk kamar, mengambil uang yang akan dipinjamkan pada Anton kakaknya.


Sesaat kemudian, ia menghampiri laki-laki yang duduk bersandar di sofa, sabar menanti kembalinya Adel dari kamarnya.


"Nih... Kupinjemi duit, semoga bisa bantu. Aku nggak punya banyak, tinggal segitu isi dompetku", Adel menyerahkan selembar uang berwarna merah pada Anton.


"Cuma segini??? Aduuuh... Nggak cukup lah Del!!!", gerutu Anton, kecewa dengan uang yang diterimanya tak sesuai dengan harapannya.


"Kalo nggak mau ya sudah, dengan senang hati aku masukkan dompet lagi", balas Adel ketus.


"Ok... Ok... Sini duitnya!!!", Anton mengambil kembali uang yang ada di tangan Adel dengan nada merendah.


***


"Maksud kedatangan ayah dan ibu kemari, ingin menanyakan tentang pernikahanmu dengan Anton?", pak Hasan memulai perbincangan di ruang tamu milik Alma.


"Iya nak Alma... Anton sekarang pulang kerumah dan membawa istri barunya, kami berdua sangat kaget. Kok bisa seperti itu???", bu Halimah menimpali pernyataan suaminya.


"Hmm... Jadi selama ini mas Anton belum pernah cerita pada ayah dan ibu, apa penyebab perceraian kami?". Alma menatap kedua orang tua yang sudah sepuh itu dengan lembut dan hormat.


Walau bagaimanapun juga, pak Hasan dan bu Halimah sudah dianggap Alma orang tuanya sendiri. Karena keduanya memperlakukan Alma dengan baik, selama Alma jadi menantunya.


"Maaf ya Alma... Kata Anton, kamu punya pria idaman lain, lalu Anton kamu usir dari rumahmu. Tapi kami tak percaya dengan ceritanya. Karena yang kami tahu, kamu istri yang baik, nggak mungkin melakukan itu. Makanya kami sengaja datang kesini, ingin tahu duduk permasalahannya", pak Hasan menjelaskan maksud kedatangannya dengan panjang kali lebar, agar tidak terjadi kesalahpahaman.


"Astaghfirullah... mas Anton pandai membolak-balikkan fakta", Alma terperanjat mendengar penjelasan ayah Anton.


"Kami tau, nak Alma istri yang baik, kami berdua nggak percaya semua omongan Anton tentangmu nak", bu Halimah mengelus pundak Alma sambil menatap wanita yang enam bulan lalu sudah tak jadi menantunya.


"Saya juga minta maaf Pak... Kalo yang akan saya ceritakan nanti, membuat ayah dan ibu sedih dan marah pada mas Anton", Alma berusaha berhati-hati menjelaskan pada orang tua mantan suaminya itu.


Sebenarnya ia nggak tega, kuatir kedua orang di depannya menjadi makin terluka dan sakit akibat mendengar ceritanya nanti.


"Nggak apa-apa nak Alma, kami siap mendengar kejadian yang sebenarnya pada kalian", bu Halimah meyakinkan Alma agar tak ragu lagi.

__ADS_1


"Iya bu..."


Lalu Alma bercerita dari awal hingga akhir kejadian demi kejadian yang menimpa rumah tangganya bersama Anton


__ADS_2