
Sesampainya di rumah sakit, Yunan mencari ruang ICU sesuai petunjuk dari Alma. Dengan langkah santai, lelaki yang berperawakan tinggi semampai itu akhirnya menemukan ruang yang dicarinya.
Di sana ia bertemu dengan wanita yang masih tiga hari jadi istrinya. Almaila Khumaira, rasa kangen sudah menyeruak dalam hati dan benaknya. Padahal baru setengah hari saja, ia tak jumpa karena kesibukan masing-masing.
"Alma, kamu sendirian? Apa Anton masih belum siuman juga?" tanya Yunan saat bertemu sang istri tercinta. Tangannya menyentuh pundak Alma yang duduk di bangku panjang depan ruang ICU.
"Iya, Mas. Alhamdulillah... Mas Anton baru saja siuman. Tapi keluarganya belum ada yang datang. Jadi kasihan kalo aku tinggal. Ini tadi aku dapat pesan dari adiknya Mas Anton, katanya sudah perjalanan ke sini." Jawab Alma sembari mencium punggung tangan kanan Yunan dengan takzim.
"Hmm... baguslah. Tapi kenapa Anton masih di ICU, belum di pindah ke kamar rawat inap. Padahal tadi katanya udah siuman?" tanya Yunan heran.
"Kata dokter, Mas Anton masih butuh pemantauan secara intensif. Karena benturan dan luka di kepalanya membuat memori masa lalunya ada yang hilang." Alma menjelaskan.
"Kena amnesia? Wah... lama itu pemulihannya. Kasihan Anton, baru saja dia di terima kerja, sekarang kena ujian berat. Semoga Anton cepat pulih kembali." Kata Yunan.
Tiba-tiba ada perawat yang berjalan mendekati Alma dan Yunan.
"Maaf, Bu. Pak Anton memanggil-manggil nama Alma terus. Apakah ibu yang namanya Alma?" tanya perawat dengan wajah penuh harap.
"Hmm... iya suster," jawab Alma gugup. Wanita cantik itu berusaha menjaga hati suaminya. Ia tak mau ada kesalahpahaman di antara mereka.
Apalagi saat menatap wajah Yunan, yang nampak kaget mendengar perkataan perawat.
"Kenapa nama kamu yang selalu di panggil?Apa Anton masih beranggapan kalo kamu adalah istrinya? Waduh... bisa jadi masalah ini?!" Sahut Yunan dengan muka masam ketika menanggapi ucapan perawat.
Alma bangkit dari duduknya, di susul dengan Yunan. Keduanya segera masuk ke ruang ICU sesuai panduan perawat.
"Alma... Alma... Alma. Dimana kamu Alma???" teriak Anton dalam siumannya yang masih samar. Antara sadar dan tidak, karena masih dalam pengaruh obat.
Alma mendengar panggilan itu, tapi ia tak berani mendekat pada Anton yang terbaring lemah di brankar. Apalagi di sebelahnya ada suaminya Yunan yang memegangi tangannya dengan erat.
"Alma... sini Sayang! Mendekatlah padaku, Sayang!! Aku ingin menggenggam tanganmu!!!" pinta Anton dengan sangat.
Melihat Alma yang tak bereaksi, Anton berusaha duduk dari pembaringannya. Dengan tenaga yang tersisa ia hampir saja duduk sambil memegangi kepalanya yang terbalut perban.
"Jangan paksa duduk, Anton. Kamu masih sakit, tidur saja!" ucap Yunan sambil gegas mendekat ke tubuh Anton dan membantunya tidur kembali.
"Siapa kamu? Apakah kamu temanku? Tapi kita tak pernah ketemu???" tanya Anton dengan muka bingung. Matanya menatap tajam ke arah Yunan yang ada di sampingnya.
__ADS_1
"Anton, aku Yunan, teman kamu. Coba ingat-ingat!" kata Yunan dengan ramah, menatap wajah Anton yang masih tampak sayu.
"A...ku... Nggak pernah kenal kamu, maaf. Alma, apakah kamu kenal dia? Kenapa kamu nggak mau dekat aku, Alam???" tanya Anton sambil menatap wajah Alma yang berjarak dua meter dari dirinya.
Alma masih berdiri di tempat yang sama. Ia menatap wajah suaminya, ingin rasanya ia keluar ruangan saja. Daripada serba salah, dan menyakiti salah satu dari laki-laki yang ada di ruangan itu.
"Maaf Pak, Bu. Sebentar lagi Pak Anton akan pindah ke kamar rawat inap. Karena kondisinya sudah membaik." Kata perawat yang tiba-tiba masuk.
"Oh iya, Suster," jawab Alma dan Yunan hampir bersamaan.
Ada beberapa perawat yang masuk ke ruangan itu. Selanjutnya mereka dengan cekatan memindahkan tubuh Anton yang masih terbaring lemah ke kamar rawat inap yang berjarak sepuluh meter saja.
Tiba-tiba ponsel Alma ada panggilan masuk. Alma sambil berjalan di samping Yunan menuju kamar Anton, ia segera menanggapi panggilan tersebut.
(Halo, Bu Ratna. Ada apa, Bu) tanya Alma.
(Bu Alma, di depan rumah ibu, ada laki-laki tua dari pagi hingga sore duduk di depan pagar. Apa ibu mengenalnya?) kata bu Ratna.
Kemudian bu Ratna mengirimkan sebuah foto laki-laki tua yang di maksud, agar Alma bisa melihatnya secara langsung.
Setelah Alma menerima foto itu, ia langsung membukanya dan melihat dengan jeli, wajah yang mungkin dikenalnya.
(Sama-sama) sembari bu Ratna menutup sambungan telpon.
"Telpon dari siapa, Sayang? Kamu serius amat?" tanya Yunan, melirik istrinya yang nampak serius mengamati foto di ponselnya.
"Dari tetangga sebelah. Ini aku lagi lihat foto yang dikirimkan olehnya." Jawab Alma sambil menunjukkan foto lelaki tua.
"Foto siapa ini? Apa kamu mengenalnya?" tanya Yunan. Kedua alisnya mengernyit tanda ia tak mengenal sosok itu.
"Entahlah, Mas. Aku juga nggak mengenalnya. Besok aku akan ke rumah setelah pulang dari mengajar. Karena kata tetanggaku, lelaki tua ini setiap hari duduk di depan rumah." Jawab Alma.
"Ya, sebaiknya memang begitu. Siapa tahu orang itu ada keperluan dengan kamu." kata Yunan menyetujui sikap Alma.
Tiba-tiba ada suara yang memanggil dari kejauhan.
"Mbak Alma!"
__ADS_1
Alma mendongakkan kepalanya mendengar namanya di panggil oleh seorang wanita yang ada di depannya.
"Adel... Ibu!" Seru Alma sembari tersenyum menyambut kedatangan dua wanita yang telah lama tak dijumpainya.
Alma melangkah mendekati Adel dan bu Halimah. Wanita cantik nanti anggun ini tak lupa mencium punggung telapak tangan kanan bu Halimah yang pernah jadi mertuanya. Lalu bersalaman dengan Adel, yang dulu pernah jadi adik iparnya.
"Apa kabar ibu, Adel?" tanya Alma dengan senyum manisnya.
"Baik mbak Alma. Mbak apa kabar juga?" tanya Adel balik.
"Alhamdulillah... Mbak juga baik. Oh iya... Kenalkan ini suami embak. Kami baru menikah tiga hari lalu." kata Alma sambil memandang lembut ke arah Yunan yang sudah berdiri di sampingnya.
Deg.
Adel dan bu Halimah merasa kaget setelah mendengar perkataan Alma. Mereka tak menyangka kalau Alma sudah menikah dengan lelaki yang lebih tampan dan ramah di banding Anton.
Yunan pun melakukan hal yang sama. Berjabat tangan pada Adel dan bu Halimah. Tak lupa dengan senyuman yang khas penuh keramahan.
"Mari ku antar ke kamar rawat inap Mas Anton. Baru saja dipindah ke sana. Alhamdulillah... Keadaannya makin membaik." kata Alma sambil mempersilahkan Adel dan Bu Halimah mengikuti langkah yang diambilnya.
Adel dan Bu Halimah berjalan di depan Alma dan Yunan. Mereka berempat melangkah menuju kamar Anton yang tak begitu jauh, cuma berjarak delapan meter saja.
"Silahkan bu, Adel. Itu Mas Anton." Alma mempersilahkan kedua wanita itu masuk. Sedang ia dan Yunan menunggu di depan kamar sambil duduk di bangku.
"Alma... Alma... Kamu dimana Alma???" teriak Anton.
"Mbak Alma di depan, Mas. Ini ada ibu dan aku. Mas Anton mau apa? Ntar tak ambilin." Kata Adel memandang kakaknya yang masih terkulai lemah di atas brankar.
"Siapa kamu? Aku mau di temenin Alma. Mana Alma, Alma...?!?!" Anton tak mengenal Adel dan bu Halimah. Yang ada dalam ingatannya cuma Alma.
"Anton... ini ibu, Nak. Ditemenin ibu ya? Ini ada Adel juga. Heni sudah melahirkan, Ton. Anak kamu perempuan, cantik sekali. Heni belum bisa kesini jenguk kamu. Dia butuh istirahat dan menjaga anakmu, Ton." Kata bu Halimah. Matanya berkaca-kaca menatap sayu ke wajah Anton yang masih lemah dan kepala Anton yang hampir sepenuhnya tertutup perban.
"Heni??? Siapa Heni???" tanya Anton dengan wajah bingung.
"Mas... Heni istri kamu, Mas" sahut Adel dengan wajah kaget dan mengernyitkan alisnya.
"Istriku kan Alma, bukan Heni. Kamu jangan mengada-ada. Cepat panggilkan Alma, aku lebih suka ditemenin Alma." teriak Anton lagi.
__ADS_1
***
BERSAMBUNG...