SUAMI SELINGKUH DENGAN SAHABATKU

SUAMI SELINGKUH DENGAN SAHABATKU
BAB 6


__ADS_3

Allahu akbar...Allahu akbar


Terdengar adzan subuh di mushola dekat rumah Alma, seruan untuk segera bangun dan melaksanakan shalat subuh, begitu pula yang dilakukan Alma dan putrinya Tiara.


Setelah salam, tak lupa Tiara mencium punggung tangan Alma dengan takzim.


Seperti biasa, kedua wanita ini akan melanjutkan kesibukan paginya masing-masing. Alma pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan, sedang Tiara akan membantu membersihkan rumah.


Ada yang tak biasa, ya...sang kepala keluarga semalam tidak pulang.


"Papa dimana ma...? Koq nggak kelihatan dari tadi?" tanya Tiara sambil menyapu lantai ruang tengah yang bersebelahan dengan dapur, tempat Alma memasak saat itu.


"Papa nggak pulang semalam, nggak ngabari juga", jawab Alma dengan ketus, sambil mengupas bawang putih untuk persiapan masak nasi goreng.


"Apa mama nggak telpon papa, mungkin papa ada masalah, atau lembur kali???", lanjut Tiara dengan berbagai asumsi karena penasaran.


" Hmm...mungkin", hanya kata singkat yang keluar dari mulut Alma, tampak ekspresi tak peduli pada keadaan suaminya Anton.


"Setelah nyapu lanjut mandi ya sayang, trus kita sarapan, nih...mama yg hampir selesai masaknya", Alma berusaha mengalihkan topik pembicaraan, memang ia sudah pada level tak mau peduli pada nasib Anton.


SESAAT KEMUDIAN TIBA-TIBA


Derrrttt...derrrttt...derrrrttttt


Panggilan masuk pada ponsel Alma yang kebetulan tergeletak di meja makan. Alma segera meraih dan menerima panggilan dari nomer tak dikenal.


"Selamat pagi, apa benar ini dengan bu Alma, istri pak Anton?"


"Selamat pagi, ya benar, ini dengan siapa???", Alma menanyakan suara wanita yang menelponnya.


"Saya petugas rumah sakit Hasanah, maaf Bu Alma, pak Anton sedang dirawat di rumah sakit ini sejak semalam. Kami baru bisa menghubungi Ibu, karena semalam pak Anton belum siuman. Dan sekarang pak Anton sudah mulai sadar tapi butuh perawatan intensif"


"Apa yang terjadi dengan suami saya", tanya Alma dengan gusar.


"Semalam pak Anton mengalami kecelakaan"

__ADS_1


"Kalau gitu, saya akan segera ke sana, Terima kasih atas informasinya"


Alma segera menutup telpon karena gugupnya, ia duduk di kursi makan sambil menghela napas panjang untuk menenangkan pikirannya yang sedang kalut.


Walaupun ia sudah bertekad tak peduli dengan Anton, tapi dari lubuk hatinya masih ada kekhawatiran atas nasib suaminya itu. Apalagi setelah mendengar berita kecelakaan yang menimpanya.


"Kita sarapan yuk ma...nanti keburu siang", seru Tiara yang datang tiba-tiba menghampirinya di meja makan.


"iii...iya sayang, kamu sudah rapi dan cantik ya", Alma tergagap menjawab seruan Tiara, akibat renungan pada suaminya Anton yang tanpa sadar telah menyita perhatiannya.


"Mama lagi mikir apa sih, serius amat, pasti kepikiran papa ya...???", rasa penasaran Tiara saat melihat Alma diam di satu titik menerawang jauh, dengan tatapan kosong.


Nampak terlihat guratan keresahan yang melanda sang mama yang ada di depannya. Tiara juga kelihatan tak berselera menikmati sarapan nasi goreng Jawa ditemani telur ceplok.


"Tadi mama dapat telpon dari rumah sakit, papa semalam kecelakaan dan pingsan, pagi ini baru siuman dan harus dirawat secara intensif"


"Uhuk...uhhuukk...apa maaa...papa kecelakaan", Tiara kaget bukan kepalang, hingga ia tersedak saat menikmati sarapannya yang tinggal sesuap lagi.


"Mama hari ini ke sekolah sebentar, lalu langsung nengok papamu, semoga papa nggak kenapa-napa"


"Iya sayang...nanti mama sampaikan"


***


SESAMPAINYA DI RUMAH SAKIT


Alma menuju kamar rawat inap atas nama Anton Bramasta. Langkahnya agak cepat, ingin buru-buru tahu keadaan suami yang sudah mengecewakannya. Tapi saat ini hati Alma nggak tega, rasa pedulinya kembali muncul.


Langkahnya terhenti di kamar Flamboyan 03.


Tok...tok...tok...


"Silahkan masuk", terdengar suara wanita yang mempersilahkan Alma masuk ke ruangan. Suara perawat yang kebetulan bertugas mengganti cairan infus yang hampir habis.


Ceklek

__ADS_1


"Selamat pagi, suster. Saya Alma istrinya pak Anton", sapa Alma lanjut memperkenalkan diri pada perawat tersebut.


"Selamat pagi bu Alma, saya mau ganti cairan infus dulu ya", jawab perawat dengan senyum ramah.


"Bagaimana keadaan suami saya, apa lukanya parah suster?"


"Iya bu Alma, kepala belakang pak Anton terbentur jalan, hingga tak sadarkan diri. Dan ada beberapa luka ringan di tubuhnya. Nanti silahkan ibu ketemu dengan dokter Nafis yang menangani luka yang dialami pak Anton"


"Oo...begitu, iya suster, makasih ya..."


"Sama-sama Bu Alma, maaf saya tinggal dulu ya", pamit suster sambil melangkah meninggalkan ruangan itu.


Karena Anton masih tertidur lelap mungkin pengaruh obat, ruangan menjadi sunyi, kebetulan hanya ditempati Anton saja, sementara brangkar di sebelahnya belum berpenghuni.


Alma meraih ponsel yang ada di tas coklatnya. Ia bersandar di kursi sebelah Anton, istirahat sejenak sambil melihat berita di tik tok. Scrol-scrol...dan sampailah pada berita kecelakaan, ia berhenti dan ingin tahu lebih lanjut. Ternyata ini adalah rekaman cctv peristiwa kecelakaan yang dialami Anton semalam yang di uplod oleh seorang pengguna tik tok.


Tak lama kemudian...


Alma terbelalak menyaksikan potongan peristiwa tragis yang menimpa suaminya, apa yang terjadi???


Ternyata Anton berboncengan dengan seorang wanita, dan dia adalah Heni. Wajah keduanya terlihat jelas, karena Anton dan Heni tak ada yang pakai helm.


Dalam tayangan itu terlihat, Heni merangkul dengan mesra pinggang Anton sambil menempelkan dadanya nyaris tak berjarak. Dasar tak tahu malu, sudah lupa segalanya. Dunia serasa milik berdua, melupakan hubungan terlarang, bahkan tak malu-malu lagi memamerkan kemesraan di depan umum.


'Astaghfirullah...ya Allah, kegilaan apa lagi yang kalian lakukan??? Aku nggak habis pikir, sampai segitunya kalian menyakitiku', gumam Alma. Tubuhnya bergetar menahan amarah yang memuncak sambil menatap wajah dua orang terlaknat di ponselnya.


Ia mengepalkan tangannya sambil mendengus panjang, ingin rasanya menjerit, tapi ia tahan, Alma masih bisa mengendalikan emosinya.


'Aku makin mantap ingin menggugat cerai, kalian sudah keterlaluan, rasanya menyesal aku datang ke sini menjengukmu mas, biar saja kamu rasakan, luka luar yang kini kamu alami. Tapi rasa sakit itu tak sebanding dengan luka batin yang kurasakan saat ini'


Lelehan air mata, tak bisa ditahan lagi, Alma mengusapnya dengan tissu yang tersimpan dalam tasnya. Ia masih sesenggukan melawan gemuruh hatinya. Marah, kecewa, sakit, campur aduk menusuk kalbu.


'Ya Allah...kuatkanlah hambaMu yang lemah ini, menghadapi ujianMu, hanya Engkaulah yang maha adil, aku pasrahkan semua urusan padaMu'


Hanya do'a yang mampu Alma panjatkan untuk mengurangi kegundahan hati. Ia berharap, akan ada solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah rumah tangganya yang sudah hancur karena penghianatan.

__ADS_1


__ADS_2