
Suasana rumah kembali sunyi. Heni masuk ke kamarnya kembali. Ia meraih ponsel yang tergeletak si meja kamarnya. Dengan panik dan tangan bergetar, ia mencoba menelepon suaminya.
Tut... tut...
Tapi sudah beberapa kali ia berusaha mengulangi sambungan telepon, tetap saja tak ada jawaban.
'Kemana sih mas Anton? Ini sudah menjelang malam, tapi belum juga pulang?? Biasanya paling lambat jam lima sudah di rumah. Lha ini sudah jam tujuh malam belum juga pulang.' Gerutu Heni sambil duduk dan sesekali berdiri untuk mengurangi kegusarannya.
'Ku kirim pesan WA saja, kalau gitu,' Lantas Heni mengetik beberapa kata dalam pesannya.
(Cepat pulang, Mas. Aku di usir adikmu. Jangan lupa kasih pelajaran buat adikmu) Dengan kesal Heni mengirimkan pesan ini pada Anton.
Hingga beberapa menit, menit berganti jam, pesan itu belum di buka, apalagi di balas oleh Anton.
Rumah bu Halimah tampak lengang, Adel sedang mengantar bu Halimah berobat ke dokter terdekat. Sedang Heni disibukkan menyurus bayinya dan sesekali berjalan mondar-mandir mengecek kedatangan suaminya yang tak kunjung datang.
'Apa Mas Anton nanti membela ku ya??? Atau malah ikutan bela ibu dan adiknya??? Kalo Mas Anton mengusir ku juga, lalu bagaimana??? Tapi... nggak mungkin Mas Anton mengusir ku. Lagian sekarang sudah ada Putri yang akan menjadi tameng ku nanti. Hmm... Mas Anton kan cinta mati sama aku. Alma saja ditinggalkan dan dilupakan begitu saja demi membela ku. Kenapa aku harus panik juga??? Ya... sudahlah, aku akan tiduran saja, sambil menunggu kedatangan Mas Anton.' Heni memilih masuk kamarnya kembali, lalu merebahkan tubuhnya di samping Putri yang sudah tertidur pulas.
Adel dan bu Halimah sudah sampai rumah kembali. Adik Anton itu membantu ibunya berjalan dan istirahat di kamar depan. Lalu Adel menyiapkan makan malam untuk ibunya, tak lupa obat yang sudah didapatkan dari dokter.
Setelah semuanya selesai, bu Halimah mulai membaringkan tubuhnya kembali. Ia teringat akan putra kesayangannya.
"Del, apa mas mu sudah pulang? Sedari tadi ibu nggak lihat?"
"Kayaknya belum, Bu. Sepeda motor mas Anton belum ada di rumah. Tapi, ini sudah jam sembilan malam. Tumben ya, Bu. Apa mas Anton tadi pagi pamit ke ibu, kalo mau mampir kemana dulu. Kok sampai malam gini nggak pulang-pulang ya, Bu?"
"Nggak, Del. Coba kamu telpon mas mu! Biar kita tau sekarang ada dimana."
"Iya, Bu."
Lalu Adel mengambil ponsel yang ada di nakas sebelah ranjang ibunya.
Tut... tut... tut...
"Nggak di angkat, Bu?"
"Coba sekali lagi, Del!"
Tut...tut...tut...
"Tetep nggak di angkat, Bu? Kebiasaan mas Anton nih, kalo telat pulang nggak ngabarin. Jadi kita yang kepikiran." Ucap Adel kesal.
"Mungkin mas mu dalam perjalanan pulang, makanya nggak bisa angkat telpon." Bu Halimah berusaha menenangkan.
__ADS_1
"Mudah-mudahan, Bu. Sebaiknya ibu istirahat saja sekarang! Aku akan menunggu mas Anton pulang."
"Iya, Del. Ibu mulai ngantuk sekarang. Mungkin pengaruh obat yang barusan ibu minum."
"Iya, Bu. Sini, ku selimuti badan ibu biar nggak kedinginan ya."
"Iya, Del." Jawab bu Halimah sembari memejamkan kedua matanya yang sudah tak bisa menahan kantuk.
Sementara Heni mau keluar dari kamar. Ia sudah ingin ke kamar mandi untuk sekedar buang air kecil, tapi ada Adel yang duduk di ruang tengah.
'Aduh... ada Adel di sana. Kalo aku lewat, pasti kena damprat lagi seperti tadi. Gimana nih? Mas Anton nggak pulang-pulang lagi??? Tapi, aku sudah kebelet, nggak bisa di tahan lagi. Ya... sudahlah, mau gimana lagi. Pura-pura aja aku nggak tahu, ada Adel di situ.' Bisik Heni dalam hati.
Kini gerak-geriknya tak sebebas dulu. Ada komandan Adel yang sangat ditakuti. Apalagi setelah mendapat hadiah tak terduga, tamparan kiri kanan di pipinya.
Heni melangkah tergopoh-gopoh melewati ruang tengah karena kelebet yang sudah tak bisa di tahan.
Tiba-tiba ia mendengar teguran dari seseorang, "Masih berani kamu di sini!!! Dasar, sudah nggak punya malu!!!"
Ia tak menghiraukan suara Adel kepadanya, ia malah mempercepat langkahnya agar bisa melewati sosok yang paling ditakutinya.
'Biar aja kamu ngomel, Del. Bentar lagi mas Anton pulang. Habislah kamu,' pikir Heni dalam kamar mandi.
Setelah selesai dengan misinya, Heni agak berlari menuju kamarnya kembali. Tanpa menoleh pada Adel yang lagi tiduran di sofa panjang ruang tengah.
'Ini sudah jam sebelas malam. Mas Anton belum pulang juga. Apa yang terjadi sama kamu mas? Aku khawatir mas Anton kecelakaan lagi seperti dulu.'
Adel sangat menyayangi kakaknya. Ia tak mau saudara satu-satunya itu akan mengalami hal buruk lagi dalam kehidupannya.
Tapi beda lagi dengan Anton. Ia tak pernah memikirkan dan menyayangi adiknya. Ia sibuk dengan kesenangannya sendiri, bahkan menyisihkan gajinya untuk membantu ibu dan adiknya sekalipun. Sungguh memprihatinkan karakter yang terbentuk dari sosok Anton ini.
"Anton!!! Anton!!!"
Terdengar teriakan bu Halimah dari dalam kamar. Mendengar suara itu, Adel gegas bangkit dari rebahannya. Ia melangkah cepat menghampiri ibunya.
"Anton!!! Anton!!! Jangan marahi ibu, Nak. Ibu memang salah. Maafkan ibu, Anton." Bu Halimah mengigau.
Adel mendengar suara ibunya dengan jelas. Adik Anton ini tak segera membangunkan ibunya, ia masih penasaran maksud perkataan ibunya yang tidur di depannya.
"Anton!!! Maafkan ibu, Nak!!! Ibu telah bohong padamu. Maafkan ibu, Nak!!!" Bu Halimah terus saja mengigau.
Akhirnya Adel tak tega melihat ibunya terus-terusan menyebut nama kakaknya dengan suara makin keras.
"Ibu... bangun, Bu!!! Bangun, Bu!!!" Adel menggoyang-goyang tubuh ibunya yang masih telentang dan menutup mata.
__ADS_1
Akhirnya bu Halimah membuka mata dan bernapas tersengal-sengal. Wanita tua itu masih mengatur napasnya, seperti habis berlari kencang. Terlihat keringat yang mengucur di pelipis matanya.
Dengan cekatan, Adel mengambilkan ibunya segelas air putih yang ada di meja kamar untuk menenangkan pikirannya. Bu Halimah menerima dan menghabiskan segelas air putih itu.
Sesaat kemudian, Adel bertanya pada ibunya, "Mimpi apa, Bu??? Ibu teriak-teriak memanggil nama mas Anton??? Ada apa, Bu???" tanya Adel penasaran.
"Nggak... nggak... nggak ada apa-apa, Del." Jawab bu Halimah terbata-bata.
"Apa ibu mimpi buruk tentang mas Anton?" Adel kekeh ingin tahu.
"Cuma mimpi, Del." Jawab bu Halimah singkat. Lalu bu Halimah mencoba mengalihkan perhatian. "Apa mas mu sudah pulang, Del?"
"Belum, Bu. Padahal ini sudah jam dua belas malam." Jawab Adel.
Tiba-tiba terdengar suara sepeda motor sedang berhenti di depan rumah mereka.
"Itu pasti mas Anton, Bu."
"Iya, Del."
Buru-buru Adel menuju ruang tamu, dan membukakan pintu untuk kakaknya.
"Mas Anton?! Baru pulang, Mas???" tanya Adel heran.
"Iya, Del. Tadi mampir ke rumah teman. Lagi ngerayain ulang tahun. Kalo nggak ikutan, nanti di bilang nggak gaul. Repot juga kan?" Jawab Anton beralibi.
Setelah itu Anton memarkir sepeda motornya dan segera melepas sepatunya di ruang tamu.
"Besok-besok kalo ada acara mendadak, jangan lupa kabari yang di rumah. Ibu mikirin mas Anton tuh, sampek nggak bisa tidur. Barusan ngigau lagi."
"Iya, Del. Aku capek mau istirahat dulu."
"Eee... Sebaiknya mas Anton masuk kamar ibu dulu. Lihat keadaan ibu. Tadi siang ibu jatuh, Mas. Sekarang ibu sakit. Tengok dulu sana!!!"
Tanpa menjawab perintah adiknya, dengan terpaksa Anton melangkahkan kakinya menuju kamar ibunya.
***
BERSAMBUNG...
Double up lagi ya readers
Like, komen & vote selalu othor tunggu
__ADS_1
See you🥰🥰🥰