SUAMI SELINGKUH DENGAN SAHABATKU

SUAMI SELINGKUH DENGAN SAHABATKU
BAB 57. TEMAN BAIK


__ADS_3

Pagi ini nampak cerah. Matahari mulai memamerkan sinar dengan angkuhnya. Tak ada yang bisa menandingi kecuali sang Maha Pencipta. Tapi cerahnya pagi tak secerah hati wanita muda di sebelah Kamila. Wajahnya murung tak berhias senyum. Tak ada canda dan tawa seperti hari-hari sebelumnya.


"Kamu sakit, Lia?" tanya Kamila.


Dahlia menjawab dengan cukup menggelengkan kepala, tanda ia tak sakit.


"Apa ada masalah lagi sama Anton?" tanya Kamila lagi.


Dahlia tak menjawab, ia hanya menghela nafas lebih dalam. Seolah mengisyaratkan ada sesuatu yang masih tersimpan di benaknya yang belum siap di utarakan.


"Oh ya. Aku dan Anton bentar lagi ikut meeting mewakili divisi kita. Apa kamu mau menggantikan aku, Lia. Biar ada kesempatan komunikasi dengan baik sama Anton? Karena aku lihat kalian mulai ada jarak." Usul Kamila yang merasa prihatin dengan keadaan teman baiknya itu.


"Nggak ah, Mil. Aku di sini saja.


Lagian yang lebih menguasai materi meeting nanti kan kamu sama Mas Anton." Sanggah Dahlia sambil tetap tak bersemangat.


"Kalo kamu punya masalah, cerita aja Lia! Jangan di pendem sendiri. Siapa tahu, aku bisa bantu." Saran Kamila.


"Nanti aja aku cerita di kantin. Nggak enak kalo di sini." Jawab Dahlia sambil sesekali melirik lelaki yang duduk berhadapan dengannya, Anton.


"Oke deh. Aku mau meeting dulu ya, Lia. Selamat bekerja dan jangan lupa tersenyum." Pamit Kamila sambil menghibur teman baiknya yang nampak murung sedari tadi.


"Iya, Mil." Jawab Dahlia sambil sedikit menyunggingkan senyumnya yang kelihatan di paksa.


Sementara Kamila dan Anton beriringan meninggalkan ruangan untuk pergi ke ruang meeting bersama dengan perwakilan divisi masing-masing.


Sikap Anton juga sangat berbeda dari biasanya. Lelaki yang kerap mengumbar senyum ketika dekat dengan Dahlia, kini bersikap dingin dan tak peduli.


Memang benar firasat Kamila, kalau dua temannya ini pasti ada masalah yang masih misteri. Tapi Kamila adalah wanita yang tak mudah putus asa dalam mencari berita, apalagi menyangkut kebaikan teman karibnya yaitu Dahlia.


Di sepanjang perjalanan menuju tempat meeting, Anton lebih banyak diam. Kamila sering memancing dengan beberapa pertanyaan, tapi lelaki yang berjalan di sebelahnya itu menjawab singkat dan sesukanya saja.


"Ton. Kamu ada masalah sama Lia?" tanya Kamila.


"Hmm... nggak ada masalah." Jawab Anton tanpa menoleh ke arah Kamila. Pandangannya lurus ke depan.


"Sikap kamu dan Lia, nggak bisa bohong, Ton." Ucap Kamila yang makin penasaran.

__ADS_1


"Sudahlah, Mil. Aku malas bahasnya." Jawab Anton dengan ekspresi datar.


Sampailah keduanya di ruangan meeting. Semua perwakilan divisi sudah duduk rapi, termasuk juga direktur Yunan dan sekretaris barunya Yuanita.


Tampak perubahan sikap Anton di ruangan ini. Ia nampak sumringah setelah melihat wanita cantik yang ada di hadapannya. Yuanita, wanita muda penuh pesona. Tatapan mata keduanya sepertinya memberi isyarat, kalau diantara Yuanita dan Anton ada hubungan tersembunyi.


'Hmm... kayaknya Anton punya hubungan rahasia dengan sekretaris pak Yunan. Dari cara memandang dan gestur tubuhnya, bisa terbaca," gumam Kamila yang diam-diam memperhatikan tingkah lelaki yang duduk di sebelahnya dan wanita yang duduk bersebrangan dengan dirinya.


"Selamat pagi semuanya. Apa kabar?" Yunan memulai meeting dengan sikap ramah dan berwibawa.


"Baik," serempak peserta meeting menjawab.


Suasana menjadi sunyi, hanya suara penjelasan Yunan sang direktur yang memenuhi ruangan itu.


Setelah hampir satu jam, meeting pun usai. Kamila dan Anton selanjutnya beranjak dari duduknya berjalan menuju ruang divisi administrasi, tempat mereka bekerja.


Tapi pandangan Anton tak bisa lepas dari sosok wanita cantik nan mempesona yang baru saja berjalan melenggang di depannya.


Tanpa mengucap kata, wanita itu hanya mengulas senyum ke arah lelaki yang kelihatan mengaguminya.


"Bentar, Mil. Aku ada perlu. Kamu duluan saja," ucap Anton sambil membalikkan badan.


Kamila hanya menoleh sebentar menyaksikan Anton berjalan cepat mengikuti Yuanita. Setelah itu, ia tak tahu lagi, apa yang dilakukan Anton.


'Kali ini, aku harus bisa merebut hati si cantik Yuanita. Aku nggak boleh menyia-nyiakan kesempatan. Sepertinya dia juga menyukai ku," bisik Anton dalam hati.


Setelah menyadari ada seseorang yang membuntuti, Yuanita menghentikan langkahnya. Lalu ia menoleh ke belakang.


"Mas Anton, mau kemana?" tanya Yuanita.


"Mm... mau nyamperin kamu. Pulang kerja aku mampir ke apartemen mu ya, Nita? Kalo nggak ganggu sih?" tanya Anton antusias.


"Aku nggak sibuk, Mas. Boleh saja." Jawab Yuanita.


"Nggak ada yang marah kan, kalo aku main ke apartemen mu?" tanya Anton lagi.


"Nggak Mas. Silahkan saja. Pulang kerja aku nggak ke mana-mana kok." Jawab Yuanita sambil tersenyum manis, semanis madu.

__ADS_1


"Oke, Nita. Aku mau balik ke ruangan ku ya. Sampai jumpa nanti." Pamit Anton dengan memasang wajah senang setelah permintaannya di setujui oleh Yuanita sang pujaan hati.


"Oke, Mas," jawab Yuanita. Lalu berjalan melenggang ke ruang kerjanya.


*


Tepat jam 12 siang, saatnya istirahat. Semua karyawan keluar dari ruangan, begitu juga dengan warga divisi Administrasi. Bondan, Darwis, Anton, Kamila dan Dahlia.


"Kamu lagi mikirin, apa sih Lia?" tanya Kamila memecah kesunyian di kursi pojok kantin tempat keduanya menempatkan diri.


Wajah Dahlia nampak lesu, lalu ia menjawab, "aku sudah putus sama Mas Anton"


"Hmm... bagus lah. Siapa yang mutusin, kamu atau Anton?" selidik Kamila.


"Mas Anton yang mutusin. Karena aku di anggap nggak percaya sama ketulusannya. Seperti yang aku ceritakan ke kamu waktu itu, Mil. Kalau Mas Anton mengajak ku berbuat tak senonoh, tapi aku menolaknya dengan berbagai cara. Dan yang terakhir, kamu yang menyelamatkan aku waktu itu." Ulas Dahlia panjang lebar.


Kamila mendengar uraian teman baiknya itu sambil menikmati nasi rames yang di pesannya. Kini ia tahu, apa alasan Dahlia sedari pagi murung dan tak bersemangat. Ternyata penyebab utamanya adalah putus cinta.


"Apa cuma itu alasannya, Lia. Anton nggak nyebutin alasan yang lain?" tanya Kamila makin penasaran.


"Menurut Mas Anton, alasannya cuma itu saja." Jawab Dahlia.


"Hmm... Maaf ya, Lia. Aku senang kamu di putusin Anton. Bukannya aku senang melihat kamu sedih. Tapi karena Anton itu bukan laki-laki yang baik untuk kamu. Kalau bisa ku ambil kesimpulan, kamu cuma dimanfaatin sama si buaya itu. Sudah lama aku mau ngingetin kamu, Lia. Tapi karena kamu sudah di butakan oleh cinta. Aku yakin, nasehatku waktu itu pasti kau abaikan. Bukan itu saja, kamu juga akan menjauhi ku, dengan alasan dengan adanya aku, hubungan baikmu dengan Anton akan kacau. Iya kan, Lia???" jelas Kamila.


"Maafkan aku ya, Mil. Aku dulu pernah nggak menyapamu, karena kamu suka mengatur dan mengawasi hubungan ku dengan Mas Anton. Kini aku sangat berterima kasih padamu. Berkat kamu, aku bisa membedakan mana lelaki yang baik dan lelaki yang hanya modus." Ucap Dahlia sambil mulai tersenyum di sudut bibirnya.


"Nggak apa-apa, Lia. Aku maklum kok. Namanya juga dalam kondisi bucin, jadi susah untuk diingatkan." sahut Kamila yang balik tersenyum manis menatap wajah teman baiknya yang duduk berhadapan dengannya.


"Untuk selanjutnya, kamu harus lebih hati-hati menghadapi lelaki. Harus bisa membedakan lelaki yang baik atau cuma lelaki yang nampak baik kalo ada maunya." Lanjut Kamila.


Untunglah Dahlia punya teman baik, sebaik Kamila. Yang tak mau membiarkan dirinya menjadi korban lelaki buaya buntung seperti Anton. Hingga ia bisa terhindar dari rayuan gombal dari si playboy senior itu.


***


BERSAMBUNG... 


Jangan lupa like dan tinggalkan jejak untuk memberi amunisi semangat menulis lanjutan cerita ku ini. Makasih banyak readers❣️❣️❣️

__ADS_1


__ADS_2