SUAMI SELINGKUH DENGAN SAHABATKU

SUAMI SELINGKUH DENGAN SAHABATKU
BAB 37. IRI DENGKI


__ADS_3

"Bu, ada siapa di ruang tamu? Kedengarannya ada beberapa orang." Heni bertanya pada bu Halimah sambil berusaha mengintip dari sela-sela tirai karena penasaran.


"Itu teman kerja suami mu. Moga dengan ketemu teman-temannya, akan membantu pemulihan ingatan Anton." Jawab mertua Heni dengan penuh harap.


"Aku akan keluar ya, Bu. Teman-temannya biar kenal sama istrinya mas Anton." Heni merapikan bajunya juga rambutnya. Dengan percaya diri ia melangkahkan kakinya ke arah ruang tamu. Tapi baru tiga langkah, bu Halimah menegurnya.


"Hen... Apa kamu lupa?! Kalau suami mu sekarang nggak ingat siapa istrinya. Nanti kamu jadi malu kalau mengenalkan dirimu dan mengatakan kamu istri Anton. Pasti Anton akan menyangkalnya." Cegah bu Halimah pada Heni untuk mengurungkan niatnya.


Mendengar peringatan bu Halimah, Heni menghentikan langkahnya dan seketika berbalik badan. "Iya, Bu. Padahal aku ingin mengenalkan diri. Bisa-bisa aku dipermalukan sama mas Anton nanti."


"Sabar ya, Hen. Perlahan-lahan ingatan Anton pasti akan pulih." Tutur bu Halimah dengan bijak pada menantunya.


Mata Heni berkaca-kaca, ia terlihat sedih merasakan perlakuan Anton yang beberapa hari ini tak menganggapnya sebagai istri. Bahkan anaknya juga tak ingin dilihatnya sama sekali.


"Sampai kapan ya, Bu. Mas Anton seperti ini? Kasihan anakku tak dianggapnya sama sekali." Linangan air mata wanita di depan bu Halimah ini tak bisa di bendung lagi. Sesekali ia mengusap tetesan air mata yang membasahi pipinya.


"Kata dokter, kesembuhan Anton tergantung pada lingkungan sekitar. Bisa 6-9 bulan, tapi bisa juga lebih cepat. Hanya kesabaran dari kita yang bisa mempercepat pemulihan ingatannya." Jelas bu Halimah.


Tangisan Heni mulai mereda, wanita yang kini menurun berat badannya ini, menjadi lega mendengar penjelasan bu Halimah.


"Apa ada hal yang paling bisa membuat Mas Anton cepet sembuh, Bu." Istri Anton ini sangat berharap suami cepat mengingat semuanya seperti sedia kala.


"Ada sih. Tapi... apa kamu nggak marah. Karena ini menyangkut seseorang yang selalu di panggil namanya oleh Anton." Jawab bu Halimah sembari menatap wajah Heni yang tampak gelisah.


"Maksud ibu? Alma??? Apakah cuma Alma yang bisa mengembalikan ingatan Mas Anton, Bu?" Tanya Heni dengan mata terbelalak, wajah gusar tak bisa disembunyikan olehnya.


"Hmm... Kata dokter, siapa pun yang sering diucapkan oleh Anton, dialah kunci kesembuhannya. Apa kamu nggak marah, kalau Alma tak mintai tolong ke sini guna membantu ingatan suami mu, Hen?" Wanita yang mulai menua itu kembali menjelaskan pada Heni dengan hati-hati. Karena bu Halimah tahu benar, latar belakang Heni yang akhirnya jadi istri Anton sekarang.

__ADS_1


Walau bu Halimah awalnya kurang suka dengan Heni, tapi karena Anton sudah terlanjur punya anak dengan wanita itu, maka bu Halimah berusaha menerima menantunya dengan segala kelebihan dan kekurangannya.


Mendengar penjelasan mertuanya, Heni kembali menampakkan wajahnya yang makin gelisah. Ia hanya diam dan menundukkan pandangannya ke lantai.


"Kalau kamu nggak setuju dengan usulan ibu, nggak apa-apa, Hen. Tapi kamu harus lebih sabar menunggu kesembuhan suami mu." Kata bu Halimah sambil tersenyum masam.


Seorang ibu sebenarnya ingin melihat putranya sembuh lebih cepat, tapi bu Halimah tak mau egois. Karena ia juga seorang wanita, pasti bisa merasakan bagaimana rasanya jika ketemu mantan istri dari suaminya, apalagi masa lalunya kurang baik.


"Maaf, Bu. Aku takut kalau Alma ketemu Mas Anton. Nanti... pasti Mas Anton kembali menyayangi Alma seperti dulu. Lalu bagaimana dengan aku dan anakku?" Sahut Heni dengan menghela napas panjang.


"Kamu nggak usah khawatir, karena Alma sekarang sudah tak sendiri lagi." Jawab bu Halimah.


"Maksud ibu? Apa Alma sudah menikah??" tanya Heni sambil mengernyitkan alisnya.


"Iya... Alma sudah menikah. Dan suami Alma adalah direktur dari Anton. Kebetulan waktu ibu menjenguk Anton di rumah sakit, Alma dan suaminya menjelaskan semuanya. Direktur Anton juga teman lama Anton dan Alma. Jadi sudah saling kenal dengan baik." Jelas bu Halimah.


"Apa, Bu. Jadi Alma sekarang sudah menikah dengan direktur??? Mendengar hal itu, Heni menegakkan duduknya sembari kedua matanya terbelalak dengan lebar. Ia tak menyangka, Alma sahabat yang telah dihianati, sekarang malah menjadi istri dari seorang direktur. Dan direktur itu adalah atasan dari suaminya, Anton.


***


"Kami pamit dulu ya, Ton. Semoga cepet sembuh dan kamu bisa kerja kembali." Pamit Bondan sambil menjabat tangan Anton dengan erat.


"Iya... Maaf kalau aku nggak bisa ngomong banyak. Kepala ku masih pusing." Jawab Anton sambil memegang kepalanya yang masih terbalut perban.


"Nggak apa-apa, Ton. Kami bisa memakluminya." Sahut Kamila sambil melirik wanita di sebelahnya, Dahlia.


"Hmm... Jangan terlalu dipaksakan, Mas Anton! Kalau masih pusing, harus banyak istirahat." Kata Dahlia sambil tersenyum manis ke arah Anton, lelaki pujaannya.

__ADS_1


"Ya, makasih." Jawab Anton singkat.


Akhirnya mereka bertiga, Bondan, Kamila dan Dahlia meninggalkan rumah Anton untuk pulang ke rumah masing-masing.


*


"Mas... Siapa mereka? Apa teman-teman kerja Mas Anton?" tanya Heni dengan manja, yang kebetulan berpapasan saat Anton melangkah menuju kamarnya.


"Sudah, jangan banyak tanya! Kepala ku pusing. Aku mau istirahat." Jawab Anton ketus sambil memalingkan muka.


Seketika wajah Heni suram kembali. Harapannya belum kesampaian untuk mendapat tanggapan yang baik dari suaminya. Anton tetap saja, tak menganggap wanita di depannya adalah istrinya.


Heni melangkahkan kakinya dengan lemah, raut mukanya makin suram. Ia segera masuk ke kamar Adel yang sementara digunakan istirahat sampai Anton pulih. Heni menutup pintu kamar, ia mendekati bayi mungilnya yang tertidur pulas.


"Nak, ayah kamu belum mengakui mu, Sayang. Maafkan mama ya, saat ini nggak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa berharap dan berdoa. Semoga papa kamu segera ingat semuanya, Sayang." Heni menatap lembut putri kecilnya. Wanita yang tak lagi seceria dulu ini, hanya bisa menyendiri dan merenungi nasibnya, sambil melampiaskan kesedihannya dengan linangan air mata.


Tapi walau ia sedih, dalam hatinya masih ada rasa dendam pada Alma. Mendengar Alma sudah menikah dan mendapat suami direktur, sifat dengki mantan sahabat Alma ini, mulai berapi-api.


'Enak sekali nasib mu, Alma! Aku nggak akan biarkan kamu merasakan kebahagiaan mu! Sedang aku sekarang tak di gubris sama Mas Anton! Tunggu Alma!!! Aku nggak akan tenang, melihat kamu bahagia!' Dengus Heni. Giginya menggerutuk melampiaskan emosinya, tangannya mengepal ingin memukul seseorang yang sangat ia benci saat ini.


Sifat iri dan dengki tak akan ada untungnya. Bagai api yang menghabiskan kayu bakar. Apa yang akan di dapat??? Cuma abu yang tak berguna. Tapi untuk menghilangkan sifat buruk ini, tak segampang membalikkan telapak tangan.


Apalagi jika sifat ini dibiarkan tanpa terkendali. Si empunya tak merasa, jika sifat buruk inilah yang lama-lama akan menghancurkan masa depannya tanpa ia sadari. Akankah Heni melanjutkan dendamnya pada Alma??? Padahal Alma tak melakukan kesalahan apapun terhadapnya. Justru Henilah yang pernah menusuk Alma dari belakang.


***


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2