SUAMI SELINGKUH DENGAN SAHABATKU

SUAMI SELINGKUH DENGAN SAHABATKU
BAB 14


__ADS_3

"Nih... kenalin istri mas Anton, Heni namanya. Sementara kami berdua tinggal disini sampai aku dapat kerjaan", Anton mengajak Heni mendekat ke arah Adel, yang saat itu duduk di ruang tengah.


"Adel", ucap perempuan yang masih sinis menyambut kakak iparnya yang baru. Tangannya meraih tangan Heni yang mengajaknya berkenalan, sekaligus mengakrabkan diri dengan muka datar.


Heni tersenyum menyambutnya, sebaliknya Adel memandang Heni penuh selidik. Kedua matanya memantau habis perempuan di depannya, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Akhirnya pandangannya terhenti pada perut Heni yang mulai menyembul, kehamilannya tak bisa disembunyikan lagi.


"Sudah berapa bulan tuh kandungan?". Tanpa basa-basi, Adel mengutarakan rasa penasarannya dengan nada ketus.


Membuat menciut nyali Heni, apalagi dengan tatapan mata Adel yang jelas menunjukkan kesan tidak suka padanya.


"Jalan empat bulan", jawab wanita yang sedang mengandung buah cintanya dengan Anton. Kesan dingin mendominasi pembicaraan antara ipar dan adik.


Setelah itu, Adel melengos kecut, kembali fokus pada ponselnya. Sikapnya tak begitu bersahabat terhadap kakaknya, terlebih lagi pada kakak ipar yang kesannya berbeda jauh dengan ipar sebelumnya, Alma.


"Aku mau keluar sebentar. Kamu dirumah sama Adel ya!" Anton berpamitan pada istrinya, sambil melirik ke adeknya yang lagi asyik menikmati cemilannya.


"Hmm... iya mas. Jangan lama-lama ya!", jawab Heni dengan muka senyum kecut.


"Iyaa... Del, nitip istri mas ya"! Goda Anton pada adiknya sambil tersenyum tipis.


"Hmm... takut amat istrinya ilang? Pake dititipin segala?!", balas adek Anton semaunya.


Anton membalikkan badan, tanpa menjawab celotehan Adel. Terus saja ia berjalan keluar rumah dengan langkah santai.


"Aku boleh duduk?" tanya Heni pada Amel, yang sedari tadi asyik ngemil kue kering di meja sambil mainin ponsel yang ada di genggamannya. Pandangan fokus tanpa menghiraukan kakak ipar yang ada di sebelahnya yang berdiri mematung menunggu disuruh duduk olehnya.


"Ooo... silahkan! Jawab Adel singkat tanpa menatap wanita hamil itu.


Heni mendudukkan bokongnya di kursi depan Adel. Ia berharap bisa mengakrabkan diri dengan adek iparnya yang nampak cuek di depannya.


"Hmm... Kerja dimana sekarang?" tanya Heni mencoba mencairkan suasana.


"Aku??? Di konter Beauty Cell" masih saja Adel bersikap kaku pada kakak iparnya yang baru.


"Kalo ada lowongan kerja, aku pengen kerja juga" lanjut Heni sambil menatap Adel, penuh harap.

__ADS_1


"Mau kerja apa? Kan lagi hamil?? Nanti jadi masalah lagi???", sahut Amel sinis, sambil sekilas melihat perut yang agak membuncit milik Heni.


"Kerja apa aja, yang penting bisa dapat duit. Walau hamil, aku masih bisa kerja kok." jawab Heni berusaha meyakinkan wanita di depannya.


"Emang dulu pernah kerja apa aja??? Trus... kenal dimana kamu sama mas Anton???" Adel sudah nggak bisa menahan penasarannya.


"Hmm...aku dulu kerja jadi admin di olshop milik..... " Heni ragu melanjutkan kalimatnya.


"Hmm... milik sapa???", selidik Adel.


"Milik teman." jawab Heni agak gugup.


"Jangan-jangan milik mbak Alma?? Istri mas Anton?!?! Dia kan punya bisnis olshop juga??? Ngaku deh!!!" Adel menebak-nebak sambil menatap wajah Heni yang makin panik.


"Hmm... tidak!!! Milik teman, bukan Alma!!!, sanggah Heni, berusaha menutupi kenyataan yang sebenarnya.


"Biasa aja! Nggak usah panik lah!! Trus... ketemu mas Andi dimana???" adek Andi ini melirik Heni yang nampak panik, berkeringat di keningnya.


"Di... di... di tempat kerjaku dulu. Waktu mas Anton antar barang ke toko olshop." Heni makin gugup menutupi kebohongannya.


"Hmmm... nggak kenal, cuma tahu aja dari cerita mas Anton. Maaf... aku mau ke belakang dulu". Pamit Heni sambil gegas menuju kamar mandi.


Jelas sekali ia tampak salah tingkah dan gugup mendengar rentetan pertanyaan dari adek iparnya yang makin memojokkannya.


'Dasar ipar nggak ada akhlak. Kayak tau aja latar belakangku' dengus Heni di dalam kamar mandi.


'Hmm... wajahmu tuh nggak bisa boong Hen!!! Kamu jelas-jelas gugup jawab pertanyaanku tadi. Jangan-jangan sangkaan ku bener. Kayaknya Heni ini wajahnya nggak asing. Yaa... aku pernah lihat di rumah mbak Alma waktu aku main kesana. Awas aja kamu Heni!!! Kamu akan mati kutu!!! Geram aku lihat wanita nggak jelas kayak kamu!!! Tunggu aja!!! Dasar wanita pelakor!!!'.


Adel yang masih duduk di sofa ruang tengah itu, lagi menebak-nebak jati diri ipar barunya. Ia yakin dugaannya seratus persen benar.


***


"Met malam bu guru... Maaf kalo aku ganggu" terdengar suara laki-laki dengan nada santun di ponsel Alma.


"Malam mas Yunan... Nggak ganggu kok, ada apa ya?" tanya wanita cantik yang lagi rebahan di atas kasur.

__ADS_1


"Pengen tau kabar aja... Gimana Alma, sehat semua kan?" Yunan mulai berbasi-basi untuk mencairkan suasana.


"Alhamdulilah... baik mas. Mas Yunan baik juga kan?" Alma menimpali balik pertanyaannya.


"Iya Alam... denger suaramu aku jadi makin baik, hemmm"


"Mas Yunan... ada-ada aja, hehehee"


"Beneran Alma... apalagi denger ketawa kamu"


Alma dan Yunan terhanyut dalam perbincangan yang hangat malam itu. Dua insan ini sedang dilanda CLBK. Rasa itu hadir kembali di saat yang tepat. Alma janda, Yunan duda, klop dah.


"Ngomong-ngomong... kapan nih kamu siap menerima lamaranku Alma???


"Hmmm... a... ku belum bisa mas. Maafkan aku ya... tolong beri waktu lagi. Aku masih trauma dengan kegagalan pernikahanku sebelumnya. Harap mas Yunan memahami keadaanku saat ini"


"Iya Al... nggak apa-apa. Sampai kapanpun aku sabar menanti kesiapanmu nanti sayang"


Alma kaget mendengar kata akhir dari kalimat yang diucapkan Yunan padanya. Ia tampak gugup.


"Iii... iiiya mas, maafin aku ya!"


"Nggak ada yang perlu dimaafin Al... Nggak ada yang salah dari kamu kok. Sudah dulu ya sayaang... Met istirahat, moga mimpi indah"


"Iiii... iiiya mas, makasih"


Alma menutup sambungan telpon Yunan dengan dada bergetar. Benih-benih cinta mulai bersemi lagi di hatinya.


Ia merebahkan tubuhnya dengan tersenyum manis. Bagai gadis yang sedang pertama kali jatuh cinta.


'Mas Yunan... Maafkan aku yang belum bisa move on dan masih trauma dengan masa laluku. Maafkan aku yang belum bisa menerima lamaranmu. Sebenarnya aku telah menemukan ketulusan dari cintamu mas... Aku sudah lama mengenalmu. Aku tahu betul bagaimana tanggung jawabmu sebagai laki-laki. Aku juga tahu, dari dulu kamu sayang padaku mas Yunan'.


Hana tersenyum sambil bermonolog, membayangkan lelaki yang saat ini dekat dihatinya dan mengisi hari-harinya dengan cinta.


Cinta memang tak mengenal usia. Desiran rasa dari indahnya cinta akan bisa dirasakan setiap insan. Tak kenal agama, tak kenal ras, tak kenal warna kulit, tak kenal kasta. Begitulah anugrah yang diberikan Tuhan pada makhluknya.

__ADS_1


Dengan cinta, manusia akan menjalani takdirnya dengan nyaman. Dengan cinta sepasang laki-laki dan perempuan akan merasakan kehangatan. Dengan cinta seorang ibu akan rela berkorban demi kebahagiaan anaknya. Dengan cinta Tuhan menciptakan dunia seisinya untuk kebutuhan dan kebahagiaan manusia.


__ADS_2