SUAMI SELINGKUH DENGAN SAHABATKU

SUAMI SELINGKUH DENGAN SAHABATKU
BAB 53. WASPADA


__ADS_3

Kedua wanita yang dulu menjalin persahabatan itu, kini saling pandang dengan tatapan tajam. Keduanya menyimpan rasa benci. Alma benci pada Heni karena merasa di khianati, sedang Heni benci Alma karena Heni merasa selalu kalah dengan Alma.


Rasa benci Heni lebih mengarah pada rasa dengki atas apa yang di capai Alma. Padahal apa yang di dapat Alma saat ini, bukan atas andil darinya. Tapi karena kerja keras, kesabaran dan keikhlasan Alma dalam menjalani kewajibannya.


Heni sudah bertekad bulat untuk menghancurkan kebahagiaan mantan sahabatnya itu. Anton sudah di dapatkannya, sekarang tinggal merusak reputasi Alma yang menjadi target selanjutnya.


"Apa sebenarnya tujuan mu menjadi pengajar di sini, hah?" tanya Alma masih dengan tatapan tajam, setajam silet.


"Ha ha ha... Apa aku salah kalau ingin jadi guru di sini? Yayasan sudah memberi ku surat pengangkatan? Kamu takut, Alma sahabat ku yang terbaik???" Heni makin membusungkan dadanya. Ia sudah merasa menang atas Alma.


"Aku nggak pernah takut sama kamu, Hen. Apa yang aku takutkan??? Prestasi mu??? Pengalaman mu??? Tabiat mu???" Suara Alma makin tegas sambil mendongakkan kepalanya. Wanita yang biasanya santun, kini memilih membalas kesombongan Heni dengan kepercayaan diri. Ibarat kata lo jual gue beli. 


"Tumben, kamu punya nyali?! Lihat aja Alma. Aku nggak pernah main-main dengan ancaman ku. Lebih baik kami mundur dari sekolah ini, daripada kamu ku permalukan! Dan akhirnya kamu tersingkir dari sekolah ini dengan cemar. Apa kamu mau seperti itu???" ancam Heni.


"Aku heran sama kamu, Hen. Apa salah ku ke kamu, hingga kamu tega mencelakai aku terus??? Aku nggak pernah anggep kamu musuh. Tapi kalau itu mau mu, aku siap!!!" tandas Alma.


"Kamu nggak mungkin menang hadapi aku, Alma. Sebentar lagi karir kamu pasti hancur!!!" gertak Heni.


"Buktikan saja! Hukum alam selalu nyata, yang benar pasti menang!!!" Alma makin yakin.


"Hmm... Boleh juga nyalimu sekarang. Aku sudah tau kelemahan mu, Alma! Jadi jangan main-main dengan ku." jawab Heni dengan volume lebih rendah.


"Kamu guru baru di sini. Aku kepala sekolah mu. Aku bisa memecat mu kapan pun ku mau, jika kamu melakukan kesalahan fatal. Dan aku nggak pernah main-main dalam bekerja. Ingat itu!!!" Alma lebih tegas.


"Kamu mengancam ku, hah???" timpal Heni.


"Masih banyak yang harus ku kerjakan. Aku nggak mau buang-buang waktu. Murid-murid di kelas sudah menunggu mu. Jadilah guru yang baik!!!" titah Alma.


"Sok kamu, Alma!" Heni memalingkan wajahnya dengan penuh kebencian. Tapi ia tak bisa berkutik. Dengan terpaksa ia meninggalkan ruang guru dan melangkah menuju kelas.


Ketika berjalan menuju kelas, Heni berpapasan dengan Niken. Tapi dengan congkaknya ia tak menyapa Niken. Heni bersikap masa bodoh dengan guru-guru di sekolah itu.


Melihat sikap Heni yang demikian, Niken makin membencinya. Sesampai di ruang guru, Niken langsung mendekati Alma.


"Heran deh, guru baru kok seperti itu?!" gereget Niken.


"Bu Heni???" tanya Alma.


"Siapa lagi. Harusnya jadi guru itu harus kasih contoh yang baik sama murid. Eee... ini lagaknya sok paling penting." Gerutu Niken sambil mendudukkan di kursi kerjanya.

__ADS_1


"Ya... begitulah Heni, Bu. Kita harus sabar menghadapi dia, tapi tetap waspada. Kalau ada apa-apa tolong laporkan ke aku. Karena Heni pernah mengancam ku untuk merusak reputasi ku," jelas Alma.


"Ooo... jadi niat bu Heni serendah itu??? Heran deh. Jangan khawatir bu Alma! Aku dan teman-teman akan berhati-hati dan nggak boleh lengah," sahut Niken meyakinkan.


"Makasih, Bu Niken. Aku juga akan bertindak tegas, jika Heni berbuat macam-macam di sekolah ini," jawab Alma.


Oh ya... kemarin adaundangan dari kantor Dinas, hari ini bu Alma di minta datang kesana, karena ada rapat penting." lanjut Niken.


"Ya... aku tadi sudah baca undangan itu. Maka dari itu, aku titipkan urusan sekolah selama aku belum pulang." sahut Alma.


"Ya, Bu Alma." balas Niken.


Setelah itu, Alma berpamitan pada bu Niken menuju kantor Dinas.


***


Kita beralih pada janji Anton yang mau main ke apartemen Dahlia.


Ting tung...


Suara bel berbunyi, saat Dahlia sedang menikmati istirahatnya sore itu.


Wanita yang belum pernah berpengalaman dengan tabiat laki-laki playboy ini, gegas bangkit dari rebahannya. Ia melangkah cepat menuju pintu depan apartemen.


Ceklek


"Mas Anton, kirain lupa?" tanya Dahlia dengan  lugu.


"Nggak lah, kan Mas nggak suka ingkar janji," jawab Anton dengan senyuman mulai nakal.


"Masuk Mas!" Dahlia mempersilahkan.


"Makasih, Sayang." Jurus awal sudah diterapkan. Bermuka manis, bertutur kata halus, lirikan mata menggoda, dan sedikit sentuhan. Ya... Anton melangkah masuk ke apartemen Dahlia dengan menatap mata wanita muda itu dengan tatapan pasang umpan. Tak lupa tangannya menyentuh dagu Dahlia dengan manja.


Mendapati perlakuan seperti itu, dada Dahlia bergemuruh tak menentu. Ia sudah mulai terbuai dengan perlakuan lelaki yang sudah lama mengincarnya.


"Mas Anton mau minum apa?" Dengan balasan senyum dan rona pipi yang memerah Dahlia menawarkan minuman pada Anton. Tetapi lelaki itu tak lantas menjawab tawarannya.


"Hmm... aku belum haus, Sayang. Berduaan dengan mu membuat rasa haus ku hilang." jawab Anton yang sudah duduk di sofa.

__ADS_1


"Mas Anton, bisa aja," Perasaan Dahlia dag dig dug tak menentu.


"Aku kangen sama kamu, Sayang. Maaf kalo aku berbuat seperti itu sama kamu. Aku nggak punya maksud menyakitimu. Tapi semata-mata aku ingin membuktikan rasa cinta ku padamu. Apa kamu nggak percaya pada ku, Sayang?" tanya Anton sambil meraih tangan Dahlia dan mengajaknya duduk di sebelahnya.


"Hmm... aku percaya Mas Anton sayang sama aku. Tapi... aku takut melakukan itu. Karena aku belum pernah melakukannya." jawab Dahlia.


Anton pernah mengajak Dahlia melakukan hubungan suami istri kala itu, tapi usahanya gagal. Karena Dahlia tak mau melakukannya.


Dan untuk kedua kalinya, Anton berusaha meyakinkan Dahlia untuk menyetujui gagasannya, dengan alasan menunjukkan rasa cinta.


"Kita ke kamar aja yuk, Sayang!" ajak Anton dengan bisikan nafsu.


Tanpa bersuara, Dahlia menuruti saja kemauan Anton. Tanpa ingat anak istri, Anton melanjutkan aksinya merayu gadis itu tanpa hambatan.


Anton menggendong Dahlia ala bridal style menuju kamar. Dalam hati gadis muda itu campur aduk, antara senang dan takut. Pertarungan batin yang di alami akhirnya dimenangkan oleh keinginan dia yang tak ingin mengecewakan sang kekasih.


'Akhirnya akan kudapatkan keperawananmu Dahlia sayang,' batin Anton bersorak gembira, apa yang diimpikannya sebentar lagi akan tercapai.


Tubuh Dahlia diturunkannya di atas ranjang. Muka gadis itu kini nampak panik, karena tak tahu apa yang selanjutnya terjadi.


"Aku mau ke kamar mandi dulu ya, Sayang. Kamu siap-siap, aku akan membuatmu bahagia dan tak akan bisa terlupakan." Anton tersenyum penuh kemenangan. Lalu ia masuk ke kamar mandi.


Sementara Dahlia nampak makin bingung, atas apa yang di alaminya saat ini. Ia pasrah saja dengan perintah lelaki di hadapannya.


Beberapa menit kemudian, Anton keluar dari kamar mandi dengan menyisakan kaos singlet dan ****** ***** yang melekat di tubuhnya.


'Ooo... gimana ini? Aku harus bagaimana?' Dahlia sangat terkejut melihat pemandangan yang ada di hadapannya.


Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Jantungnya berdegup lebih cepat, bibirnya di gigit sendiri untuk mengurangi kegusarannya.


"Sayang... apa kamu sudah siap?" tanya Anton sambil menatap tajam ke mata Dahlia yang nampak gugup.


"Hmm... aku... aku nggak tau, Mas" Jawab Dahlia.


***


BERSAMBUNG... 


Jangan lupa like, komen & penilaiannya ya readers. Thank you🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2