SUAMI SELINGKUH DENGAN SAHABATKU

SUAMI SELINGKUH DENGAN SAHABATKU
BAB 15


__ADS_3

Pagi itu, pak Hasan berjalan dan duduk bersandar di sofa ruang tengah untuk istirahat. Sedang bu Halimah sibuk memasak dan beres-beres di dapur.


Tiba-tiba pak Hasan memanggil Anton yang masih berada di kamarnya.


"Ton... sini!!! teriak ayah Anton.


"Iya" jawab Anton sambil gegas keluar kamar menghampiri ayahnya.


"Anton! Ayah mau bicara!" pak Hasan memanggil Anton dengan suara berat.


"Iya... ada apa?" Anton mendongak menatap


lelaki yang beruban di seluruh rambutnya.


"Duduk!!" seru pak Hasan.


Dengan gelisah, Anton mendekati pak Hasan, ia duduk berhadapan. Anton tak berani menatap wajah ayahnya lama, dari sorot mata lelaki tua itu tersirat kemurkaan.


"Sekarang ayah tahu, kenapa kamu pulang kesini! Kamu laki-laki tak tahu diri!!!" ucap pak Hasan dengan nada tinggi, menatap tajam wajah Anton yang menunduk.


Anton diam membisu, raut muka gelisah tak bisa disembunyikan. Ia menggaruk tangannya yang tak gatal.


"Ayah tak pernah didik kamu jadi laki-laki pengecut!!! Bikin malu!!! Mau jadi apa kamu?!?! Umurmu sudah tak muda! Kapan kamu berubah?!?! Tak sangka! Kamu pembohong!!!"


Bu Halimah mendengar suara keras suaminya. Ia cepat-cepat berjalan mencari sumber suara.


Dengan tergopoh wanita paruh baya ini mendekati pak Hasan. Ia tak mau terjadi hal yang buruk pada kesehatan suaminya. Karena jantung pak Hasan sedang bermasalah akhir-akhir ini.


Pak Hasan bangkit dari duduknya. Matanya menatap tajam seperti ingin menelan hidup-hidup lelaki di depannya.


"Ma.... maaf ayah". Anton mendekati pak Hasan. Ia bersimpuh di kaki orang tuanya.


"Sudahlah... walau bagaimanapun Anton anak kita. Pasti setelah ini dia sadar dan menjadi lebih baik" bu Halimah berusaha menenangkan suasana.


Begitulah. Sifat Anton terbentuk demikian, salah satunya karena bu Halimah memanjakannya sejak kecil. Ia selalu melindungi Anton, ketika pak Hasan murka atas kesalahan yang dilakukannya.


"Kamu selalu saja bela dia! Lihat sekarang!!! Apa hasilnya?!?!" Pak Hasan makin murka.


"Sabar yah!" usap bu Halimah sambil mengusap-usap lengan pak Hasan.


"Jangan bela anakmu yang tak tahu diri ini!!! Alma perempuan baik-baik kau hianati demi menuruti nafsumu!!! Selama ini kamu numpang hidup pada Alma. Tapi istrimu tetep sabar, bisa nerima kamu. Eee... malah selingkuh dengan perempuan nggak jelas. Mana otak warasmu Ton?!?! Trus... kamu pulang kesini sama istri barumu, mau numpang hidup disini??? Itu maksudmu???" Pak Hasan bicara dengan napas tersengal-sengal.


"Maafkan Anton, ayah!" Sekali lagi Anton mencoba meluluhkan hati ayahnya.


"Ayah sudah lelah Ton! Sampai kapan kamu seperti ini???" Wajah pak Hasan mendadak pucat. Napasnya tersengal, ia tak kuat lagi berdiri, tubuhnya limbung.

__ADS_1


Brukkk!!!


Tubuh pak Hasan ambruk, ia pingsan. Anton tersentak melihat tubuh tua pak Hasan yang tergeletak di lantai.


"Ayah... ayah... bangun yah!?" Anton panik bukan kepalang, pipi keriput pak Hasan ditepuk-tepuk, tapi orang tua itu tak bereaksi.


Anton makin panik, tubuh pak Hasan dibopong dengan segera menuju kamar. Bu Halimah berjalan mengekor di belakangnya.


'Ada apa ini?' Adel kaget mendengar keributan di ruang tengah. Ia bergegas keluar kamar memastikan rasa penasarannya.


"Ayah?!?!" Adel terkejut melihat ayahnya dibopong kakaknya. Langkah kaki dipercepat mendekati kamar tempat ayahnya dibaringkan.


"Ada apa dengan ayah, bu?? Kenapa sampai pingsan??? Hmm... pasti gara-gara Mas Anton!!!" Adel geram sambil menatap Anton dengan tajam.


Heni mendengar keributan di sebelah kamarnya. Ia keluar ingin tahu apa yang terjadi. Langkah kakinya diayun cepat menuju pusat keributan.


"Ada apa ini, mas?" Heni bertanya pada Anton.


Anton menoleh. Belum sempat Anton menjawab, Adel mendekati Heni dengan wajah geram.


"Ini semua gara-gara kamu wanita pelakor!!! Lihat!!!" Mata Adel molotot mau menelan mentah-mentah wanita di depannya.


Heni tak berani menatap mata Adel, ia diam  menunduk.


"Adel!!! Tutup mulutmu!!! Heni nggak seperti itu!!!", bela Anton.


Plakk... Plakkk


Anton menampar keras kedua pipi adeknya hingga memerah. Adel tak tak terima dengan perlakuan kakaknya.


"Keluar kamu wanita ******!!! Aku tak sudi punya ipar sepertimu!!! Kakakku seumur-umur tak pernah menamparku. Tapi... demi membelamu! Mas Anton tega melakukannya!" Adel meluapkan kekesalannya, ia menangis sambil memegang pipinya.


"Sudah, Del! Jangan perpanjang masalah!! Cepat kita bawa ayah ke rumah sakit!!! titah bu Halimah pada kedua anaknya.


***


"Papa... apa papa akan menikah dengan tante Alma?" tanya Angga.


"Hmm... entahlah. Papa masih nunggu keputusan tante Alma. Gimana menurut pendapat kamu? Apa kamu setuju papa menikah dengan tante Alma???" timpal Yunan sambil tersenyum.


Kali ini, Angga putra semata wayangnya sudah memberi sinyal yang baik atas hubungan spesial Yunan dan Alma. Tak seperti sebelumnya, ia selalu acuh ketika Yunan mulai dekat dengan wanita.


"... Setuju pa. Tante Alma kelihatannya baik. Papa juga menyukainya kan???" tanya Angga balik.


"Heheheee... Iya. Papa sudah lama kenal tante Alma, sejak masih kuliah dulu. Jadi sudah nggak ragu lagi." Yunan meyakinkan anaknya.

__ADS_1


"Trus... kenapa papa nggak langsung lamar? Apa papa takut aku nggak setuju?" Angga penasaran.


"Bukan begitu Angga. Tante Alma butuh waktu saja. Semoga secepatnya tante Alma siap. Hmm... dan kamu akan punya mama lagi" Yunan menatap wajah Angga sambil tersenyum.


"Papa juga nggak sendiri lagi", balas Angga.


"Apa selama ini papa sendiri? Kan ada kamu?" tanya Yunan.


"Beda lah pa... Hmm" Angga mengernyitkan dahinya penuh arti.


Tiba-tiba terdengar suara dering telpon dari ponsel Yunan.


"Ya... Pagi Alma. Ada apa nih... tumben?


"Pagi mas Yunan. Apa aku ganggu?


"Nggak sa... ini lagi ngobrol sama Angga, lagi nyantai" Yunan ingin mengucapkan kata sayang, tapi terhenti. Ia lupa ada Angga di depannya.


"Besok Sabtu, ada acara study tour di sekolah tempatku ngajar. Kalau ada waktu, apa mas Yunan mau ikut?"


"Wah... boleh juga tuh. Aku ajak Angga juga ya?"


"Iya mas, silahkan. Tiara juga ku ajak. Pasti seru!"


"Makasih ya Alma. Aku siap menemanimu".


Mendengar kata-kata papanya, Angga tersenyum di sudut bibirnya.


"Yang lagi kasmaran???" celetuk Angga


"Hmm" Yunan tersenyum menatap anak laki-lakinya.


***


"Asiiik... Om Yunan ikut study tour juga ya ma?" sahut Tiara


"Iii...iya Ti, nggak apa-apa kan???


"Nggak apa-apa, siapa yang ngelarang? Angga ikut juga nggak?"


"Hmm... katanya sih ikut. Jadi makin seru kan??"


"Iya ma... ini pertanda mama kasih lampu hijau ke om Yunan. Bentar lagi bakal ada pengantin baru nih".


"Siapa???"

__ADS_1


"Pake pura-pura nanya, iii... mama. Biar mama nggak ragu nih. Denger baik-baik ya! Tiara setuju kalo mama menikah dengan om Yunan. Karena kelihatan bener, om Yunan itu orang baik, nggak kayak papa. Papa bisanya nyakitin mama. Bikin mama sedih, nangis, marah. Iya kan... ma???"


__ADS_2