
Alma berulang-ulang menghela napas panjang, untuk mengurangi ketegangan emosinya yang sudah memenuhi ubun-ubun. Ia melangkahkan kaki menuju kursi dan meja kerjanya.
Pantatnya ia dudukkan dengan kasar di atas kursi, hingga kursi itu sedikit oleng. Ia menengadahkan wajahnya, sembari kedua matanya di pejamkan dan kedua telapak tangannya berpegangan pada sisi-sisi kepalanya.
Ia menggigit bibirnya untuk melampiaskan amarah yang tak kunjung reda. Wanita yang terkenal dengan kesabarannya ini, tak mau mengeluarkan air mata di ruangan itu. Ia berusaha sekuat tenaga menahan perasaan marah dan sedih atas apa yang baru saja ia alami.
'Ujian apalagi ini, ya Allah? Kenapa manusia berhati busuk itu hadir lagi dalam hidup ku?? Aku capek menghadapinya! ' Alma tak bisa membendung pertahanan mengalirnya air mata dari kedua pelupuk matanya.
Semakin di tahan, semakin terisak suara tangisan yang tak sengaja ia keluarkan. Sudah lama ia melupakan kegagalan pernikahan pertamanya, tapi dengan munculnya lagi sosok wanita yang merusak kepercayaannya, luka yang sudah kering itu kembali terkoyak dan menambah luka batin dalam dirinya.
Sesaat kemudian, tiba-tiba datanglah teman seprofesi dan guru paling dekat dengan Alma. Langkah kakinya tak di sadari oleh Alma, karena sangat fokus pada masalah yang dihadapinya.
"Apa Bu Alma sakit? Kenapa bu Alma menangis??" tanya bu Niken yang kebetulan masuk ke ruang guru untuk mengambil beberapa alat peraga.
"Hmm... iya bu Niken. Aku nggak apa-apa, cuma sedikit pusing. Sebentar lagi pasti akan sembuh." Jawab Alma sambil tergagap, karena tak disadari kalau ada bu Niken yang tiba-tiba masuk ke ruangan itu.
"Istirahat dulu aja, Bu Alma. Atau kalau sangat pusing, mungkin bu Alma bisa istirahat di rumah. Karena waktu pulang tinggal tiga puluh menit saja." Nasehat bu Niken pada wanita yang masih duduk dengan memegang kelapanya.
"Biar aku istirahat di sini aja, Bu. Nanggung juga, bentar lagi waktunya pulang." Sahut Alma sambil tersenyum di sudut bibirnya yang nampak sangat dipaksakan.
"Saya tinggal ke kelas dulu, ya Bu?" pamit bu Niken, sembari melangkahkan kaki meninggalkan Alma sendirian di ruangan itu.
"Iya, Bu Niken," jawab Alma singkat.
Kini ruangan menjadi sunyi kembali. Sambil menunggu waktu yang tinggal beberapa menit untuk pulang, Alma mencoba membuka laptopnya untuk mengalihkan perhatian. Agar ia tak fokus pada permasalahannya saat ini.
Tapi pikirannya malah melambung jauh ke masa-masa remaja yang saat itu masih duduk di bangku SMA. Kemana pun ia pergi, selalu ada Heni yang selalu membuntutinya. Dan di kala Heni mengalami kesulitan, Alma tak pernah ragu untuk membantunya dengan ikhlas.
Pada suatu ketika, ibu kandung Heni jatuh sakit dan butuh perawatan secara intensif di rumah sakit. Karena ayah Heni sudah tak serumah dengan dia karena perceraian, maka Alma yang mengantarkannya ke tempat pengobatan terdekat. Alhasil biaya yang dibutuhkan juga tidak sedikit, tapi karena rasa iba melihat sahabatnya dalam kesusahan, Alma rela memberikan uang tabungannya pada Heni untuk mengurangi beban uang pembayaran pengobatan ibunya di rumah sakit.
Bukan itu saja, Alma juga telah banyak membantu menyelesaikan skripsi Heni yang tak kunjung selesai. Hingga Alma tak menghiraukan kondisi tubuhnya yang kelelahan, karena waktunya terbagi dengan kepeduliannya pada urusan Heni, sahabatnya waktu itu.
Masih banyak lagi pengorbanan Alma yang tak terhitung demi keberhasilan Heni sejak SMA sampai menjadi mahasiswa, hingga mereka berdua bisa lulus dari universitas yang sama.
__ADS_1
Tapi lagi-lagi nilai Alma pasti lebih unggul di banding dengan nilai Heni. Itu sudah sewajarnya terjadi, karena Alma memang tak manja dan bisa menggunakan waktunya dengan semaksimal mungkin. Sedang Heni sebaliknya, dari dulu ia lebih suka mengulur waktu dan minta bantuan Alma.
'Apakah jadi orang baik itu salah? Kenapa kebaikan ku malah sering disalahgunakan oleh orang disekitar ku, termasuk Heni?? Sebenarnya tujuan ku adalah untuk membantu dia, tapi kenapa malah dia membalasnya dengan keburukan dan merampas kebahagiaan ku saja???'
'Kali ini aku tak mau lagi percaya sama dia. Apa pun yang terjadi, aku harus lebih waspada. Aku tak boleh lengah untuk kedua kalinya. Dulu memang kita pernah menjadi sahabat, bahkan aku menganggap mu seperti saudara, karena kita sama-sama tak punya saudara. Tapi karena aku sering kau kecewakan, bahkan pernah kau khianati dengan tanpa hati. Maka aku tak lagi memberi mu kesempatan sampai kapan pun.'
"Apa Bu Alma nggak pulang? Ini sudah waktunya pulang, Bu!" tanya bu Niken setelah masuk ke ruangan guru lagi.
Sementara guru-guru yang lain sudah mulai meninggalkan sekolah, tapi Alma masih belum beranjak dari duduknya. Itulah sebabnya, bu Niken mendekati dan mengingatkan Alma.
"Ooo... iya, Bu Niken. Bentar lagi aku akan pulang. Ini masih beres-beres meja." Jawab Alma gelagapan, karena tak melihat masuknya bu Niken dalam ruangan itu.
***
Malam menjelang, sinar rembulan tersenyum menerangi gelapnya malam. Waktu yang tepat untuk melepas penat, setelah seharian bergelut dengan aktifitas.
Dalam kamar, Yunan dan Alma menghabiskan waktu berdua. Mereka tak mau menyia-nyiakannya, untuk saling bercerita dan bercanda, serta mencurahkan rasa kasih sayangnya.
"Hmm...nggak ada yang salah, Mas. Aku lagi kepikiran dengan perkataan Heni tadi pagi." Jawab Alma sambil menyandarkan kepalanya pada dada bidang milik suaminya, Yunan.
"Heni? Bukankah itu istri Anton? Kapan kamu ketemu wanita itu?" deretan pertanyaan Yunan.
"Pagi tadi Heni tiba-tiba datang ke sekolah. Dia membawa berkas lamaran untuk menjadi guru." Jawab Alma.
"Berani-beraninya wanita nggak tau malu itu datang menemui mu?? Ternyata dia masih punya nyali?!" Yunan jadi mulai emosi.
"Bukan itu saja, Mas. Dia juga mengancam akan menghancurkan reputasi ku di sekolah itu. Malah... dia menantangku, dengan cara menyenggol lengan ku secara terang-terangan." Ucap istri Yunan yang ingin mengurangi beban pikirannya pada suami tercinta.
"Ini nggak bisa dibiarkan! Kalau sampai dia di terima ngajar di tempat mu, kamu jangan sampai lengah, Sayang!! Tunjukkan ke dia, kalau kamu nggak selemah yang dia kira!!" titah Yunan yang berusaha mensupport Alma agar tetap tangguh dalam menghadapi wanita licik seperti Heni.
"Iya, Mas. Pasti akan ku hadapi tantangannya. Sudah lama aku selalu memaafkan kesalahannya. Tapi untuk kali ini, aku akan membuatnya jera. Kalau apa yang dilakukannya selama ini, salah." Dada Alma kembang-kempis menahan emosinya.
"Ya sudah, Sayang. Lupakan sejenak masalah itu! Aku sudah kangen nih." Ucap Yunan sambil menggenggam tangan Alma dan mengecup bibir merah jambu milik istrinya itu.
__ADS_1
Lampu temaram di kamar ukuran besar itu, sengaja di pasang Yunan, agar menambah keromantisan mereka berdua dalam bercinta.
"Aku ke kamar mandi dulu ya, Sayang. Aku ingin, kamu pake baju tidur yang kubelikan kemarin." Yunan berdiri sambil mengedipkan matanya penuh arti.
Ia melangkah menuju kamar mandi yang ada disudut kamar besar itu. Seperti biasa lelaki sebelum melaksanakan kewajibannya pada istri, ia akan melakukan sedikit ritual. Apalagi kalau nggak bersih-bersih daerah senjata pamungkasnya.
Beberapa saat kemudian, Yunan keluar kamar mandi hanya memakai handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya saja.
Sedang Alma sudah berganti baju lingerie warna hitam hadiah dari Yunan. Tubuhnya nambah sexy dengan di balut kain minim di badannya.
Deg
Jantung Yunan berdesir lebih cepat, seperti genderang mau perang. "Wow... cantik sekali, istriku ini!" ucap Yunan semakin mendekati tubuh Alma yang siap melayaninya.
Melihat tubuh Yunan yang hanya berbalut handuk kecil di bagian bawah, birahi Alma pun mulai memanas. Dada bidang milik suaminya yang makin terpampang nyata, membuat tubuh Alma terhipnotis dan mulai merasakan hangatnya tubuh suaminya itu.
"Aku sayang kamu, Alma." Ucap Yunan memulai pergulatan antara dua insan yang sedang di landa birahi. Birahi yang sudah menjadi ibadah, karena Yunan dan Alma telah menjadi pasangan suami istri.
"Makasih, Sayang." bisik Alma yang telah mendapat belaian kasih sayang dari sang suami, hingga cairan kepuasan dari senjata Yunan berhasil membasahi lubang rahimnya.
Kini keduanya telah lelah, setelah menjalankan ibadah malam itu. Yunan dan Alma segera membersihkan sisa cairan yang keluar dari keduanya di kamar mandi.
Dengan saling berpelukan, kedua insan ini menghabiskan malamnya dengan tidur lelap berselimut cinta yang makin hangat.
***
BERSAMBUNG...
Jangan lupa like, komen & vote nya readers
Karena itulah satu-satunya amunisi penyemangat author untuk melanjutkan ceritanya.
Thank you 🥰🥰🥰
__ADS_1