
Pukul 12.00 WIB
Para tamu berangsur pulang, tinggal beberapa orang saja yang masih di rumah Alma, sekedar ngobrol dan membantu beres-beres.
Alma berdiri dari duduknya, ia menoleh ke sekeliling ruangan, tamu yang dicari tak ditemukan.
"Mama, lagi cari siapa? Dari tadi kelihatan bingung?" Tanya Tiara yang tampak heran.
"Papa Yunan kemana ya, Ti? Dari tadi mama nggak lihat?" Alma balik tanya.
"Lho... Gimana sih, Mama! Baru aja nikah, udah nggak tau kemana tuh suaminya?" Goda Tiara pada mamanya. Begitu akrab bagai percakapan adik dan kakak saja.
"Udah lah, Ti. Nanti juga ketemu sendiri." Jawab Alma sudah putus asa.
"Idiiih... Pengantin baru nggak bisa ditinggal bentar deh, Mama. Lagian papa Yunan nggak akan kemana-mana, Ma. Kali aja lagi di kamar mandi, ngumpet. Biar dicariin Mama. Hehee..." Kelakar Tiara sambil berlari meninggalkan mamanya.
"Kamu ini! Awas aja nanti kalo udah nggak ada tamu, bakal Mama kejar kamu, Ti!" Ancam Alma pada anak semata wayangnya.
'Udahlah... Aku mau istirahat aja di kamar. Nanti malam masih ada acara lagi bareng sama teman-temannya Mas Yunan.' Alma sudah lelah dan kakinya melangkah menuju kamar pribadinya.
Ceklek
Tangan Alma membuka pintu kamar dan ternyata Yunan sudah menunggu di sana sambil rebahan.
"Lho, Mas... ternyata kamu ada di sini? Tak cariin kemana-mana tadi." Alma terkejut campur gembira.
"Sini sayang... Dari tadi aku nungguin kamu. Apa semua tamu udah pulang? Kalo ada yang belum, suruh pulang aja semua." ujar Yunan.
"Kok gitu sih, Mas. Kenapa???" Tanya Alma dengan wajah polos.
"Biar nggak ganggu pengantin baru." Ucap Yunan sambil memeluk mesra tubuh Alma.
"Ini masih siang, Mas. Nggak enak sama tamu." Tolak Alma tapi tubuhnya malah pasrah dipeluk oleh suami barunya.
Yunan tak peduli dengan larangan Alma, rindunya sudah di ubun-ubun. Rasa ingin memiliki seutuhnya akan tubuh Alma sudah tak terbendung lagi.
Laki-laki tampan itu menatap wajah Alma lekat-lekat. Bibir Alma mulai di cium dengan mesra, Alma menerima ciuman hangat Yunan dengan desiran lembut yang mulai menjalar di tubuhnya.
"Sayang, aku sudah lama ingin seperti ini sama kamu." bisik Yunan di telinga Alma yang menikmati belaian lembut di leher jenjang miliknya.
"Aku juga, Mas. Aku juga menginginkannya." Kini Alma memasrahkan dirinya pada laki-laki yang sudah resmi menjadi suaminya itu.
Jantungnya berdebar tak menentu, saat jari-jemari Yunan mulai menjamah bagian tubuh yang lain. Alma yang masih memakai gaun dengan resleting, dibukanya perlahan dengan tak melepas pagutan ciuman di bibir hangat wanita cantik ini.
Alma melepas separuh gaun yang melekat ditubuhnya, masih ada bra yang menutup rapat di kedua gunung kembarnya.
"Sayang, lepasin ya!" Pinta Yunan sambil meraba gunung kembar Alma yang mulai menyembul. Pemandangan yang sungguh menggoda kelaki-lakian Yunan.
__ADS_1
"Aaah... Mas, aku sayang kamu." Alma memejamkan kedua matanya merasakan getaran dari sentuhan tangan Yunan di kedua gunung kembarnya.
"Aku juga sayang kamu, Alma." Yunan menikmati bagian atas tubuh istri idamannya itu dengan kasih dan sayang.
Tiba-tiba...
Tok... tok... tok...
Pintu kamar ada yang mengetuk.
Alma dan Yunan tak menghiraukan suara itu. Dua insan yang sudah di ambang pelampiasan syahwatnya pura-pura tak mendengar.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan makin keras.
"Ada apa siiih... Ganggu aja." Gerutu Yunan yang mulai menghentikan aktifitas bercintanya dengan Alma.
"Bentar ya sayang, aku mau buka pintu dulu. Kayaknya ada yang penting." Ucap Alma sambil membetulkan gaun yang dipakainya.
Ia turun dari ranjang, lalu segera membuka pintu kamar.
Ceklek
"Ada apa, Ti?" Tanya Alma pada Tiara.
"Ada tamu laki-laki tua di depan, Ma. Sudah ku bilangin, Mama masih istirahat. Tapi laki-laki itu tetap mendesak ingin ketemu Mama." Jawab Tiara memberi alasan.
"Nggak Ma." Jawab Tiara singkat.
"Ya sudah, bentar lagi Mama temuin orang itu" Ucap Alma, lalu menutup pintu kamarnya.
"Ada apa? Sepertinya penting banget, sampek ketuk pintu kayak tadi." Tanya Yunan penasaran.
"Kata Tiara, ada tamu laki-laki tua ingin ketemu aku, Mas. Tapi nggak tahu siapa." Jawab Alma.
"Temui dulu orang itu. Mungkin ada kepentingan mendesak. Apa mau tak temenin, sayang?" Tanya Yunan sambil mencium kening Alma.
"Nggak usah, Mas. Tunggu di sini aja ya. Nanti kalo udah, aku balik lagi." Ucap Alma dengan lembut.
Tapi sebelum Alma sampai di ruang tamu untuk menemui laki-laki tua itu, Tiara menghampirinya sambil menyerahkan sebuah amplop putih pada mamanya.
"Ma... orang tua tadi buru-buru pamit, katanya lain kali kesini lagi. Ini ada sepucuk surat yang dititipkan buat Mama" Ucap Tiara.
"Oh... Begitu. Makasih ya, sayang." Jawab Alma sambil menatap pintu keluar karena penasaran. Siapa sebenarnya laki-laki tua itu???
***
__ADS_1
Restoran Red Rose jam 19.00 WIB
"Akhirnya sampai juga. Dan bentar lagi kita makan enak sepuasnya, Bro." Suara Bondan mulai mencairkan suasana.
"Kemana Anton dan Lia? Kok belum kelihatan?? Jangan-jangan mereka kesasar???" Tanya Kamila sambil tengok kiri-kanan.
"Nggak mungkin kesasar lah, Mila. Hari gini masih kesasar. Restoran ini kan sudah terkenal. Masak... Anton dan Lia nggak tau sih." Jawab Darwis.
"Eeeh... Kok bisa ya, mereka sama-sama belum datang. Bisa jadi memang sengaja janjian???" Tanya Bondan mulai curiga.
"Wah... Iya juga. Apa Lia nggak bilang kamu, Mila?" Tanya Darwis.
"Nggak tuh... Lia nggak bilang apa-apa." Jawab Kamila.
Sesaat kemudian...
"Selamat malam semua." Sapa Lia yang datang tiba-tiba bersama dengan Anton.
"Akhirnya kedua mempelai datang juga" celetuk Bondan
"Kok bisa sih, kalian datang bareng? Pasti janjian ya... Ayo ngaku?!?!" Selidik Kamila yang kepo atas kedatangan Dahlia dan Anton berbarengan.
"Ng... Nggak kok. Tadi kebetulan aku ketemu Lia di jalan. Jadi sekalian aja ku ajak bareng ke sini. Betul kan, Lia?" Ucap Anton beralibi.
"Iii... iya, aku dan Mas Anton nggak sengaja ketemu." Jawab Dahlia terbata-bata, karena tak biasa berbohong.
Acara akan segera di mulai. Keluarga besar Yunan telah menempati kursi paling depan. Lalu dilanjutkan dengan pengenalan dan sambutan pasangan pengantin.
Yunan menggandeng tangan Alma memasuki ruangan dengan menebar senyum kebahagiaan.
Semua mata para tamu memandang kearah kedua mempelai, kecuali Anton dan Dahlia. Mereka berdua asyik berbicara sendiri dan saling memberi perhatian.
Hingga akhirnya tibalah saatnya, Yunan memberi sambutan sekaligus memperkenalkan istrinya di depan para tamu undangan.
"Assalamualaikum... Selamat malam semua. Kami ucapkan terima kasih atas kedatangan dan doa restunya atas pernikahan kami pada hari ini. Di sebelah kiri saya, ada wanita cantik yang sudah menjadi istri saya sejak pagi tadi. Dialah Almaila Khumaira." Yunan tersenyum menatap wajah cantik Alma dengan gaun warna sage green, dengan rambut hitam panjangnya yang dibiarkan terurai.
Para tamu undangan bertepuk tangan menyambut kebahagiaan pasangan pengantin baru, Yunan dan Alma.
Duarrr
Bagai disambar petir di siang bolong. Dada lelaki yang sok ganteng itu mendadak sesak bagai di hantam godam. Kepalanya berat terasa pening. Anton mendongakkan kepalanya, ia terkejut dengan nama yang disebut Yunan barusan.
'Al... maila Khumaira, apakah itu Alma istriku dulu??? Alma yang pernah ku sia-siakan demi Heni sahabatnya sendiri???' teriak Anton dalam hati.
'Alma... Kamu cantik sekali. Setelah ku selingkuhi dengan wanita nyebelin itu, kini kamu bersanding dengan seorang direktur. Sedang aku menjadi karyawan di perusahaannya sebagai karyawan rendahan.' teriak Anton dalam hati sambil matanya melotot menatap wajah wanita cantik dan baik yang pernah ia sakiti.
"Kenapa kamu, Ton??? Menatap istri pak Yunan sampai segitunya??? Jangan naksir istri direktur loh, Ton??? Memang sih, istri pak Yunan sangat cantik. Nggak ada yang lebih cantik diantara karyawan di perusahaannya. Kelihatannya ia wanita yang baik. Sungguh pasangan yang serasi ya, Ton???" Ucap Kamila yang juga kagum melihat kecantikan istri bosnya itu.
__ADS_1
***
BERSAMBUNG...