SUAMI SELINGKUH DENGAN SAHABATKU

SUAMI SELINGKUH DENGAN SAHABATKU
BAB 55. GADUH


__ADS_3

Selama Alma tak berada di sekolah, Niken lah yang punya wewenang mengawasi dan bertanggung jawab atas semua yang terjadi. Kini Niken lebih waspada setelah tahu niat buruk dari Heni. Ia tak ingin Alma teman dekatnya menjadi korban dari ulah jahil dari guru baru yang belum bisa dipercaya.


Ketika jam istirahat tiba, beberapa guru mulai meninggalkan kelas, begitu juga dengan Heni dan Niken. Heni lebih dulu masuk ke ruang guru, disusul Niken dan guru-guru yang lain.


"Kemana kepala sekolah? Kok nggak ada di tempat? Jadi kepala sekolah seenaknya sendiri?! Apa tiap hari bu Alma seperti ini???" ucap Heni dengan nada ketus.


Guru-guru yang mendengar ucapan Heni terkejut. Ada guru baru, tapi sudah berani mengkritik kepala sekolah. Apalagi lagaknya sok tahu dan angkuh.


"Bu Alma sekarang menghadiri rapat di kantor Dinas. Jangan punya pikiran negatif, kalo belum tahu kebenarannya!!" Sahut Niken tak terima mendengar perkataan Heni yang seenaknya.


"Hmm... enak juga jadi kepala sekolah. Bisa keluyuran ke mana-mana. Sementara kita sebagai guru kelas, harus menghabiskan waktu bekerja keras menghadapi anak-anak." Celoteh Heni belum puas.


TK. Kuncup Melati terdiri dari enam kelas. Tiga kelas untuk nol kecil, tiga kelas lagi untuk nol besar. Selain Alma dan Niken, ada empat guru lagi yang bertugas mengajar di kelas masing-masing. Dan mulai hari ini Heni ditugaskan menjadi guru kelas di nol kecil.


Guru paling senior adalah Niken, itulah sebabnya Alma mempercayakan dia mengelola keuangan dan tanggung jawab setelah dirinya.


"Bu Heni. Apa kamu merasa keberatan ngajar di sekolah ini? Sebagai guru TK memang berat, Bu Heni. Kalo bukan orang sabar, nggak akan bisa." kata Niken yang mulai kesal melihat sikap Heni.


"Apa tadi aku bilang, kalo aku keberatan? Jangan salah paham, Bu Niken. Aku di sini benar-benar ingin mengabdi menjadi guru TK. Karena aku paling suka dengan anak-anak." Jawab Heni membela diri. Tampak tatapan mata wanita sok tau itu tak menyukai dengan sikap Niken.


Karena makin kesal, Niken memilih tak menanggapi ucapan Heni. Ia menyibukkan diri bercengkrama dengan guru-guru yang lain.


"Oh ya. Ini kan mau bulan Agustus. Bentar lagi sekolah kita akan mengadakan banyak kegiatan. Kita harus segera menyiapkan rencana lomba untuk anak-anak. Kalo bisa lombanya lebih variatif, nggak seperti tahun lalu." Kata Niken menjelaskan pada ke-empat guru yang ada di hadapannya.


"Bener juga, Bu Niken. Lebih baik kita bentuk kepanitiaan yang melibatkan kerjasama antara guru dan wali murid. Bagaimana?" Usul bu Ida, guru termuda di sekolah itu.


"Iya, Bu. Aku setuju. Biar lebih seru dan terlihat kekompakan kita." jawab guru yang lain.


"Boleh juga. Nanti aku sampaikan hal ini pada Bu Alma." Jawab Niken


'Hmm... aku tak dianggap di sini. Alma sama teman-temannya sama saja. Mereka belum tahu, siapa aku sebenarnya.' Gerutu Heni sambil bangkit dari duduknya, lalu gegas melangkah keluar ruang guru tanpa pamit.


Sepeninggal Heni, Niken dan guru-guru yang lain mulai menguliti guru songong itu.


"Lagaknya kayak paling senior. Aku muak dengan guru baru itu!" kata Ida sambil memicingkan alisnya.

__ADS_1


"Iya ya... baru kali ini, ada guru baru yang berani berulah. Kita harus membuat bu Heni nggak betah ngajar di sini. Bikin sebel aja." Sahut guru sebelahnya.


"Jadi, ternyata kalian semua nggak ada yang suka dengan bu Heni? Kalo memang demikian, kita nggak boleh diam saja. Bagaimana kalo kita jebak guru songong itu, biar tau rasa!!" jelas Niken sambil mengecilkan volume suaranya.


"Maksudnya gimana, bu Niken? Kita jebak bagaimana???" tanya Ida penasaran.


Guru yang lain juga nampak kaget dengan penjelasan Niken barusan. Mereka saling pandang karena tak paham maksud dari perkataan wanita yang duduk di depannya.


"Begini, bentar lagi kita kan mengadakan peringatan agustusan di sekolah ini. Nah, seperti yang kita bicarakan tadi, pasti akan dibentuk kepanitiaan. Disitulah kita akan menjebaknya. Pilih bu Heni sebagai ketua panitia. Lalu, kita semua harus kompak. Jangan memperlihatkan rasa nggak suka kita di depannya. Pura-pura saja kita mendukung dan menyukai apa yang dilakukannya. Biar jebakan kita kena sasaran. Gimana???" Niken mengatur strategi dengan keempat guru yang lain.


"Hmm... boleh juga," sahut Ida.


"Setuju," jawab guru yang lain.


"Untuk selanjutnya, tunggu instruksi dari aku ya. Jangan sampai nama sekolah ini jadi tercemar karena ulah guru songong itu. Oke?!" perintah Niken.


"Oke," jawab Ida dan guru-guru yang lain dengan kompak, namun tetap mengecilkan volume suaranya. Karena ini misi rahasia.


Tet... tet... tet...


Begitu juga dengan anak-anak. Mereka semua berlarian menuju kelas untuk melanjutkan pelajaran.


Tapi sesaat kemudian, tiba-tiba terdengar suara tangisan seorang anak di kelas nol kecil, tepatnya kelas paling ujung. Ya... di sanalah Heni yang menjadi guru kelasnya.


Ruangan jadi gaduh dan tak terkendali. Suara tangisan itu makin keras, hingga mengganggu konsentrasi belajar kelas di sebelahnya.


"Diam semua!!!" teriak Heni di sela-sela kegaduhan. Bukan cuma membentak anak-anak itu, ia juga menggedor meja yang ada di hadapannya dengan brutal.


Harapan Heni dengan tindakannya itu, anak-anak akan diam dan nggak akan gaduh lagi. Tapi hasilnya tak sesuai ekspektasi. Anak-anak sebagian besar malah menangis ketakutan setelah mendengar suara keras dan bentakan Heni serta gedoran meja yang memekakkan telinga.


"Aduuuh... kalian semua diam!!!" Heni semakin kalut. Ia tak bisa mengendalikan anak didiknya yang meraung-raung menangis dengan suara keras.


'Ada apa sih???' tanya Ida dalam hati. Kebetulan kelasnya bersebelahan dengan kelas Heni.


"Sebentar ya, anak-anak. Kalian lanjutkan mewarnai bunga dan kupu-kupu. Ibu akan keluar sebentar. Tetap duduk manis dan jangan gaduh, Oke!" titah Ida pada murid-muridnya.

__ADS_1


Lalu Ida melangkah keluar kelas dan gegas menuju kelas Heni.


"Ya Tuhan... kenapa anak-anak nangis semua??? Ada apa, Bu Heni???" tanya Ida ikut panik.


"Anak-anak ini susah di atur! Di suruh diam, malah nangis semua!!" teriak Heni yang makin emosi.


"Harusnya Bu Heni jangan bentak mereka. Beri perhatian dan kasih sayang. Bukan malah marah-marah. Mereka masih anak-anak, Bu!" sahut Ida yang mencoba mengingatkan Heni.


"Coba saja!!! Jangan bisanya kasih saran!!!" jawab Heni ketus.


Ida geleng-geleng kepala melihat reaksi Heni yang mengedepankan emosi. Karena anak-anak tak pernah segaduh ini sebelumnya. Kalau pun ada yang menangis, itu wajar. Tapi jangan kekerasan yang di pilih untuk meredakannya.


"Anak-anak ku sayang, dengarkan Bu Ida ya! Siapa yang ingin cepat pulang?" suara Ida memecah kegaduhan di kelas itu. Perlahan-lahan kelas mulai terkendali dan hanya beberapa anak yang masih mengelap air mata di pipi.


"Saya, Bu!" teriak mereka hampir serempak.


"Anak pintar nggak boleh lama-lama nangisnya, Sayang. Siapa yang mau jadi anak pintar?" tanya Ida lagi sambil mengulas senyum manis di bibirnya.


"Saya, Bu" jawab mereka makin kompak.


Kini suasana kelas sudah terkendali dan tak ada lagi suara tangis maupun gaduh seperti sebelumnya.


"Sebelum pulang, ayo kita nyanyi lagu di sini senang di sana senang. Satu... dua... tiga!" Ida memandu anak-anak agar mereka ceria kembali. Ida mulai menggelengkan kepala ke kanan dan ke kiri sambil menyanyi, tak lupa senyum manis disematkan di bibirnya.


Heni hanya duduk terdiam di kelas. Ia menghela napas panjang. Matanya memandang seluruh ruangan, di dapatinya anak-anak yang sedang menyanyi dengan riang gembira.


Lalu bu Ida berpamitan meninggalkan kelas Heni, segera melangkah masuk kelasnya lagi.


Tak mudah menjadi guru taman kanak-kanak. Mereka harus punya kesabaran ekstra dan bisa mengolah emosi dengan stabil. Menghadapi situasi yang tak bisa diperkirakan sebelumnya, sudah menjadi menu utama. Ada tangisan, pertengkaran kecil karena rebutan mainan, atau kesalahpahaman antara mereka. Akan kah Heni bisa tahan lama menjadi guru di sana???


***


BERSAMBUNG... 


Jangan lupa like, komen dan penilaiannya ya readers.🥰🥰🥰

__ADS_1


Yang masih setia membaca cerita ku, saya ucapkan banyak terima kasih.😍😍😍


__ADS_2