
Siang ini amat terik, panas matahari menyengat sampai ke dasar kulit. Alma teringat akan ayahnya yang hidup sendiri. Hampir setiap hari Alma menyambangi pak Rudi. Membawakan makanan, membelikan pakaian dan memberinya sejumlah uang untuk keperluan sehari-hari.
Pulang dari ngajar, Alma ingat ayahnya. Ia menstater scoopy putihnya melaju menuju rumah yang ditempati pak Rudi.
Sesampainya di sana, rumah tampak sepi, tak seperti biasanya, pintu depan tertutup rapat, lampu teras juga masih nyala.
"Assalamualaikum," teriak Alma sambil mengetuk pintu. Sudah beberapa kali Alma berteriak tapi tak ada jawaban.
'Kemana Ayah? Kenapa sepi sekali? Tumben lampu teras nggak dimatikan sampai siang gini. Aku cek lewat pintu samping saja.'
Alma melangkahkan kakinya ke arah samping rumah, dan ternyata pintunya juga tertutup rapat. Semua jendela depan dan samping rumah juga tertutup.
"Ayah! Ayah!!!" Alma berteriak lagi setelah sampai di jendela kamar ayahnya yang masih tertutup. Tapi panggilan wanita yang mulai panik ini ternyata sia-sia.
'Apa ayah lagi keluar rumah? Sebaiknya aku tanya ke tetangga sebelah, mungkin ada yang tahu kemana ayah pergi.'
Istri Yunan ini buru-buru melangkah menuju rumah bu Rahmi yang kebetulan si empunya rumah sedang duduk di teras.
"Maaf, bu Rahmi. Apa ibu tahu kemana ayah saya pergi? Karena pintunya saya ketuk berkali-kali tak ada jawaban," tanya Alma dengan sopan.
"Saya nggak tau, bu Alma. Setau ku ayah bu Alma nggak pernah kemana-mana. Beliau biasanya kalau pagi duduk di teras, kadang menyapa tetangga yang lewat. Tapi dari tadi pagi saya nggak lihat, Bu." Jawab bu Rahmi.
"Oo... begitu ya Bu. Makasih ya... kalau gitu saya permisi dulu," pamit Alma.
Alma melangkahkan kakinya ke rumah lagi. Wajahnya kelihatan sangat panik, karena belum bisa menemukan ayahnya.
'Apa ku dobrak saja pintu samping. Biar aku tau apa yang sebenarnya terjadi. Kalau pun ayah pergi, mau pergi kemana? Sudah nggak ada tempat yang bisa disinggahi ayah.'
Brak! Brak! Brak!!!
'Susah sekali terbukanya, tenaga ku nggak kuat buat dobrak pintu ini. Apa yang harus aku lakukan? Oh ya... aku akan telpon ayah saja.'
Alma mencari ponselnya yang tersimpan di tas selempang hitam di pundak kirinya.
Tut... tut... tut...
'Ponsel Ayah nggak aktif. Gimana ini??? Hmm... aku telpon Mas Yunan saja, moga nggak lagi sibuk.
Sesaat kemudian...
(Halo.... Mas)
__ADS_1
(Ya, ada apa Sayang)
(Aku sekarang lagi menjenguk Ayah, tapi pintu dan jendela tertutup semua. Ku tanyakan ke tetangga, katanya ayah seharian nggak nampak keluar rumah. Ini tadi aku coba dobrak pintu samping, tapi tenaga ku nggak kuat, Mas) kata Alma.
(Semoga nggak terjadi sesuatu yang buruk pada ayah. Kamu tunggu di sana! Aku akan sampai tiga puluh menit lagi) ucap Yunan.
(Iya, Mas) jawab Alma singkat. Ia segera menutup telpon dengan tangan bergetar.
'Kenapa firasat ku tak enak ya??? Nggak seperti biasanya ayah seperti ini. Apa yang terjadi padamu, Yah???'
Alma tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya mondar-mandir di sekitar rumahnya siang itu. Sebentar duduk, lalu berdiri, untuk mengurangi kepanikannya. Matanya menyapu semua jendela yang sedari tadi masih tertutup.
'Ini ada kursi. Aku akan naik dan melihat di sela-sela fentilasi pintu samping. Mungkin bisa di lihat situasi yang terjadi di dalam rumah.'
Wanita yang masih berseragam keki itu tak putus asa begitu saja. Setelah kursi di letakkan di depan pintu, lalu kakinya mulai naik di atasnya. Selanjutnya, kedua matanya mulai menyapu semua sudut ruangan tengah yang bisa ia intip.
'Semua lampu masih nyala. Ya Tuhan... dimana ayah??? Kenapa tak terdengar suara apapun di dalam rumah???'
Sambil menunggu kehadiran suaminya yang masih dalam perjalanan, ia melanjutkan rasa penasaran dan kegundahan hatinya.
Alma turun dari kursi, lalu membawa kursinya ke pintu belakang. Istri Yunan ini selanjutnya menaikkan badannya ke atas kursi kembali. Ia berdiri tegak sambil berjinjit, agar bisa melihat sesuatu dalam rumah itu yang bisa jadi petunjuk.
Alma makin panik. Kakinya makin gemetaran hingga ia terjatuh saat turun dari kursi.
"Aduh..." teriak Alma sambil sempoyongan menegakkan badannya. Buru-buru ia duduk di kursi sambil meniup kakinya yang sedikit berdarah.
Tiba-tiba mobil lotus evija warna hitam berhenti di depan rumah Alma. Wanita yang sedari tadi panik, akhirnya mulai tenang dengan datangnya Yunan yang sudah melangkah menuju pintu samping, tempat ia duduk menantinya.
"Syukurlah, kamu sudah datang, Mas." Sambut Alma dengan senyum manis, tapi terkesan panik yang tak bisa ia tutupi. Tak lupa Alma mencium telapak tangan kanan suaminya dengan takzim.
"Apa sudah ada petunjuk, Sayang?" tanya Yunan sambil pandangannya menyapu sekeliling rumah.
"Belum, Mas. Aku sudah panjat pakai kursi, berusaha melihat ke dalam, tapi nggak ada petunjuk apa-apa. Dan tak ada suara dari dalam. Apa kita dobrak saja pintu ini, Mas???" Usul Alma pada suaminya.
"Hmm... kita coba dobrak pintu saja, kalau gitu. Bantu aku ya, Sayang." Kata Yunan sambil pasang kuda-kuda dan menyingsingkan lengan bajunya.
"Iya, Mas" jawab Alma sembari menghela napas panjang.
"Satu, dua, tiga" ucap Yunan.
BRAK!!!
__ADS_1
Kaki Yunan menghantam pintu sekuat tenaga, berusaha membuka pintu dengan paksa.
Akhirnya pintu itu bisa di buka, walau bagian pintu menjadi rusak karena terkena hantaman yang sangat keras.
"Sudah terbuka, Mas." Alma segera membuntuti langkah Yunan. Dengan menata napasnya yang masih tersengal-sengal, Yunan mulai melangkah ke dalam rumah.
"Ayah... Ayah... Ayah dimana???" teriak Alma semakin masuk ke dalam rumah. Tapi tetap saja tak ada jawaban.
Lalu langkah Alma gegas menuju kamar ayahnya.
Ceklek
'Kamar ayah nggak di kunci, tapi... dalam kamar, ayah juga nggak ada???'
Sementara Yunan melangkah menuju dapur, tak di dapati sosok ayah Alma. Lalu kedua matanya menatap pintu kamar mandi yang tertutup. Langkah kakinya dipercepat menuju ke sana. Lalu...
Ceklek
"A...yah... Ya Tuhan, apa yang terjadi pada Ayah???" teriak Yunan yang menemukan pak Rudi tergeletak di kamar mandi dengan posisi tertelungkup.
"Almaaa... Ayah di sini!!!" Yunan mengeraskan suaranya, memanggil Alma yang masih berada di kamar ayahnya.
Mendengar teriakan suaminya, Alma tersentak dan segera membalikkan badan menuju kamar mandi.
Setelah sampai dan melihat tubuh ayahnya yang tak berdaya, Alma terbelalak dan tubuhnya bergetar, "Ya Tuhan... Kenapa Ayah seperti ini???"
"Ayo kita angkat tubuh ayah" Ajak Yunan yang mulai panik, mendapati tubuh pak Rudi yang sudah lemas dengan mata tertutup.
"Apa ayah masih hidup, Mas???" Alma bertanya sambil menahan tangis.
Buru-buru Yunan memeriksa nadi yang ada di leher dan pergelangan tangan pak Rudi.
"Masih ada denyut nadinya, tapi sudah sangat lemah. Ayo... cepat kita angkat ke mobil!" Titah Yunan pada Alma yang masih berdiri terpaku menatap ayahnya yang tak bersuara.
Walau terasa berat, Alma berusaha mengangkat tubuh ayahnya pada bagian kaki, sedang Yunan mengangkat pada bagian punggung dan kepalanya.
'Ya Tuhan... semoga ayah bisa diselamatkan. Aku nggak tau apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa ayah sampai tak sadarkan diri di kamar mandi. Padahal kemarin, saat aku mengunjungi ayah, beliau nampak sehat dan nggak mengeluh tentang apapun.' (Ucap Alma dalam hati).
***
BERSAMBUNG...
__ADS_1