SUAMI SELINGKUH DENGAN SAHABATKU

SUAMI SELINGKUH DENGAN SAHABATKU
BAB 17. PENYESALAN YANG SIA-SIA


__ADS_3

"Dokter! Pasien mengalami komplikasi!!" suara seorang perawat pada dokter Fadli dalam panggilan emergency.


Dokter Fadli segera datang dengan sigap "Siapkan alat pacu jantung" Segala cara telah dilakukan oleh dokter dibantu beberapa perawat, tapi takdir berkata lain. Nyawa pak Hasan tak bisa diselamatkan lagi.


"Inna lillahi wainna ilaihi rojiun" ucap dokter dengan wajah teduh, sambil menatap raut muka pasien yang pucat pasi tak bernapas.


Beberapa saat kemudian, dokter Fadli keluar dari ruang UGD dengan langkah pelan dan menghembuskan napas panjang. Ia sudah terbiasa menghadapi situasi menegangkan seperti ini.


Melihat dokter keluar dari ruangan, buru-buru Anton berdiri dari duduknya dan mendekat ke arah dokter. Ia ingin memastikan kondisi kesehatan ayahnya.


"Bagaimana dok, apa ayah saya sudah membaik???" tanya Anton.


"Maafkan kami, semua usaha terbaik sudah kami lakukan, tapi nyawa ayah anda tidak tertolong. Kami turut berduka cita." tatapan mata dokter Fadli teduh memandang laki-laki yang ada di depannya.


"Inna lillahi wainna ilaihi rojiun... Ayaaaah. Lalu Andi berlari masuk ke ruangan UGD mencari keberadaan ayahnya. Ia menangis tersedu sambil memegang tangan ayahnya yang sudah dingin tak bernyawa.


"Maafkan aku ayaaah! Maafkan aku!!!" Anton tak henti-hentinya meratapi kepergian orang tua yang sangat disayanginya. Wajahnya tampak sangat menyesal. Menyesal karena Anton merasa, semua terjadi akibat perbuatannya.


Anton segera merogoh ponsel di saku celana. Ibu dan adiknya harus segera mengetahui berita duka yang baru saja terjadi.


(Halo... Adel. Tolong kasih tau ibu, ayah sudah meninggal dunia) ucap Anton sambil menahan tangis.


(Apaa??? Ayaaah...) Adel terguguh menangisi kepergian ayahnya untuk selamanya. Linangan air mata kesedihan menyelimuti raut wajah wanita yang sangat menyayangi ayahnya.


Setelah beberapa saat Adel duduk menenangkan diri, gegas ia bangkit dan berjalan cepat mencari keberadaan ibunya.


"Ibuuu.... Ayah, bu!" ucap Adel.


"Ada apa Del? Kenapa dengan ayah??" Bu Halimah membalikkan badan, mendapati Adel yang sedang menangis dengan suara tak terkendali.


"Ayah meninggal, Bu." jawaban Adel membuat bu Halimah tersentak kaget. Tubuhnya terhuyung lemah, dadanya terasa dihantam godam, kakinya tak kuat lagi berdiri tegak.


Adel menuntun ibunya berjalan pelan menuju sofa, agar bisa duduk menenangkan diri. Halimah tak bisa menahan kesedihan yang amat mendalam. Suami yang menikahinya puluhan tahun, mendampingi dalam suka dan duka, kini telah berpulang untuk selamanya.

__ADS_1


'Mas Hasan... Kenapa kamu meninggalkan ku, di saat Anton dalam masalah besar. Kenapa kamu membiarkan aku sendiri untuk melanjutkan berjuang demi kebahagiaan anak-anak?' Halimah bermonolog mengungkapkan kegundahan sepeninggal suaminya nanti.


"Ada apa Del, apa yang terjadi?" tanya Heni yang tiba-tiba datang mendekati Adel dan bu Halimah.


"Ayah baru saja meninggal. Kamu puas kan sekarang???" Adel menjawab dengan kasar. Kebenciannya pada Heni tak bisa ditutupi.


"Ooo... Inna lillahi wainna ilaihi rojiun" Heni memasang muka sedih di depan Adel dan bu Halimah.


'Syukurlah... Akhirnya satu pion sudah lenyap, penghalangku berkurang satu, he hee... Makanya jangan macam-macam sama aku!!! Tahu sendiri akibatnya!'


Lain dimulut lain pula di hati. Heni memang pantas dikatakan manusia bermuka dua. Ia pasang muka sedih, sesedih-sedihnya. Padahal hatinya lagi berbunga-bunga atas kematian mertua laki-lakinya.


***


Dalam perjalanan study tour dengan naik bus, Alma duduk berdua dengan Yunan di kursi belakang sopir. Sedang Tiara dan Angga duduk di kursi belakangnya.


Wajah Alma terpancar kegembiraan teramat sangat, ia sangat menikmati perjalanan Surabaya - Jogja ditemani seorang kekasih, Yunan Prasetya, yang sudah berhasil membuka hatinya. Hati yang telah dua kali terluka. Pertama, luka atas perceraian kedua orang tuanya. Kedua, luka atas penghianatan suami dan sahabatnya yang berakhir dengan perceraian pula.


"Hmm... agak ngantuk sih. Melelahkan juga ya mas. Sudah lama aku nggak naik bus jarak jauh seperti ini." jawab Alma.


"Aku juga. Tapi walaupun lama, nggak terasa buatku. Karena ada kamu di sisi ku." Yunan mulai dengan rayuannya.


"Ssttt... Awas kedengeran pak sopir! Kan malu, udah berumur masih ngegombal, he he..." sahut Alma mengingatkan.


"Siapa yang sudah berumur? Kita masih muda lho Al... Umur boleh tua, tapi semangat tetap muda." Jelas Yunan tak mau kalah.


"Emang sih... Tapi tenaga sudah beda, Mas. Mudah capek, mudah sakit, mudah apa lagi ya?" tanya Alma


"Hmm... Mudah rejeki, mudah jodoh, eee... salah deh." Kelakar Yunan mencairkan suasana.


Akhirnya sampailah mereka pada tujuan pertama, Candi Borobudur. Sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Candi ini terletak kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang, 86 km di sebelah barat Surakarta, dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta.


Anak-anak segera turun dari bus, didampingi oleh orang tua masing-masing. Sementara para guru mengatur mereka, agar tertib dan berjalan dengan baik.

__ADS_1


"Angga ... Kamu udah pernah ke Borobudur kan?" tanya Tiara sambil melangkah di samping Angga.


"Kalo nggak salah udah tiga kali ini sih. Kalo kamu udah berapa kali? Jangan-jangan baru pertama kali ini ya? He hee... " canda Angga.


"Enak aja, aku udah dua kali kesini. Sekarang lebih tertib ya, makin tertata rapi, dan banyak turis asing yang mengunjungi." jawab Tiara.


"Iya ya... Tuh lihat deh! Di sebelah sana ada juga yang sibuk ngonten. Asik juga ya. Kenapa kita nggak nyobak ngonten juga? Mumpung lagi disini, Ti!" Angga punya ide.


"Wah... bener Ang, ide kamu cemerlang. Yuk nyari tempat yang pas buat ngonten!" ajak Tiara.


Dua anak ini terlihat akrab dan kompak, seperti harapan orang tuanya. Alma dan Yunan menginginkan supaya Tiara dan Angga bisa akur dan saling menyayangi layaknya kakak-adik.


"Eee... bentar Ang. Lihat! Papa mu dan mama ku lagi asyik ngobrol di sana tuh. Kalo jadian, kita saudaraan nanti. Aku sih seneng, jadi ada temen di rumah. Betul nggak?" kata Tiara.


"Iya... betul. Aku juga seneng. Sudah setahun aku nggak ada sosok ibu di rumah. Kasihan papa kadang kewalahan. Semoga mama kamu berjodoh dengan papa ku ya, Ti." sahut Angga.


"Aamiiin... Yuk kita naik ke candi! Lebih bagus diatas kayaknya." ajak Tiara


"Oke", jawab Angga tanda setuju.


***


Jenazah pak Hasan sudah sampai dirumah duka. Para tetangga dan saudara sudah berdatangan untuk melayat dan ikut berbela sungkawa.


"Lihat bu Joko, wanita itu siapa?"


"Mana sih bu Nana, yang duduk dekat Anton?"


"Iya bu, kayaknya nggak pernah lihat deh. Setahuku istri Anton nggak gitu. Lebih cantik dan putih kulitnya, namanya Alma." jawab bu Joko salah satu tetangga Anton.


"Kalo bukan istrinya, lalu apanya Anton ya? Duduknya aja mesra banget, padahal lagi suasana duka. Nggak sungkan apa, banyak pelayat yang datang??" timpal bu Nana.


"Iya ya bu Nana, aku jadi penasaran?" jawab bu Joko yang terkenal suka ngegosip dan julid di kampung Kenanga, tempat Anton dan keluarganya tinggal.

__ADS_1


__ADS_2