SUAMI SELINGKUH DENGAN SAHABATKU

SUAMI SELINGKUH DENGAN SAHABATKU
BAB 49. TAMU


__ADS_3

Ketika jam istirahat tiba, sebagian besar karyawan menuju ke kantin. Ada juga beberapa yang masih duduk-duduk di lobby perusahaan.


Diantara mereka ada Dahlia dan Kamila yang duduk berhadapan sambil mulai menikmati soto ayam kampung, yang menjadi menu favorit di kantin itu.


Lagi enak-enaknya makan, datanglah wanita muda yang belum pernah mereka kenal sebelumnya. Wanita itu berhasil menghipnotis mata lelaki yang melihatnya. Ya... siapa lagi kalau bukan karena terpesona dengan kecantikan sekretaris baru sang direktur, Yuanita.


"Uhuk... uhuk... siapa tuh? Kayaknya ada karyawan baru??" kata Kamila yang sedikit kaget melihat Yuanita berlenggak-lenggok mencari tempat duduk di kantin sambil mengulaskan senyum manisnya.


"Oh, iya. Cantik juga ya?!" Giliran Dahlia sekarang yang menatap karyawan baru itu. Sesama wanita saja kagum melihat kecantikan Yuanita, apalagi lelaki normal.


Lalu ada seseorang yang memanggilnya, "Hai, Nita. Silahkan duduk sini, kebetulan ada kursi kosong." teriak Anton pada wanita cantik itu.


"Eeeh... Mas Anton," Yuanita mencari sumber suara, dan melangkah ke arahnya dengan senyum manisnya. "Makasih ya, Mas." Buru-buru Anton memberikan kursi untuk wanita itu dengan penuh semangat.


Kamila berpindah duduknya, sekarang ke sebelah kursi Dahlia sambil menyikut wanita di sebelahnya.


"Aduh, sakit tau??Kenapa sih, Mil??" ucap Dahlia yang kesakitan merasakan sikutan tangan Kamila yang tiba-tiba.


"Lihat, Lia. Anton ternyata udah kenal sama karyawan baru itu?? Kayaknya udah akrab juga??" kata Kamila sambil memelototi Anton dan Yuanita yang duduk di depannya tak begitu jauh jaraknya.


"Jangan-jangan mereka memang udah berteman sebelum kerja di sini?" tanya Dahlia yang tak berkedip melihat keakraban Anton dan Yuanita.


"Waah... saingan berat nih, Lia. Kamu harus berhati-hati! Jangan sampai lengah!!" sahut Kamila mulai ngompori Dahlia.


Dahlia tak menanggapi dengan kata-kata. Raut wajahnya berubah jadi masam, senyumnya tak lagi tersungging di sudut bibirnya. Wanita muda itu memilih menundukkan kepalanya, sambil memain-mainkan sendok yang ada di tangannya. Ia tak lagi berselera makan, nasi cuma di aduk-aduk di sekitar piring, tanpa ia masukkan ke mulutnya.


Mengetahui gelagat temannya itu, Kamila memberi makan pada ego Dahlia. "Kamu cemburu, Lia? Kok jadi manyun gini, sih? Eee... tenang aja! Anton itu se-divisi dengan kita. Jadi, kamu punya banyak waktu buat dia. Istilahnya tresno jalaran soko kulino, siapa pun yang sering berinteraksi, maka rasa sayang itu akan muncul dengan sendirinya. Tetep semangat ya, Lia! Aku akan selalu mendukung mu!"


Kamila memegang pundak bestienya itu agar tak patah semangat di tengah jalan.


"Siapa sih, dia? Aku jadi penasaran??" tanya Dahlia sambil memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


"Soal itu gampang lah, nanti aku cari tahu. Yang penting, kamu nggak boleh biarkan wanita lain merebut Anton dari mu. Oke!" jawab Kamila sambil tersenyum.


"Oke deh. Lagian Mas Anton juga sudah nunjukin kalo suka sama aku kok. Aku aja yang malu buat kasih perhatian lebih ke dia." Ungkap Dahlia berterus terang.


"Nah... mulai saat ini, nggak usah malu-malu lagi, Lia! Ntar keduluan wanita itu, jadi berabe dong?! Yuk... habisin makanannya, biar kuat menghadapi kenyataan!!" kata Kamila yang tak mau melihat Dahlia melempem lihat adegan di depannya.


"Oke, Mil. Aku akan berjuang untuk mendapatkan hati Mas Anton." Jawab Dahlia yang akhirnya mau menghabiskan sebagian makanannya yang masih tersisa di piring.


Entah apa yang membuat Dahlia sangat terobsesi dengan Anton. Dari awal ia ketemu, wanita muda ini langsung menaruh perhatian pada Anton, yang sebenarnya sudah beristri. Tapi Anton dengan sengaja menutupi statusnya, jika sedang berada di kantor.


Anton selalu berlagak, seolah-olah dia masih single, dan aktingnya ini memang meyakinkan. Itulah sebabnya Dahlia makin hari makin punya harapan pada lelaki playboy ini. Anton juga sering memberikan perhatian lebih padanya, tak jarang ia mampir ke apartemen Dahlia sepulang kerja. Itulah sebabnya, Anton sering pulang kemalaman, dengan berbagai alasan pada istrinya.


***


Alma beraktifitas seperti biasa, ia memimpin di sebuah sekolah dengan kesabaran, hingga banyak yang menyukai dan kagum atas tindakan dan sepak terjangnya.


Ia tak lagi larut dalam kesedihan dan keterpurukan. Apalagi setelah menjadi istri Yunan, wanita baik hati ini, makin optimis dalam setiap langkahnya.


"Iya, Bu Niken. Makasih. Aku akan segera ke ruang kantor untuk menemuinya." Jawab Alma yang sedang berbincang santai dengan anak didiknya.


Bu guru cantik ini, memang paling suka menghabiskan waktunya dengan bercengkrama dengan anak-anak. Ia juga disukai oleh murid-muridnya, karena bisa menjadi pengayom dan mendidik dengan sabar pada mereka.


Alma melangkah menuju ruang kantor. Lalu ia memasuki pintu ruangan itu dengan langkah pasti. Tapi... ketika menatap wajah seseorang yang ada di depannya, ia menghentikan langkahnya dengan segera.


"Alma, apa kabar?" Wanita itu mengulas senyum dengan sok ramah dan segera berdiri dari duduknya. Ia mengulurkan tangan kanannya, untuk mengajak Alma berjabat tangan.


Alma menatap wanita itu dengan tatapan tajam. Ia menelan salivanya, dan menghembuskan napas panjang. Jabatan tangan itu diabaikannya, ia tak menerima uluran tangan wanita yang ada di depannya dengan muka masam.


"Ada perlu apa kamu kemari???" tanya Alma dengan  sinis.


"Hmm... aku... aku mau melamar kerja di sekolah ini. Semua berkas sudah kubawa semua. Ku dengar sekolah ini, membutuhkan beberapa guru. Kebetulan ijazah ku sesuai dengan yang dibutuhkan." Jawab wanita itu dengan optimis.

__ADS_1


Alma masih bersikap sinis pada wanita itu. Ia tak mempersilahkan wanita yang dibencinya itu duduk. Dadanya serasa sesak ketika melihat kembali wajah wanita yang membuat dirinya terguncang setahun yang lalu.


"Kamu bawa saja berkas lamaran mu! Aku nggak butuh guru macam kamu!!" Alma tak bergeming dengan sikapnya. Ia memalingkan wajahnya, agar tak melihat wajah yang memuakkan baginya.


"Kamu jangan sok kuasa, Alma! Di sini, kamu juga cuma guru dan kepala sekolah yang di angkat oleh Yayasan. Jadi kamu nggak punya hak untuk menolak ku untuk menjadi guru di sekolah ini!!" Jawab wanita itu dengan lantang.


"Aku memang bukan penguasa di sekolah ini, tapi aku tahu betul siapa kamu? Masih banyak sekolah yang bisa kamu pilih sebagai tempat mengajar?? Kenapa kamu pilih sekolah ini, hah??? Apa kamu kurang puas! Sudah menghancurkan pernikahanku?? Sekarang kamu mencoba masuk ke sini, lalu akan kau hancurkan karirku, hah???" Kalimat Alma semakin tajam. Tak biasanya ia bersikap se-emosi ini dengan tamu.


"Jadi... kamu masih sakit hati dengan peristiwa setahun yang lalu, sahabat ku??? Itu tandanya, kamu belum move on, padahal kamu sudah menikah lagi, kan??? Hmm... jadi suami mu yang sekarang, cuma kamu jadikan pelampiasan saja, ya??? Kasihaaan...?! Padahal Mas Anton, sudah mencintai ku seutuhnya. Kamu sudah tak dianggap olehnya, sadar woiii...!!!" Jawab wanita itu dengan muka mencibir.


"Denger ya wanita brengsek! Buka telingamu lebar-lebar!!! Aku nggak mau ada urusan lagi sama kamu!!! Aku muak lihat mukamu!!! Pergi dari sini!! Keluar!!!" Teriak Alma hingga suaranya keluar dari ruangan itu.


"Ha ha ha... jadi ini, yang katanya guru teladan??? Kepala sekolah yang di sanjung-sanjung, menjadi kebanggaan guru dan murid-muridnya??? Ternyata cuma manusia yang nggak punya tata krama." Wanita itu bertolak pinggang dan tertawa dengan nada mencibir, meremehkan Alma dengan tatapan sinis.


"Manusia seperti mu tak pantas di hargai! Tak bisa dipercaya!!! Bisanya mengkhianati sahabat sendiri!!! Kamu itu, musang berbulu domba!!! Manis di mulut, tapi hatimu penuh racun!!!" Alma menatap wanita yang paling dibencinya itu tanpa berkedip, wajahnya memerah menahan amarah yang makin memuncak.


"Alma... Alma... aku akan menyerahkan lamaran pekerjaan ini langsung ke Yayasan. Aku ke sini sebentar, hanya ingin menyapamu, sahabat ku, ha ha..." Wanita itu menatap Alma dan membawa map yang berisi berkas itu di tangannya.


Ia melangkah melewati Alma sambil menyenggol pundak Alma dengan pundaknya dengan sengaja.


"Permisi, Bu Alma! Sebentar lagi, aku akan menemani mu mengajar di sekolah ini. Sampai jumpa, sahabat ku!" Wanita sialan itu keluar ruangan dengan membusungkan dada, tanda puas atas apa yang diperbuat untuk Alma.


Membangkitkan emosi Alma, adalah menjadi tujuan utamanya. Ia sengaja ingin masuk menjadi pengajar di sekolah tempat Alma, agar ia bisa menghancurkan karir dan reputasi Alma dengan perlahan.


***


BERSAMBUNG... 


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN & VOTE NYA YA READERS. KARENA ITU YANG MEMBUAT AUTHOR SEMANGAT DALAM MENULIS. 


SEE YOU

__ADS_1


__ADS_2