
Bagaimana dengan nasib Heni??? Setelah Anton mengetahui kalau ibu kandungnya celaka gara-gara ulahnya???
"Anton, kamu baru pulang, Nak?" bu Halimah menyapa putranya dengan suara lirih.
"Iya, Bu. Ibu kenapa? Ya Tuhan, kepala ibu sampai kebiruan gitu? Apa yang terjadi, Bu??" Anton terkejut menatap dahi bu Halimah yang masih jelas benjol dan hitam kebiruan.
"Dengarin aku, Mas Anton!!!" Lalu Adel mulai bercerita kronologi jatuhnya ibu kandung mereka mulai awal hingga akhir, biar jelas dan gamblang.
Anton mendengarkan dengan napas panjang dan dalam, ia mulai kesal dengan sikap istrinya. Secuek-cueknya Anton pada nasib ibu dan adiknya, tapi kalau mendengar ada orang yang tega membiarkan ibu yang melahirkannya terkapar minta tolong, tapi tak di gubris, kakak Adel itu juga naik pitam.
"Tega sekali Heni? Aku nggak nyangka!!" Ucap Anton setelah mendengar cerita adiknya.
"Aku sudah nggak sudi serumah dengan wanita tak tau diri itu, Mas! Di kasih hati malah minta ampela. Jadi ngelunjak dia." Umpat Adel.
Anton tak menghiraukan ucapan sinis adiknya. Ia segera membalikkan badan dan berjalan cepat menuju kamarnya.
Ceklek
Anton bisa langsung membuka pintu, karena Heni tidak menguncinya.
"Mas Anton, jam berapa ini Mas? Kok baru pulang??" tanya Heni sambil mengucek matanya karena terbangun dari tidurnya.
"Hei Heni, dengar baik-baik!!! Kamu memang istriku, tapi bukan berarti kamu seenaknya sendiri memperlakukan ibuku!!! Mau mu apa, hah??? Kerja baru beberapa hari aja, lagaknya kayak paling sibuk. Kalau kamu masih mau jadi istriku, mulai besok titipkan Putri ke tempat pengasuhan anak. Nggak usah nitip lagi ke ibu!!!" Titah Anton sambil melotot ke arah Heni, yang masih duduk di tepi ranjang.
"Tapi, Mas. Uang siapa buat bayar jasa penitipan anak nanti??" Heni mencari alasan.
"Kalau kamu nggak mau bayar buat nitipin Putri??? Ya udah, kamu nggak usah kerja. Di rumah aja, ngasuh anak, ngurus rumah, bantu nyelesaikan pekerjaan rumah." Anton kini lebih tegas pada istrinya.
"Tapi, Mas. Aku masih pengen kerja. Aku nggak mau cuma jadi ibu rumah tangga."
"Kalo itu pilihan mu. Berarti mulai besok sebelum berangkat kerja, titipkan Putri. Kamu cari tempat penitipan anak yang terdekat dengan rumah. Jangan bantah!!!" Ucap Anton.
"Mas, kasih pelajaran buat adikmu, tuh! Aku tadi di tampar habis-habisan. Adel tuh makin kurang aj*r sama aku, Mas." Suara Heni merajuk.
__ADS_1
"Itu karena kamu salah. Adel nggak akan tempeleng kamu, jika kamu baik-baik saja. Sudah, aku males lihat muka kamu. Aku mau tidur di sofa saja." Ucap Anton ketus.
Lalu Anton buru-buru ganti baju dan berjalan menuju sofa ruang tengah. Heni kaget melihat perubahan sikap suaminya yang tak seperti biasanya. Dulu lelaki yang sangat dibanggakannya itu selalu membelanya dengan segala cara, hingga ia jadi tersanjung dan jumawah di rumah itu.
Sebelum Anton keluar dari kamar, Heni menarik tangan kanannya sambil bertanya, "Mas, kenapa pulang selarut ini? Ku telpon nggak di angkat, pesan ku juga nggak di baca? Tadi mampir kemana dulu?"
"Suka-suka aku pulang kapan. Mulai sekarang jangan ngatur hidupku, ingat!!! Masih untung kamu nggak ku usir dari rumah ini." Ucap Anton makin geram.
Heni tak bisa berkutik menghadapi Anton sekarang. Raut mukanya nampak suram, kenyataan yang terjadi tak sesuai harapannya. Kini Heni hanya bisa diam membisu di kamar. Tak ada lagi orang yang membelanya di rumah itu.
'Kenapa Mas Anton sangat berubah. Apa sudah ada wanita lain di hatinya? Akhir-akhir ini sering pulang telat, apalagi hari ini. Sikapnya juga nggak seromantis dulu.' Heni berpikir keras mencari penyebab perubahan sikap suaminya.
Sementara Anton sudah merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang di ruang tengah, ia sudah tak peduli dengan Heni dan anaknya. Yang ada dalam pikirannya hanyanya si cantik Yuanita yang lebih muda dan lebih menggoda.
*
Pagi pun tiba. Matahari mulai tersenyum menyapa seluruh penghuni alam semesta. Kehangatan sinarnya memberi harapan baru bagi makhluk yang tak mudah putus asa.
Tak seperti biasa, kini yang sibuk menyiapkan sarapan bukan lagi bu Halimah, tapi digantikan Adel adik Anton. Putri bu Halimah ini sibuk memasak sendiri karena sang ibu masih belum bisa berjalan dengan baik.
"Bu, aku suapi sarapan dulu ya. Mumpung masih hangat."
"Iya, Del. Apa semua sudah sarapan?"
"Belum, Bu. Ini masih jam enam pagi. Biar saja mas Anton ke dapur kalo merasa lapar."
"Heni bagaimana, Del?"
"Ibu nggak usah mikirin Heni lagi. Anggap aja udah nggak di sini. Nanti jadi penyakit kalo dipikirin, Bu. Sini, aku bantu duduk, Bu." Ucap Adel sambil membantu bu Halimah duduk di atas kasur.
Lalu dengan telaten, Adel menyuapi bu Halimah sampai habis dan tak lupa memberikan obat sesuai resep dokter.
"Hari ini, aku menemani ibu di rumah. Aku udah ijin sama bos. Jadi kalo ibu butuh apa-apa nggak usaha kuatir. Aku di rumah seharian, Bu"
__ADS_1
"Iya. Kamu jadi repot gara-gara ibu sakit." Ucap bu Halimah lirih sambil menatap sendu ke arah putrinya.
"Nggak apa-apa, Bu. Yang penting, ibu sehat dulu. Untung bos ku orangnya baik, jadi kasih ijin aku nggak masuk kerja hari ini. Aku nggak tega kalo ibu sendiri di rumah."
Tiba-tiba terdengar tangisan Putri di kamar belakang. Nampaknya ada sedikit keributan yang terjadi antara Anton dan Heni.
"Aku ini istrimu, Mas. Jangan perlakukan aku seperti ini? Mulai hari ini dan seterusnya, kamu nggak boleh pulang telat lagi!!!" teriak Heni memecah keheningan bersamaan dengan tangis anaknya.
"Denger ya! Sekali lagi aku tegaskan! Jangan ngatur-ngatur hidupku!!! Kalo kamu masih ingin tinggal di sini, jangan ikut campur urusan ku lagi!!!" Lalu Anton menutup pintu kamar dengan keras.
Mendengar perkataan suaminya, Heni hanya bisa terduduk mematung. Bagai makan buah simalakama, kalau ia diam, maka Anton akan seenaknya sendiri. Tapi kalau ia banyak ngatur, ia akan di usir dari rumah ini. Sedang ia sudah tak punya apa-apa lagi.
Akhirnya ia memilih diam, walau perutnya merasa sangat lapar. Sedari tadi malam, ia belum makan apapun karena tak berani ke dapur setelah mendapat hadiah tamparan dari adik iparnya.
Setelah menenangkan anaknya, Heni memberanikan diri berjalan ke meja makan menemui suaminya yang sudah duduk di sana.
"Mas, apa boleh aku ikut sarapan? Dari tadi malam aku belum makan." Suara Heni memelas menahan lapar.
"Boleh saja, daripada kamu sakit. Nanti aku juga yang repot." Jawab Anton dengan ketus.
Lalu dengan cepat, Heni mengambil sepiring nasi dengan lauk yang ada di meja. Sedang enak-enaknya ia menikmati sarapannya, datanglah Adel membawa piring dan gelas bekas nyuapi ibunya.
"Wow... enak sekali kamu tinggal makan. Kayak tuan putri saja. Apa nggak malu tuh, nggak ikutan belanja, nggak bantu masak. Eee... tinggal duduk manis menikmati sarapan." Ucap Adel dengan muka masam.
"Sudahlah, Del. Kasihan Heni dari semalam belum makan. Nanti aku ganti uang belanjanya." Jawab Anton melindungi istrinya.
Sementara Heni menghentikan sarapannya, tapi setelah mendengar ucapan suaminya, ia tak segan-segan lagi menghabiskan sisa makanan yang ada di piringnya.
'Ternyata Mas Anton masih sayang pada ku. Hmm... aku jadi lebih tenang sekarang.' bisik Heni dalam hati.
***
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Selalu othor tunggu LIKE, KOMEN & VOTEnya Thank you so much❣️❣️❣️