
TK. Kuncup Melati pukul 06.30 WIB. Terlihat segerombolan anak-anak berlarian saling berebut masuk kelas, meletakkan peralatan menulisnya yang ada dalam tas ransel masing-masing.
Sambil menunggu bel tanda masuk, sebagian murid bersenda gurau dengan temannya, sebagian lagi asyik main ayunan dan jungkat-jungkit. Sedang murid laki-laki lebih memilih bermain bola di lapangan sekolah.
Demikianlah suasana pagi hari di sekolah tempat Alma mengajar. Selalu ramai dan seru, karena di dalamnya ada banyak anak-anak dengan segala keceriaan mereka.
Itulah alasannya, mengapa Alma lebih memilih mengajar di sekolah taman kanak-kanak daripada tingkatan sekolah yang lebih tinggi. Karena dari sinilah, Alma mendapatkan banyak kebahagiaan dan bisa melupakan segala masalah yang dihadapi saat itu. Dengan masuk ke dunia anak-anak yang tanpa beban dalam kehidupannya.
Setiap individu punya pilihan masing-masing. Dengan pilihannya ia pasti sudah siap dengan segala kebaikan dan konsekwensinya.
Begitu juga dengan langkah Alma saat ini. Ia sudah siap atas resiko apapun yang akan dihadapi, ketika manusia yang pernah menghancurkan pernikahannya malah akan menyeburkan diri ke dalam kolam yang sama. Ya... akhirnya pagi ini Alma mendapat kabar dari Yayasan, mulai besok ada guru baru dan itu adalah Heni, sang perebut suaminya Alma.
"Bu Alma, besok ada guru baru di sini. Namanya bu Heni. Sepertinya bu Alma sudah sangat mengenalnya." Ucap Niken teman sejawat Alma juga guru yang paling dekat dengannya.
"Ya, Bu Niken. Aku baru saja membaca surat pengangkatan guru baru dari ketua yayasan yang dikirimkan dari pak Dahlan." Jawab Alma dengan ekspresi datar.
"Aku tahu apa yang Bu Alma rasakan. Maaf Bu, bukankah Heni adalah istri dari mantan suami Bu Alma? Dan karena Heni lah Bu Alma akhirnya memilih bercerai dengan Pak Anton? Pasti mulai besok Bu Alma tak nyaman menjalani hari-hari ibu di sini. Apa Bu Alma sanggup bekerja dalam satu tempat dengan wanita yang menghancurkan pernikahan Bu Alma sebelumnya?" Niken merasa iba atas apa yang dirasakan Alma saat ini. Sedikit banyak ia tahu beban berat pada masa lalu Alma sebelumnya.
Alma tersenyum mendengar perkataan Niken, ia bisa merasakan kalau wanita yang ada di depannya itu tulus padanya. Karena selama menjadi guru dan teman curhatnya, Niken tak pernah membuatnya kecewa. Bahkan Niken lah orang pertama yang selalu mengingatkan dan membantunya dalam menyelesaikan tugas-tugas di sekolah itu.
"Jangan khawatir, Bu Niken. Aku akan berusaha menjalankan tugas ku di sini seperti biasa. Dan pastinya Bu Niken selalu setia membantu dan mengingatkan ku kan? Apa menurut Bu Niken, aku harus memilih mundur dari sekolah ini, karena Heni mulai besok mengajar di tempat ini juga?" tanya Alma dengan tersenyum.
Niken tak lantas menjawab pertanyaan Alma. Ia menghela napas dalam-dalam. Lalu Niken menggigit bibirnya dan sedikit mengerutkan alisnya, seakan menggambarkan jika begitu berat yang akan dihadapi oleh Alma selanjutnya.
Lalu Niken mulai mengutarakan pendapatnya. "Lebih baik Bu Alma tetap menjalani tugas di sini. Kalau memilih mengundurkan diri karena hadirnya Heni, itu berarti Bu Alma menyerah sebelum perang. Dan pastinya Heni akan bersorak atas kemenangan telak yang ia dapatkan tanpa adanya perlawanan yang berarti. Benarkan Bu Alma?"
"Hmm... aku sependapat dengan Bu Niken. Apapun yang terjadi besok dan seterusnya, aku sudah siap dengan ulah dan masalah yang di buat oleh Heni. Karena aku yakin, wanita itu nggak benar-benar punya niat ingin mengajar di tempat ini. Tapi tujuannya yang utama adalah ingin menghancurkan reputasi ku. Aku sudah bisa membacanya." Jawab Alma dengan tatapan mata tajam dan helaan napas yang dalam.
__ADS_1
"Tenang, Bu Alma. Aku sudah sangat mengenalmu. Aku pasti selalu mendukungmu. Pasti Bu Alma bisa menghadapi Heni dengan tegas. Bila perlu kasih pelajaran buat dia, agar nggak seenaknya sendiri dalam menjalani hidup." tandas Niken.
"Mantap. Makasih supportnya, Bu Niken," jawab Alma sambil menepuk pundak Niken yang berdiri di depannya.
Tet...tet... tet...
Tanda bel masuk sudah diperdengarkan. Anak-anak berlarian berbaris di depan kelas untuk bersiap-siap memasuki kelas masing-masing.
Begitu juga dengan Alma dan Niken. Ia segera beranjak dari tempat berdirinya, lalu melangkahkan kakinya menuju kelas yang sudah di jadwalkan.
Sebenarnya dalam lubuk hati Alma, ada rasa khawatir akan kehadiran Heni besok. Karena ia masih ingat kata-kata yang dilontarkan Heni kemarin. Bahwa wanita tak tahu malu itu, terang terangan mengancam Alma untuk menghancurkan reputasinya.
Ini memang sekedar novel, tapi tak dipungkiri dalam kehidupan nyata, banyak kejadian seperti ini. Teman makan teman. Itulah sebabnya, jangan mudah percaya dengan orang-orang di sekitar kita. Karena kita tak akan pernah tahu, ada niat baik atau buruk di balik kebaikan dan perhatian mereka terhadap kita.
***
Dahlia yang duduk di depan Anton, sudah berkali-kali memberi kode pada lelaki playboy itu. Tapi Anton tak memberi respon yang baik padanya. Seakan ia sengaja mengabaikan Dahlia begitu saja.
'Kenapa pesan singkat ku tak dibuka Mas Anton? Apalagi membalasnya? Padahal centang dua? Hmm... apakah Mas Anton sudah tak menganggap ku lagi seperti dulu?' ucap Dahlia dalam hati.
Mukanya tampak masam dan tak bersemangat. Dahlia terbilang gadis yang apa adanya, ia tak bisa berbasa-basi, tak bisa pula menggunakan trik untuk menjerat lelaki idamannya.
Dahlia tak menyadari, kalau lelaki yang jadi idamannya itu sebenarnya buaya kelas kakap. Keluguannya lah yang membuat gadis ini mudah dipermainkan oleh Anton.
'Aku tahu Dahlia saat ini lagi gusar, karena pesannya belum kubaca. Memang aku sengaja. Hmm... aku ingin tahu, seberapa perhatian dia pada ku. Aku suka dengan wanita lugu seperti dia, pasti dengan mudah ku perdaya.' ucap Anton dalam hati.
Anton tetap fokus pada layar komputer yang ada di depannya. Walau ia sadar, ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya.
__ADS_1
"Ehhemm..." Kamila yang tanpa sengaja melihat gelagat Dahlia yang duduk di sampingnya merasa kasihan. Ia berdehem memberi kode pada Anton yang menyibukkan diri dengan tugas-tugasnya.
"Apa Mil?" tanya Anton singkat. Mendongakkan kepala sebentar, lalu lanjut berkutat dengan tugasnya kembali.
"Tumben, kamu serius amat ngetiknya, Ton. Tuh lihat dikit, ngapa??" Kamila melirik ke arah Dahlia yang menekuk mukanya, menunjukkan kekesalan yang tak bisa disembunyikan.
"Lagi tanggung, Mil. Biar cepet selesai. Aku udah bosan dapat semprot terus dari Pak Ruben. Sekali-kali bisa ngerjain tepat waktu, biar Pak Ruben seneng." ucap Anton dengan akal-akalannya.
Lalu diam-diam, Dahlia mengirim pesan singkat lagi pada Anton. (Mas Anton marah ya? Maaf deh... kalo aku nggak sengaja buat salah)
Ting...
Pesan Dahlia sudah sampai pada ponsel Anton. Tapi sikap Anton tidak berubah, ia biarkan pesan Dahlia begitu saja. Padahal saat ini ponselnya sedang aktif. Apalagi WA nya juga nampak online.
'Kenapa Mas Anton sekarang mulai berubah? Apa karena aku tak mau menuruti kemauannya waktu itu?' tanya Dahlia dalam hati. Ia mengingat-ingat peristiwa terakhir yang ia alami di apartemennya.
Ketika Anton mulai berani menjamah area sensitifnya, tapi dengan halus Dahlia berusaha menghindar dan tak menanggapinya. Gadis itu belum sepenuhnya percaya dengan kesungguhan Anton. Tapi Dahlia tak mau kehilangan perhatian lelaki pujaannya.
Gadis yang masih belum berpengalaman itu merasa canggung menerima perlakuan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya dari laki-laki lain. Dahlia terbilang gadis lugu dan kurang pergaulan. Ia juga tak mudah tertarik pada lawan jenisnya. Tapi entah mengapa, setiap kali menatap mata Anton, ia tak bisa mengelak kalau ada rasa cinta yang mulai tumbuh dalam hatinya.
***
BERSAMBUNG...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN & PENILAIANNYA.
MAKASIH BANYAK YANG SUDAH SETIA MEMBACA NOVELKU INI, TUNGGU KELANJUTANNYA YA...🥰🥰🥰
__ADS_1